Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAGUM TANPA SADAR
Siang itu, studio pemotretan dipenuhi cahaya lampu yang terang.
Seluruh kru sibuk menjalankan tugas masing-masing demi menyempurnakan sesi pemotretan sekaligus syuting iklan parfum terbaru milik Forger Group International.
Di tengah kemegahan set, Zenaya berdiri anggun mengenakan gaun mewah yang menjuntai panjang.
Di tangannya tergenggam botol parfum elegan, sementara senyum profesional selalu menghiasi wajah cantiknya.
"Bagus, Zenaya! Tatap kameranya... sedikit angkat dagu. Perfect!" seru sang fotografer.
Beberapa kru dengan sigap mengibaskan bagian bawah gaunnya sehingga kain itu berkibar indah mengikuti hembusan angin buatan.
Rambut hitam panjangnya ikut menari, memperlihatkan kulit putih mulus dan postur tubuh tinggi semampai yang begitu memukau. Setiap gerakan yang ia lakukan tampak alami, seolah kamera memang diciptakan untuk mengabadikan dirinya.
Zenaya mengerjakan semuanya dengan penuh semangat. Berkali-kali ia berganti pose dan ekspresi tanpa sedikit pun mengeluh.
Profesionalisme seorang model kelas dunia benar-benar terlihat dari setiap detail penampilannya.
Namun tanpa disadarinya, sepasang mata terus memandang dari kejauhan.
Eros.
CEO muda Forger Group itu baru saja tiba di lokasi bersama Desmon.
Awalnya ia hanya berniat melihat sebentar proses syuting iklan untuk produk perusahaan mereka. Akan tetapi, begitu pandangannya jatuh kepada Zenaya, langkahnya seakan berhenti.
Ia terpaku.
Sorot matanya tak pernah lepas dari sosok wanita yang kini berputar anggun di depan kamera.
Desmon yang berdiri di sampingnya melirik sang atasan, lalu menyunggingkan senyum jahil.
"Jangan lupa mengedip, Tuan. Nanti mata Anda malah perih."
Eros tetap menatap ke depan sebelum akhirnya melirik Desmon dengan ujung matanya.
"Apa yang kau katakan?"
Nada suaranya terdengar datar, tetapi Desmon tahu betul atasannya sedang salah tingkah.
Ia terkekeh pelan.
"Lagi pula, sejak tadi Tuan melihat Nona Zenaya tanpa berkedip. Cantik sekali, ya? Saya rasa Tuan menikmati penampilannya hari ini."
Ucapan itu membuat jantung Eros berdegup tak menentu.
Ia tidak membalas.
Tatapannya kembali mengarah kepada Zenaya yang sedang tersenyum di depan kamera.
Untuk sesaat, ia lupa bahwa dirinya datang sebagai CEO.
Yang ada hanyalah seorang pria yang diam-diam terpikat oleh wanita yang kini menyandang status sebagai calon istrinya.
Beberapa menit kemudian, Eros menarik napas pelan dan memalingkan wajah.
"Kita pulang."
Tanpa menunggu jawaban, ia membalikkan badan dan melangkah keluar dari studio.
Desmon membelalak heran.
"Loh, Tuan? Kita baru saja sampai. Apa Tuan tidak
ingin menyapa Nona Zenaya terlebih dahulu?"
"Tidak."
Eros terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
"Sudah cukup."
Desmon mempercepat langkahnya agar bisa menyamai sang CEO.
"Sudah cukup apa, Tuan?" tanyanya dengan senyum usil. "Cukup memandanginya, ya?"
Eros langsung menghentikan langkahnya.
Ia menoleh perlahan dengan tatapan dingin yang mampu membuat siapa pun bergidik.
"Kau."
Hanya satu kata, tetapi cukup membuat Desmon menelan ludah.
"I-iya... maaf, Tuan."
Ia langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu buru-buru menyusul Eros dari belakang.
Sementara itu, di dalam studio, Zenaya masih
melanjutkan proses syuting tanpa mengetahui bahwa calon suaminya baru saja datang...
Dan diam-diam menghabiskan beberapa menit hanya untuk memandanginya dengan penuh kekaguman.
...----------------...
Terik matahari siang perlahan berganti menjadi langit sore membuat cahaya keemasan memantul di atas lantai marmer, sementara beberapa kru sibuk membereskan peralatan yang sejak tadi digunakan.
Setelah berjam-jam berganti pose dan busana, akhirnya Zenaya menyelesaikan sesi pemotretannya.
Ia mengembuskan napas lega sebelum duduk di kursi yang telah disiapkan. Butiran keringat menghiasi dahinya, membuat kecantikannya justru tampak semakin alami.
Tak lama kemudian, Joana datang menghampiri sambil membawa segelas minuman dingin.
(Joana Assisten pribadi sekaligus sahabat Zenaya)
"Nih, minum dulu Miss."
Zenaya menerimanya dengan senyum tipis. Baru saja ia hendak meneguk minuman itu, Joana sudah kembali mengomel.
"Kamu jangan terlalu memaksakan diri. Sebentar lagi kamu menikah, lho."
Zenaya terkekeh pelan. Sudah bertahun-tahun bersahabat, ia hafal betul bagaimana cerewetnya Joana jika menyangkut kesehatan dirinya.
"Aku baik-baik saja. Aku rutin olahraga, makan teratur, dan nggak pernah lupa minum vitamin."
"Itu tetap beda." Joana menggeleng tegas.
"Tubuh juga butuh istirahat. Jangan sampai nanti pas malam pertama malah tumbang. Kasihan banget Tuan Eros."
Seketika tawa Zenaya pecah memenuhi ruangan.
"Kamu ini ada-ada saja."
"Serius, aku nggak bercanda."
"Iya, iya... aku janji nggak bakal terlalu memforsir pekerjaan lagi. Bahkan setelah menikah nanti, aku akan mengurangi jadwal pemotretan dan
pekerjaan lain."
Mata Joana langsung berbinar.
"Nah, itu baru namanya keputusan yang benar."
Keduanya saling tersenyum hangat. Persahabatan mereka telah terjalin sejak lama, sehingga tak ada lagi rasa sungkan di antara keduanya.
Joana menatap Zenaya dengan sorot mata penuh kebahagiaan.
"Selamat ya, Miss."
"Hm?"
"Akhirnya sebentar lagi kamu menikah dengan pangeran kecilmu... cinta pertamamu."
Wajah Zenaya seketika memerah.
"Jangan menggoda."
"Aku serius. Rasanya seperti sedang melihat kisah dongeng. Dari kecil kamu diam-diam menyukai Pangeran Forger, menyimpan rasa itu selama bertahun-tahun, tanpa pernah berharap bisa memilikinya. Dan sekarang... orang yang akan menjadi suamimu justru dia."
Nada suara Joana terdengar tulus.
"Aku benar-benar ikut bahagia."
Senyum di wajah Zenaya perlahan melembut.
"Sejujurnya... sampai sekarang aku masih sulit percaya."
Joana menatapnya penasaran.
"Aku sempat mengira orang yang dijodohkan denganku bukan Eros. Bahkan sebelum mengetahui identitas calon suamiku, aku sudah menyiapkan diri untuk menerima siapa pun pilihan orang tuaku."
Zenaya menundukkan pandangannya sejenak sebelum kembali tersenyum.
"Tapi saat aku tahu kalau pria itu adalah Eros... aku tidak pernah berpikir untuk menolak."
Ucapan itu keluar begitu lirih, namun dipenuhi ketulusan.
Joana menggenggam tangan sahabatnya.
"Aku harap kalian selalu bahagia. Semoga rumah tangga kalian dipenuhi cinta, saling percaya, dan tetap harmonis sampai tua nanti."
"Aamiin."
Zenaya membalas genggaman tangan Joana.
"Terima kasih, Ana. Aku juga berdoa semoga kamu segera dipertemukan dengan jodoh terbaikmu, supaya cepat menyusulku."
Wajah Joana langsung berubah murung.
"Itu doa yang paling aku tunggu dari dulu."
Ia berpura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tidak ada.
"Huhu... kapan ya Tuhan mengirimkan pangeranku?"
Zenaya kembali tertawa.
"Tenang saja. Jodoh itu tidak akan ke mana."
"Mudah-mudahan sebelum rambutku beruban."
"Kamu lebay."
Suasana kembali dipenuhi gelak tawa.
Namun beberapa saat kemudian, senyum Zenaya perlahan memudar. Seolah teringat sesuatu, ia menatap Joana dengan raut penasaran.
"Joana..."
"Hm?"
"Kamu tahu nggak... apa Eros pernah menjalin hubungan dengan wanita lain sebelumnya?"
Pertanyaan itu membuat Joana terdiam. Ia mengernyit sambil berpikir keras, mencoba mengingat berbagai informasi yang pernah didengarnya mengenai pewaris keluarga Forger itu.
Beberapa detik berlalu.
"Sejujurnya... aku belum pernah mendengar isu kalau Tuan Eros punya hubungan khusus dengan perempuan mana pun."
"Benarkah?"
Joana mengangguk pelan.
"Setidaknya, selama ini yang beredar di kalangan media maupun orang-orang yang mengenalnya, Eros selalu dikenal sebagai pria yang dingin dan lebih fokus pada pekerjaan."
Meski begitu, Joana menyipitkan mata penuh semangat.
"Tapi tenang saja. Aku akan mencari tahu lebih dalam. Kalau memang dia pernah punya kisah asmara, aku pasti akan menemukan informasinya."
Senyum Zenaya kembali mengembang.
"Baiklah. Aku mengandalkanmu."
"Aman." Joana mengacungkan jempol dengan penuh percaya diri. "Serahkan misi ini padaku."
Zenaya terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya.
"Terima kasih, Joana."
"Anggap saja ini hadiah sebelum kamu resmi menjadi Nyonya Forger."
Keduanya kembali tertawa bersama.
Setelah obrolan itu berakhir, mereka mulai membahas jadwal pekerjaan berikutnya, sementara di sudut hati Zenaya, perlahan muncul rasa penasaran yang semakin besar mengenai masa lalu pria yang sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.