NovelToon NovelToon
Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Diceraikan Dunia, Dicintai Empat Pewaris

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Anak Genius / Pengasuh / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4: Baby Blues

Pintu baru terbuka setengah ketika sebuah bantal terbang ke arah Keira.

Ia menggeser bahu sedikit. Bantal itu menghantam dinding di belakangnya, jatuh ke lantai, lalu diinjak tanpa sengaja oleh salah satu staf yang langsung mundur pucat.

"Keluar!" teriak perempuan di dalam kamar. "Aku tidak butuh pengasuh baru!"

Kamar itu terlalu besar untuk suara sesakit itu.

Tempat tidur king size berantakan. Selimut mahal terseret sampai lantai. Di meja rias, beberapa botol skincare terguling, satu pecah dan meninggalkan cairan berbau bunga yang terlalu manis.

Di dekat sofa, seorang perempuan muda berdiri dengan rambut berantakan dan mata merah.

Stephanie Ciu.

Dalam foto keluarga di koridor, perempuan itu tersenyum rapi. Di hadapannya sekarang, Steph terlihat seperti seseorang yang sudah beberapa malam tidak tidur dan dipaksa tetap hidup di kamar yang terlalu indah.

Tangis bayi dari ranjang kecil di samping tempat tidur menusuk telinga.

Keira tidak menatap pecahan botol. Tidak juga menatap wajah marah Steph terlalu lama. Ia langsung melihat bayi itu.

"Jangan sentuh anakku!" bentak Steph.

Keira berhenti dua langkah dari ranjang bayi. "Saya tidak akan mengambil dia dari Nyonya kalau Nyonya bisa menenangkannya."

Kalimat itu membuat Steph terdiam setengah detik.

Bayinya menangis semakin keras. Wajah kecilnya memerah, kedua tangannya mengepal di udara.

Steph menutup telinga dengan dua tangan. "Diam... diam, please, diam..."

Suaranya pecah di ujung.

Keira melembutkan nada. "Nyonya Stephanie, bayi menangis bukan berarti Nyonya gagal."

"Kau tahu apa?" Steph menatapnya tajam. "Kau baru masuk rumah ini hari ini."

"Saya tahu bayi yang menangis terlalu lama akan makin sulit ditenangkan." Keira menunjuk ranjang kecil itu dengan gerakan pelan. "Izinkan saya mengangkatnya. Nyonya tetap di sini. Saya tidak akan keluar dari kamar."

Steph tertawa pendek, kering. "Semua pengasuh sebelum kamu juga bicara manis. Setelah itu mereka mengadu ke Mama, bilang aku gila."

"Saya tidak memakai kata itu untuk ibu yang baru melahirkan."

Ruangan hening.

Tangis bayi mengisi sela di antara mereka.

Steph menggigit bibir. Matanya bergerak ke bayi itu, lalu kembali ke Keira. Ia tidak mengizinkan, tetapi juga tidak melarang lagi.

Bagi Keira, itu cukup.

Ia mendekat, mencuci tangan dengan hand sanitizer di meja samping, lalu mengangkat bayi itu perlahan. Tubuh kecil itu hangat dan tegang. Keira menopang kepala, menempelkan bayi ke dadanya, lalu menggoyang tubuhnya dengan ritme kecil.

"Ssst... pelan-pelan. Tidak apa-apa."

Tangis belum berhenti. Keira memeriksa popok, suhu kulit, posisi selimut yang terlalu tebal, lalu membuka sedikit kain agar bayi tidak kepanasan.

"Dia tidak lapar?" tanya Keira.

Steph berdiri kaku. "Baru minum. Tapi dia muntah sedikit. Aku takut memberinya lagi."

"Baik. Saya sendawakan dulu."

Keira menepuk punggung bayi dengan tekanan ringan. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa diam. Ia membiarkan tangis itu turun sedikit demi sedikit, dari lengking panik menjadi isak kecil, lalu rengekan pendek.

Steph menatap tanpa berkedip.

Ketika bayi itu akhirnya diam dan menyandarkan pipi kecilnya di bahu Keira, sesuatu di wajah Steph runtuh.

Ia duduk di tepi tempat tidur, seperti lututnya tiba-tiba kehilangan tenaga.

"Kenapa dia diam denganmu?" bisiknya.

Keira tidak menjawab seolah itu kemenangan. Ia hanya berkata, "Karena tubuh saya lebih tenang sekarang. Bayi bisa merasakan itu."

Steph tertawa lagi, hampir menangis. "Jadi tubuhku yang salah?"

"Bukan." Keira menurunkan suara. "Tubuh Nyonya sedang kelelahan. Itu berbeda."

Kalimat itu membuat mata Steph basah.

Ia cepat memalingkan wajah, seolah air mata adalah penghinaan lain yang harus ia sembunyikan.

Keira menidurkan bayi kembali setelah napasnya stabil. Ia memastikan posisi kepala aman, selimut tidak menutup leher, lalu duduk di kursi kecil di dekat ranjang. Ia tidak mendekat ke Steph. Tidak juga keluar.

Hampir sepuluh menit mereka hanya ditemani suara pendingin ruangan dan napas bayi.

Akhirnya Steph berkata, "Kamu juga datang karena uang, kan?"

"Iya."

Jawaban itu terlalu jujur sampai Steph menoleh.

Keira menatapnya. "Saya butuh uang. Tapi uang yang saya terima harus sesuai dengan pekerjaan saya."

"Pekerjaan apa? Menjaga bayi? Mengawasi perempuan setengah gila?"

"Membantu Nyonya dan bayi Nyonya melewati hari ini dengan lebih baik daripada kemarin."

Steph memandangnya lama. "Manis sekali. Kamu latihan di depan cermin?"

"Tidak. Saya terlalu sibuk bekerja untuk latihan bicara manis."

Untuk pertama kalinya, ujung bibir Steph bergerak sedikit.

Senyum itu hilang cepat, tetapi cukup untuk mengubah udara di kamar.

Keira mengambil botol air di meja dan menyerahkannya. "Minum dulu, Nyonya."

Steph tidak mengambil.

"Kalau aku melemparnya ke wajahmu?"

"Saya akan mengambil botol lain. Tapi bayi Nyonya mungkin bangun lagi."

Steph menatap bayi yang baru tertidur. Tangannya akhirnya menerima botol itu.

Ia minum dua teguk. "Kamu tahu kenapa sembilan pengasuh sebelum kamu pergi?"

"Bi Sari hanya bilang mereka tidak bertahan."

"Karena aku membuat mereka tidak tahan." Steph menutup botol terlalu kencang. "Aku berteriak. Aku melempar barang. Aku menangis tengah malam. Aku tidak mau menyusui saat semua orang menyuruhku menyusui. Aku tidak mau tersenyum saat tamu datang menjenguk."

Keira diam.

"Mereka semua menatapku seperti aku monster." Steph memejamkan mata. "Padahal aku juga takut pada diriku sendiri."

Kalimat terakhir itu tidak keras, tetapi menusuk lebih dalam daripada teriakannya tadi.

Keira melihat jari Steph yang gemetar di tutup botol. Kuku-kukunya rapi, mahal, tetapi kulit di sekitar kuku tampak terkelupas karena digigit.

"Sejak kapan Nyonya tidur kurang dari tiga jam?" tanya Keira.

Steph membuka mata. "Apa?"

"Dalam sehari. Tidur Nyonya."

"Aku tidak tahu. Kadang aku tidur sepuluh menit, lalu bangun karena merasa dia berhenti bernapas. Kadang aku tidak tidur karena takut bermimpi."

"Makan?"

"Kalau Mama memaksa."

"Menangis tanpa sebab?"

Steph tertawa lirih. "Aku punya banyak sebab."

"Takut menyakiti bayi?"

Wajah Steph langsung pucat.

Keira tidak mendesak. Ia hanya menunggu.

Setelah lama, Steph berbisik, "Aku pernah berdiri di samping ranjangnya dan berpikir... bagaimana kalau aku hilang saja? Bukan dia. Aku. Kalau aku hilang, semua orang mungkin lega."

Kemarahan dalam diri Keira berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi.

Ini bukan sekadar nyonya kaya yang manja.

Ini perempuan yang tenggelam di kamar mewah, sementara semua orang menyuruhnya berenang dengan anggun.

"Nyonya butuh bantuan medis yang tepat," kata Keira hati-hati. "Bukan hanya pengasuh."

"Dokter keluarga bilang aku lelah. Mama bilang aku harus kuat. Gilbert..." Steph berhenti.

Nama itu jatuh di antara mereka seperti pecahan kaca baru.

Keira mengulang pelan, "Ko Gilbert?"

Steph tersenyum pahit. "Suamiku yang sangat terhormat. Keluarga Kang yang sangat menjaga nama baik. Pria yang selalu bicara tentang aturan, kesopanan, dan martabat."

Ia memeluk lututnya, meski posisinya masih di tepi ranjang.

"Tiga bulan setelah menikah, dia mulai dekat dengan Chenny Tio. Mahasiswi cantik, kalem, selalu pakai baju putih atau krem. Kalau bicara pelan sekali, seolah semua orang di dunia ini terlalu kasar untuk hatinya."

Keira mendengarkan tanpa memotong.

"Setiap aku marah, Chenny ada di tempat yang tepat untuk terlihat terluka. Setiap aku menangis, dia muncul dengan tisu dan wajah polos. Setiap Gilbert datang, aku selalu tampak seperti perempuan jahat yang menyerang gadis baik-baik."

Tangan Steph mencengkeram botol air sampai plastiknya berbunyi.

"Sekali, aku menemukan chat mereka. Tidak vulgar. Justru itu yang membuatku gila. Semua kalimatnya bersih. 'Ko Gilbert, jangan lupa makan.' 'Ko Gilbert, Nyonya pasti hanya lelah.' Dia memanggilku Nyonya seperti menghormatiku, tapi setiap hurufnya seperti pisau."

Keira merasakan alisnya mengerut.

Terlalu rapi.

Orang yang benar-benar polos biasanya tidak selalu berada di sudut terbaik kamera kehidupan orang lain.

"Ko Gilbert percaya padanya?" tanya Keira.

"Gilbert percaya pada citra." Suara Steph makin rendah. "Dan Chenny memberi citra yang dia sukai. Sementara aku memberi tangis, darah nifas, tubuh bengkak, dan amarah."

Bayi bergerak kecil di ranjangnya. Keira langsung menoleh, memastikan napasnya tenang.

Steph melihat gerakan itu. Matanya kembali basah.

"Kamu benar-benar memperhatikan dia."

"Itu pekerjaan saya."

"Dan aku?"

Keira menatap Steph. "Nyonya juga bagian dari pekerjaan saya."

"Karena uang?"

"Iya," jawab Keira lagi. Lalu ia menambahkan, "Tapi saya mendapatkan uang itu dengan memastikan Nyonya membaik, bukan dengan melaporkan Nyonya sebagai masalah."

Steph menatapnya lama. Pertahanan di wajahnya belum hilang, tetapi retaknya sudah terlihat.

"Kalau begitu, buktikan."

"Apa yang Nyonya butuhkan?"

Steph mengusap air mata dengan punggung tangan, kasar, hampir marah pada dirinya sendiri karena menangis.

"Besok Gilbert akan datang ke Kediaman."

Keira menunggu.

"Dia biasanya hanya berdiri di luar. Bicara dengan Mama. Bertanya pada dokter. Lalu pergi tanpa masuk ke kamarku." Suara Steph bergetar. "Kalau kamu bisa membuat dia masuk ke kamar ini atas kemauannya sendiri, aku tidak akan mengusirmu."

Itu bukan permintaan sederhana.

Itu perang yang sudah berkali-kali ia kalah.

Keira melihat bayi yang tidur, lalu melihat perempuan di depannya yang tampak jauh lebih muda saat berhenti berteriak.

"Baik," kata Keira.

Steph menyipitkan mata. "Kamu bahkan tidak tanya bagaimana caranya?"

"Saya akan cari caranya malam ini."

Di luar jendela, langit Kediaman Ciu mulai gelap. Di dalam kamar, untuk pertama kalinya sejak Keira masuk, Steph tidak menyuruhnya keluar.

1
!m_mah
maaf kk thor, kno JD "Lo gue" 🙄
sunaryati jarum
Langsung 200 bab dan end, langsung delete
sunaryati jarum
Ko Kevin sepertinya tertarik pada Keira Lo
sunaryati jarum
Suami istri ko seperti orang asing,pada sudah melahirkan
sunaryati jarum
Semoga kakakmu sembuh,Keira
sunaryati jarum
Ko Ethan kaku tapi teliti
sunaryati jarum
Baru mampir, penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!