Setelah menghadiri pesta pertunangan Rias Gremory sahabat kecilnya yang berakhir digagalkan oleh Sekiryuutei:Issei Hyoudou. Sona sitri di dorong oleh kakaknya Serafall untuk mencari keluarga baru demi menambah kekuatan tempur garis depan.
Menanggapi itu Sona mengamininya, lalu saat kembali ke dunia manusia. Dia menyaksikan seorang pemuda dengan sacred gear [Imperial Tiger Mantle] bertarung dengan malaikat jatuh tingkat tinggi.
Remaja itu mati terbunuh dan Sona membalas kematiannya dengan membunuh malaikat jatuh itu. Lalu mereinkarnasikan remaja itu yang ternyata masih murid akademi Kuoh sekelas dengan Issei sang sekiryuutei.
Inilah kisah Yudi sang Pawn Sitri yang bersumpah untuk selalu menjaga janjinya demi melindungi rekan-rekannya dari berbagai masalah.
Update rutin, kalau mendesak mungkin 1 chapter [Harap Maklum] Janga ragu Subscribe guys, kalau bisa pencet tombol likenya ya👍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Namun, dari ribuan buku tersebut, ada tiga buah buku berukuran raksasa, jauh lebih besar dari buku folio pada umumnya, yang diletakkan di rak bagian tengah. Tiga benda yang paling mencolok dan mendominasi.
Pertama, tentu saja buku yang baru ia baca, The Tale of Night and Day. Kedua, dua jilid tebal yang disatukan: Epos Ramayana dan Mahabharata, beserta ensiklopedia pengetahuan tentang Pantheon Dewa Hindu. Dan yang ketiga, adalah kitab yang paling lusuh, terlihat paling purba, dan nyaris hancur di bagian ujung-ujungnya. Sebuah kitab berjudul The Origin, yang konon ditulis oleh seorang imam tinggi dari Alkitab bernama Melkisedek.
Yudi menatap punggung buku The Origin. "Menurut para sejarawan teologi yang kutahu," Yudi bergumam pelan, pandangannya tidak lepas dari kitab tua itu. "Dia adalah imam agung yang ditemui Abraham, serta memberkatinya dengan minyak dan anggur. Dia juga yang mengabarkan bahwa dari sulbinya akan lahir bangsa yang dicintai oleh Tuhan. Sebagai balasannya, Abraham menyerahkan sepersepuluh dari seluruh hasil rampasan perangnya kepada imam tersebut."
Yudi bangkit berdiri, berjalan mendekati rak, dan menyentuh punggung buku itu dengan ujung jarinya. Debu halus menempel di jarinya.
"Kenapa kau malah meninggalkan kitab-kitab kuno yang bahkan tidak mungkin dilirik oleh orang zaman sekarang sih, Ayah?" Yudi berbisik pada udara kosong di apartemennya. Suaranya melembut, kehilangan nada agresif sebelumnya. Sebuah senyuman tipis, kali ini diwarnai oleh melankoli, terukir di wajahnya. "Tapi... semua buku ini memang harta karun. Semua isinya."
Ingatan visual tentang sosok pria tua yang duduk di kursi goyang, membacakan kisah-kisah pertempuran dewa dan iblis kepadanya di malam hari, berkelebat cepat di pelupuk matanya.
Tik... Tik... Tik...
Suara elektronik bernada tinggi yang repetitif tiba-tiba memecah keheningan ruangan. Suara itu berasal dari sebuah perangkat kecil seukuran pager yang tergeletak di atas meja belajar. Benda pipih berwarna hitam itu memancarkan cahaya merah berkedip.
Itu adalah Devil Contract Signal. Alat komunikasi dasar yang diberikan oleh Sona, berfungsi untuk menangkap frekuensi jika ada manusia di wilayah kekuasaan mereka yang melakukan ritual pemanggilan iblis melalui selebaran untuk meminta sebuah jasa.
Gerakan Yudi membeku. Kepalanya menoleh dengan sangat lambat ke arah meja belajar. Matanya melebar melihat kedipan lampu merah tersebut.
Dalam satu tarikan napas, ia melompat melintasi ruangan dan menyambar benda tersebut dengan kedua tangannya. Ia memegang benda kecil itu erat-erat.
"Woah..." Yudi membeo pelan. Bibirnya terangkat membentuk senyuman sangat lebar hingga menampilkan giginya. Tubuhnya bergetar ringan karena lonjakan adrenalin. "Sebuah kontrak!" serunya girang sambil mengepalkan tangan kirinya meninju udara.
Ini adalah kontrak pertamanya. Langkah
pertamanya untuk membungkam prediksi sang Ketua OSIS.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Yudi bergerak cepat ke arah lemari pakaian. Ia menarik kaus hitam polos dan celana jeans panjang biru. Pakaiannya sangat kasual, jauh dari kesan elegan seorang bangsawan iblis. Ia memasang sabuknya, meraih sepasang sepatu kets standar, dan mengikat talinya dengan gerakan cepat yang terlatih.
Yudi berdiri tegak di tengah ruangan. Ia menekan tombol penerimaan di pager tersebut. Lingkaran sihir kecil berwarna biru dengan lambang keluarga Sitri muncul di bawah telapak kakinya.
Cahaya biru itu menyebar, memandikan seluruh tubuhnya. Ujung-ujung pakaiannya sedikit berkibar tertiup angin magis yang muncul dari bawah.
Dalam sekejap, tubuh Yudi terdistorsi dan menghilang dari apartemen tersebut, meninggalkan tumpukan buku kuno dan debu yang kembali mengendap di udara.
Teleportasi iblis itu berakhir di sebuah ruangan yang terang benderang. Bau zat disinfektan, kopi murah yang diseduh berulang kali, dan campuran aroma keringat segera menyerang indera penciuman Yudi. Suhu ruangan terasa sangat dingin, ditopang oleh kipas angin langit-langit yang berputar pelan dan pendingin ruangan yang usang.
Lingkaran sihir biru perlahan memudar dari lantai keramik putih. Yudi membenarkan letak kausnya, mengangkat pandangannya, bersiap memasang senyum karismatik terbaik untuk menyapa klien pertamanya, yang ia asumsikan adalah seorang penduduk sipil yang sedang dilanda kesusahan.
Namun, senyum itu terhenti sebelum sempat terbentuk sempurna. Mata Yudi berkedip dua kali.
Di hadapannya, tidak ada wanita paruh baya yang menangis, tidak ada remaja yang meminta jimat cinta, dan tidak ada pria putus asa yang meminta balas dendam.
Alih-alih, ia berdiri berhadapan langsung dengan dua orang pria berseragam biru gelap dengan lencana perak berkilau di dada kiri mereka. Seragam polisi dari sebuah instansi pelayanan masyarakat setempat. Keduanya berdiri kaku di balik sebuah meja kerja berbahan besi, tangan mereka secara refleks memegang pinggang di dekat sarung pistol.
Keheningan canggung melanda ruangan yang Yudi duga adalah sebuah kantor kepolisian sub-sektor.
"Woah..." Polisi pertama, pria bertubuh tegap dengan kumis tebal, bergumam tak percaya. Matanya terbelalak lebar menatap titik di mana Yudi baru saja muncul dari udara kosong.
"Benar-benar muncul." Polisi kedua, pria yang lebih kurus dengan rambut sedikit menipis, langsung menundukkan kepalanya, menyatukan kedua tangannya di depan dada.
"Terima kasih Tuhan, Kau telah mengabulkan permintaan hamba," ucap polisi kurus itu dengan suara bergetar, wajahnya memancarkan kelegaan luar biasa karena pemanggilannya akhirnya direspon setelah putus asa.
Yudi mendesah pelan dalam hati. Ia memperbaiki postur tubuhnya, meletakkan tangan kirinya di belakang punggung, sementara tangan kanannya menempel di dada. Ia membungkuk sedikit, sebuah gestur sopan santun standar yang baru ia pelajari.
"Etto," Yudi memulai pembicaraan, nadanya sangat sopan dan tenang. "Sebelumnya aku meminta maaf menginterupsi rasa syukur Anda. Tapi, aku adalah seorang Iblis." Yudi menunjuk dirinya sendiri. "Jadi, secara teknis, harusnya kalian berterima kasih pada sistem Raja Iblis. Tapi... ya sudahlah."
Yudi menegakkan tubuhnya kembali, melepaskan sikap formalnya menjadi sedikit lebih kasual. Ia menatap kedua aparat penegak hukum tersebut bergantian. "Jadi, apa yang perlu kubantu, Tuan-tuan sekalian?"
Polisi berkumis, yang berdiri sedikit di belakang rekannya, menyipitkan matanya. Ia menatap Yudi dari ujung kepala hingga ujung sepatu ketsnya.
"Sebagai iblis, dia sangat sopan," bisik polisi berkumis itu pada rekannya, suaranya sarat akan keraguan. Ia melipat tangannya di dada. "Tapi... aku sangsi anak remaja dengan kaus dan jeans ini bisa melakukannya."
Polisi kurus yang menjadi pemanggil utama membalikkan badannya sedikit, menepis keraguan rekannya dengan kibasan tangan.
"Ah, aku sudah tidak peduli!" sergah si polisi kurus. Keringat dingin terlihat di dahinya. "Yang penting posisiku tidak digeser dari departemen ini bulan depan!"
Polisi kurus itu memutar kembali tubuhnya menghadap Yudi. Ia berjalan mendekat satu langkah, menatap Yudi dengan tatapan memelas yang putus asa. Tubuhnya menunduk sembilan puluh derajat ke arah Yudi.
"Tolong bantu kami menyelesaikan sebuah kasus pembunuhan yang sudah menemui jalan buntu ini... Iblis Muda."