NovelToon NovelToon
Road To Jogja

Road To Jogja

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:167.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irma

Biantara Imam Wijaya, seorang ketua genk motor The Moge yang melakukan perjalanan menuju kota Yogyakarta untuk mencari Fahri, bendahara keuangan The Moge yang membawa kabur uang senilai ratusan juta rupiah.

Dalam perjalanannya menuju mencari Fahri, ia di pertemukan dengan seorang gadis cantik yang bernama Annisa, yang merupakan seorang guru ngaji di kampungnya. Mampukah Bian menaklukan hati Annisa? dan mampukah Bian menemukan Fahri?

Cerita selengkapnya ada di Ride to Jogja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Satu bulan setelah kejadian itu, Bian lebih banyak diam. Bukan dia tak ingin memperjuangkan Annisa, hanya saja ia tak ingin membuat kedua kakak beradik itu bertengkar, terlebih saat ini ibunda mereka masih dalam tahap pemulihan, Bian tak ingin mengambil resiko Sekar kembali drop.

Bian mundur sejenak untuk mencari waktu yang tepat agar bisa mengobrol dengan santai seperti seorang teman bersama Fahri, ia yakin Fahri masih menjadi Fahri, teman baiknya yang dulu, yang selalu menjadi tempat berdiskusi terbaiknya. Bian sama sekali tak menaruh dendam atau pun marah terhadap penolakan Fahri, ia memaklumi mengapa Fahri melakukan itu, Fahri ingin memberikan yang terbaik untuk adik perempuan satu-satunya.

Lama Bian memikirkan Annisa, lamunannya sekita buyar ketika Widya tiba-tiba saja datang tanpa mengetuk pintu ruangannya. "Lebih baik pak Bian berhenti melamun sekarang, karena ada hal penting yang akan aku sampaikan," ucapnya dengan raut wajah yang begitu mengkhawatirkan dan napas yang memburu.

"Ada apa?" tanya Bian penasaran.

"Tuan Wijaya, masuk rumah sakit." Widya baru saja mendapat kabar dari Iren, sekretaris tuan Wijaya, bahwa tuan Wijaya, ayahanda Bian jatuh tak sadarkan diri di kantornya dan kini di larikan ke rumah sakit.

Setelah melaporkan berita pentung itu, Widya nampak heran mengapa wajah Bian terlihat datar saja. "Maaf, apa bapak tidak cemas atau langsung ke rumah sakit?" tanyanya hati-hati.

"Pria itu sudah tua, bukankah hal yang wajar jika pria tua yang memiliki pola hidup tidak sehat kemudian jatuh sakit?" tanyanya. "Tapi setelah pulang dari kantor aku akan menjenguknya sebentar, agar tak terlihat seperti anak durhaka." Bian menyuruh Widya untuk keluar dari ruangannya dan kembali bekerja.

"Baiklah, aku akan keluar. Pak Bian bisa hubungi aku di ruang HRD jika bapak membutuhkan aku, karena aku sedang ada yang harus aku selesaikan di sana." Widya berbalik, dan berjalan menuju pintu keluar.

Baru saja Widya hendak membuka pintu ruang kerja Bian, Bian sudah memanggilnya kembali. "Kemarilah, Wid!" Bian beranjak dari tempat duduknya sembari membuka jasnya.

Tepat di hadapan Widya ia menaruh jasnya di pundak Widya. "Jangan turunkan harga dirimu hanya untuk seorang pria yang tak pernah menghargaimu," ucap Bian. "Pria yang betul-betul mencintaimu, tidak akan pernah meminta wanitanya memakai pakaian terbuka di tempat umum." ia menepuk bahu Widya kemudian keluar dari ruang kerjanya.

Widya terdiam untuk beberapa saat. Di balik sikapnya yang dingin, sebetulnya Bian sangat perhatian padanya, bahkan Bian tahu jika saat ini Widya tengah menjalin kasih dengan HRD di kantornya. "Terima kasih pak Bian," gumam Widya. Ucapan Bian benar-benar menyadarkannya, sehingga membuatnya enggan untuk menghampiri kekasihnya. Ia sudah lelah menjalani kisah sendiri, segala efort sudah ia berikan namun pria itu seolah tak memperdulikannya.

"Lebih baik kau berhenti melamun, dan mulai-lah bekerja," ucap Bian menghampiri meja kerja Widya, kali ini Bian yang membalas Widya karena telah mengagetkannya tadi di ruangannya. Sembari tertawa puas melihat wajah Widya yang terkejut, ia berjalan menuju ruangannya, ia tak menghiraukan sekretarisnya yang tenagh berkotrk karena kesal padanya.

...****************...

Sepulang dari kantor, Bian datang ke rumah sakit tempat ayahandanya di rawat. Namun sebelum menghampiri ayahnya, Bian menemui dokter di ruangannya. Jauh-jauh sebelumnya Bian sempat memprediksikan hal ini, sehingga ia tak begitu terkejut ketika dokter mengatakan ayahnya terkena virus HIV dan kanker kelamin akibat seringnya berganti-ganti pasangan.

"Saya tahu penyakit ini tidak akan sembuh, tapi apakah ayah saya masih bisa memiliki kualitas hidup yang baik?" tanya Bian dengan tenang.

"Dengan kondisinya yang seperti ini, saya agak ragu," jawab sang dokter yang bertanggung jawab menangani ayahandanya. "Tapi kami tim dokter rumah sakit ini akan melakukan yang terbaik untuk tuan Wijaya."

Bian mengangguk, mengucapkan terima kasih kepada dokter, sebelum meninggalkan ruangan, Bian mengatakan untuk merahasiakan penyakit ayahnya kepada siapa pun termasuk pada Iren, sekretaris ayahnya.

Bukan tanpa alasan Bian melakukan hal tersebut, sebab ayahnya mengidap penyakit yang cukup memalukan akibat ulahnya sendiri sehingga ia tak ingin siapa pun membicarakan ayahnya.

Bian duduk dengan wajah tenang, tak ada raut kesedihan sama sekali pada wajahnya, ia melipat tangannya di dada sembari memperhatikan ayahnya yang terbaring lemah di atas tempat tidur.

"Apa sekarang kau akan mengutukku, karena penyakit yang bersarang di tubuhku ini?" Tanya pak Wijaya, pasrah. Terdengar napas yang terengah-engah dalam setiap kata yang ia lontarkan.

Bian menggeleng. "Tidak, itu bukan kapasitasku. Anda adalah pria dewasa yang seharusnya mengetahui semua konsekuensi atas tindakan yang anda perbuat. Aku kemari hanya karena tak ingin di anggap anak durhaka karena tak menghiraukan panggilan dari ayahnya yang terbaring di rumah sakit, jadi ada apa anda mintaku kemari?" Tanya Bian dingin.

"Ayah ingin memintamu memegang perushaan ayah," pinta pak Wijaya.

"Maaf aku tidak tertarik," ucap Bian tanpa basa-basi, ia beranjak dari tempat duduknya, hendak meninggalkan ruang rawat inap ayahnya, namun pak Wijaya telah terlebih dahulu menahan Bian. "Tunggu dulu, nak!!"

"Ayah tahu, ayah tidak akan keluar dari rumah sakit ini sampai ayah mati, tapi ayah sudah mengatakan pada Iren jika ayah akan di rawat hanya dua hari saja, kemudian ayah akan tinggal di luar negeri dan menyerahkan perusahaan ayah padamu."

Sambil kembali duduk di bangkunya, Bian tersenyum sinis mendengar ucapan ayahnya. "Bukankah dulu anda bilang tak akan mewariskan apa-apa kepadaku, termasuk perusahaan itu. Sehingga aku harus berusaha sendiri memenuhi kebutuhanku? Apa anda sudah lupa akan hal itu?"

Pak Wijaya menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak lupa. Aku mengatakan hal itu karena aku marah pada ibumu, yang masih menyimpan barang-barang mantan suaminya yang telah meninggal dunia, padahal sudah lebih dari lima belas tahun kita bersama, tapi ibumu tidak pernah melupakan bajingan itu."

Bian tertawa geli mendearnya. "Untuk apa kau marah pada orang yang sudah kau bunuh?"

Wijaya membulatkan matanya, ia amat terkejut putra tunggalnya mengetahui bawa dirinya pernah membunuh suami pertama mantan istrinya. "Jangan bicara sembarangan kau, kau saja belum ada."

Bian tertawa semakin keras melihat wajah ayahnya yang pucat pasi. "Aku memang belum ada, bahkan belum di buat. Tapi aku punya bukti, jika anda yang membunuh suami pertama ibuku di malam pengantin mereka. Anda begitu obses pada ibu, sehingga tega membunuh cinta pertama ibu, dan mengabil kesempatan di saat ibu tengah berduka. Anda datang bak malaikat penolong, dan merayu ibu hingga akhirnya kau mendapatkan ibu," ucap Bian.

Bian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari kembali melipat tangannya. "Aku tahu ibuku bersalah karena masih menyimpan barang-barang pemberian mendiang suaminya, tapi apakah harus sampai kau pukuli dan kau selingkuhi?" sekuat tenaga Bian menahan air matanya, masih jelas dalam ingatannya betapa saat itu rumah yang seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman untuk bertetuh, namun tak ubahnya seperti neraka karena pertengkaran kedua orangtuanya. Dada Bian masih terasa sesak ketika mengingat pukulan demi pukulan yang harus di terima ibunya karena rasa cemburu ayahnya yang begitu besar.

Saat itu usianya masih empat belas tahun, setiap kali pertengkaran terjadi ayahnya selalu mengurungnya di kamar, sehingga ia tak bisa menolong ibunya.

"Tapi aku sangat bahagia, melihat ibu bangkit dan meninggalkan anda, meski meninggalkanku juga." Bian beranjak dari tempat duduknya. "Aku harus pergi, permisi." ia benar-benar pergi dari rumah sakit.

1
erna erfiana
bagus, recommended buat dibaca
Land19
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sativa Kyu
👍👍👍
Ai Maswah
Luar biasa
Suyatno Galih
selamat nyut2an bian,
Suyatno Galih
pusing2 km bian lelet amat nginfo ke bini keduluan di labrak mantan, mumet2 bini lu purik
Suyatno Galih
kebumen hadir via palembang
Land19
kok udahan aja sih .
kirain ada kelanjutannya lagi
padahal masih seru ,
pengin tau anak²nya setelah pada dewasa tuh gimana .
tapi best banget , happy ending.
sukses selalu kak author nya
Land19
di bayar 1jt eh digantinya malah mobil , .haduh... makasih loh Widya udah bikin hubungan bi sama an baikan
Land19
rasanya pengin jotos tuh si Fahri berasa jadi orang / Kaka udah baik aja .
haduh.
Land19
najong banget kalo ngomong .
250jt dibilang uang receh
haduh...
receh tuh yg koin² itu Bambang itu mah kertas semua
Nia Budiman
di jogja ngak ada angkot, adanya transjogja
bunda DF 💞
sukaa,, ceritanya ringan,, mantaap
AwanMendung26: Terima kasih bunda. 🌻
total 6 replies
bunda DF 💞
purwakarta,, kampung halaman akuuu
yuni kazandozi
novel yang banyak menceritakan hal hal yang positif,dari kisah bian dan anisa kita bisa ambil hikmahnya yang baik
AwanMendung26: Halo, kak. Jika berkenan mampir di cerita aku juga, yuk! Judulnya Jodoh Untuk Syakayla. 🌻

Terima kasih. 🌻
total 1 replies
yuni kazandozi
laaah sudah tamat az inih
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ¢ᖱ'D⃤
cerita yang sangat menarik, penuh makna, tidak terlalu banyak intrik, dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan enak dibaca...
Banyak pesan juga dari novel ini...👍👍
Terimakasih Ka Irma untuk karyanya...semngat terus untuk karya selanjutnya...
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ¢ᖱ'D⃤
wihhh..dalam 5 tahun udah 3 anak aja i i🤭🤭🤭
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ¢ᖱ'D⃤
wahh..anaknya Bian, pintar hapalannya juga 👍
🏡s⃝ᴿ 𝓡⃟⎼ᴠɪᴘDᵉᵉKᵝ⃟ᴸ¢ᖱ'D⃤
waahh Mama Claire pasti cantik banget ini..awet muda lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!