NovelToon NovelToon
SINKING OF LOVE

SINKING OF LOVE

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:588k
Nilai: 4.8
Nama Author: maomao

Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.

Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.

CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Aku tertegun mendengar perkataan Ahn Yoo, sampai membuatku terjelengar beberapa saat.

"Jangan katakan seperti itu lagi. Aku bisa salah paham mengartikan kata-katamu tadi," jawabku tersipu.

"Terserah mau mengartikannya apa," lanjutnya tanpa tergemap.

Kalau terus memikirkan Ahn Yoo, aku bisa gila karena bingung dengan sikapnya. Kadang kala dia sudah baik dan perhatian, di lain waktu dia suka marah. Benar-benar sulit dimengerti susasana hatinya.

"Bukankah kau lapar?" tanya Ahn Yoo yang tampak simpati melihatku.

"Iyaa!!" anggukku senang.

Dia berjalan ke pintu dan membukanya.

Di sisi lain, aku menyelingar heran melihatnya.

"Apa kamu tidak ingin keluar dari sini?" tanya Ahn Yoo menyadarkanku.

"Ha?? Uhmm ... tentu aku ingin keluar," sahutku sambil berjalan ke arahnya.

Seketika pintunya berbalik dan membawa kami ke dalam lemari baju Ahn Yoo.

Dengan cepat aku keluar dari lemari dan berniat mengganti pakaianku.

Tanpa meninggalkan sepatah kata pun aku berjalan meninggalkan Ahn Yoo.

"Turunlah ke bawah dan tunggu aku di dalam mobil ,"ujar Ahn Yoo angkuh.

"Aku??" tanyaku pelik.

"Jangan paksa aku mengatakannya untuk ke-dua kali," sambungnya dengan nada arogan.

Aku terus berjalan dan tidak memperdulikan suruhannya.

"Apa kamu tidak mendengarnya?" tukas Ahn Yoo.

Aku berhenti berjalan dan menatapnya dingin.

"Iya aku mendengarnya. Sekarang aku mau mengganti pakaianku yang sobek, kemudian turun ke bawah." Aku menjelaskannya kepada Ahn Yoo dengan nada ringan.

"Kenapa kamu suka sekali marah? sensitif sekali," ejekku dalam hati.

Aku masuk ke dalam kamarku dan mengganti pakaian dengan baju yang lebih bagus.

"Kira-kira dia mau membawaku kemana? Aku jadi penasaran," tanyaku sambil termenung.

Sudahlah, lebih baik aku turun saja ke bawah. Takutnya, dia sudah tiba di sana dan membuatnya menunggu lama dan akhirnya memarahiku.

Benar saja, dia sudah ada di dalam mobil. Perasaanku tidak enak, mungkin aku akan dihujani kata-kata menyakitkan dari lidah tajamnya.

Aku berdiri lama di dekat mobil, memunggunya sampai menyuruhku masuk.

"Naik ke dalam, mau berapa lama lagi aku menunggumu agar masuk ke sini?"

"Kenapa kamu cerewet sekali jadi laki-laki," gumamku dengan suara pelan.

Aku membuka pintu mobil dan hendak duduk di belakangnya.

"Apa kau pikir aku ini supir pribadimu, duduk di depan," kata Ahn Yoo dengan suara agak membentak.

"Hahahahah, aku tidak menanggapmu begitu." Aku tertawa dengan canggung.

Aku naik ke dalam mobil dan duduk dengan hati-hati. Tentu saja aku harus menjaga sikap saat di dekatnya. Kalau tidak, aku hanya akan mendatangkan petaka, dia akan memarahiku, membentakku, menceramahiku, bahkan mempermainkanku. Hidupku memang tampak menyedihkan. Setelah lolos dari paman tiri yang jahat, sekarang aku harus menghadapi laki-laki yang tempramental.

"Ahn Yoo ... sebenarnya kita akan kemana?"

"Kenapa? Apa kau takut aku akan menjualmu?" kata Ahn yoo yang tampak sedang menyindirku.

"Aku tidak pernah mengatakan kalau kamu mau menjualku, kamu sensitif sekali. Padahal aku hanya bertanya kita akan kemana, aku sama sekali tidak mencurigaimu," sambungku mencoba untuk menjelaskan.

Dengan lagak sombong, dia hanya memutar sudut matanya saat melihatku. Untung saja aku sudah kebal dengan sikapnya, jadi emosiku tidak akan terpancing olehnya.

Aku sadar dia ini adalah CEO dari PT TIG Entertaimen yang berkuasa di kota Agra. Tapi entah mengapa aku sama sekali tidak takut kepadanya, aku hanya merasa segan terhadap Ahn Yoo karena sudah menyelamatkanku. Tidak seperti orang lain yang menyembah-nyembah nama Tuan Ji, dengan lidah manis mereka memujinya. Sungguh membuatku geli ketika membayangkan hal itu.

"Ekhem," dehemku mencoba menghilangkan kecanggungan di sini. Masalahnya, dia tidak terusik sama sekali.

"Ekhm ... ekhem." Aku mengulangi kembali.

"Kalau ingin batuk keluarkan saja".

Astaga!

Memang orang yang tidak peka sama sekali. Aku hanya memancingmu untuk berbicara, bukan ingin batuk. Ahn Yoo sangat payah, dia tidak paham dengan kode yang kuberikan. Tapi, kalau di ingat kembali, dia itu sangat peka. Terakhir kali waktu aku merusak bunga, dia langsung tahu. Padahal, Bu San sudah berbohong kala itu untukku, tapi dia langsung bisa menebak kalau biang dari semua itu adalah aku.

"Kamu memang tidak peka," sindirku kepada Ahn Yoo.

Seperti biasanya, dia hanya diam dan tidak meresponku sama sekali. Dia hanya menoleh sedikit tanpa menyahut sepatah kata pun.

"Aku berpura-pura batuk untuk membuatmu berbicara. Aku sangat canggung kalau seperti ini saja, berbaurlah sedikit denganku," sambungku mengajaknya.

"Siapa kau bisa menyuruhku," lanjuntnya datar.

"Ya sudah, kalau tidak mau. Lagi pula aku sadar kalau aku ini tidak pantas berteman denganmu," jawabku pasrah.

"Kapan aku mengatakannya?" Tiba-tiba Ahn Yoo menginjak rem mobilnya.

"Ahhh ... kenapa kamu berhenti. Aku hanya asal bicara tadi, jadi kamu tidak perlu memasukkannya ke dalam hati," sambungku mencoba menenangkannya.

"Aku tidak akan lanjut berjalan kalau kau tidak bisa diam.

"Bisakah kamu ini jangan kaku seperti balok es, membuatku tidak nyaman. Apa kamu tahu, aku juga tidak akan sudi berteman dengan orang sepertimu kalau bukan karena mengingat kebaikanmu saat menolongku," gerutuku dalam hati.

Setelah selesai menggusariku, dia menginjak pedal gas mobilnya kembali. Kita dipaksa untuk mengerti suasana hatinya, dan harus memahami ke inginannya.

Setelah beberapa menit kemudian, tibalah kami di sebuah five stars restaurant. Dia menyuruhku mengikutinya masuk kedalam restaurant ini. Sesaat setelah kami masuk, seorang waitress menyapa dan menyakan makanan yang hendak kami pesan.

"Selamat datang, silahkan dipilih menu makanan yang tertera disini tuan."

Ahn Yoo mengambil menu itu dan memilih makanan untuknya. Sedangkan aku masih tertegun melihat sekeliling. Tapi tegunanku hancur karena sadar Ahn Yoo sedang melirikku dengan mata tajam.

"Pilih mana yang mau kau pesan," perintah Ahn Yoo.

Waitress itu kemudian memperlihatkanku menu makanan itu.

"Aku pesan .... " Tiba-tiba aku melengung melihat semua yang tertera di sini. Tidak satu pun makanan yang ku kenali.

Syukurlah Ahn Yoo cepat sadar denganku, dia mengerti kondisiku yang menyedihkan ini.

"Uhmm ... serve two portions special food saja," perintah Ahn Yoo kepada pelayan itu.

"Baiklah tuan, mohon menunggu sampai makanannya datang." Waitress itu membungkuk dan pergi.

Dia menatapku kembali, matanya seperti sedang mengisaratkanku sesuatu. Tentu saja, dia membuatku gugup.

"Uhmm ... maafkan aku."

"Untuk apa?"

"Aku sudah membuatmu malu tadi, karena aku tidak bisa memilih makanan untukku," ujarku dengan raut bersedih.

"Itu hanya perasaanmu saja," sambungnya datar.

"Buktinya tadi kamu menatapku dengan sinis, seperti ini." Aku menirukan gaya matanya saat menatapku tadi.

Aku melihatnya tersenyum halus, tapi dia menutup-nutupinya. Akhirnya, dia sudah berada diatmosfer yang bagus. Jadi aku tidak perlu menjaga omonganku saat berbicara dengannya.

"Kalau mau tersenyum, tersenyum saja. Kamu tidak perlu menutup-nutupinya dariku."

"Kapan aku tersenyum?" sambungnya berpura-pura tidak melakukannya.

"Iya, terserah kamu saja. Lagi pula aku tidak bisa menang kalau adu mulut denganmu," lanjutku menyindir.

"Maaf sudah menunggu, ini pesanan tuan dan nyonya. Semoga kalian menikmati hidangan special kami," kata seorang waitress yang baru saja datang.

Waitress yang menghidangi kami berbeda dengan yang sebelumnya. Membuatku semakin takjub saja melihat restaurant ini. Pelayannya sangat banyak, memang pantas menjadi bintang lima, sangat berbeda dengan resto tempatku bekerja sebelumnya.

Waitress itu menghidangi kami makanan yang sama sekali belum pernah kulihat. Bahkan di tempat aku bekerja dulu tidak ada makanan yang bentuknya seperti ini. Ditambah lagi harganya yang setinggi langit membuatku tidak selera sama sekali.

Aku hanya memainkan makanan di hadapanku ini, tidak memakananya sama sekali. Padahal aku sangat lapar, tapi melihat makanan ini aku jadi tidak bernafsu.

"Jangan hanya memainkan makanan itu," tukas Ahn Yoo.

"Aku tidak selera, aku tidak biasa memakan makanan ini."

Tangannya berhenti memegang pisau dan garpu.

"Bukannya tadi kau yang menjerit kelaparan," sindirnya padaku.

"Iya ... tapi aku tidak menyuruhmu membawaku makan ke sini, aku hanya minta kamu keluarkan aku dari ruang rahasiamu itu."

"Terserah, tapi aku sudah menyuruh Bu San untuk tidak memasak hari ini," kata Ahn Yoo mengancam.

"Apa? Tapi aku mau makan masakan Bu san," kataku sambil merengek.

"Aku tidak peduli," sambungnya dengan datar.

"Aku tahu kamu itu hanya peduli dengan kemauan mu, tidak mementingkan orang lain. Kamu hanya mementingkan kehendakmu saja, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain." Aku berdiri dari kursi dan berlari ke toilet.

Aku tidak peduli dia akan marah atau tidak padaku, yang pasti aku sangat jengkel melihat dia. Aku cukup bersabar menghadapinya selama ini, dia hanya mementingkan ego-nya saja.

Awalnya aku maklum karena dia sudah lama tidak mendapat perhatian dari ibunya, sehingga dia menjadi manusia dingin. Tapi atas dasar apa Ahn Yoo memaksaku untuk mengikuti semua kehendak yang dia inginkan?

Aku meredakan kekesalan ku terhadap Ahn Yoo di dalam toilet. Pelan-pelan aku mencoba keluar dari sini dan menghampirinya.

Saat aku kembali, aku sudah tidak menemukannya di sini, mungkin dia sudah pergi. Kemudian aku menanyakan kepada seorang waitress kemana dia pergi.

"Permisi ... yang tadi duduk di sini pergi kemana yah?"

"Owh ... setelah membayar tagihan, tuan itu langsung keluar nyonya."

"Kalau begitu terima kasih yah."

Aku langsung berjalan keluar dan mencari keberadaannya. Aku hanya melihat mobilnya, tapi tidak mengetahui dimana dia .

"Aku sudah yakin dia akan meninggalkanku," decakku sambil menghela nafas.

Tapi kalau Ahn Yoo pergi, kenapa mobil miliknya masih ada di sini?

"Jane!" teriak Kang Joon yang baru saja datang dan menghampiriku.

"Kang Joon? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku girang.

"Kebetulan sekali. Aku kesini karena ada janji dengan client," jawabnya dengan senyum ramah.

"Owhh ... begitu," anggukku tanda mengerti.

"Kalau kamu, sedang apa di sini?" tanya Kang Joon balik.

"Aku baru saja siap makan."

"Dengan pacar?" sambungnya berniat untuk menggodaku.

"Hahahahahah ... tidak, aku ke sini bersama .... " Belum selesai bicara Ahn Yoo tiba-tiba saja datang entah dari mana.

"Kim Jane Soo!!" teriak Ahn Yoo.

"Ahn Yoo? Bukannya kamu sudah pulang lebih dulu?" tanyaku terpingkal.

"Kenapa? Apa kamu kecewa aku tidak pulang?" jawabnya sinis.

"Bukan begitu ...." Belum sempat menjelaskannya kepadanya, Kang Joon menyapa Ahn Yoo.

"Sudah lama tidak berjumpa, Ahn Yoo."

"Kang Joon, apa kau tidak ada kerjaan sehingga sempat makan di sini?" sahut Ahn Yoo.

"Tidak, aku ke sini ingin bertemu dengan client. Dan kamu tampaknya juga memiliki waktu luang akhir-akhir ini. Sampai kamu bisa menyempatkan diri untuk datang ke tempat ini."

Sekilas mereka tampak baik-baik saja, tapi setelah diperhatikan mereka sedang mengejek satu sama lain. Ditambah mata mereka yang saling membelalak, terlihat seperti kucing yang sedang berkelahi.

"Ya ampun, apa kalian sudah berkenalan? Jadi aku tidak perlu memperkenalkan kalian lagi," sambungku yang tidak mengetahui apa-apa sama sekali.

Kang Joon mencoba menjelaskan bagaimana mereka bisa saling berkenalan.

"Tentu saja Jane, dia ini adalah...."

**Bersambung ...

UNTUK READERS TERHORMAT,

AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻

Terimakasih🍃😉**

1
hachii
semangat
Nur Faizah
hoho
Myta Veronica
absen thor,baru mau mulai baca nih 👋
Ratna Dwi
lanjut seson 2 Thor aq tunggu🙏
👑⁹⁹Fiaᷤnͨeͦ🦂
Next
Wati_esha
Terima kasih update nya thor.
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
Anyle Tiwa
semangat
Anyle Tiwa
oke
Kimmeldy - Meldy
lanjutkan thor di tunggu
Kimmeldy - Meldy
sukkaa

salam dari TMA
hadir dari imagine& writter
Tâm
Hi you can follow me
Evi Bae Lah
di tunggu episode selanjutnya
Zuni Tree
ahh, kok gak sampai nikah sihh
Zuni Tree
ahn yoo.. buruan kek ungkapin isi hatinya
Dheway
bukannya mereka berdua sdh pernah mengatakan saling mencinta di akmar ahn yoo meskipun tdk romantis
As-Sana (IG: rain_session: Kalau berkenan mari mampir ke novel saya ka HARMONI CINTA MELISA ❤️🤗

Kisah Sweet Rommance antara Pemain Biola dan Pianis
total 1 replies
Iqbal
trobos bor
Dheway
kapan nikahnya thor, bosen berante mulu
Dheway
kapan ahn yoo menikahi kim thorr
Kim Yoona
ahn yoo bisa aja kamu.. 😍😍😍
Kim Yoona
jangan jahil janee..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!