NovelToon NovelToon
Ola, Tuan Mafia!

Ola, Tuan Mafia!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Action / Romansa Fantasi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Pengantin Pengganti Untuk Mafia.

Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.

Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OTM — BAB 34

PASRAH DI MARCANO

Malam semakin larut, menyelimuti kediaman besar itu dalam keheningan yang pekat. Laura berbaring di tepi tempat tidur, napasnya teratur, matanya terpejam meski tidurnya tak lelap.

Di tempat yang jauh dari sana, di antara kegelapan jalan yang sepi dan bayang-bayang gedung pelabuhan, Killian berdiri tegak.

Darah segar masih menempel di punggung tangannya, mengering perlahan di sela-sela jari — bukti lain dari harga yang harus ia bayarkan setiap malam demi menjaga apa yang menjadi tanggung jawabnya. Ia tak pulang, tak beristirahat, dan tak berhenti. Bahaya baru terus bermunculan di setiap sudut, dan ia sendirilah yang harus berdiri di garis depan, menahan gelombang itu sebelum menyentuh pintu kamar tempat Laura beristirahat.

***

Beberapa jam berlalu, cahaya fajar mulai menyelinap samar di ufuk timur. Laura sudah berpakaian rapi, pakaiannya sederhana namun tertata, rambutnya disisir rapi ke belakang.

Ia melangkah keluar kamar, menyusuri lorong panjang menuju pintu utama. Namun di persimpangan koridor, ia berpapasan dengan sosok yang membuatnya seketika berhenti melangkah.

Vincenzo Marcano berjalan perlahan dari arah sayap bangunan yang jarang dikunjungi — ruangan tempat lukisan wanita bernama Jolie tergantung di dindingnya.

Pria tua itu tampak lelah namun tegap, tatapannya lurus ke depan, seakan tak melihat siapa pun di hadapannya. Langkahnya berat, penuh wibawa yang tak tertandingi.

Laura menegakkan punggungnya, menahan napas sesaat. Saat pria itu hendak melintas begitu saja, ia berbicara, suaranya pelan namun tegas, cukup untuk menghentikan langkah itu.

"Maafkan aku, Tuan Marcano."

Vincenzo berhenti. Ia tidak langsung menoleh, berdiri diam sejenak, punggungnya tegak tak bergeming.

"Aku tidak berniat mengkhianati keluargamu," lanjut Laura, menatap punggung pria itu dengan keteguhan yang tak ia sangka milikinya. "Aku terpaksa. Nyawa adikku juga terancam di tangan McManaman. Jika kau berada di posisiku, kau pasti akan mengerti."

Keheningan meregang sejenak. Lalu Vincenzo menoleh perlahan, separuh wajahnya tertimpa bayangan.

"Kau benar," ucapnya pelan, suaranya serak namun jernih. "Seseorang tidak akan pernah tahu rasanya bila belum merasakannya sendiri."

Laura terdiam, tertegun mendengar jawaban itu yang jauh lebih lembut daripada yang ia duga.

"Namun," lanjut Vincenzo, menatapnya tajam dan tegas, "tidak seharusnya kau berada di lingkaran kami. Dunia ini bukan tempat bagi mereka yang masih memegang kebaikan."

Laura mengangguk pelan, tak menunduk.

"Aku tahu. Dan jika boleh jujur. Aku tidak menyukai darah, tidak menyukai pembunuhan, ataupun segala keburukan yang terjadi di sekelilingku."

Vincenzo menatapnya lama, seakan mencari sesuatu di balik wajah gadis itu — jejak yang pernah ia lihat bertahun-tahun silam.

"Aku pernah bertemu wanita sepertimu," ucapnya pelan, matanya menerawang jauh. "Dia juga tidak suka darah, tidak suka kekerasan dan dia memilih jalan yang menurutnya benar, jalan yang terhormat... namun pada akhirnya, justru pilihan itulah yang membawanya menuju kematian."

Darah Laura terasa mendidih perlahan. Ia mengerutkan dahi, bingung sekaligus cemas.

"Aku tidak sama dengannya," ucapnya tegas. "Aku akan melindungi apa yang menjadi milikku, dengan caraku sendiri."

Vincenzo diam, menatapnya tanpa kata, lalu perlahan berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan gadis itu berdiri sendirian di lorong yang sepi.

Laura tahu, wanita yang dibicarakan itu tak lain adalah sosok di lukisan yang pernah ia intip — Jolie Hadie. Dan pertanyaan-pertanyaan mulai bermunculan di benaknya: siapa wanita itu? Mengapa kisahnya begitu menyedihkan? Dan apakah nasibnya akan sama?

Ia menggeleng pelan, membuang keraguan itu, lalu bergegas melangkah menuju halaman depan.

Di sana, Nico sudah menunggu di samping mobil yang mesinnya menyala pelan. Pria itu berpakaian rapi, tatapannya tegap. Melihat Laura mendekat, ia memberi hormat singkat namun tegas.

"Selamat pagi, Nyonya. Saya akan mengantar Anda ke tempat itu."

"Terima kasih," jawab Laura pelan, berniat membukakan pintu sendiri.

Namun langkahnya terhenti saat sebuah kendaraan lain melaju masuk ke halaman, berhenti tak jauh dari mereka.

Pintu terbuka, dan Muchus turun sambil merapikan kerah kemejanya. Senyum licik tersungging di bibirnya saat menatap ke arah Laura, tatapannya tak lepas seakan hendak menelannya bulat-bulat.

Laura menatapnya tajam, tak mengalihkan pandangan sedikit pun. Nico pun menyadari hal itu, menatap waspada ke arah pria itu, lalu berucap pelan kepada Laura.

"Silakan masuk, Nyonya."

Laura mengangguk, melangkah masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi.

Pintu tertutup, menyisakan pandangan ke luar jendela — Muchus masih berdiri di sana, menatap mobil itu hingga perlahan melaju meninggalkan gerbang.

Selama perjalanan, suasana hening. Nico menyetir dengan tenang, matanya menatap lurus ke depan. Laura sesekali melirik ke arahnya, lalu memberanikan diri bertanya.

"Bagaimana keadaan Killian?"

Nico tak menoleh, jawabnya singkat dan tegas.

"Tuan Killian baik-baik saja, Nyonya."

"Apakah dia selalu... berurusan dengan sesuatu yang berbahaya?" tanyanya lagi, suaranya pelan.

"Setiap hari selalu ada urusan yang harus diselesaikan," jawab Nico tenang namun tertutup. "Tuan Killian mampu menjaga dirinya sendiri."

Laura terdiam, menyadari bahwa ia tak akan mendapat penjelasan lebih lanjut. Ia menatap pemandangan yang berlalu di luar jendela, berdoa dalam hati agar pria itu pulang dalam keadaan selamat. Entah apa yang dia pikirkan.

.

.

.

Perjalanan berlangsung tenang tanpa gangguan apa pun. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah pondok yang berdiri sendiri di tengah hamparan hijau, persis seperti tempat yang pernah ia kunjungi dalam ingatannya. Suasana di sekitarnya damai, namun ketegangan tak sepenuhnya hilang.

Laura turun dengan tergesa-gesa, melangkah masuk ke dalam rumah itu. Dan di sana, di ruang tengah yang terang, Lily duduk di kursi empuk, tersenyum lemah namun sehat.

Wajahnya bersih, pakaiannya rapi, terlihat benar-benar terawat. Laura menghampirinya seketika, memeluknya erat, menahan isak tangis yang hampir lolos.

"Kakak..." bisik Lily, memeluk balik dengan lembut.

"Aku di sini... semuanya akan baik-baik saja," ucap Laura menenangkan, mengusap rambut adiknya. “Kau sudah lebih baik."

"Mereka merawat ku." Kata Lily tersenyum kecil.

Di sudut ruangan, dua wanita berjaga dengan tenang, mengenakan pakaian sederhana namun tatapan mereka tajam, siap siaga setiap saat — anak buah yang dipercaya langsung oleh Killian.

Nico berdiri di luar teras, memberi instruksi pelan kepada kepala penjaga di sana.

"Tetap waspada," ucapnya rendah namun tegas. "Jaga ketat setiap sisi. Jangan biarkan siapa pun mendekat tanpa izin."

Pria itu mengangguk patuh. "Kami mengerti."

Pria itu berdiri di bawah sinar matahari pagi yang mulai meninggi. Matanya menyapu sekeliling, memastikan tidak ada hal yang mencurigakan.

Namun pandangannya terhenti pada sebuah kendaraan yang melintas perlahan di jalan utama — sebuah mobil pikap berwarna putih, di atasnya tumpukan jerami yang tinggi. Seorang pria berpakaian sederhana duduk di kemudi, sesekali melirik ke arah rumah itu, tatapannya tak lepas.

Nico mengerutkan dahi, tangannya secara tidak sadar meraba pinggang tempat senjatanya terselip.

Daerah ini sepi, jarang dilewati siapa pun. Dan untuk pertama kalinya, seseorang melintas dengan pandangan yang terlalu tajam, terlalu penuh perhatian untuk sekadar seorang petani yang berpapasan.

Mobil itu menghilang di balik tikungan, namun Nico tetap berdiri diam, menatap ke arahnya. Ia tahu — perasaan waspada yang muncul ini bukan tanpa alasan.

Sesuatu sedang mengawasi mereka.

1
Tiara Bella
mungkin ada sebabnya killian gk makan dirmh itu.....
vnablu
Cemunguut thorrr up nyaa😘
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyyy/Determined//Determined/
total 1 replies
vnablu
Okeeee thorr akuu ngikut ajaaa🤭🤭🤭... Semangat terus buatt up nyaa yaa 😄
Four.: wokayyyy/Scream//Determined/
total 1 replies
Tiara Bella
jangan² yg marganya vettel mantannya Laura 🤭
Tiara Bella: waduh....
total 2 replies
Kinara Widya
siap kak...🥰🥰🥰
Four.: /Good//Good//Good/
total 1 replies
Mia Camelia
ehmm pasti ini ulah nya Muchus nyerang meraka😂
Four.: yakinnn
total 1 replies
Tiara Bella
cepat pergi dr sana Nico drpd nanti kena serangan....
Four.: ho, oh
total 1 replies
Eci Rahmayati
nahhh udah ada yg ngincer sebaiknyaa pindahh
Four.: cuman tukang tani kok
total 1 replies
Kinara Widya
Nico bawa pergi semuanya...tempat Lily sudah tidak aman.
Four.: harusnya yee
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Four.: wokayyy
total 1 replies
vnablu
kapann nih romantis nyaa kalian 😌
Four.: bentar lagi 😌
total 1 replies
vnablu
SEMANGAT terus thorrr up nyaaa😄😄
Four.: wokayyyyy
total 1 replies
Mia Camelia
kiliian dingin banget sih ke laura😔, kapan bisa romantis nya nih😂
Four.: kapan kapan 😁
total 1 replies
Tiara Bella
Laura km bertanya tanya.....aku pun sama😄🤭
Four.: aku pun juga
total 1 replies
Eci Rahmayati
apa mereka pernah bertemu seblm nya dalam keadannnn mabuk atau apalah ya.. 🤔
Four.: mungkin aja sihhh
total 1 replies
Tiara Bella
what happen ya....
Four.: sesuatu yang..... 😮
total 1 replies
Kinara Widya
ada apa dg masalalu Laura atau mungkin masalalu mereka
Four.: gak ada kokkk/Slight/
total 1 replies
Eci Rahmayati
musuhnya kiliannn
Four.: yap, benar
total 1 replies
Tiara Bella
Fiona dibeli sm orng bermarga vattel ternyata....
Four.: ho,oh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!