Ketika sisi lain dari dunia gaib yang gelap mulai merambah dan merangkak masuk ke dunia manusia, hanya karena seorang pelopor kejahatan bernama Bu Dewi ingin membalaskan dendam pada semua iblis yang ada. Sebuah dunia penuh dendam, darah, dan iblis setan yang berkumpul.
The Lady Trieka, makhluk halus penjaga dunia gaib yang sudah lebih dari 4 abad menjaga dan melindungi kekuatan sihir hitam dan mustika-mustika yang ada, kini harus terusik oleh kehadiran Bu Dewi yang ingin mendapat segala kekuatan untuk menguasai dunia manusia dan dunia gaib.
Sementara munculah seorang anak yang hidup sebatang kara bernama Lisa, yang nantinya akan menjadi pewaris kekuatan The Lady Trieka yang sudah semakin melemah untuk menjaga dunia kegelapan. Lisa sebagai pewaris Trieka, yang nantinya akan melindungi kekuatan itu dari Bu Dewi, gurunya yang licik.
Dendam yang kuat malah mempertemukannya dengan seorang laki-laki polos yang akan jadi tokoh utama dalam cerita ini, Firza.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joyokumo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5-2. Semangat yang Pupus
Berjalan bersama di lobi, Lisa pun akhirnya berhenti memalingkan wajahnya dariku. Walau saat ini aku sudah bisa melihat ke arah wajahnya, tapi aku malu tuk melakukannya.
Perasaanku... argh, entah kenapa aku kadang suka membeku karena canggung ketika berada di dekatnya (Lisa).
Alih-alih menatap wajahnya, aku saja lebih memilih melihat ke arah sekitarku di lobi, daripada takutnya dia malah berpikir bahwa aku laki-laki yang menyebalkan karena selalu melihat ke arahnya.
"Sssttt, Lisa!" Tiba-tiba seorang kakak kelas perempuan datang menemui Lisa ketika kami baru saja keluar dari lobi. "Aku sama temen-temenku sepakat buat nggak ngajak kamu ke masalah uji nyali kemarin, dan sekarang ini... temen-temenku pada nggak berangkat sekolah hari ini, ya karena kemarin cuma aku sama kamu yang keluar dari sekolah. Dan kami juga sepakat buat nggak nyebarin insiden burukmu dulu bersama dengan teman-temanmu itu. Sekali lagi, aku minta maaf ya!!"
Lagi-lagi Lisa hanya tersenyum sedetik bersamaan dengan anggukan kecilnya untuk menjawab kakak kelas itu.
Kurasa... aku tidak asing dengan kakak kelas ini.
Oiya lupa, dia, 'kan kakak kelas yang kemarin ngajak Lisa uji nyali? Entah kenapa saat ini, dia tampak merasa bersalah.
"Oiya, Lis, makasih karena kemarin telah nyelamatin aku!" Lanjut kakak kelas itu sebelum dia pergi meninggalkan kami seperti temen pas ditagih bayar hutangnya.
Kakak kelas bisa meminta maaf seperti itu pada Lisa? Keren juga, bahkan Lisa nggak mengatakan sepatah kata pun untuk menjawab kakak kelas perempuan tadi.
Entah kenapa hari ini Lisa memang selalu dicari oleh orang-orang, dia bahkan memasang wajah santai dan sedikit datar menanggapi semuanya.
"Terkenal amat, Lis. Daritadi kamu dicariin mulu, ya walaupun-" Sautku, namun ucapanku harus terhenti.
"Kamu yang namanya Firza, 'kan?" tanya seorang perempuan dengan bed PMR di lengannya, dia memotong pembicaraanku dengan Lisa, dan membuatku harus mengangguk lalu menoleh ke Lisa.
"Lis, ternyata aku dicariin juga, hehe..." Aku tertawa seolah mengejeknya, tapi Lisa cuma melirikku datar dan dalam diam.
"Apa kucing putih yang ada di ruang UKS itu milikmu? Kata Bu Guru, dia melihat kamu meninggalkan kucing putih itu di sekolah hari sabtu kemarin." Ucap anak PMR ini.
"Kucing putih?!" Lisa langsung terkejut mendengarnya, membuatku penasaran kenapa dia bisa lebih terkejut daripada aku?
Kenapa Lisa terkejut ya? Aku penasaran, apa itu juga kucingnya? Hanya bercanda.
Kucing putih yang ada di ruang UKS, aku pastikan bahwa itu milikku. Karena dari beberapa kucing di sekolah ini, tidak ada kucing yang berwarna putih, kecuali kucing kesayanganku yang baru saja aku buang di sekolah kemarin sabtu.
"K-kamu murid baru ya? Salam kenal, aku-" Tiba-tiba anak PMR itu mengalihkan pandangannya ke arah Lisa, lalu menyodorkan tangannya ke Lisa begitu saja.
Astaga, sok asik sekali!
"Nggak usah dulu." Aku mendorong tangan anak PMR itu, sehingga tangannya menjauhi Lisa agar mereka tidak jadi berkenalan. "Kucing putih, 'kan? Iya, itu punyaku. Kata Bu Guru, pasti aku harus membawa kucingku sekarang, 'kan?"
"I-iyaa!! Kok... tau...?" Kata anak PMR itu kesal, karena aku melerai perkenalannya tadi.
"Sudah aku duga! Nanti saja aku ambil setelah pulang sekolah!" Jawabku ketus, lalu menoleh ke arah Lisa. "Lis, cabut dari sini yuk! Langsung pergi ke kelas!"
Lisa hanya bingung menatapku, apa mungkin dia berpikir bahwa aku sedang bercanda? Entahlah.
Karena aku sudah mengatakan kalimat terakhirku, aku pun langsung menarik tangan Lisa untuk pergi dari sini meninggalkan si anak PMR itu. Lisa mau tak mau harus ikut berlari bersamaku, terpaksa, karena aku menarik tangan putihnya itu.
"E-eh! Jangan kabur! Bawa dulu kucingmu! Nanti aku kena omell Bu Guru!! Ooyy!!" Teriak anak PMR itu sambil mengejarku, dan sudah kuduga juga kalau dia menyebalkan.
Aku terus menarik tangan Lisa hingga dia bisa berlari sendiri mengikutiku.
Tentu saja, aku melepas pegangan tanganku ketika kami sudah cukup jauh dari anak PMR yang menyebalkan tadi.
Ternyata Lisa juga paham dengan pemikiranku, dia masih ikut berlari di belakangku walau aku sudah tidak menarik tangannya.
Berdua bersama, kami masih berlari tidak terlalu kencang. Sesekali aku melihat ke arah Lisa di samping belakangku, membuatku berpikir bahwa Lisa ternyata gesit juga bisa mengikutiku.
Perempuan yang gesit.
Banyak pasang mata tertuju pada kami yang sedang berlari, entah itu di halaman lapangan upacara, maupun sampai tangga menuju ke gedung lantai 2. Sementara aku tidak peduli pada mereka, sepertinya Lisa juga.
Justru aku merasa cukup bangga, entah mengapa perasaan banggaku muncul karena bisa jogging bersama dengan perempuan cantik seperti Lisa.
Kami terus berlari dari halaman lapangan upacara, menaiki tangga ke lantai 2, kemudian sampai di depan kelas kami dalam keadaan ngos-ngosan. Kami menunduk sebentar untuk mengatur napas kami.
Teman-teman kelas kami yang sedang mengamati pemandangan area bawah, terkejut bingung karena aku dan Lisa datang seperti orang yang baru saja dikejar setan.
Datang dengan tergesa-gesa, itu kebiasaanku.
"Kalian kenapa??" tanya Febi terlihat sangat penasaran.
"Coba tanya dia!" Balas Lisa, dia mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
"Kami cuma dikejar anak PMR, cuma itu aja sih." Jawabku singkat dan tidak meyakinkan.
"Memangnya kalian ngapain? Kok bisa sampai dikejar-kejar kayak gitu?" lanjut tanya Febi masih penasaran.
Jadi dia percaya ya? Padahal kenyataannya aku menipunya. Anak PMR itu hanya sebentar saja mengejar kami.
Rasanya aku ingin tertawa terpingkal-pingkal di depannya, namun kuurungkan niatku, daripada dia tau bahwa aku sedang berbohong. Dasar Febi, ternyata dia 11 12 sama polosnya seperti Anie. Tapi tidak apa-apa, baguslah kalau begitu! Aku suka perempuan yang lugu dan polos.
"Nggak tau tuh, katanya ada urusan penting!" Jawabku mulai santai karena napasku mulai teratur.
Tapi entah mengapa Febi terlihat ingin bertanya lagi, membuatku harus menghentikan pertanyaannya yang sudah kesekian kalinya.
"Eh, Lisa, masuk ke kelas yuk!" Ajakku lalu masuk ke kelas begitu saja ketika Febi hampir mengeluarkan sepatah kata untuk bertanya.
Untungnya Lisa juga ikutan masuk kelas seolah seperti pengikut setiaku, walau aku lebih sering menjadi pengikutnya dia.
Kami duduk berdepanan di kursi belakang, pasti kalian sudah tau akan hal ini dari cerita sekolahku sebelumnya. Tunggu, aku berbicara dengan siapa?
"Minggir, mulutmu bau!" Ketusku ke arah Atma yang menghalangi jalanku dan Lisa, karena saat ini Atma sedang berdiri sambil mengobrol dengan Anie yang lagi duduk, sedangkan aku dan Lisa baru saja datang dan ingin lewat.
"Loh, kalian tadi berangkat sekolah bareng?" tanya Anie bingung, mungkin karena baru pertama kali melihatku dan Lisa yang datang bersamaan.
kira2 ada ojol gk ya???