Namanya Bunga, gadis remaja yang hidup bergelimang harta dengan apa yang dia dapatkan. Jika kalian mengira Bunga salah satu anak dari orang kaya raya atau pesohor di tanah air, maka itu salah besar. Bunga gadis cantik yang masih duduk di bangku SMA dengan segudang cerita malamnya.
Cantik dan sexy itu yang tersemat jika kalian melihat seorang Bunga. Gadis yang selalu menjadi incaran teman-teman sekolahnya. Namun tidak satupun yang bisa dekat dengannya, Bunga teralalu cuek dan penutup. Sampai pada akhirnya Bian datang dan membawa sejuta cerita untuknya, merubah Bunga secara perlahan, namun ditengah-tengah hubungan mereka masalah cukup serius datang dan membuat keduanya sama-sama saling membenci namun masih menyimpan rasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Di Vila
Senyum miring terlihat dari Bunga saat melihat Bian yang keluar seraya membanting pintu mobilnya. Bian kesal dengan Bunga yang bertindak seenaknya, sama seperti dirinya padahal, tetapi tindakan Bunga ini sangat memancing gairah Bian.
Sebisa mungkin Bian tahan agar tetap bisa menjaga gadis di depannya ini. Meski dia akui Bunga ini terlalu nakal untuk seumurannya.
"Payah," gumam Bunga kembali merapihkan seragamnya yang tadi sempat akan ia buka.
Gadis itu keluar dari mobil dan menghampiri Bian yang sedang berdiri membelakanginya. Bian sedang berbicara dengan seorang lelaki tua. Penjaga vila yang dimilikinya.
"Makasih pak," ucap Bian sopan.
Cowok itu berbalik badan dan mendapati Bunga yang sedang menatapnya. Tanpa sekatah Bian melewati Bunga begitu saja. Dia menuju dimana pintu vila berada.
"S*al," umpat Bunga merasa dirinya bodoh mau saja diajak Bian bolos dan berakhir di vila milik cowok itu.
"Mau lo apa sih sebenarnya? balikin ponsel gue dan semua selesai," ucap Bunga yang sudah tidak tahan dengan sikap aneh Bian.
"Buka seragam lo!" suruh Bian membuat mata Bunga terbelalak.
"Lo gil-"
"Lo bisa pakai baju nyokap gue yang di sini, sante nyokap gue orangnya modis," potong Bian membuat wajah bengong Bunga terlihat.
Melihat ekspresi wajah Bunga saat ini membuat Bian tersenyum tipis. Cowok itu melangkah ke salah satu kamar yang Bunga yakini kamar milik orang tua Bian ketika mereka sedang berkunjung ke vila tersebut.
Tidak lama Bian datang dengan beberapa baju di tangannya. "Pilih yang mau lo pakai."
Bian menaruh beberapa baju milik Bundanya, lalu pergi setelah mengatakan itu.
Sementara Bunga, gadis itu masih terdiam bingunh di tempatnya, Bian termasuk cowok yang susah dimengerti, tetapi entah kenapa Bunga menurut saja untuk berganti seragam dengan baju dari Ibunda Bian.
"Lumayan juga," komentar Bunga melihat baju-baju yang tadi Bian bawakan.
Setelah memilih baju yang menurutnya paling pas ditubuhnya, Bunga mencari keberadaan Bian, ternyata cowok itu sedang menyiapkan perahu dayung kecil di sebelah Vila. Di sana ada semacam danau kecil, danau buatan yang mungkin dikhususkan untuk Vila keluarga Bian saja.
Melihat kedatangan Bunga membuat Bian menoleh. Tetapi melihat penampilan Bunga saat ini membuat rahang Bian mengeras. Ternyata baju yang dipilihkan tadi olehnya malah membuat paha mulus Bunga semakin terlihat, bahkan dres yang tadi dipilihnya lebih pendek dari rok seragam Bunga.
"Kenapa pilih itu?" tanya Bian datar.
Bunga melirik ke arah dres yang dikenakan olehnya. "Paling bagus dan pas dibadan gue sih," jujur Bunga.
Bian menghela napas. Bunga memang suka memakai baju yang memperlihatkan bentuk indah tubuhnya, jadi percuma saja jika ia memilihkan daster sekalipun untuk Bunga, karena gadis itu pasti akan memilih daster terpendek yang akan dikenakan olehnya.
"Mau naik itu?" tanya Bunga. Gadis itu mendekat dan naik ke dalam perahu kecil yang sudah disiapkan oleh Bian. Diikuti oleh Bian yang naik dengan dayung di tangannya.
Karena sudah bolos sekolah. Bunga tidak akan menyia-nyiakan waktu begitu saja. Dia akan menikmati waktunya di vila puncak saat ini. Waktu bersama Bian.
Sudah setengah jalan, tidak ada percakapan di antara keduanya. Bunga yang sibuk dengan pemandangan di sekitar, dan Bian yang sibuk dengan dayung dan pikirannya, pikiran tengang gadis di depannya saat ini.
"Bunga," panggil Bian membuat kepala Bunga menoleh.
"Kenapa? udah mau balikin hp gue? percuma sih tanggung," jawab Bunga membuat Bian terkekeh.
"Pd, lo suka tempat ini?" tanya Bian menatap Bunga intens.
Bunga melihat ke sekitar, lalu mengangguk mengiyakan. "Indah, sejuk, sunyi dan..."
"Nggak ada suara musik dj seperti di klub malam," lanjut Bian membuat Bunga menoleh.
Gadis itu menganggukan kepalanya, dia teringat dengan kejadian tadi malam. "Lo kok bisa tadi malam ada di klub itu lagi? atau jangan-jangan lo-"
"Gue ngikutin lo," ungkap Bian membuat Bunga terkejut.
Deg
"Gue sengaja ngikutin lo," lanjut Bian.
"Mata gue perih lihat baju yang lo pakai tadi malam." Bian kembali mengungkapkan ketidak sukaannya.
Bunga terkekeh mendengar ucapan Bian. "Lo tuh aneh tahu nggak! lo bukan siapa-siapa gu-"
"Untuk sekarang, nggak tahu nanti," potong Bian yang tiba-tiba semakin mendekat dan berhasil menekan tengkuk leher Bunga.
Tatapan mata mereka saling bertemu, dan entah kenapa Bunga sendiri merasa lain, ada perasaan yang tidak bisa Bunga jelaskan. Dekat dengan Bian seperti ini membuat Bunga menginginkan sesuatu yang lebih. Terlebih mata elang milik Bian yang malah menarik untuknya, Bunga suka lelaki yang mempunyai mata tajam bak elang. Seperti yang Bian miliki.
"Lo ane-mmphhh."
Entah dorongan dari mana, Bian sudah lebih dulu membungkam bibir sexy milik Bunga. Gadis itu sempat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bian, tetapi ia juga menikamtinya, terbukti dari ciuman Bian yang ia balas dengan begitu lembut dan hangat, bahkan jika dirasa Bunga sudah sangat ahli dalam hal itu, sampai membuat ciuman itu berganti menjadi lu**tan panas di antara mereka.
Cukup lama mereka melakukan hal itu. Sampai mereka melepas sendiri merasa semakin panas hawa disekitar mereka. Padahal yang namanya puncak itu sejuk, tapi mereka mencipatkan kehangatan sendiri.
Bunga menatap ke lain arah. Ia merasa aneh karena tiba-tiba merasa malu mengingat kejadian baru saja. Sementara Bian kembali mengayuh sampai perahu yang mereka naiki menepi. Keduanya turun dan berjalan di sekitar pinggiran danau kecil itu. Yang nantinya menghubungkan ke arah kolam berenang di belakang vila.
Pukul 5 sore, keduanya telah bersiap untuk kembali pulang ke apartemen, sebelumnya mereka sudah dijamu terlebih dahulu oleh penjaga Vila milik keluarga Bian itu. Bunga sudah kembali dengan seragam sekolahnya.
"Makasih ya pak, saya jalan dulu," pamit Bian dan diangguki oleh penjaga vila tersebut. "Hati-hati den Bian."
Baru saja Bian masuk ke dalam mobilnya, pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat kini terpampang dengan nyata di depannya. Bunga memakai hoodie miliknya yang terlihat kebesaran, tetapi sangat pendek sampai membuat rok seragam Bunga tidak terlihat jika gadis itu sedang duduk.
"Sorry gue kedinginan," ucap Bunga melihat kedatangan Bian.
Tidak ada jawaban dari Bian. Cowok itu menjalankan mobilnya meninggalkan vila miliknya. Sesekali ekor matanya melihat paha mulus milik Bunga yang dibiarkan begitu saja. Ayolah siapa sih yang tahan melihat godaan dari se*an yang berparas menggoda seperti Bunga? Bian cowok normal yang mempunyai rasa ingin melihat hal demikian.
"F**k," umpat Bian yang sudah tidak bisa lagi untuk mereda.
Ssstttttt
Tiba-tiba mobil Bian berhenti di tengah jalan. Membuat Bunga menoleh ke arah Bian dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Bunga masih dengan wajah polosnya. Seakan apa yang dilakukan olehnya itu tidak membangunkan singa yang sedari tadi sudah menahan sesuatu.
"Jangan salahin gue Bunga," ucap Bian menatap Bunga penuh arti.