"Qay,, kenapa kamu melakukan ini semua padaku,, apa kamu telah melupakan kenangan indah kita selama ini?"
"Lalu,, apakah kamu tidak berfikir,,, apa yang membuatku seperti ini? bukankah setiap perubahan selalu ada sebabnya?"
Djani dan Qaynaya adalah sepasang kekasih yang telah berpacaran selama 5 tahun, karena kesibukan masing-masing, sepertinya mereka mulai bersikap cuek terhadap pasangan mereka sendiri.
Saat hubungan mereka kembali membaik, masalah baru muncul lagi karena Qaynaya dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan Doni, yang merupakan sahabat Djani.
Setelah pernikahan Doni dan Qaynaya, apa yang akan dilakukan oleh Djani? apakah dia akan merebut Qaynaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A̳̿y̳̿y̳̿a̳̿ C̳̿a̳̿h̳̿y̳̿a̳̿, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selesai
Setelah memastikan bahwa Djani tidur, Qaynaya menggerakkan tubuhnya, merasa sangat lelah karena seharian harus menyambut tamu undangan di atas pelaminan, walau pernikahan ini kembali tidak dilandasi kebahagiaan, tetapi setidaknya yang disamping Qaynaya kali ini adalah pria yang dicintainya, pernikahan mereka diadakan disebuah hotel, dan saat ini mereka menginap di hotel tersebut, Qaynaya akhirnya terlelap dengan memeluk erat sebuah guling sebagai perlindungan pada tubuhnya.
Djani membuka matanya saat dirasa istrinya telah tertidur, Djani memiringkan tubuhnya menghadap istrinya, Djani kembali menitikkan air matanya, dia sangat menyesali perbuatannya selama ini terhadap Qaynaya, tetapi tangannya hanya mengambang di udara tidak berani menyentuh wajah Qaynaya, dia takut akan membuat Qaynaya terbangun.
"Apa yang telah kamu lalui sayang? aku pikir aku adalah pria paling menderita, tetapi sepertinya kamu juga mengalami hari yang begitu sulit" batin Djani dan terus memandangi wajah istrinya yang terlihat sangat kelelahan.
"Apa aku pantas mendapatkan ini semua? setelah aku terus menghina dan menyiksa dirimu selama ini?" Djani tidak kuasa menahan air matanya yang terus mengalir, karena takut tangisannya akan bersuara, Djani lalu bangun dan menuju ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Djani menangis dalam diam, entah ini tangisan lega atau tangisan penyesalan dengan dirinya sendiri.
"Apa kamu tau Qay, malam ini aku akan menyiksa dirimu" itu yang tadi dia ucapkan pada Qaynaya saat di atas pelaminan mereka, untuk pasangan normal, kata-kata seperti itu akan terdengar sensual, tetapi bagi hubungan mereka, tentu saja perkataan Djani begitu menakutkan bagi Qaynaya.
Djani terus diam didalam kamar mandi dan tidak menyadari waktu telah pagi, terdengar suara gagang pintu kamar mandi bergerak, sepertinya Qaynaya telah bangun dan ingin ke kamar mandi, Djani meminta istrinya untuk menunggu sebentar, Djani mencuci wajahnya supaya Qaynaya tidak menyadari kalau dia habis menangis.
Qaynaya menundukkan wajahnya saat berpapasan dengan Djani di depan pintu Djani sadar kalau Qaynaya pasti masih takut padanya.
"Apa yang ingin kamu makan untuk sarapan" tanya Djani sebelum pintu kamar mandi tertutup.
"Apa saja" jawab Qaynaya singkat tanpa melihat kearah Djani karena masih terus menunduk, sakit rasa hati Djani melihat Qaynaya seperti ini, dia kembali menyalahkan dirinya sendiri sehingga Qaynaya bersikap seperti itu padanya.
Qaynaya keluar dari dalam kamar mandi dan sudah berganti baju, terlihat suaminya yang telah menunggunya di atas sofa dengan banyak makanan di meja, Qaynaya terdiam untuk sesaat tidak berani mendekat.
"Kemarilah dan sarapan, aku akan mandi dulu" Djani menyadari bahwa istrinya masih takut padanya dan juga masih sangat sungkan, Djani lalu masuk ke dalam kamar mandi supaya Qaynaya bisa leluasa sarapan.
Benar saja, setelah Djani masuk kedalam kamar mandi, Qaynaya dengan cepat mendekati makanan yang sudah disediakan suaminya, Qaynaya begitu kelaparan karena tadi malam tidak sempat untuk makan, setelah acara resepsi selesai, suaminya langsung menyeretnya ke dalam kamar.
Djani tersenyum melihat tingkah istrinya dari celah pintu kamar mandi yang belum tertutup rapat.
"Dia masih sangat imut, kelakuannya juga masih sama saat kelaparan" batin Djani, sampai melupakan bahwa dia harus mandi, dia malah terus melihat Qaynaya yang sedang makan dan pipinya terlihat menggembung saat mengunyah makanan.
Saat Qaynaya menoleh ke kiri dan kanan, barulah Djani sadar kalau sepertinya istrinya itu telah menyelesaikan sarapannya, Djani lalu mandi walau harus menahan rasa perih di wajahnya bekas pukulan dari Doni.
"Sudah selesai sarapannya?" tanya Djani pada istrinya begitu keluar dari dalam kamar mandi.
"Iya sudah" jawab Qaynaya masih sangat sungkan pada suaminya.
Qaynaya berjalan mendekati jendela untuk menghirup udara segar, atau mungkin mencoba untuk mengurangi kecanggungan nya, Djani sarapan sambil terus melihat kearah istrinya.
"Apa kamu tidak betah disini? kalau kamu tidak suka, ayo kita pulang" Djani mendekati Qaynaya yang masih terus berdiri, Djani mencoba membuat Qaynaya tidak takut lagi padanya.
"Apa boleh?" tanya Qaynaya pelan tanpa menoleh ke arah suaminya.
Djani mendekati Qaynaya dan mencoba untuk menggenggam tangannya, Qaynaya menghindar dan terus mundur hingga terbentur tembok.
"Aaawwwwhhh" Qaynaya memegangi belakang kepalanya yang terbentur tembok, Djani kaget lalu langsung memeriksa, mereka menjadi semakin dekat, Qaynaya merasakan sakit di dadanya karena jantungnya berdebar-debar.
Dengan pelan Qaynaya menggeser tubuhnya supaya menjauhi Djani, tetapi tiba-tiba Djani berlutut dan menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
"Maafkan aku, atas semua kesalahanku padamu selama ini, aku sungguh minta maaf" Djani merasa frustasi karena istrinya begitu ketakutan padanya.
"Aku berjanji akan menebus semuanya, tolong jangan takut padaku, aku tidak akan menyakitimu lagi" ucap Djani dan terus memohon kepada Qaynaya.
Qaynaya terdiam dan melihat ke arah suaminya yang sedang berlutut didepannya, Qaynaya merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Kamu tidak salah apapun, kenapa harus meminta maaf, bukankah aku yang telah bersalah padamu? sekarang bangunlah" Qaynaya berucap pelan, Djani lalu melihat Qaynaya, mereka saling berpandangan.
Qaynaya tiba-tiba menangis mengingat semua hal yang menimpa mereka, Djani bangkit dan mencoba untuk memeluk istrinya, awalnya Qaynaya menolak tapi akhirnya Qaynaya sendiri yang masuk kedalam pelukan Djani saat suaminya itu berniat mundur karena tidak mau istrinya semakin ketakutan padanya.
Djani sangat lega, dan terus mendekap erat tubuh istrinya, Qaynaya terus menangis di dalam pelukan suaminya, tangisan lega karena Djani yang dia pikir membencinya ternyata malah mengucap maaf, yang berarti Djani juga telah memaafkan dirinya.
"Maaf" Qaynaya masih terisak didalam pelukan Djani, dia kembali teringat di malam pernikahan nya dengan Doni, saat itu mereka harus terpisah untuk beberapa saat, bahkan Djani dalam keadaan terluka parah.
"Tidak Qay, aku yang bersalah, maafkan aku, mulai sekarang aku akan menebus semuanya, aku akan menjagamu seumur hidupku" mereka terus berpelukan untuk meluap kan segala perasaan mereka, Djani melepaskan rasa benci dan kecewanya pada Qaynaya, sementara Qaynaya melepaskan rasa bersalahnya pada Djani.
"Jangan takut lagi padaku, masalah kita sudah selesai, dan mulai sekarang, kita buka lembaran baru" ucap Djani.
"Tidak, aku tidak takut padamu, aku hanya," Qaynaya mengehentikan ucapan nya karena malu akan apa yang akan dia ucapkan, Qaynaya hanya takut kalau sampai Djani melakukan kekerasan terhadap dirinya seperti tadi malam, selama ini Qaynaya tidak takut pada sikap Djani, karena Qaynaya menyadari sikap Djani selama ini padanya karena Djani begitu kecewa terhadap dirinya.
Mereka melepaskan pelukan setelah mereka sama-sama tenang, mereka saling memandang, Djani tidak berani berinisiatif untuk melakukan apapun, karena dia takut kalau istrinya akan kembali ketakutan, Djani mengajak Qaynaya untuk segera bersiap pulang.
"Bolehkah ke apartemenku dahulu?" pinta Qaynaya pada suaminya, sebenarnya Djani ingin sekali menolak, karena apartemen Qaynaya adalah tempat tinggal Qaynaya dan Doni selama ini, disana pasti banyak kenangan istrinya dengan Doni, tetapi karena tidak mau istrinya kecewa, Djani lalu mengikuti apa keinginan dari istrinya.