Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.
Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.
Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.
Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?
Penasaran? langsung baca yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu milikku
Ibukota, 2015
Jira menggeliat pelan lalu memeluk Arsa yang tidur di sebelahnya. Pria itu menoleh, tersenyum jahil sambil menyentuh bulu mata Jira.
"Sa, aku ngantuk!" Jira mengomel. Arsa terkekeh, mencium pelan bibir Jira lalu semakin menempel pada tubuhnya. Dibawanya kepala wanita itu ke dada lalu sebelum memeluk tubuh Jira, tangannya menyalakan televisi.
Suara volume TV yang pelan membuat Jira tetap terbangun. Diraihnya remote agar Arsa mematikan siaran karena kantuknya sungguh masih terasa. Mereka baru kembali pukul dua belas malam, karena lelah, Jira pasrah pulang ke apartemen Arsa. Setelah makan, lelah yang sedikit menguap membuat mereka malah berolahraga di ranjang. Kini pukul enam pagi dan Jira naik darah karena suara TV menganggunya.
"Sebentar, ada Crystal." Arsa malah meningkatkan volume suara hingga mata Jira resmi terganjal. Fokusnya juga berpindah dari mimpi ke layar TV yang menampilkan berita liputan pertandingan Pra PON, Pekan Olahraga Nasional yang bergengsi.
Jira menggerutu pelan menyaksikan ekspresi Crystal yang tampak grogi saat diwawancara sebagai penyumbang medali tiga emas, satu perak dari cabor dancesport. Empat medali itu sukses membuat kota mereka total membawa delapan emas, sepuluh perak dan tujuh perunggu. Para atlit cabang olahraga dancesport kota mereka akan melenggang ke PON tahun depan dan Crystal seharusnya bahagia.
"Kamu ajarin dia public speaking, dong, Ji." Arsa memberi saran dan Jira hanya terkekeh, ikut fokus menatap wajah Crystal yang masih memakai gaun dansanya berbalut jaket kontingen.
Arsa juga menatap Crystal, mencoba mengingat gaun dansa yang ada di dalam jaket itu. Gaun perak dengan punggung terbuka lebar, membuat penampilannya kian memesona. Arsa yang baru pertama kali menonton secara langsung pertandingan dansa, terpukau oleh gerakan Crystal yang diiringi alunan musik lembut. Ada sedikit kengerian dalam hatinya melihat tubuh molek Crystal menempel dekat dengan pasangan dansa Crystal yang kini tersenyum manis di sebelahnya.
Jira mengambil ponsel, memotret layar TV yang masih menampilkan wajah Crystal. Arsa menoleh dan sebelum pria itu bertanya, Jira mengembalikan ponsel dan kembali bergelung dalam selimut sambil menggumam pelan, "Mau kasih lihat mama."
Arsa tersenyum lalu memandangi wajah Jira yang matanya terpejam lagi. Pria itu demikian bangga pada kekasihnya yang belakangan ini terlihat memperhatikan adiknya. Jira bahkan membatalkan pertemuan bisnis untuk menghadiri pertandingan Crystal, memerintahkan Reyna merekam penampilannya.
"Ji, untung aja Crystal ambil kelas standard, yang kelas latin itu hot banget," kata Arsa sambil mengingat penampilan para atlit dansa kelas latin dengan kostum yang cenderung terbuka. Jira tertawa kecil, tanpa membuka mata dia mengomentari otak Arsa yang menurutnya mesum.
"Itu seni, yang salah otak yang nonton kalau berpikiran aneh-aneh!"
Arsa tertawa membenarkan lalu masuk ke dalam selimut untuk memeluk tubuh Jira yang tak berpakaian apa pun.
"Ahh, ****!" Arsa mengumpat hingga Jira membuka mata karena kaget.
"Otakku memang mesum kalau dekat kamu, Ji! Kenapa tidur nggak pake baju?! Mancing, kan?!"
Jira mengerutkan dahi lalu balas mengumpat. "Setan! Dari semalam kamu tahu aku begini, nggak usah cari alasan aku mancing kamu. Aku ngantuk!" maki Jira sambil memejamkan mata, membuat Arsa frustrasi karena tak ditanggapi.
Tapi detik berikutnya Jira tertawa, di dalam selimut tangannya mulai bekerja untuk menenangkan saraf tegang Arsa. Dan berdetik-detik kemudian tubuhnya juga pasrah menjadi pelampiasan hasrat Asra lagi.
"Thanks, Darling. You're mine! Gimana kalau kita nikah tahun ini?" bisik Arsa.
Jira membuka matanya, menatap netra Arsa yang penuh harapan Jira akan membalas ajakannya untuk meresmikan hubungan. Ada beberapa hal yang masih mengganjal di benak Jira tapi pagi ini saat dia merasakan cumbuan Arsa yang menggila lagi, hati kecilnya berperang.
"Oke, sudah waktunya aku jadi istri kamu, bukan sekadar mainan kamu!" jawab Jira yang justru membuat Arsa terbakar semangat. "Kalau jadi istri, tetap aja jadi mainanku, Sayang!"
Jira tertawa kecil dan bergegas menanggapi Arsa untuk segera menyelesaikan segalanya karena dia harus segera ke kantor.
**
Arsa menatap wajah Andini yang sedang menyiapkan makan malam. Wanita itu terlihat gembira hingga terus bersenandung sembari menata meja makan di apartemen Arsa.
"Ah, punya anak cuma satu tapi mau makan malam aja susah!" kata Andini membuat Arsa tertawa.
Setelah duduk manis di depan Andini, Arsa memperhatikan wajah ibu yang sangat dia sayangi. Andini tak pernah menolak apa pun keinginan Arsa, bahkan saat Arsa ingin tinggal terpisah di apartemen, Andini mengizinkan. Wanita itu memilih tinggal di rumah bersama keponakan wanitanya, Araya.
Andini yang sadar diperhatikan Arsa, mendelik lalu memukul kepala Arsa.
"Jangan kamu lirik perempuan lain kayak begini, Sa. Bisa murka calon istrimu!" kelakar Andini membuat Arsa tertawa.
"Ah, Jira nggak dangkal otaknya. Dia tahu cuma dia yang aku pikirkan biarpun ada perempuan-perempuan lain yang seliweran," jawab Arsa sambil mulai menyuap makanan.
Dahi Andini berkerut lalu bertanya serius. "Perempuan seliweran itu apa maksudmu?"
Arsa mendadak berhenti makan karena Andini menambah pertanyaan mengerikan. "Kamu nggak selingkuh kan, Sa?!"
"Astaga, nggak, Ma!" Arsa memekik kaget.
"Nggak pernah aku berpikir mengkhianati Jira! Gila aja!" umpat Arsa tanpa sadar.
"Ya jadi apa maksud omonganmu?!" Andini balas mengumpat.
"Ya maksudku kan memang kenyataannya banyak perempuan lain di lingkunganku tapi nggak ada satu pun yang bisa bikin aku berpaling dari Jira!"
"Oh, manis sekali!" sahut Andini dengan senyum lebar.
"Nggak ada yang sebanding sama Jira. Dia luar biasa," gumam Arsa hingga Andini kembali bertanya melantur.
"Luar biasa apanya?"
Arsa tersedak dan Andini masih menunggu jawabannya, karena wajah Arsa memerah, Andini tertawa.
"Ya menurut Mama, Jira memang luar biasa. Cantik, pintar, elegan, meskipun terkesan dingin tapi pasti bisa menghangatkan kamu!"
Arsa tersedak lagi tapi Andini tampak cuek menikmati makanannya sembari mengingat kamar Arsa yang berantakan. Saat Arsa sedang keluar apartemen, Andini tanpa sengaja masuk ke kamar yang tak terkunci. Matanya memelotot menatap sisa pertempuran Arsa dan Jira yang tak sempat mereka bereskan. Melihat ceceran pakaian yang tergeletak di lantai, Andini mengelus dada tapi seulas senyum menguasai wajahnya.
"Sa, Mama balik dulu ya? Besok kan kita temui papanya Jira?" tanya Andini memastikan sambil membereskan perlengkapan makan mereka.
"Ya, besok malam aku jemput Mama."
Andini tak bicara lagi, dengan cepat dia merapikan ruang makan dan sebelum pulang, wanita itu menunjuk paperbag yang dia letakkan di meja depan.
"Sa, jangan lupa berikan ke Crystal. Itu hadiah dari Mama karena dia menang Pra Pon!"
Arsa melirik paperbag, mengambilnya lalu menyerahkan ke tangan Andini. "Besok aja Mama kasih sendiri biar Crystal senang," kata Arsa sambil tersenyum.
Andini terdiam beberapa saat, ada ganjalan yang merayap di hatinya tapi dia mencoba tersenyum. "Kamu bener juga, ya sudah, besok aja Mama bawakan!"
Andini kemudian mencium kepala Arsa lalu keluar pintu tapi dia menoleh lagi menatap Arsa yang masih memandanginya.
"Kamu nggak ngasih Crystal hadiah?" tanya Andini.
"Ngasih," jawab Arsa sambil tersenyum.
Andini tersenyum merekah tapi senyum itu memudar mendengar jawaban Arsa. "Asisten Jira sudah pesankan hadiah, besok dikirimkan."
"Kenapa asisten Jira yang beli?"
"Dia lebih tahu apa yang Crystal suka. Crystal selalu senang dapat hadiah dari Jira."
Dan Andini kembali tersenyum untuk menghalau kecemasannya.
"Kamu salah, Arsa!" katanya dalam hati.
Visual Arsa
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi