NovelToon NovelToon
Dear Khadijah

Dear Khadijah

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Cintamanis / Pembunuhan / Tamat
Popularitas:242.6k
Nilai: 5
Nama Author: AYSEL

Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.

Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.

Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.

Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia tidak pantas untukmu

...18. Dia tidak pantas untukmu...

Biru.

“Baik, Tante. Iya... Nanti Biru sampaikan... Kha nya sedang tidak enak badan kemarin.” Biru menutup panggilan Tante Risa.

Sesaat kekhawatiran kemarin menjadi rasa gundah gulana. Ia bimbang, apakah harus disampaikan kepada Kha atau nanti saja menunggu waktu yang tepat.

Biru masuk kedalam studio bunga. Mengetuk meja kasir. Dari anak tangga terdengar Kha tengah berbicara dengan seseorang. Tawa renyahnya terhenti begitu mata mereka bertemu.

“Mas Biru?” sapa Kha, lalu datang seorang perempuan lain dari belakangnya. “Ada perlu apa, Mas?”

“Ada yang perlu aku bicarakan,”

Kha memanggut, mempersilakan ia untuk berbicara. Biru menyampaikan semua pesan dari Tante Risa, menjelaskan bahwa dekorasinya mendapat komplain dari klien. Seketika, rona wajah Kha lenyap, digantikan dengan tundukkan wajah murung. Ia tahu ini pasti berat buat Kha, mendapat keluhan dari klien akan memberi dampak sendiri bagi bisnis seperti ini.

“Waktu meeting terakhir klien cuman jelasin konsep sama tema, tidak meminta bunga khusus untuk ditambahkan,” ujar Kha lirih. “Makanya saya nggak berpikir buat masukin bunga Hydrangea kedalam dekorasi,” sambungnya.

“Emang bunga itu sebagus apa? Kok klien bisa sampai komplain gara-gara bunga yang memang tidak mereka minta diawal,”

“Hydrangea, memiliki arti Kau adalah detak jantungku.”

“Klien hanya minta buket bunga yang punya arti seperti cinta pertama, karena ia menikahi pria dari cinta pertamanya. Lalu aku buatkan hand bouquet dari bunga lili, bunga lili dengan gradasi warna merah muda dan putih.” terang Kha masih dengan wajah murung.

Biru mendengarkan penjelasan Kha dengan seksama. Ternyata ini hanya masalah miscommunication, bisa diluruskan nantinya tanpa harus ada ganti rugi.

“Jangan sedih, apalagi sampai down. Ini hanya kurangnya informasi dari klien itu sendiri. Bisa dijadikan pelajaran kedepannya, agar kamu lebih teliti dan detail saat technical meeting.”

Dihadapan Biru, Kha menghubungi Tante Risa, menjelaskan semua masalah yang terjadi. Entah apa yang Tante Risa bicarakan, Biru hanya melihat Kha berdiri bersandar dinding kaca, menjentikan kuku ibu jari dan telunjuk.

“Baik, Tante... Bisa, Kha bisa datang, Tante sharelock saja alamat cafenya. Assalamualaikum.” Kalimat terakhir Kha pada panggilan tersebut.

“Tante minta ketemu, bukan membicarakan masalah kemarin. Benar kata Mas Biru, Tante juga Bilang itu hanya masalah miscommunication.” terang Kha.

Biru mengangguk paham. “Ada proyek yang harus kita kerjain bareng kayaknya. Tante Risa juga minta ketemu siang ini sama aku.” balas Biru. Ia bangkit dari kursi dan pergi, tapi saat diambang pintu, Biru berbalik. “Kita jalan bareng.”

“Tap--”

“Kamu bawa Dipa atau Asti, aku juga bawa Gentar!” sahut Biru sebelum benar benar pergi meninggalkan Kha.

...🌼🌼🌼🌼🌼...

Khadijah.

Kha bersiap untuk menemui Tante Risa di salah satu cafee. Hari kemarin terasa berat, sakit diperantauan, jauh dari Ummi yang biasa merawat membuat Kha sedih. Untungnya ada Dipa dan Asti yang menemaninya, juga Mas Biru yang ternyata rela begadang hanya karena khawatir ia akan kembali tak sadarkan diri.

Kha mematut diri dicermin sedikit lebih lama. Matanya bengkak. Usai menangis semalam lantaran hijabnya dilepas oleh Barid, air mata itu kembali menggenang tatkala mendapat komplain dari klien. Ini komplain pertamanya selama menjadi vendor dekorasi. Ia sengaja memoleskan bedak agar sisa pucat pada kantung mata tersamarkan. Kha memutar badannya, melihat diri dari pantulan standing mirror. Hari ini ia memakai gamis flowy polos, berwarna khaki, dan hijab segiempat yang menjuntai menutupi bagian dada.

“Teh, Ditunggu Mas Biru dibawah.” ucap Dipa Kha segera turun bersama Dipa.

Mereka sepakat berangkat bersama, selain satu tujuan, keperluan mereka keluar juga hanya untuk meeting bersama pihak WO.

“Selamat pagi menjelang siang Neng Dipa.” sapa Gentar.

Dipa melengos tanpa menyahut sapaan Gentar. Ia membuka pintu mobil belakang lalu masuk.

“Bi, blasteran kayak gue gini aja masih dicuekin loh sama Dipa.”

Kha mengernyit. Muka Gentar terlihat kental sekali darah Indonesianya. “Mas Gentar, Blasteran?” tanya Kha penasaran.

“Loh, iya dong! Emang nggak kelihatan, Kha? Muka 11 12 sama Hero Fiennes, gini.”

“Blasteran, Kha! Setengah demit, setengah lagi bajingan.” ejek Biru.

Seketika tawa dalam mobil meledak. Dipa sampai memegangi perut karena sakit menahan tawa. Sedangkan Gentar melayangkan tinjunya ke lengan Biru.

Sampai di cafe, Tante Risa dan salah seorang asistennya sudah menunggu. Setelah memesan beberapa menu makanan, mereka mulai membahas tentang proyek selanjutnya. Dimana team Blue's studio dan Kha florist n decoration akan melebarkan sayap lebih tinggi. Yaitu menjadi vendor salah seorang pejabat negara.

Kha sempat pesimis. Kegagalan sebelumnya membuat ia overthinking. “Apa Kha dan team mampu, Tante?” tanya Kha Risau.

“Mampu, Kha. Insyaallah mampu. Sejauh ini Tante lihat dekorasi kalian semakin maju dan inovatif. Kebanyakan klien juga merasa puas dengan hasilnya.” ujar Tante Risa meyakinkan. “Masalah yang kemarin jadikan pelajaran. Kedepannya, kamu harus lebih detail saat meeting dengan klien.” sambung Risa.

Mereka menyudahi rapat saat jam menunjukan waktu Dzuhur. Sebelum pulang, mereka melaksanakan kewajiban di mushola yang tersedia di area cafe.

Biru terlihat keluar lebih dulu dari mushola. Kha melihat pria itu berdiri berkacak pinggang dengan ponsel di telinganya. Wajahnya selalu datar tak dapat diterka.

“Yang lain mana?” tanya Biru tanpa melepaskan tatapannya dari ponsel. “Hari ini Barid wisuda, tempatnya nggak jauh dari sini. Kamu nggak keberatan 'kan kalau aku mampir sebentar?”

Deg!

Beberapa hari lalu bahkan ia menolak dengan tegas undangan Barid. Lalu sekarang, haruskan ia mengikuti Biru?

Biru seperti tak memberi pilihan. Ia tak mengizinkan Kha pulang dengan taksi karena alasan yang tidak masuk akal. “Nanti kamu nyasar!” memangnya sejauh apa jarak dari cafe ke ruko.

Mau tak mau ia mengikuti Biru. Selama perjalanan Biru juga terus mendapatkan panggilan yang kemungkinan dari Mamanya.

“Iya, Mah. Ini Biru dikit lagi nyampe kok.” suara Biru terdengar lembut. Tak seperti saat berbicara dengannya atau yang lain, yang terdengar seperti bossy.

Tiba di lokasi, Senja menyambut dengan wajah sumringah, Perempuan yang tak lagi muda itu terlihat anggun dan cantik dengan balutan kebaya berwana Lilac.

“Ya ampun Abang lama banget, hampir saja Mama tinggal pulang." rengekan Ibu kepada anak itu terlihat sangat manis. “Mama 'kan mau kita foto keluarga dulu.”

“Eh, Kha ikut juga? Kalian bareng kesini nya?”

Kha mencium takzim tangan Senja. “Iya, Tante. Bareng sama Mas Gentar dan Dipa juga.” jawab Kha.

Kha melihat Biru tengah digelayuti oleh anak gadis dengan kebaya sama seperti Senja. Mungkin adiknya, pikir Kha. Disisi lain ada laki-laki, parasnya sangat mirip dengan Biru. Lalu, ekor matanya berhenti di sosok laki-laki yang kemarin malam membuatnya sakit hati. Barid, laki-laki dengan Toga itu tengah menatap tajam. Sengaja Kha membuang pandangan, ia tidak ingin Barid berpikir jika kedatangannya adalah untuk memenuhi undangannya tempo hari.

Kha mengajak Dipa untuk menunggu ditempat lain saat keluarga itu sedang melakukan foto keluarga.

Kha duduk dibawah pohon beringin, menunggu Dipa yang pamit membeli minum. “Astaghfirullahaladzim!” Ia terkejut setengah mati saat merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya. kemudian marah begitu tahu Barid yang berdiri dibelakangnya.

Lagi, Barid melakukan tindakan impulsif yang membuat Kha merasa terhina. Merasa rendah seolah ia perempuan yang dengan mudah disentuh apalagi dilepas hijabnya.

“Kamu abaikan undangan aku terus datang dengan Biru, Kha.” ujar Barid. Wajahnya merah padam seolah tengah menahan amarah.

“Aku bilang kamu orang penting buat hidupa aku, dan sekarang kamu disini sama Biru! Maksud kamu apa?”

“Tidak ada maksud apa-apa, Mas. Tujuanku kesini karena mengantarkan Mas Biru. Dia yang mau menemuimu, bukan aku.”

Barid melepaskan toga dengan kasar lalu mencampakkannya begitu saja. “Aku yakin kamu bukan wanita bodoh yang nggak tau maksud undangan aku! Kamu mau aku bersaing dengan Biru, Kha?”

Kha membalas tatapan Barid tak kalah tajam. Ia bahkan tidak mempunyai hubungan lebih dengan Biru. “Apa maksud, Mas, bersaing? Maaf. Tapi aku sedang tidak mengadakan kompetisi.”

“Terus apa maksudnya kamu nolak aku tapi ikut Biru kesini?! Kalau kamu mau aku bersaing sama Biru, Oke! Aku akan bersaing sekalipun sainganku Abang sendiri.”

“Astaghfirullah,” Kha terus merapal istighfar, ingin sekali ia pergi dari tempat itu sekarang. Yang Barid bicarakan sama sekali tak terpikirkan olehnya.

“Kha....” Barid meraih pergelangan tangan Kha. Sontak saja ia menepis dengan kasar. Lagi, Barid selalu membuat Kha kecewa dengan tindakannya.

“Aku sama sekali tidak tahu apa yang kamu bicarakan! Tapi, kalau memang kamu mau bersaing, saingan kamu jelas bukan Mas Biru, melainkan lauhul Mahfudz ku. Itu saja saya tidak tahu, apakah jodoh atau kematian yang akan lebih dulu mendatangiku.” ucap Kha. Ia ambil Sling bag dan ingin beranjak pergi, tapi Barid masih saja menghalanginya.

“Aku suka kamu, Kha. Jadi tolong jangan terlalu dekat dengan orang lain. Hargai aku yang sedang berusaha. Aku hanya ingin melindungi kamu.”

Kha mengangkat satu alis. Ucapan Barid sangat mengusik pikirannya. “Melindungi??? Menyentuh perempuan yang bukan mahram apa bisa disebut melindungi? Dan membuka hijab perempuan tanpa izin juga bisa dikatakan melindungi?” Kha melemparkan pertanyaan sarkas. “Lagi pula aku tidak sedang dalam lingkup yang berbahaya. Yang sampai membutuhkan perlindungan orang lain.”

“Biru nggak pantas dekat dengan kamu. Kamu sama sekali nggak pantas berhubungan dengan dia!” bahkan Barid menaikan volume suaranya.

Lututnya sudah sangat lemas, ini kali pertama buat Kha terlibat pembicaraan panjang dengan seorang pria. Pembicaraan yang tidak penting justru membuat ia semakin marah. “Bukan kamu yang berhak memutuskan pantas atau tidaknya seseorang untuk ada disamping ku.”

“Dia anak ja lang!!”

yang ini jangan minta dipanjangin. udah tak kali lebar sama tinggi soalnya. tingkyu bestieeee yang udah mampir. Jan lupa tinggalin jejak ya... lope you muaah

1
Siti Dede
Jahatnya Bariid
Ita Yuhana
nyesek q bacanya 😭😭😭😭
Ita Yuhana
pedes banget itu mulut barid
Ita Yuhana
kayaknya sama" ada rasa nich .... asyik lanjut kk
Najwa Najwa
😭😭😭😭😭
NUR NAZEERAH: Najwa-Najwa
total 1 replies
Qin one
lihat judulnya, penasaran
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
Bunga Dwi Femina
kadang heran aku sama yg novelnya bagus yg baca cuman sedikit,yg tulisannya amburadul malah dapet milestone,semangat ya kak ditunggu novel2 berikutnya
Bunga Dwi Femina
barid lebih cocok JD anaknya Jihan,sama2 ambisius,kalo biru malah kek senja...santaiiiii
Firzanah Ghassani
sangat puas sama endingnya. alurnya pun gk begitu berat. trima kaaih thor
RosE
Bagus banget ceritanya... q sampai nangis bacanya 🥺 thanks ya Thor, sudah menyuguhkan cerita yg lain dari yang lain... sampai marathon bacanya, penasaran gimana cerita selanjutnya... semangat terus berkarya ya... 💪❤️
Eka Suryati
Kha wanita soliha
Eka Suryati
Awal kisahmu dimulai Kha
Eka Suryati
Wanita anggun nan soleha
Eka Suryati
Kha....senang sekali
Eka Suryati
Aamiin
Eka Suryati
absen, komen dan Next
Eka Suryati
Next
Eka Suryati
Keren kok Kha
Eka Suryati
Muslimah sesungguhnya
Eka Suryati
Tidak.mengenal pacaran👍🏻👌🏻💪🏻💪🏻
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!