Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam yang melelahkan setelah pesta pernikahan penuh aib itu, akhirnya ditutup di rumah kecil Jagakarsa, bukan di hotel maupun vila mewah. Selly duduk di tepi ranjang berseprai putih, masih mengenakan gaun pengantin longgarnya yang terasa menyesakkan. Tidak ada dekorasi bunga mawar, tidak ada wewangian romantis, dan tidak ada kehangatan layaknya sepasang pengantin baru. Kamar itu terasa begitu dingin dan masih saja asing bagi Selly, walaupun sudah 2 minggu ia dan Arjuna menetap disana.
Selly mengusap perut buncitnya dengan tatapan kosong penuh penyesalan.
Di seberang ruangan, Arjuna melepas dasi jasnya dengan kasar, lalu melemparkannya ke atas lantai. Wajah pria itu tampak sangat kusam, kusut, dan dipenuhi oleh kemarahan yang tertahan sejak siang tadi akibat dipermalukan di depan seluruh relasi bisnis ayahnya.
"Mas... apa kamu tidak mau membersihkan diri dulu? Aku sudah menyiapkan handuk untukmu." ucap Selly dengan nada suara yang bergetar lirih, mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka sambil melangkah mendekati Arjuna.
"Jangan menyentuhku, Selly! Gara-gara kamu dan janin di dalam perutmu itu, karierku hancur, nama baik keluargaku habis, dan aku kehilangan Larasati, wanita yang jauh lebih berkelas daripada dirimu! Puas kamu sekarang? Kamu berhasil menjebakku ke dalam pernikahan sialan ini!" bentak Arjuna dengan suara meninggi, menepis tangan Selly dengan kasar hingga wanita hamil itu terhuyung mundur ke arah ranjang.
Air mata Selly langsung luruh membasahi pipinya yang pucat, merasakan sakit yang teramat sangat di dadanya mendengar ucapan keji dari pria yang dulu selalu memujanya. Ia teringat pada ibunya di kampung, yang saat ini pasti sedang mendoakan kebahagiaannya tanpa tahu bahwa putri tunggalnya sedang diperlakukan seperti barang buangan tak berharga di kota besar ini.
Jika saja dulu jalurnya lurus dan ia memilih bekerja keras tanpa menggoda tunangan orang lain, ia tidak akan pernah terjebak dalam situasi ini.
"Mas, kenapa kamu jadi terus menerus kejam padaku? Bukankah dulu kamu yang bilang sangat mencintaiku dan berjanji tidak akan meninggalkan kami? Kamu juga kan yang bilang pada saat pemeriksaan, kalau kamu ga akan membiarkan anak ini lahir tanpa Ayah? Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, Mas Arjuna!" ratap Selly dengan suara serak di antara tangisnya, memegangi perutnya yang mendadak terasa kram karena tekanan stres yang luar biasa.
"Cinta? Aku hanya kasihan melihatmu yang meratap seperti pengemis di kafe waktu itu, Selly! Sudah, sekarang lebih baik kamu tidur saja! Jangan pernah berharap aku mau menyentuhmu lagi!" pungkas Arjuna dengan nada dingin penuh kemuakan, lalu menyambar bantal dan selimut sebelum melangkah pergi keluar kamar, meninggalkan Selly seorang diri yang menangis tersedu-sedu meratapi nasib malangnya, sejak pertama kepindahan dia dan Arjuna disini.
Selly masih menangis di atas ranjang. Kamar yang dingin itu terasa kian mencekam saat Arjuna melangkah kembali ke dalam setelah beberapa menit mondar-mandir di luar untuk merokok.
Alih-alih meredam amarahnya, asap rokok itu tampaknya justru membakar sisa kesabaran Arjuna. Pria itu berdiri di ujung ranjang, memandang Selly dengan tatapan yang menghina.
"Mas... tolong jangan sekasar ini. Anak ini bisa merasakan kalau ayahnya membenci ibunya," bisik Selly dengan suara serak, mencoba mengetuk pintu hati Arjuna.
Arjuna terkekeh sumbang, sebuah tawa yang terdengar begitu dingin di telinga Selly. "Anak? Kamu masih berani menjual nama anak setelah apa yang kamu lakukan padaku, Selly? Kamu pikir aku bodoh? Aku tahu betul isi kepalamu yang busuk itu!"Arjuna berjalan mendekat, lalu mencengkeram dagu Selly dengan kasar, memaksa wanita itu menatap matanya yang memerah.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok