keringat dingin membasahi sekujur tubuh intan. sudah kali keberapa intan muntah, sampai tak ada lagi yang bisa di muntahkan. morning sick ini benar benar menguras energinya. intan menselonjorkan kakinya di dalam kamar mandinya yang luas. sembari merenubgi nasibnya. baru menikah dua bulan dan ia sudah hamil. siapa yang tidak bahagia jika mendapat keberuntungan itu. tapi tidak bagi intan, gadis itu masih terlalu muda untuk mendapat karunia dan pengkhianatan di saat yang sama. suaminya pergi setelah malam pertama dan mengirimkan surat cerai keesokan harinya.
hendrayan, orang kepercayaan papanya. ternyata menikahinya hanya untuk mencampakkannya. demi balas dendam pada papanya yang telah mencampakkan ibu rayan sampai berada di rumahsakit jiwa.
sekarang sudah ada calon anak di rahimnya, yang harus di jaganya.tak peduli meski papanya memaksa menggugurkannya karena tidak mau keturunannya berdarah daging hendrayan. intan harus kuat menjaga buah hatinya dan berharap cukup nasib buruk yang menimpanya bukan anaknya. dan mulailah 39 minggu perjuangan seorang ibu yang menguras air mata dan emosi.
akankah rayan kembali ke pelukan intan dan melupakan balas dendamnya ataukah ia menutup mata demi cerita yang salah tentang masalalu ibunya dan pak wibowo yang membutakan mata hatinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percakapan Para Janin
🌺🌺🌺
Agen A :
Bangun, cepat bangun... Kenapa kamu tidur begitu nyenyak.
( Agen A mulai membangunkan Agen B yang sedang terlelap dengan nyenyak, Agen A menendang-nendangkan kaki mungilnya ke arah Agen B)
Agen B :
(Menggeliat dalam kantungnya dan menguap lebar)
Aku masih ingin tidur. Jangan ganggu aku. Aku akan memukul kakimu kalau kamu terus menggoyangkan kakimu.
Agen A :
Ada sesuatu yang janggal di sini. Sesuatu yang penting sedang terjadi di sini.
Agen B :
Apalagi yang terpenting selain tidur sepanjang hari. Apa kamu mau mengganggu Boss yang sedang tidur. Boss tidak pernah tidur senyenyak ini. Rasanya aku menjadi tenang sekali.
Agen B :
(Agen B berkacak pinggang dan mengernyitkan matanya yang lebar ke arah Agen B yang bermata sipit)
Sudah kubilang ini penting.
Agen B :
(Agen B langsung memandang Agen A dengan malas. Entah kenapa di antara mereka berdua Agen B lebih sering tidur, Agen B tidak yakin apa mungkin karena matanya lebih sipit dari Agen A. Agen B masih ingin tidur-tiduran, hanya saja demi melihat Agen A yang melotot, Agen B lalu berusaha mendengarkan meski tidak yakin apa yang dibicarakan Agen A sepenting kelihatannya)
Baik-baik, apa yang mau dibicarakan.
Agen A :
Aku merasa aneh. Intuisiku mengatakan ada yang tidak beres.
Agen B :
Apa yang aneh memang
(Jawab Agen B sambik menopang dagunya, berusaha agar tidak kembali tidur)
Agen A :
Anehnya adalah Boss sedang tidur dengan nyenyak
Agen B :
Hahahaha.... (Agen B tertawa lebar karena merasa apa yang diucapkan Agen A tak masuk akal)
Apa yang salah dengan tidur dengan nyenyak.
Agen A :
Anehnya adalah Boss tidak pernah tidur dengan nyenyak.
Agen B :
Wah, kamu benar! Boss selalu gelisah ketika tidur. Boss tak pernah tidur selelap ini. Kamu hebat sekali bisa tahu.
Agen A :
(Pipinya memerah di puji Agen B)
Tentu saja aku tahu. Aku yang paling pintar disini. Kamu manut saja apa kataku.
Agen B:
Tapi apa kamu sudah tahu alasan Boss terlelap nyenyak sekali.
Agen A :
(Memutar matanya dan tersenyum lebar dengan bangga)
Tentu saja aku tahu.
Agen B :
Apa memang?
Agen A :
Tadi Boss makan makanan enak, ya kan. Tadi kamu sampai langsung lompat- lompat kegirangan karena makanannya enak sekali.
Agen B :
(Agen B Manggut-manggut mengiyakan)
Makanannya enak sekali, Boss makan banyak sekali sampai kita kekenyangan.
Hmmm....
Agen A :
Kamu memikirkan apa?
Agen B :
Aku memikirkan ada kemungkinan lain kenapa Boss bisa tidur nyanyak.
Agen A :
Apa memangnya.
(Agen A melihat Agen B dengan senyum sinis, tak yakin dengan apa yang akan di sampaikan Agen B)
Agen B :
Aku yakin Boss sedang bahagia.
Agen A :
Aku jug tahu kalau itu.
Agen B :
Aku merasakan aura Boss besar di sekitar Boss. Coba pikir, siapa yang sekiranya berciuman dengan Boss kemarin kalau bukan Boss besar.
Agen A :
Aku tak peduli dengan Boss besar. Ia telah menelantarkan Boss dan kita. Aku tak sudi bertemu dengannya. Jika memang yang berciuman dengan Boss adalah Boss besar. Mengapa ia tidak menyapa kita. Memalukan sekali. (Agen A mulai memaki)
Agen B :
(Agen B Pura-pura tak mendengar umpatan Agen A dan tetap pada pendiriannya untuk menyapa Boss besar)
Kamu tahu, aku sudah lama ingin menyapa Boss besar. Aku ingin berkenalan dengannya. Kurasa aku akan setampan Boss besar. (Agen B mulai tersenyum-senyum cengengesan)
Agen A :
(Agen A mencebik)
Awas saja jika aku bertemu dengannya aku akan menendangnya dengan keras.
(Agen A mempratekkan gerakan salto dengan sempurna)
Agen B :
(Hanya bisa bertepuk tangan)
Boss mengatakan kalo kita tidak boleh pendendam
Agen A :
Biarin
Agen B :
Ckck ckckck .....
Agen A :
Kamu jangan sampai tertular jadi brengsek seperti Boss besar. Karena itu sungguh memuakkan!
Agen B :
(Agen B tak peduli sambil kembali menopang kepala)
Pertengkaran mereka tiba-tiba berhenti karena mereka di kejutkan dengan sentuhan tangan yang besar. Tangan Boss kecil dan mereka sudah hafal bagaimana sentuhannya. Kalau Tangan ini berasa hangat dan menjalarkan perasaan nyaman sampai jauh di relung hati keduanya.
Agen A dan Agen B saling berpandangan. Tanpa perlu saling berucap, masing-masing telah tahu siapa pemilik tangan besar itu. Dialah Boss besar yang mereka perdebatkan tadi.
Agen B meresapi sentuhannya sambil pura-pura menghadap ke arah lain karena matanya mulai berkaca-kaca. Betapa ia merindukan sentuhan ini. Bahkan hanya dengan sentuhannya bisa membuatnya menjadi cengeng seperti. Andai Boss besar menemui mereka lebih cepat. Pasti sangat menyenangkan. Boss pasti lebih nyenyak tidur juga lebih sedikit tangisannya. Boss besar harusnya ada untuk Boss dan kami apa pun yang terjadi. Harusnya Boss dan kami bisa tertawa lebih sering. Harusnya Boss dan kami bisa lebih bahagia.
Lamunan Agen B langsung terhenti kala mendengar suara tangisan yang keras dari Agen A. Ketika menoleh, Agen B melihat Agen A telah menangis. Tubuhnya terlihat terguncang menahan air matanya. Agen B tak yakin apa arti tangisan Agen A, tangis kebencian ataukah kebahagiaan atau hanya seperti wanita pada umumnya menumpahkan semua emosinya dengan air mata.
Agen B menepuk-nepuk Agen A guna menenangkannya agar tak menangis.
Agen A:
(Masih menangis)
Aku membenci Boss besar, kenapa lama sekali meninggalkan kita. Kenapa lama sekali menelantarkan kita. Padahal rasanya nyaman sekali disentuh olehnya. Aku membencinya tapi juga menyukainya.
Agen B :
(Agen B yang awalnya coba menenangkan ketika mendengar ucapan Agen A mulai ikut menangis)
Aku juga merindukan Boss besar. Aku sungguh merindukannya. Aku ingin berterimakasih padanya karena sudah hadir meskipun terlambat. Itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku ingin menyapanya. Aku ingin mengatakan pada Boss besar bahwa aku merindukannya.
Agen A :
Tunggu....!
(Agen A berteriak pada Agen B yang terlihat mulai ancang-ancang menendang)
Agen B :
Ada apa. Jangan menghentikanku. Sudah lama aku menunggu moment ini.
Agen A :
Aku juga mau menyapanya. Aku ingin menumpahkan amarahku padanya.
Agen B :
Hmmm baiklah. Ayo kita beri pelajaran sekaligus menyapanya. Mari kita gabung kekuatan kita dan menendangnya dengan keras.
Agen A :
(Mengangguk)
Baiklah siap sesuai aba-abaku.
1
2
3
TENDANG.......!
🌺🌺🌺
Ini nih yg sering aku temui di novel2,wanita udah di campakkan masih mau balik lagi. Ku kira cerita ini beda dengan yg lain. 😑
kan anehhhh 🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️