Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Nathalie membalikkan tubuhnya dengan sisa tenaga yang hampir habis. Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, ia meninggalkan Sela yang masih berdiri tegak di tengah lorong, menatap punggungnya dengan senyum penuh kemenangan dan ejekan yang menusuk.
Langkah Nathalie gontai, seperti orang yang sedang berjalan di atas es tipis yang siap retak kapan saja. Setiap langkah terasa berat, seolah kakinya terbuat dari timah.
Tangan kanannya terangkat memegangi kepalanya yang tiba-tiba berdenyut hebat. Rasa sakit yang tajam menusuk-nusuk pelipisnya, seolah ada palu kecil yang terus memukul dari dalam. Pandangannya mulai kabur, titik-titik hitam muncul di pinggir matanya. Napasnya pendek dan cepat, dada naik turun tidak beraturan. Semua emosi yang bertubi-tubi sejak pagi ini — berita pernikahan, kata-kata kejam Sela, bayangan Drake seolah menumpuk menjadi satu beban yang tak tertahankan.
Ia mencoba menarik napas dalam-dalam, tapi udara terasa seperti duri di tenggorokannya.
"Kenapa, harus sekarang," gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi ia tak peduli lagi siapa yang melihat. Yang ada di pikirannya hanya ayahnya. Ia harus kuat. Setidaknya sampai masuk ke ruangan.
Kriet....
Dengan tangan gemetar, Nathalie mendorong pintu ruang rawat ayahnya. Cahaya ruangan yang redup menyambutnya, aroma obat dan desau monitor jantung terdengar samar.
Namun, begitu kakinya melangkah melewati ambang pintu, dunia di sekitarnya berputar dengan hebat. Tubuhnya tiba-tiba limbung.
Bugh...
Nathalie ambruk ke lantai dengan suara keras yang menyayat. Tubuh rampingnya jatuh tak berdaya, kepalanya membentur ubin dingin, dan ponselnya terlepas dari genggaman, meluncur beberapa meter jauhnya. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi, bercampur dengan pusing yang luar biasa. Penglihatannya menggelap sejenak, telinganya berdengung keras.
Ayah Nathalie yang sedang setengah berbaring di ranjang terlonjak kaget. Mata tuanya yang lelah membelalak lebar, wajahnya yang pucat berubah semakin pias karena panik. Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya yang masih lemah pasca operasi hanya bisa bergerak sedikit. Tangan kurusnya terulur ke arah putrinya, jari-jarinya gemetar hebat.
"Nathalie... Nathalie..." panggilnya dengan suara sangat lirih, nyaris tak terdengar.
Suaranya parau dan lemah, seperti bisikan angin yang hampir hilang.
Tenggorokannya yang kering membuat kata-kata itu keluar dengan susah payah, disertai batuk kecil yang menyakitkan. "Nak... apa... yang terjadi..."
Ayahnya berusaha keras memanggil lagi, "Nathalie... bangun... Ayah... di sini..." Tapi suaranya hanya keluar sebagai desahan lemah.
Air mata pria tua itu mengalir deras melihat putri tunggalnya tergeletak di lantai. Rasa tidak berdaya yang menyiksa membakar dadanya. Ia ingin berteriak memanggil perawat, tapi tenaganya tidak cukup. Hanya tangan kanannya yang terus bergerak lemah, berusaha meraih putrinya yang tak bergerak.
Nathalie terbaring meringkuk di lantai dingin, kesadarannya datang dan pergi seperti gelombang. Semuanya terasa terlalu berat. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi dahinya.
"Ayah..." bisik Nathalie pelan sekali, suaranya hampir tak keluar. Air matanya bercampur dengan debu lantai. "Maafkan... Nathalie..."
Di dalam ruangan yang seharusnya tenang itu, suasana menjadi kacau. Monitor jantung ayahnya mulai berbunyi lebih cepat karena panik, suara bip-bip yang semakin cepat memecah keheningan.
Ayah Nathalie terus memanggil nama putrinya dengan suara lirih yang penuh keputusasaan, "Nathalie, jangan tinggalkan Ayah, Nathalie..."
Tak lama kemudian, suara langkah cepat perawat terdengar dari luar koridor. Pintu ruangan didobrak terbuka, dan beberapa orang berjas putih berlarian masuk.
Salah seorang perawat langsung berlutut di samping Nathalie, memeriksa denyut nadinya, sementara yang lain berusaha menenangkan ayahnya yang panik.
"Nona Nathalie! Sadar, Nona!"
Nathalie merasakan tangan-tangan asing mengangkat tubuhnya. Tapi di dalam hatinya yang hancur, ia hanya ingin hilang saja. Hilang dari semua rasa sakit ini. Hilang dari cinta yang menyakitkan. Hilang dari dunia yang seolah tak memberinya tempat.
Sementara itu, di lorong yang sama, Sela yang masih berdiri di kejauhan menyaksikan keributan samar-samar dengan senyum tipis yang puas. Ia membalikkan tubuhnya dengan anggun, berjalan pergi seolah tak ada yang terjadi.
Bagi Nathalie, hari yang sudah buruk ini semakin menjadi neraka. Dan di tengah semua itu, ia hanya bisa berpegang pada satu harapan tipis: ayahnya tidak boleh melihatnya hancur seperti ini.
Ruangan rawat itu kini penuh dengan suara panik dan langkah kaki. Nathalie, yang biasanya kuat menahan segalanya, akhirnya runtuh total.