"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."
"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"
....
Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 #Yang Tertunda
Anya menelan ludahnya dengan susah payah, merasakan pasokan udara di dalam kamar tidur mewah itu seakan menipis akibat dominasi mutlak dari pria di hadapannya. Menyadari bahwa melawan Bara Fernandez dengan kekerasan fisik adalah hal yang sia-sia, Anya langsung mengubah taktiknya. Dia mengerjapkan sepasang mata bulatnya, memasang wajah paling memelas, imut, dan menggemaskan ala dirinya demi melunakkan hati sang penguasa.
"Om Bara yang terhormat... yang paling kaya, paling mapan, paling berkuasa, dan yang... paling tampan sedunia," rayu Anya dengan nada suara yang sengaja dibuat mendayu-dayu, berharap pujian setinggi langit itu bisa meruntuhkan ego Bara. "Bisa tidak... kalau jenis hukumannya diganti dengan yang lain saja? Misalnya... aku bersedia mencuci semua baju-baju Om selama satu tahun penuh! Atau aku akan membelikan kopi favorit Om setiap kali ada rapat penting di kantor? Bagaimana, Om?"
Mendengar negosiasi konyol yang keluar dari belah bibir merah muda gadis itu, Bara tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekehan kecil yang terdengar sangat seksi dan dalam. Pria matang itu menatap Anya dengan binar mata yang sedikit melunak.
"Aku bisa saja bersikap lebih lembut kepadamu malam ini, Zevanya... asalkan kamu bersedia melakukan satu hal untukku," sahut Bara dengan nada suara baritonnya yang tenang.
Mata Anya seketika berbinar terang, merasa sebuah harapan besar baru saja terbuka lebar baginya. "Apa? Apa syaratnya, Om?"
Bara condong ke depan, mengikis sisa jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "Coba panggil aku Sayang... seperti cara kamu memanggil Calvin di meja makan sore tadi. Tapi, aku ingin nadanya jauh lebih manis."
Deg.
Senyuman di wajah Anya seketika runtuh. Gadis itu refleks mundur satu langkah, menggelengkan kepalanya dengan cepat. "T-tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?" sepasang mata elang Bara menyipit, binar cemburu kembali menguasai manik matanya yang pekat. "Bahkan kamu mengukir inisial namaku dengan lambang kobaran api di kuku jari manismu, Zevanya."
Wajah Anya memerah padam mendengar skakmat tersebut. "Ini bukan kemauanku, tahu! Ini semua karena kejahilan Alena dan Bella!" bela Anya dengan suara tertahan, merutuki kedua sahabatnya di dalam hati.
"Begitu ya?" Bara menjeda kalimatnya. Sudut matanya perlahan beralih, turun menatap intens ke arah apa yang sedang dikenakan oleh Anya malam ini. Tatapan matanya yang tajam seolah menembus permukaan kain sutra putih gading yang tipis tersebut. "Lalu... kamu berpakaian kurang bahan seperti ini ke kamarku, apa sengaja ingin menguji batas kesabaranku, hm?"
Anya tersentak, baru menyadari tatapan lapar Bara yang tertuju pada tubuhnya. Dia dengan tergesa-gesa menarik kedua sisi outer kimononya, merapatkannya ke dada dengan erat. "Tidak! Aku tidak bermaksud begitu! Aku memang terbiasa berpakaian seperti ini saat akan tidur di rumah. Dan aku sama sekali tidak punya baju tidur lain di dalam koperku, Om!"
Bara melangkah maju, kembali mengikis jarak yang sempat Anya buat. "Tidak perlu kamu tutupi, Zevanya. Lagipula... bukankah aku sudah pernah membuat tanda kepemilikanku di sana?" bisik Bara dengan suara serak yang begitu sensual. "Coba aku lihat... apa tanda itu masih ada di kulitmu."
Anya membelalak panik. "Om Bara, jangan..." Anya mencoba mundur untuk menghindar, namun sialnya, bagian belakang kakinya justru membentur tepi ranjang berukuran king size di kamar itu.
Anya kehilangan keseimbangan tubuhnya. Tubuh mungilnya terjatuh telentang di atas kasur yang empuk, dan sebelum dia sempat bergerak untuk bangkit, tubuh jangkung dan kokoh milik Bara Fernandez sudah bergerak cepat ikut merangkak naik, menindih tubuh Anya di bawah kungkungan kekuasaannya.
Anya terengah-engah, menatap lurus ke arah wajah tampan nan sempurna milik Bara yang kini berada tepat beberapa senti di atas wajahnya. Pria ini memang tampak begitu sempurna tanpa cela, menyerupai dewa Yunani kuno yang sangat mematikan. Namun, di tengah keterpakuannya, sebuah ingatan mendadak melintas di otak Anya, ingatan tentang percakapannya dengan Jessica beberapa menit yang lalu. Pria di atasnya ini kelak akan menjadi milik wanita lain.
"Jangan seperti ini, Om..." lirih Anya, matanya menatap Bara dengan binar memohon yang kali ini terasa berbeda. "Di kamar sebelah... ada calon istrimu, Kak Jessica. Bukankah... bukankah lebih baik Om melakukannya dengan dia saja?"
Mendengar kata calon istri dan nama Jessica keluar dari mulut Anya, sorot mata Bara mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tidak suka. Pria itu tidak menyukai fakta bahwa gadis kecilnya sedang mencoba mendorongnya ke pelukan wanita lain.
"Jangan banyak bicara, Sayang. Nikmati saja hukumanmu dan jangan pernah membahas hal lain yang tidak penting sekarang," potong Bara dengan nada suara yang mutlak tidak menerima bantahan.
Tanpa membuang waktu lagi, jari-jari kekar Bara bergerak menepis ikatan tali kimono Anya. Dengan satu sentakan halus, outer kimono itu terbuka lebar, memperlihatkan dengan sangat nyata keindahan tubuh Anya yang kini hanya dibalut oleh piyama sutra tanpa lengan bermodel terusan dengan potongan dada yang teramat rendah. Kulit putih mulus Anya tampak berkilau di bawah temaramnya lampu kamar.
Bara menundukkan kepalanya, menyurukkan wajahnya di ceruk leher Anya. Aroma manis bercampur wangi khas tubuh Anya seketika memicu keliaran di dalam diri sang serigala. Bara memberikan gigitan-gigitan kecil yang sensual di sepanjang urat leher Anya, menghisap kulit sensitif itu dengan lembut hingga meninggalkan ruam kemerahan yang baru.
Sentuhan intens yang mendadak itu seketika melepaskan sengatan listrik di seluruh saraf tubuh Anya. Lenguhan halus spontan lolos dari belah bibirnya yang bergetar. "Ah... Om Bara... hen... hentikan..."
Namun, Bara sama sekali tidak berniat untuk berhenti. Alih-alih menyudahi, tangan kekarnya kini bergerak turun, menyingkap ujung bawah piyama satin Anya hingga naik atas dada, membuat kaki jenjang dan paha mulusnya terekspos sepenuhnya. Anya dirayapi rasa malu yang teramat sangat ketika menyadari area intimnya kini pasti terlihat dengan sangat jelas oleh Bara, karena dia hanya mengenakan celana dalam berenda tipis yang transparan.
Fokus Bara kini sepenuhnya beralih pada dua gunung kenyal milik Anya yang naik turun memburu. Dengan gerakan yang teramat telaten dan mudah, Bara menyingkap bra Anya hingga gundukan indah tersebut ke udara bebas. Dan benar saja, di atas permukaan kulit kenyal itu, masih tercetak samar bekas gigitan kemerahan yang Bara buat beberapa hari lalu di penthouse, seolah enggan untuk memudar.
Bara mengulas seringai puas melihat tanda kepemilikannya. Pria itu menundukkan kepalanya lebih dalam, lalu mulai menyesap dan melumat pucuk merah muda milik Anya secara bergantian, dari sisi kanan ke sisi kiri dengan hisapan-hisapan dalam yang teramat memabukkan.
"Emmhh... ahh... Om Bara... ber... henti..." mulut Anya terus-menerus meracau meminta pria itu untuk berhenti, namun reaksi biologis dari tubuhnya justru mengkhianati kata-katanya sendiri.
Sensasi kenikmatan luar biasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya membuat akal sehat Anya perlahan melayang. Di bagian bawah perutnya terasa bergejolak hebat, meremang kencang hingga area intim di balik celana dalam rendanya mulai mengeluarkan cairan bening alami yang hangat, membasahi kain tipis tersebut hingga terasa lembap.
Bara menghentikan aktivitasnya sejenak ketika merasakan perubahan ritme tubuh Anya. Pria itu melirik sekilas ke arah pangkal paha Anya yang tampak sedikit gemetar, lalu menaikkan pandangannya untuk menatap lurus ke dalam manik mata Anya yang sudah sayu akibat gairah.
"Kamu yakin... ingin aku berhenti sekarang, Sayang? Tapi tubuhmu mengatakan hal yang sebaliknya," bisik Bara dengan suara bariton yang teramat serak dan berat.
Anya sudah sepenuhnya kehilangan kewarasannya. Sebelum dia sempat menjawab, Bara tiba-tiba meraih tangan kanan Anya yang bebas. Pria itu menuntun jemari lentik Anya, mengarahkannya ke bagian bawah perutnya sendiri, lalu menempelkan telapak tangan Anya tepat di atas pusaka kejantanannya yang sudah menegang keras, kokoh, dan berdenyut di balik celana tidur satin hitam yang dikenakan Bara.
Anya tersentak merasakan ukuran dan ketegangan yang teramat luar biasa di bawah telapak tangannya. Tubuhnya meremang hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Hukumanmu malam ini akan langsung berakhir... jika kamu berhasil membuat milikku ini tertidur kembali, Ceri Manis," bisik Bara dengan senyuman iblisnya yang teramat seksi di depan bibir Anya.
Namun, tepat di saat Bara hendak memulai permainan yang lebih panas...
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan keras di pintu kamar seketika memecah keheningan malam yang panas tersebut. Atmosfer intim di dalam ruangan itu mendadak membeku dalam satu detik.
"Om Bara... Om? Maaf, bisa bangun sebentar?"
Itu suara Calvin. Suara tunangan Anya terdengar sangat jelas dari balik pintu koridor yang terkunci, membuat Anya seketika membelalakkan matanya dengan rasa panik dan ketakutan yang luar biasa luar biasa. Seluruh gairahnya menguap dalam sekejap, digantikan oleh detak jantung yang berdegup liar karena takut tertangkap basah.
Di atas tubuh Anya, pergerakan Bara seketika terhenti. Rahang pria matang itu mengeras rapat, sepasang mata elangnya memancarkan kilat amarah dan frustrasi yang teramat pekat karena kegiatannya diganggu di saat yang paling krusial.
"Om Bara..? Om ada di dalam, kan?" panggil Calvin lagi dari luar, mengetuk pintu beberapa kali dengan ritme yang lebih cepat.
"Papa baru saja menelepon saya. Katanya ada masalah darurat yang sangat serius mengenai proyek investasi kita di Jerman, dan Papa meminta Om untuk ikut memeriksa datanya sekarang juga di ruang kerja depan. Om Bara...?"
Di bawah kungkungan Bara, Anya memegangi dada bidang pria itu, menatapnya dengan tatapan memohon yang sangat panik sembari menggelengkan kepalanya pelan, memberi isyarat agar Bara segera bangkit dan merapikan pakaian mereka sebelum bencana besar benar-benar terjadi jika Calvin nekat membuka pintu memakai kunci cadangan.