Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.
Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.
Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Aroma tembakau dari salah satu cerutu ayahku—diimpor langsung dari Kuba—memenuhi seluruh lorong, hampir sepekat jeritan Kate yang tak henti-hentinya dari dalam kamar.
"Perempuan dan rasa sakit memang tak pernah akur," celetuk salah satu penasihat ayahku, lalu tertawa atas leluconnya sendiri yang garing itu.
"Kita cuma berharap semua jeritan ini sepadan. Kau butuh seorang ahli waris."
Kutatap mereka dengan geram sampai penasihat itu buru-buru menegakkan tubuhnya.
"Maaf, Capo. Saya tak bermaksud membuat Anda tak nyaman dengan komentar saya."
"Pikirkan dulu sebelum bicara, Angelo. Kalau kau tak mau kehilangan lidahmu."
"Gabriele!" tegur ayahku.
"Diam, Ayah. Ada baiknya kau juga ingat siapa Capo dei capi sekarang."
Ia hanya mengangkat bahu, seolah komentarku tak berarti apa-apa. Semua orang tahu betapa berat bagi Alessandro yang agung untuk menyerahkan kepemimpinannya kepada putra sulungnya. Kurasa ia mengira masih bisa menyetirku seperti dulu waktu aku muda. Tapi tidak lagi.
Itu sudah berakhir. Sekarang akulah yang memerintah dan menentukan bagaimana aku menjalani hidupku yang terkutuk ini.
Jeritan itu terus meredam suara-suara kami. Aku ingin keluar, mengendarai motor keliling kota, tapi aku tahu aku tak boleh—putraku sebentar lagi lahir.
Anak yang tak pernah kuinginkan.
Dari seorang istri yang tak pernah kucintai.
Salah satu syarat yang dipaksakan ayahku agar aku bisa menjadi Capo dei capi Camorra adalah menikahi perempuan Italia dari keluarga mafia dan menghasilkan seorang ahli waris. Ambisiku membuatku menerima tuntutan itu, dan kurang dari dua minggu kemudian aku sudah berdiri di depan altar bersama perempuan yang tak pernah kukenal—perempuan yang gemetar setiap kali kusentuh.
Di malam pernikahan, ia tak mengizinkanku menyentuhnya. Ia ketakutan setengah mati. Wajar saja, ia hanya gadis sembilan belas tahun. Bukan berarti aku sudah tua; usiaku baru dua puluh delapan. Tapi aku sudah kenyang hidup, dan jelas lebih berpengalaman ketimbang seorang perawan. Aku sudah tidur dengan puluhan perempuan sejak umur empat belas.
Meski aku tak punya rasa iba—sifat yang justru berguna dalam pekerjaanku—aku tak mau memaksa seorang gadis ketakutan menunaikan kewajibannya sebagai istri. Jadi aku terus melanjutkan petualanganku dengan perempuan lain, bahkan kubawa mereka ke rumah ini, ke kamarku. Keadaan mungkin akan terus begitu andai ayahku tak menekanku terus soal ahli waris. Akhirnya aku menyerah dan menyempurnakan pernikahanku. Aku berusaha membuatnya jadi pengalaman yang menyenangkan bagi Kate, dan kurasa aku berhasil—sebab malam-malam berikutnya ia yang mencariku ke kamarku, dan mulai kesal setiap kali melihatku bersama perempuan lain.
Sebulan kemudian ia hamil, dan aku tak perlu lagi tidur dengannya. Suatu kelegaan. Aku tak pernah menikmati pertemuan kami; sering kali aku merasa seperti sedang meniduri boneka. Kate tak pernah membelaiku, tak pernah membalas apa pun dalam pertemuan kami—mungkin karena takut. Tapi jujur, aku tak peduli.
Sekarang Camorra adalah milikku.
Tiba-tiba jeritan itu berhenti. Beberapa detik kemudian sebuah raungan marah menggema ke seluruh rumah.
Ayah menepuk bahuku dan tersenyum.
"Calon Capo Camorra berikutnya telah lahir," serunya.
Kukatupkan rahangku. Aku tak berniat menyerahkan posisiku kepada siapa pun yang tak layak—bahkan kepada anakku sendiri.
Kuketuk pintu kamar, tapi tak ada yang membuka. Sialan. Aku punya banyak urusan, tak bisa terus membuang waktu.
Setelah menunggu seperti selamanya, Anna keluar—perempuan yang membersihkan rumah ini dan merawatku sejak ibuku meninggal.
"Saya turut berduka, Tuan," ucapnya nyaris terisak. "Kami tak bisa menghentikan pendarahannya. Istri Anda telah meninggal."
Semua orang memandangku hati-hati, menanti reaksiku atas kabar yang baru kudengar.
"Bayinya?"
Anna mengusap air matanya. "Selamat," katanya, lalu berlari kembali ke kamar. Ketika ia membuka pintu, aku bisa melihat tubuh Kate yang terbujur kaku di atas ranjang, dan seprai yang bernoda merah.
"Turut berduka, Capo," ucap Angelo, tapi kuabaikan belasungkawanya.
"Ini dia," kata Anna sambil menggendong sebuah buntalan yang terus meraung. "Bayi perempuan yang cantik."
Astaga. Perempuan.
Seorang bayi perempuan berambut pirang dengan paru-paru kuat untuk merengek—warisan dari ibunya.
Aku bahkan tak sudi menatapnya untuk kedua kalinya sebelum berpaling ke Anna. "Carikan pengasuh secepatnya. Aku tak bisa membuang waktu mengurus bayi—apalagi kalau kita mau terus memperluas wilayah."
Lagi pula, La Cosa Nostra bisa menyerang kapan saja dan mencoba merebut kembali wilayah yang sudah kami rampas dari mereka.
"Cari yang muda, orang Italia, dan perawan. Kau harus menikahi perempuan lain dan punya ahli waris laki-laki," perintah ayahku.
Aku berbalik dan menatapnya dengan dingin yang ditakuti sekaligus diiri musuh-musuhku.
"Kau mau cucu, itu dia cucumu. Sekarang akulah Capo, dan aku akan menjalani hidupku sesuka hatiku."
"Nak, kau butuh ahli waris."
"Tidak," perintahku dengan desisan penuh amarah.
Semua orang mundur selangkah.
"Anda ingin memberi nama apa untuk putri Anda, Tuan?" tanya Anna berbisik.
"Kau urus dulu apa yang kuperintahkan, soal nama kita pikirkan nanti. Ada hal-hal yang lebih penting untuk kukerjakan. Kabari keluarga Kate agar mereka mengurus pemakaman dan menyingkirkan jasadnya dari rumahku," perintahku sebelum melangkah pergi.
Seperti sudah kubilang, ada urusan yang jauh lebih penting untuk kutangani.