Bukankah setiap makhluk hidup yang bernama anak kecil itu selalu lucu dan menggemaskan? Sikapnya, cara bicaranya, tubuh mungilnya, semua nya menggemaskan.
Tapi bagaimana jika anak kecil itu adalah putra seorang Bos Mafia yang paling di takuti dunia? Beranikah kau menyentuhnya?
Hera, gadis manis yang terpaksa menjadi ibu sambungnya. Harus mengurus segala hal yang berhubungan dengan anak kecil tersebut.
Bisakah Hera bertahan menjadi ibu sambung dan hidup di tengah dunia mafia? Bagaimana dia menjalani hidupnya bersama anak sambung dan suami mafia nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kemilau Senj@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. AKU MENEMUKAN MU
DOR.
Cambuk di tangan Defan terlepas, di iringi tetesan darah yang mengalir dari tangannya. Kejadian itu sungguh mengejutkan Tuan Tama. Siapa yang berani mengacaukan kegiatannya.
Alangkah terkejutnya dia melihat sosok anak kecil yang berjalan sambil berurai air mata. Deon sangat terluka melihat kondisi wanita cantik kesayangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tuan Tama sangat geram melihat tingkah Deon. Dia berusaha mencegat langkah putranya agar tak mendekati Hera.
"Menyingkir dari jalan ku sebelum aku membunuhmu!" Ancam Deon pada ayahnya.
"Dia pantas menerima nya. Dia telah meracuni mu. Tidakkah kau tau itu?" Tuan Tama setengah berteriak memberi tau putranya tentang kesalahan Hera.
"Kau punya bukti nya?"
"Dia yang membuatkan minuman itu untuk mu."
Deon tak menghiraukan ucapan ayahnya. Dia tetap berjalan menuju wanita kesayangan nya.
"Jangan pernah menyentuh nya jika tak ingin kehilangan tangan mu." Ancaman yang di layangkan Deon untuk Defan.
Deon memerintahkan salah seorang anggotanya yang menyamar sebagai pengawal di mansion untuk menurunkan tubuh tak berdaya Hera. Hati Deon benar-benar hancur melihat kondisi Hera saat ini.
"Aku terlambat, maaf." Ucap Deon sambil memangku kepala Hera di kaki mungilnya.
"Jangan menangis, aku tidak apa-apa." Sekuat tenaga Hera berusaha menggapai Deon, mengelap deraian air mata tanda duka tuan kecilnya.
"Maafkan aku." Deon merasa sangat bersalah.
Hera menggeleng lemah. Ini bukan kesalahan Deon. Dia yang ceroboh sampai membuat Deon keracunan seperti kemarin.
"Bawa dia!" Perintah Deon pada bawahan nya.
Tuan Tama hanya memperhatikan sambil duduk di sofa nya, begitu bawahan Deon membawa Hera pergi dari sana. Deon berbalik menghadap ayahnya begitu Hera telah di bawa pergi.
"Kau menghukum orang yang salah Tuan Adhitama Dharmendra yang terhormat." Deon berkata sambil tersenyum sinis menatap ayahnya.
"Aku tidak tau bagaimana caranya orang ceroboh seperti mu bisa jadi pemimpin dunia. Sangat memalukan."
"Bawa dia masuk!" Perintah Deon pada seseorang yang ada di luar bangunan. Tak lama kemudian muncul seorang pengawal yang sedang memanggul sebuah karung besar. Kemudian menurunkan nya di hadapan Tuan Tama.
"Kau mencari orang yang telah meracuni ku bukan? Ini ku hadiahkan untuk mu." Ucap Deon sambil melenggang pergi meninggalkan Tuan Tama dengan segala pemikiran nya.
Mungkin saat ini dia tengah menahan malu karena di kalahkan anak kecil berusia lima tahun. Atau dia merasa kesal karena Deon telah menghina nya.
"Buka!"
Defan membuka ikatan pada karung tersebut dan tampak lah sesosok manusia yang tengah meringkuk tak sadarkan diri.
"Bukankah dia pelayan yang bertugas menggantikan nona Hera?" Tanya Defan begitu mengenali wanita tersebut.
Tuan Tama tak menjawab. Pikirannya melayang. Pantas saja Deon tak mau di layani oleh gadis ini, ternyata karena dia lah yang telah meracuninya. Tapi dari mana Deon tau bahwa gadis inilah yang telah meracuninya? Padahal yang membuat kan susu itu adalah Hera. Lalu bagaimana wanita ini yang justru menjadi tersangka nya? Tuan Tama akan menanyakannya langsung pada Deon begitu sampai di mansion nanti. Itupun jika Deon masih mau bertemu dan bicara dengan nya.
Tuan Tama melanjutkan interogasi nya pada tersangka yang baru, dengan di temani Defan tentunya.
Sedangkan di mansion, Hera tengah di periksa oleh dokter Jeremy. Gadis itu mengalami dehidrasi, dia juga kelaparan. Selain itu, dia hanya menderita luka luar saja. Tidak ada sesuatu yang berbahaya, begitu kata dokter Jeremy pada Deon.
Deon setia menunggui Hera. Dia tidak kemanapun. Bahkan ke toilet pun tidak. Deon takut Hera akan terluka lagi jika dia tidak ada bersama gadis itu.
"Maaf aku terlambat menemukan mu, sampai kau harus terluka separah ini, maafkan aku." Deon menunduk menahan sesak di hatinya. Jujur dia sangat takut kehilangan Hera, seseorang yang menyayangi nya seperti seorang ibu yang menyayangi putranya.
rasain gk dpt Nasi Goreng
Nasgor Hera is the best