NovelToon NovelToon
Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Naksir Berat Bos Ganteng, Yang Sakit Asma

Status: tamat
Genre:Duda / Anak Genius / Cerai / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:143.7k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Season 1
Season 2( on going)

Bagi sesama Author yang mampir silahkan like doang Ok, baca n like, Alhamdulillah. Hadiah, apalagi senang banget. Bagi pembaca, like n baca wajib ya Cuy, biar sama-sama ngeunah endol takendol-kendol. Kali ini nama pemerannya yang agak nyeleneh, gak mau yg bagus2 biar sdkt humor.

Dicegat saat bawa motor kala pergi bekerja, membuat Sensi Vera (23) mengerem mendadak motor matiknya sampai hampir standing. Sensi, begitu dia dipanggil terkejut dan penasaran siapakah yang telah mencegatnya.

Saat Sensi mendekat, rupanya orang itu mengalami sakit asma. Sensi terkejut setelah menyadari ternyata yang mencegat adalah Bos di kantornya. "Pak Rangka!" kejutnya.

Rangka Baja (35), seorang Bos di perusahaan kertas ternama di kotanya, mengalami sesak nafas saat dia masih di jalan menuju kantornya. Rangka meminta tolong pada orang yang berhasil dicegatnya untuk membelikan obat ke apotek terdekat. Tanpa Rangka sadari, rupanya orang yang dia cegat adalah s

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Pak Rangka, I Love You

Malam semakin larut, jam di dinding hampir menunjukkan pukul 23.30 WITA malam. Aku mulai merasakan ngantuk, sementara Pak Rangka masih menikmati kopi lattenya seraya melihat laptop. Beberapa jenak sengaja kutatap siluet Pak Rangka di dinding. Jangankan aslinya, siluetnya juga alangkah tampannya. Aku menatap sambil membayangkan Pak Rangka sedang memeluk ku tadi. Namun baru lima menit kutatap siluet itu, kini sudah menghilang lagi entah kemana.

"Sensi, Sen, Sensiiii! Kamu tidak sedang kemasukan setan di kamar kamu itu, kan?" ujar Pak Rangka sedikit berteriak seraya baca doa, dikiranya aku kemasukan setan kali.

"Astaghfirullah, ada apa Pak?" Aku terkaget dengan wajah yang hampir bertabrakan dengan wajah tampan milik Pak Rangka. Untung saja saat itu aku sudah gosok gigi dan pakai penyemprot pewangi mulut, jadi kalau bicara berdekatanpun tidak akan timbul bau.

"Ya, ampun, makin kenapa sih kamu ini? Bukannya tidur malah berhalusinasi?" sentak Pak Rangka lagi. Aku malah senyum-senyum tidak jelas sebab yang ada hanya bayangan kebahagiaan bersama Pak Rangka.

"Astaghfirullah, jangan-jangan kamu ini kesambet, ya? Saya jadi ngeri deh kalau begini." Pak Rangka masih protes dengan sikapku yang entah kenapa kembali ke semula, ke aku yang settingan awal, ceplas-ceplos, bahagia dan tidak mudah sensitif.

"Ti-tidak, Pak, bukan kesambet, tapi kesamber," sangkalku sembari mulai menaiki ranjang.

"Cepat kamu tidur, besok acaranya memerlukan konsentrasi," peringatnya dengan nada yang sedikit naik satu oktaf.

"I-iya, Pak, saya segera tidur," ucapku seraya berbaring dengan guling yang jadi penghalang antara aku dan Pak Rangka.

"Ini batas kita ya, Pak. Sebab baru kali ini saya satu kamar dengan laki-laki. Apalagi Bapak adalah Bos saya yang pernah .... "

"Pernah apa?" potongnya penasaran dengan lanjutan ucapanku.

"I-itu, Pak. Saya mau bilang bahwa Bapak pernah gagal dalam rumah tangga, jadi .... "

"Jadi, kamu takut saya perkosa, gitu, kan? Sembarangan, memangnya saya ini terlihat seperti penjahat kelamin? Ayo, cepat tidur, kamu ini seperti anak kecil saja, tidur pakai diingatin segala!" dumelnya seraya mematikan lampu. Dan ruanganpun menjadi temaram diganti dengan lampu meja.

"Saya tidur ya, Pak. Tapi awas, ya, Bapak jangan sekali-kali memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," peringatku sembari berbaring dan berdoa dulu.

"Apa kamu bilang, kesempatan dalam kesempitan? Sudah saya katakan saya bukan tipe penjahat kelamin, sembarangan saja kalau ngomong," sergah Pak Rangka tidak senang sembari duduk di ranjang.

Akhirnya setelah berdebat dahulu dengan Pak Rangka, aku mulai membenamkan tubuhku di bawah selimut.

"Jangan lupa berdoa dulu sebelum tidur," ujarnya mengingatkan. Benar juga aku hampir saja lupa berdoa sebelum tidur, kalau tidak diingatkan Pak Rangka.

"Selamat tidur juga, Pak," ucapku seraya benar-benar menenggelamkan tubuhku dalam selimut. Lamat-lamat aku mulai tidak sadarkan diri karena tertidur.

Subuh menjelang, suara azan telah diperdengarkan. Meskipun hotel yang kami tempati berada di wilayah kota Banjarmasin, akan tetapi suara azan masih terdengar di mana-mana.

Aku terbangun setelah tangan Pak Rangka menggoyang tubuhku. "Sensi, bangun. Sholat subuh dulu!" ajaknya sembari berlalu ke kamar mandi duluan. Aku menunggu giliran setelah Pak Rangka.

Setelah Pak Rangka selesai, aku segera masuk kamar mandi. Aku langsung mandi sekaligus wudhu, soalnya jam 09.00 pagi, ada acara pertemuan dengan pengusaha kertas lainnya se Kalimantan.

Setelah selesai mandi, aku bingung karena aku tidak bawa handuk, tapi untungnya di dalam kamar mandi hotel, sudah tersedia handuk hotel, terpaksa aku meminjam yang ada di dalam kamar mandi Pak Rangka.

"Pak, maaf, berhubung saya belum berani ke kamar saya, untuk sementara saya di sini dulu sampai jam enam pagi. Setelah itu baru saya keluar," ujarku.

"Boleh, mau sampai kapanpun juga boleh," ujar Pak Rangka sambil tersenyum. "Kamu, mandi dan keramas ya?"

"Iya, Pak," jawabku dengan heran.

"Baguslah itu, mandi besar setelah mimpi kamu semalam," ujar Pak Rangka sambil mesem, dan gelagat ini membuat aku penasaran.

Tidak membuang waktu lama aku segera mendirikan sholat Subuh, sebab Pak Rangka sudah sholat Subuh duluan. Setelah sholat aku harus mendapat jawaban dari Pak Rangka atas ucapannya tentang mandi besar dan hubungan dengan mimpi aku semalam.

"Pak, memangnya saya semalam mimpi apaan, ya?" tanyaku heran setelah menyudahi sholat. Pak Rangka tidak langsung menjawab, dia hanya mesem-mesem tidak jelas.

"Terus, Bapak tidak macam-macam, kan, terhadap diri saya?" Pak Rangka malah ketawa begitu keras sehingga membuat aku khawatir keberadaan kita dalam satu kamar mengundang kecurigaan pihak lain.

"Kamu ini selalu menuding saya tidak benar, kalau kamu mau tahu, tidur kamu itu yang meresahkan sampai rok kamu tersingkap memperlihatkan dalaman kamu," tandas Pak Rangka membuat aku terbelalak seketika.

"Apaaa, benarkah apa yang Bapak katakan?"

"Kenapa saya harus bohong, memang itu kenyataannya kok. Kalau saya tipe laki-laki mesum, mungkin saja saat melihat kamu memperlihatkan dalaman kamu, saya langsung nyosor," ujar Pak Rangka meyakinkan.

"Kamu tidak sadar juga gitu kalau tidurmu itu sering mengigau?"

"Apa, Pak, mengigau?" Pak Rangka mengangguk. Aku jadi penasaran kata-kata apa yang aku igaukan tadi malam? Pak Rangka diam, dia tidak menjawab. Namun tidak berapa lama aku disodorinya Hp yang sedang memutar sebuah vidio rekaman.

"Pak Rangka, I love you, I love you forever, muah, muah." Seketika aku tersentak kaget melihat isi vidio rekaman yang diperlihatkan Pak Rangka. Rasa malu dan seperti hilang muka seketika menghantam dada. Ditambah lagi posisi tidurku yang mijah membuatku semakin tengsin saja.

"Bagaimana, apakah cukup jelas?" Pak Rangka meminta Hpnya kembali seraya tersenyum-senyum membuatku semakin dilanda malu yang kian tiada menentu.

Untuk menutupi rasa maluku. Aku segera berlari menuju pintu keluar lalu membukanya, saat situasi terlihat aman, aku segera berjalan perlahan menuju kamar hotelku. Jantungku serasa copot saat Mbak Dian memergoki aku jalan mengendap menuju kamarku. Aku harap Mbak Dian tidak curiga kalau aku sudah dari kamar Pak Rangka.

"Sensi, kamu pagi-pagi buta habis dari mana?" Mbak Dian bertanya seakan menyelidik.

"Tidak dari mana-mana Mbak, saya tadi hanya keluar sebentar setelah mandi besar."

"Apa, mandi besar? Memangnya kamu mandi besar habis ngapain?" kejut Mbak Dian penasaran dengan jawabanku.

"Ehh, i-itu Mbak, saya mandi besar setelah haid. Itu maksud saya," jelasku bohong dan tergagap.

Aku jadi heran kenapa aku malah keceplosan ngomong yang tidak-tidak di depan Mbak Dian. Mbak Dian kan salah satu pegawai yang rada usil mulutnya suka ember. Duhhh, aku menjadi sangat was-was. Langsung saja aku tinggalkan Mbak Dian yang masih berdiri terpaku penasaran melihatku bingung.

mijah \= tidurnya tidak bisa diam.

1
Bo-bo
keren ni Thor👍
Bo-bo
aku mampir di karyamu Thor..semoga sukses selalu 🤲🤲
Lina Zascia Amandia: Mksh byk Kak...
total 4 replies
Pa Muhsid
seperti di toko matrial
Lina Zascia Amandia: Wkwkkwkwk.... iya Bang, saya sengaja cari nama bahan bangunan atau istilah dlm pembangunan gedung. Biar agak lain, soalnya nama2 yg keren udah sering dipakai penulis2 Femez. Semoga suka ya Bang.... mendukung karya ini, supaya rame soalnya pembacanya msh minim.... mksh udah hadir...
total 1 replies
Erny Kurniawati
tokohnya dari bangunan semua
Lina Zascia Amandia: Hehhee iya Kak.... sengaja Kak, nama2 pemeran yg keren udah byk yg make sm penulis2 lain... smg suka ya Kak, mohon dukungannya ya, cerita bahan bangunan dan bunga Sansevera ini.... wkwkwkkwkwkw
total 1 replies
Juragan Jengqol
bagus, ringan, enak dibaca....
Lina Zascia Amandia: Kak ke mana aja blm mampir lagi di karya saya yg lain.
total 1 replies
Juragan Jengqol
ayo cakar, semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
Juragan Jengqol
suruh kursus aja di luar, bos
Lina Zascia Amandia: Iya daripada dimarahin ya?
total 1 replies
Juragan Jengqol
minta maap teroooz, tapi diulangi lagi....
Lina Zascia Amandia: 🤦‍♀️🤦‍♀️😌😌😌😌
total 1 replies
Juragan Jengqol
siapa tau jodoh sama cakar
Lina Zascia Amandia: Hehehheeh..... ✅✅✅
total 1 replies
Juragan Jengqol
salah satu kunci berumah tangga adalah SALING PERCAYA
Juragan Jengqol
a r o g a n
Juragan Jengqol
kamu juga salah, sen. sudah nikah harus bisa jaga diri, jaga hati, jaga kehormatan suami
Juragan Jengqol
maksudmu benar, tapi caramu salah. harusnya kasih tau dulu baik2, kalau belum berubah baru teguran, kalau belum berubah baru teguran keras. ini langsung marah keras.

di perusahaan aja sp1 dulu, ga ujug2 sp3.
Juragan Jengqol
kamu ga bisa jagain hati suami
Juragan Jengqol
salah sasaran tuh marahnya
Juragan Jengqol
kalau kata Sayyidina Ali, sabar itu pada kesempatan pertama. dan kamu sudah gagal sabar di kesempatan pertama, bos
Juragan Jengqol
kalau ga dikasih tau, gimana bisa tau bos? paling sebel sama orang yg suka bikin teka teki.
Juragan Jengqol
delana orang sunda bukan thor? kalo sunda bisa dipanggil teh lana atau ceu lana...
Juragan Jengqol
dian ga ikut rombongan?
Juragan Jengqol
ga usah melongo, bos. kan situ yang bikin sensi jadi bete.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!