"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.
🍁🍁🍁
Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.
Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.
Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.
Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Bestie-nya Ian
"Ditrian dibawa ke mana?" tanya Dinia yang baru naik ke lantai di mana kantornya berada.
"Di ruang main bersama Taran, Nona," jawab salah satu staf.
Dinia tidak langsung masuk ke dalam kantor. Dia mendatangi ruang main Ditrian untuk melihat keadaan anak itu. Dinia membuka pintu ruangan perlahan. Dia mendengarkan gelak tawa di dalam sana. Ditrian tengah main kejar-kejaran dengan Taran.
"Kalau dengan orang lain, dia kayak bangun benteng tinggi. Beda kalau sama Taran," batin wanita itu. Dinia berkacak pinggang. Dia masih memperhatikan di sana.
Hingga Ditrian sendiri sadar keberadaan sang ibu. Dia lari ke arah Dinia dan minta digendong. "Mama cakit gak?" Ditrian memeriksa wajah Ibunya.
"Mama gak disakiti siapa-siapa. Lihat kamu, rasanya sudah terobati."
Ditrian mengangguk. "Cukulah. Mama, Talan macan."
"Kenapa bisa Taran jadi macan?" Dinia selalu berusaha menanggapi cerita anaknya. Itu agar dia bisa menambah kosa kata dan pengetahuan. Apalagi bahasa Ibu lebih mudah dipahami anak.
"Kan Talan kalah Ian. Tebakin judol-judol," jawab Ditrian.
"Kalah main apa?"
"Main kertas gunting batu. Tuan cuma keluarin batu terus. Mau saya menang, tetap aja Tuan bilang saya yang kalah," cerita Taran.
"Tetap saja, kalau kalah harus bisa menerima. Tak apa Ditrian jadi macan sekali. Yang penting jadi anak hebat yang mau sportif," jelas Dinia.
"Copotip apa?" Ditrian jelas tidak tahu istilah rumit semacam itu.
"Itu seperti jujur. Mau mengakui kekalahan," jelas Dinia.
Ditrian peluk sang ibu. "Ian main ego. Talan temen, ya?"
"Hari ini Taran harus bantu Mama."
"Ian mau bantu. Ian gaji, kan?" Ditrian selalu ikut saat Taran mengambil gaji dari ATM. Tentu Taran harus jelaskan asal uang itu.
Ternyata Ditrian malah keterusan ingin kerja karena akan dapat uang. Dia mana pernah memegang uang sendiri. Ingin beli apa pun, tinggal tap gelang di tangannya. Meski hanya beberapa toko yang bisa didatangi. Itu pun bukan toko biasa, ekslusif milik keluarga Kenan.
"Kamu mau bantu apa, Nak?" Dinia usap kening Ditrian.
Pipi anak itu bergerak-gerak mengikuti bibirnya. "Keja tulis."
"Nona, saya perlu ke kantor polisi untuk mengecek masalah kemarin," pinta Taran.
"Tentang truk itu? Tapi, kayaknya Ditrian gak akan biarin kamu pergi. Biar Goul saja yang urus. Kamu ikut denganku.
Dinia ke kantornya sambil menggendong Ditrian. Anak itu melihat ke arah belakang. Dia melambai pada staf lain.
"Temen-temen, Ian petemuan dulu, ya?" pamitnya.
"Iya, Tuan Muda."
"Jaga katol Ian. Gak mainin. Lusak. Ian bulum gajian," pesan anak itu.
Karyawan lain hanya bisa tertawa melihat kelakuan Ditrian. Sampai di kantor, Ditrian memainkan pulpen dan kertas HVS. Dia ingin duduk di kursi Dinia. Tentu yang dia buat tak jelas. Ada gambar dan tulisan seperti di dinding gua zaman purba.
"Mama, kejaan Ian beles." Ditrian memberikan karya pada sang ibu.
"Bagus sekali. Biar Mama minta Bibi ambilkan crayon, ya?"
Taran melihat hasil gambar Ditrian. "Nona, apa menurut Anda ini unik?"
"Apanya?"
"Motif," jawab Taran.
"Maksud kamu?"
"Gambar setiap anak tentu terinspirasi dari banyak hal. Kadang di satu lembar mereka menggambarkan banyak peristiwa. Andai ini di print di atas kain." Taran ungkapkan apa yang dia maksud.
"Mungkin saja. Itu ide yang luar biasa." Dinia menutup mulut dengan punggung tangan.
"Apa perlu saya panggil beberapa designer milik DW fashion?"
"Kamu bisa pimpin proyek ini andai banyak yang pesan?" Dinia memberikan tantangan pada Taran.
"Saya akan berusaha maksimal, Nona. Apalagi untuk kemajuan.... Arrggh!" Taran memekik kesakitan.
"Kenapa kamu?" Dinia kaget.
Taran melirik ke bawah. Rupanya Ditrian berusaha memanjat agar bisa duduk di pangkuan Taran. Namun, dia malah menarik celana drill pria itu hingga terbawa bulu di kakinya Taran. Jelas memekik kesakitan pria itu.
"Ditrian. Kamu izin dulu kalau mau digendong." Dinia mengingatkan. Dia selalu menegaskan anak itu agar bisa menghormati bawahan—meski dia sendiri pada Taran tidak demikian.
Taran gendong Ditrian. Dia gelitiki anak itu. "Jagoan, kamu udah bisa numbangin Taran, ya? Hebat. Tapi, Taran kesakitan."
"Maaf, Talan. Ia gak ngaja. Gak ulang. Janji deh!" Dia peluk Taran.
Dinia menatap mereka berdua. "Hanya dengan Taran saja dia mau begitu," pikir Dinia lagi.
"Taran, kalau aku gak ada dan dia gak punya siapa-siapa lagi, kamu mau jaga dia?" Dinia bertanya.
"Tentu. Karena aku juga gak punya siapa-siapa dan ayah angkatku, mau menjagaku." Taran tersenyum.
Sore hari mereka pulang ke rumah. Ditrian duduk di kursi depan sambil bernyanyi. Dia tetap bersama Taran. Dinia tak masalah karena dia sedang banyak pikiran.
Apalagi pernyataannya tadi pagi sudah dijadikan berita utama di berbagai media. "Ya Tuhan, aku lupa dengan ayah ini."
Baru juga satu hal selesai, ponselnya berdering. "Apa yang kamu maksud ini Dinia? Memang bisa semudah itu?" omel Dira.
"Papa santai saja. Aku pasti bisa atasi," timpal Dinia.
"Santai? Kalau sampai kamu gak bisa buktikan, kita semua yang kena! Lain kali kalau ingin bilang sesuatu, kamu izin dulu sama Papa dan Kakak kamu!"
"Kenapa Papa cerewet sih? Katanya mau pensiun dan fokus nikmatin masa berdua sama Mama. Biar ini jadi masalah Dinia. Lagipula, aku sendiri yang buat."
"Karena itu! Kenapa kamu buat? Papa jadi emosi ini." Dira sampai berjalan bolak-balik di balkon.
"Karena aku mau. Nanti juga mereka berhenti sendiri dan lupa."
"Kamu pikir mereka itu kamu? Papa bikin masalah saja, masih dibahas sampai kini!"
"Siapa suruh Papa dulu hamilin Mama duluan?" Dinia malah balas ucapan ayahnya.
"Ya.... Tunggu! Kenapa kamu jadi nyalahin Papa? Ini tentang kamu, Dinia!"
"Pa, kayaknya di sini sinyalnya buruk. Masa Papa ngomel kedengerannya cuman huruf A," alasan Dinia.
"Kamu jangan menghindari Papa!"
"I love you, Papa." Dinia matikan telepon lalu tersenyum licik.
Ditrian melirik ke belakang. Dia menarik napas dan mengembuskan dengan berat.
"Ada apa, Tuan muda?"
"Napa Ian, papa gak ada?" tanya anak itu. Tentu Dinia mendengar hingga tertegun.
"Nanti Mama cari. Kalau sudah ada, Ditrian mau panggil dia Papa?" tanya Dinia.
Ditrian menatap Taran. "Capa itu? Taran bukan?"
"Bukan yang pasti," kilah Dinia.
"Gak ada Papa, meding. Ian suka Talan. Iya, Bestie?" Ditrian menatap Taran begitu dalam.
"Tuan muda, kalau Taran jadi Papa, nanti kita gak bestie," timpal Taran.
"Gak acik, ah!" Ditrian mengalihkan pandangan.
Tiba di rumah, Ditrian lari ke kamarnya untuk dimandikan pengasuh. "Kita omongin masalah yang tadi," ajak Dinia pada Taran. Pria itu lekas mengikuti Dinia.
🍁🍁🍁
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁