NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Taubat

Cinta Dalam Taubat

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: Syifa Sifana

Sedang REVISI

Info novel 👉🏻 ig @syifa_sifana

Dendam sang anak yang membuatnya terjerumus pergaulan bebas.

Hidayah datang membuatnya kembali dan bertaubat kepada Allah.

Dalam Taubatnya ia menemukan Cinta yang sekian lama hatinya tertutup karena masa lalu nya yang suram.

Balasan Allah kepada hamba-Nya yang bertaubat.

Kisah Cinta yang Romantis dan perjalan Cinta yang Menguras Air Mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EP : 18 DETIK DETIK WISUDA

Mira tak sabaran memakai baju toga. Senyuman terus mengalir setiap detiknya membuat Rama keheranan.

"Dek, kenapa denganmu?"

"Gak kenapa-kenapa," bibir masih saja cengengesan.

"Kalau nggak kenapa-kenapa, kenapa dari tadi senyam senyum sendirian?" menatap serius kedua manik mata itu.

Tak digubris Mira terus saja tersenyum. Rama mendekati Mira yang sedang duduk di ranjang lalu meletakkan tangannya ke dahi Mira.

"Apa sih, Mas," Mira menepis tangan Rama.

"Mas lagi ngecek, apa kamu sakit?"

"Ya nggak dong, Mas. Aku tu lagi senang karena besok aku wisuda," Mira mengalungkan tangannya di leher Rama. Huruf a begitu panjang pada kata wisuda.

"Oh." Rama cuek.

"Kok cuma Oh sih?" Mira kesal dan melepaskan tangannya.

"Jangan cemberut dong!" Memegang kembali tangannya.

"Lagian Mas sih, nggak senang ya lihat aku senang?" melirik dengan bibir cemberut.

"Eh, eh,eh, marah dia ni," menatap genit sambil mencolek dagunya. Lalu ia mengecup pipinya sekilas.

"Mas!" Mira membelalak.

"Masih marah?" tanya Rama lembut.

"A u deh." Mira ngambek dan memalingkan wajahnya.

"Oh, masih marah ya? Sini biar Mas selesaikan marahnya." Rama menggoda membuka kancing baju kemejanya.

Mira langsung tersenyum dan menutup diri dengan selimut.

"Malam ini Mas nggak dapat jatah." Mira tersenyum di dalam selimut.

"Siapa yang minta jatah, lagian besok hari yang panjang untukmu. Mas nggak mau bikin kamu lelah." Rama merebahkan tubuh di samping Mira.

"Benarkah?" Mira membuka selimut dan kesempatan Rama bangun lalu menindih Mira hingga membuat Mira terperanjat.

"Iya, tapi Mas cuma mau." Rama wajahnya mendekati Mira.

"Mau apa?" Mira menatap kebingungan.

Rama menyentuh bibirnya sekilas lalu menatap menggoda. "Mas hanya ingin menciummu saja."

Mira membalas senyumannya sambil memegang kedua pipi Rama. "Sabar Mas ya, siap Wisuda kita lanjutin lagi."

Rama menganggukan kepala, lalu kembali berbaring di samping Mira sambil memeluknya.

...****************...

Hari ini menjadi saksi atas keberhasilan santri atas kesabaran mereka dalam menuntut ilmu selama ini.

Tidak akan melewati kesempatan, pagi-pagi sekali Asyi sudah menyiapkan baju untuk suaminya.

"Mas pakai ini ya."

Salman mendekat mengambil baju dari tangan Asyi dan memakainya.

"Sini biar Asyi yang bantu kancingin bajunya." Salman semakin mendekat agar Asyi lebih mudah mengancing bajunya, dilanjutkan dengan memakai jas lalu mengusap pelan dada lebar suaminya.

"Mas sangat tampan." Asyi tersenyum memandang betapa ganteng suaminya. Ia bersyukur Allah memberikan pria terbaik untuknya.

"Iya dong, suami siapa coba?" Salman mengulas senyum memegang pinggang kecil istrinya lalu menarik sedikit ke depan hingga tubuh mereka saling menempel tak menyisakan jarak.

"Suami siapa ya? Mendadak lupa." Salman menyipit matanya hendak mencubit hidung runcing istrinya tiba-tiba tergoda dengan suara ketukan pintu.

"Salman, Asyi, cepat! Semuanya menunggu kalian di depan." Itu suara dari Mama yang berada di balik pintu.

"Iya Ma, bentar lagi kami keluar."

Asyi bergegas beranjak pergi tapi malah dicekal suaminya.

"Mas, kita udah ditunggu."

"Bentar."

"Mereka sudah menunggu kita. Nggak baik kita ulur waktu." Asyi menatap memberi pengertian.

"Sayang, pakai cadar dulu."

Asyi menyentuh mulutnya. Ternyata tidak ada penghalang. "Astagfirullah."

Salman mengambil cadar yang ada di atas kasur lalu menyerahkan pada Asyi. Ketika Asyi hendak mengambil malah ia tarik kembali.

"Mas, pakaikan."

Asyi mengerut kening. "Yakin?"

Salman mengangguk mantap. Ia membuka cadar, berpegangan ada tali kemudian mengikatnya ke kepala bagian belakang Asyi hingga sebagai wajahnya tertutup rapat.

Asyi buru-buru menghadap cermin, matanya sipit karena mengulas senyum di balik cadar. Ia tidak menyangka Salman bisa melakukannya.

"Pinter."

...****************...

 

"Hadeh-hadeh.. Yang pengantin baru siapa yang pengantin lama siapa, malah pengantin baru yang duluan siap." Mira melihat Asyi dan Salman menjadi tamunya terakhir yang keluar.

"Mohon maaf, kami pasangan terbaik sepanjang masa. Kalah dengan kalian." Salman tersenyum miring. Melirik Mira kemudian Rama.

"Hmm, kita nggak mau bersaing dengan orangtua," balas Rama cukup menohok tapi itu hanya sekadar candaan.

Salman hendak membalas tiba-tiba terhentikan karena serius Kyai meminta mereka masuk ke aula utama.

Semua menuruti, mereka masuk dan duduk di kursi yang sudah dipasang nama mereka.

"Mas, Mira ke sana dulu ya!" Mira berpamitan pada suaminya. Ia harus duduk di tempat yang sudah disiapkan khusus untuk para wisuda. 

Rama duduk bersebelahan dengan Salman. Kicauan demi kicauan Salman terus saja terjadi. Salman sangat usil dan menggangu semuanya. Tidak kalah dari Salman, Rama pun membalasnya. Sehingga suasana menjadi ramai dengan candaan dari keduanya.

Sejenak Rama mengerut kening saat melihat tangannya kosong. "Bang, aku kelupaan sesuatu, boleh minta tolong nggak?"

"Minta tolong apa?" Salman bingung melihat segurat kepanikan di wajah adik iparnya.

"Aku lupa beli buket. Di daerah sini ada yang jual bunga gak?"

Salman mengusap dagu mengingat-ingat setiap jalan yang pernah ia lewati, namun ia memilih menoleh menatap istrinya. "Sayang, di daerah sini ada yang jualan bunga? ... buket bunga."

Asyi menelusuri setiap rekam ingatannya. "Ada. Di samping pesantren, belok kiri, di situ ada orang yang jual buket."

Salman mengulangi ucapan Asyi pada Rama lalu segera beranjak pergi.

"Rama, tunggu Rama!" Salman beranjak bangun.

"Apa?" Rama menoleh.

"Aku ikut." Rama mengangguk kepala kemudian beranjak pergi bersama dengan Salman tentunya setelah mendapatkan izin dari Asyi.

"Loh, mereka ke mana?" Mama menatap bingung anak dan menantunya melangkah begitu cepat.

"Beli buket, Ma."

1
rey_ya
ya Allah aku terharu
Yoel's Yuliana
bagus
Muhamad Taufikurrohman
alur ceritanya keren thor, saling menjaga perasaan mamanya dan istri tanpa harus menyakiti.
Selmawati Selma
h
Nonong Erawati
dpat diambil contoh setelah baca novel ini untuk kehidupan kita dlm berrumah tangga mksih untukpenulid👍
Erna Yunita
Bismillahirrahmanirrahim
Noviyanti Hendrata
l"l""""l"lll"l"
Novi Insani
lirikan menodai mata 🙈🙊
~¥^D^~
bagus bisa lanjut nih
Salma Alfian Otolomo
uuupp
Syamsurya
ceritax bagus thor,aku suka semngat dan sehat selalu
Siti Nurhana51a
intan kerjasama sama dr mantan nya arsy
Ilham Risa: Hai kak, mampir juga yuk kak ke novel aku "bangkitnya pria terhina" makasih kak🙏
total 1 replies
Siti Nurhana51a
kasian arsy....terlalu.sabaaar
Siti Nurhana51a
Kasian.arsy
Siti Nurhana51a
nyesek baca nya
Nazhila Baidha Rahma
assalamualaikum mampir
deewaaaaa
kak kenapa gak lanjutin cinta dalam taubat?ngegantung banget
Syifa Sifana: di kbm kk
total 1 replies
Sukmawati Wong
Gemes
Sukmawati Wong
Semangat yah
Yuli S
jadi ikutan tersayat" nangis mewek ....di kirain kenapa ma suami ....karna ikutañ haru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!