"Ayo kita nikah!" Perkataan yang Adera Danialvoa sesali dalam hidupnya.
Perkataan yang membuat hidupnya berubah dengan terpaksa menikah dengan pria yang tidak ia kenal sebelumnya yang bernama Regan Galendra Mahardika.
Akan kah Adera bisa lepas dari Regan? Atau mungkin dia terjebak dalam tahanan hati Regan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widiamnd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17: Kedatangan Bapak dan Mertua
"Bapakkk!" Histeris Adera dengan kedatangan bapak Iqbal dan papa Jay ke apartemen.
Adera langsung memeluk bapak Iqbal, rasa rindu akan bapaknya sudah terbayar kini. Walaupun mereka sering telfon-menelfon setiap harinya, tetap saja Adera masih merindukan bapaknya. Apalagi memeluk bapaknya begitu.
"Waduh, anak bapak yang udah punya suami, apa kabar?" Tanya bapak Iqbal ketika Adera sudah melepaskan pelukannya. Dia menatap Adera yang bahagia bukan main.
"Waduh, kabar baik, bapak Iqbal yang sudah punya menantu." Jawab Adera, membalas gurauan bapaknya.
Bapak Iqbal tertawa. Dia mencubit pipi putrinya dengan gemas, dimata bapak Iqbal Adera tetaplah Adera kecilnya walaupun sekarang sudah bersuami.
Merasa diabaikan, papa Jay akhirnya berdeham cukup keras membuat bapak Iqbal dan Adera menoleh ke arahnya. "Gatal tengorokkan saya." Kata papa Jay.
"Lupa saya ada bapak Jay disini." Ucap bapak Iqbal, meledek papa Jay.
"Dasar bapak Iqbal ini."
Adera tertawa kecil, dia langsung mencium tangan mertuanya. "Papa apa kabar?" Tanya Adera.
Papa Jay tersenyum kepada menantunya. "Baik-baik aja kok. Orang sekarang kan papa udah punya temen dirumah. Kamu gimana? Baik-baik aja kan?" Jawab papa Jay.
Oh iya, Adera baru ingat kalau bapaknya sekarang tinggal dirumah papa Jay. Mungkin saat mereka tinggal bersama, mereka sudah sangat akrab. Melihat cara bicara mereka yang saling meledek satu sama lain.
Adera menganggukan kepalanya pada papa Jay, tentu saja dia baik-baik saja. "Baik kok, pah."
"Yaudah yuk pah, pak masuk ke dalam." Adera menarik tangan bapak Iqbal dan papa Jay masuk ke dalam apartemen.
"Kemana Regan?" Tanya papa Jay, menanyakan putranya yang tidak menunjukkan batang hidungnya.
"Belum pulang, pah. Masih dikantor mungkin." Jawab Adera.
Bapak Iqbal dan papa Jay duduk disofa yang sama, mereka tersenyum satu sama lain. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini.
"Kalo gitu Adera bikinin minum ya?" Kata Adera lalu dia beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan bapak dan papa mertuanya minuman.
Selama kepergian Adera ke dapur, bapak Iqbal dan papa Jay mulai bergosip.
"Jangan lupakan tujuan kita kemari, bapak Jay." Kata bapak Iqbal mengingatkan tujuan mereka datang ke apartemen Regan.
Papa Jay menganggukkan kepalanya. "Tentu saja bapak iqbal." Sahut papa Jay.
Tak lama kemudian Adera kembali dengan membawakan dua minuman jus jeruk diatas nampan. Dia menaruh jus itu di meja, dia menatap bapak Iqbal dan papa Jay dengan mata menyelidiki.
"Papa sama bapak ngomongin apa tadi hayo!"
Bapak Iqbal dan papa Jay menggelengkan kepalanya secara bersamaan dan itu malah membuat mereka terlihat lucu dan membuat Adera tertawa melihat mereka.
"Ya ampun, bapak sama papa lucu banget sih." Tawa Adera.
"Papa emang lucu." Sahut papa Jay.
"Bapak emang lucu." Sahut bapak Iqbal juga.
Adera menggeleng-gelengkan kepalanya melihat bapak dan papa mertuanya kompak begitu. Dia juga sudah tidak khawatir lagi pada bapaknya melihat betapa gembiranya sekarang bahkan dia terlihat sangat gembira tidak seperti sebelumnya.
"Oh iya, Adera. Apa Regan selalu bikin kamu nangis? Kalo iya, biar papa kasih pelajaran ke dia." Ucap papa Jay.
Adera tertawa kecil. Selama dia tinggal bersama Regan memang Regan tidak pernah membuat menangis bahkan belum pernah. Mungkin kalau dibuat kesal iya dengan sifat seenaknya Regan yang menyebalkan.
"Gak kok, pah. Emang sih dia nyebelin, tapi gak pernah kok." Jawab Adera seadanya.
Papa Jay dan bapak Jay terlihat lega mendengar jawaban Adera. Berarti sejauh ini pernikahan mereka yang mendadak itu baik-baik saja. Dan itu membuatnya lega.
"Ululu, anak bapak udah besar rupanya padahal kemarin masih bapak timang-timang." Bapak Iqbal menggoda putrinya.
"Bapak ih, emang aku selalu kecil aja, aku kan udah besar, tau!" Adera memanyunkan bibirnya.
"Ya ampun bapak Iqbal, kenapa putri bapak cantik dan imut sekali? Boleh gak buat saya aja." Ujar papa Jay.
Bapak Iqbal menatap papa Jay. "Astagfitulloh bapak Jay. Inget umur, pak. Anak saya sudah jadi milik anak bapak, lho." Bapak membalas dengan ledekan.
"Maksud saya jadi anak saya, lho, pak."
Adera hanya tertawa menanggapi mereka. Bapak sudah mendapatkan teman yang bisa dia bully, hahaha, itu menakjubkan. Dan lagi yang dibullynya adalah papa Jay.
"Wah bapak sama papa udah datang rupanya." Kata Regan, sepertinya dia baru saja pulang tapi tidak ada yang menyadarinya.
Regan menghampiri bapak mertuanya dan papanya dam mencium tangan papa Jay dan bapak Iqbal secara bergantian. Lalu kemudian dia duduk di sebelah Adera.
"Akhirnya kamu pulang, Re. Ada yang ingin papa dan bapak Iqbal bicarakan dengan kalian." Kata papa Jay.
Adera dan Regan saling tatap-tatapan beberapa saat lalu kembali menatap bapak Iqbal dan papa Jay secara bergantian. Apa yang ingin kedua bapak-bapak itu tanyakan?
"Bapak sama pak Jay datang kesini bukan cuma-cuma. Ada yang harus kami pastikan dari kalian berdua." Lanjut bapak Iqbal.
"Ada apa, pah, pak?" Tanya Regan penasaran.
"Apa kalian sudah ada perkembangan?" Tanya papa Jay dengan wajah serius.
Kedua alis Regan dan Adera terangkat, tidak mengerti apa yang ditanyakan papa Jay.
"Maksud papa?" Regan bertanya kembali.
Papa Jay dan bapak Iqbal terlihat saling tatap-tatapan lalu menatap Regan dan Adera dengan wajah serius bahkan lebih serius dari mereka datang kesini awalnya.
"Apa tidak ada tanda-tanda hamidun dari Adera?" Tanya bapak Iqbal meluruskan pertanyaan papa Jay.
Adera melotot mendengar pertanyaan bapaknya sedangkan Regan terlihat biasa-biasa saja.
"B-bapak apaan sih? Kita aja baru nikah satu minggu yang lalu, dan juga pernikahannya kan mendadak. Jadi--" Adera membuka suaranya namun belum menyelesaikan perkataannya, sudah langsung dipotong oleh Regan.
"Belum, pak. Gimana mau hamil, saya sentuh dia aja gak boleh." Jawab Regan, menyindir Adera sambil melirik Adera disebelahnya yang makin melototkan matanya dan kali ini dia melototi Regan.
"Apa?" Kaget bapak Iqbal dan papa Jay secara bersamaan.
"Jadi kalian belom ngapa-ngapain? Swadikakap belon?" Bapak Iqbal tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.
Walau mereka tidak saling kenal sebelumnya dan menikah dadakan namun apakah pantas jika suami-istri belum melakukan apa-apa. Apalagi kelihatannya Regan bukan tipe lelaki yang menunggu gadis menyosor duluan. Tidak bisa dipercaya.
"Belum, pak. Sentuh dia aja, saya dilarang. Malah diancam pake gunting besar." Sindiran untuk Adera lagi.
"Apa benar, Adera?" Tanya bapak Iqbal tidak percaya anak gadisnya melakukan itu.
Adera hanya menganggukan kepalanya. Pipinya merona karna memang dialah yang melarang Regan menyentuhnya, dia mengancam lelaki itu dengan gunting besar.
"Papa gak percaya. Mana bisa seorang Regan Geraldo Mahardika takut sama ancaman begituan." Papa Jay kembali membuka suara. Dia tidak percaya putranya takut dengan ancaman kecil seperti itu.
Regan bukannya takut dengan ancaman Adera. Dia bahkan tidak takut sama sekali dengan ancaman itu namun ada alasan lain membuat Regan menundanya.
"Padahal kami kesini untuk memastikan apa kami akan segera mendapatkan cucu, ternyata salah." Ucap bapak Iqbal, dramatis. "Benar kan, pak Jay?"
Papa Jay menganggukinya. Yang membuat Adera dan Regan tidak percaya, papa Jay malah ikut memasang wajah dramatis. Itu seperti bukan papa Jay yang beribawa berbeda sekali dia. Dan itu semua karna dia bergaul dengan bapak Iqbal.
"Pokoknya papa gak mau tau, Regan, Adera. Papa dan bapak Iqbal ingin segera dapat cucu." Tekan papa Jay yang membuat Adera keringat dingin.
Regan tersenyum pada papanya. Akhirnya rencana yang ia buat bersama bapak mertua dan papanya berhasil juga.
aku kira regan dan adera gk akn hadir lagi.. soalnya author up nya lm bggggtttttttt....
tapi jangan kelamaan sya udh nungguin nih abis ceritanya seru banget
masa up nya cm 1 😢😢
ini sya udah nunggu lama lho!
dito kasih ide nya bagus bgt😁😁