NovelToon NovelToon
Sofía dan CEO Mafianya

Sofía dan CEO Mafianya

Status: tamat
Genre:Mafia / Selingkuh / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: lopez ibarra

Sofía hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang hidup di New York—kuliah sambil bekerja sebagai resepsionis, tanpa keluarga, tanpa sandaran. Sampai satu malam di sebuah pesta mewah, ia berpapasan dengan Alejandro: CEO miliarder yang tampan, dingin, dan menyimpan satu rahasia mematikan—ia pemimpin mafia Rusia yang ditakuti seluruh dunia hitam.

Pria yang tak percaya cinta itu tiba-tiba menginginkan Sofía menjadi miliknya seorang. Namun di balik gairah dan kemewahan yang memabukkan, tersembunyi pengkhianatan, kecemburuan, dan sebuah tragedi yang akan menghancurkan segalanya.

Ketika takdir melemparkannya jatuh, Sofía menemukan kebenaran yang mengguncang: ia bukan sekadar gadis miskin, melainkan putri yang hilang dari sebuah dinasti mafia berkuasa. Dan di sanalah ia bertemu Fernando Valentini—sang "Bestia", raja dunia hitam yang kejam sekaligus pemilik imperium bisnis yang tak tersentuh. Seorang pria yang bersumpah takkan pernah lagi mencintai... sampai ia bertemu perempuan yang mampu meruntuhkan setiap tembok di hatinya.

Di antara dua raja dunia hitam yang sama-sama berbahaya, di antara cinta, dendam, dan darah, Sofía harus memilih. Tapi dalam dunia tempat kekuasaan adalah segalanya dan nyawa bisa lenyap dalam sekejap, apakah cinta sejati sanggup bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lopez ibarra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

"Tapi, Bruno, aku tak yakin bisa datang," kataku. "Tugasku menumpuk, dan besok Jumat—aku tak akan sempat menyiapkan semuanya."

"Tidak, Sofía, kau harus datang. Semua orang akan hadir," desaknya. "Ayolah, kita ini kan berteman. Lagi pula aku ini atasanmu—jadi ini perintah…"

"Baiklah, aku janji akan datang," kataku akhirnya.

Sebenarnya aku masih ragu, tapi Bruno sudah banyak membantuku—saat aku terlambat masuk kerja dan dalam banyak hal lain. Aku tak mungkin mengecewakannya dengan tidak datang ke pestanya.

"Yeee! Jumat sepulang kerja kita ke rumahku dulu, lalu berangkat ke pesta bareng-bareng. Bagaimana?" ajak Carol.

"Baiklah," jawabku.

"Sampai jumpa, Nona-nona. Dan jangan lupa bawa baju renang kalian," pesan Bruno.

Kalimat terakhir itu ia ucapkan sambil melangkah masuk ke lift. Aku terpaku. Aku belum pernah memakai baju renang, dan aku tak tahu akan tampak seperti apa nanti. Carol melihat ekspresi wajahku, lalu tertawa geli.

"Ayolah, Sofi, kau cantik. Tubuhmu itu diidam-idamkan banyak perempuan—sudah waktunya kau pamerkan sedikit," katanya. "Di apartemenku ada banyak bikini, banyak yang masih baru. Nanti kupinjamkan padamu."

"Entahlah, Carol," kataku ragu.

"Ayo, dong. Klubnya di tepi pantai, dan ada kolam renang juga. Kau tak mungkin ke sana tanpa baju renang," bujuknya.

"Kau benar juga," akuku.

Begitulah sore itu berlalu. Selesai bekerja, kami berpisah dan aku pulang ke apartemenku. Aku lelah sekali—aku makan malam, mengerjakan tugas, lalu tidur.

* * *

Aku Alejandro. Seorang CEO multimiliarder, dan selain itu, pemimpin sebuah mafia Rusia. Aku tak percaya pada cinta atau hal-hal semacam itu. Saat ini aku punya seorang kekasih, tapi itu semata agar ibuku berhenti merecoki—ia terus-menerus menuntut seorang menantu. Menyebalkan sekali. Kekasihku, Morgan, terlalu lengket dan gemar menganggap dirinya punya hak yang bukan miliknya. Aku sudah muak dengannya.

Aku tiba di perusahaanku di New York. Semuanya beres. Lalu seseorang mengetuk pintu ruanganku—ternyata Bruno, teman masa kecilku.

"Tumben kau mampir menemuiku," sapaku.

"Kau tahu sendiri, kau membebaniku banyak pekerjaan," balasnya.

"Jadi, ada perlu apa kau ke sini?" tanyaku.

"Wah, galak seperti biasa," katanya. "Aku cuma mau bilang: Sabtu ini kutunggu kau di Klub Rowen."

"Untuk apa? Kau tahu aku tak punya waktu. Pekerjaanku banyak," tolakku.

"Ini ulang tahunku, dan aku ingin merayakannya besar-besaran," ujarnya.

"Baiklah, nanti kulihat apakah aku bisa datang," kataku.

"Ajak Morgan. Aku hampir tak pernah melihat kalian berdua bersama," katanya.

"Jangan sebut-sebut dia, tolong," sahutku. "Sudah, sana pergi. Aku banyak pekerjaan."

"Baik, sampai jumpa Sabtu," pamitnya.

Begitulah jam demi jam berlalu di kantorku, lalu aku pulang ke rumah. Saat tiba, aku bertemu Bibi Laura, pengasuhku, yang tampak agak kesal.

"Aduh, Nak, syukurlah kau pulang," katanya. "Si tak tahu malu Morgan tadi datang. Sudah kubilang kau tak ada, tapi ia memaksa ingin masuk ke kamarmu. Tentu saja kutolak. Semoga kau tak marah, tapi kau tahu sendiri, firasatku tentang dia tidak enak."

"Jangan khawatir, Bibi. Terima kasih sudah tidak membiarkannya masuk," kataku. "Sudah, aku ke kamar dulu. Aku lelah."

"Kau tidak makan malam?" tanyanya.

"Tidak, aku sudah makan di kantor. Sampai besok, Bibi," jawabku.

"Baiklah, istirahatlah," katanya.

Aku masuk ke kamar dan merebahkan diri. Terasa aneh Morgan tak menelponku, tapi di sisi lain itu justru melegakan—aku sedang tak ingin mendengar keluhannya. Aku mandi, lalu berbaring hanya dengan boxer, karena tidur seperti itu terasa lebih nyaman bagiku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!