Ini menceritakan tentang hubungan rumit, karna kesalahpahaman.
Levino Jizzy begitu menyayangi sang kakak yaitu Levanka Jizzy, sampai menyewa detektif dadakan untuk menyelidiki kasus perselingkuhan kakak iparnya sendiri. Bahkan mengikuti ide konyol dari detektif Riyan untuk mengurung gadis selingkuhan iparnya (Afsana Zaha Taima) di rumah sang nenek(Maria Selena Jizzy)
Levanka yang begitu mencintai suaminya yaitu Riki Putra Taima, tidak pernah percaya, jika suaminya tega berselingkuh. Membuat Levino semakin membenci gadis yang dianggapnya sebagai selingkuhan Riki.
Faza Nur Jizzy adik dari Levino dan Levanka, yang selalu mendapat nilai buruk di sekolah, dia begitu menyanyangi Sana layaknya sahabat.
Ketika Vino mengetahui kebenaran bahwa Sana adalah keponakan Riki, sebuah kenyataan tentang Sana terkuak. Disanalah cinta Vino mulai diuji.
Yuk, kepoin kisahnya hanya di sini! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafi', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar
"Eits, tapi ini tidak gratis," Vino menarik kembali paper bag. Membuat lutut Sana lemas tak berdaya.
"Tidak sekalian kau cekik aku di sini," sungut Sana. Dia hampir saja meraih paper bag itu, namun secepat kilat Vino menariknya kembali. Berasa kayak anak kecil yang di kerjain gitu.
"Kalau mau kasih ya di kasih saja. Nggak usah sok dermawan," pekik Rindi tak terima saudara perempuannya di kerjain kayak gitu. Tarik ulur nggak jelas buang buang waktu saja pikirnya. Rindi kan tipe cewek yang kurang sabaran hihi.
"Dasar cewek, sabar dikit kenapa seh. Kita itu harus_"
"Kalian sebenernya kemari mau apa? buruan katakan segera. Kami ini orang miskin yang tidak punya banyak waktu untuk sekedar berdiskusi hal-hal yang tidak berguna seperti ini. Masih banyak pekerjaan yang menanti kami" Rindi menyerobot ucapan Riyan. Matanya melotot sempurna membuat Riyan menelan ludahnya dengan susah payah.
Galak amat nih cewek apa pas hamil nyokap nya ngidam harimau, ya!"
"Malah, bengong lagi cepat katakan mau apa kalian kemari," Rindi menggebrak meja. Sana yang terkejut meloncat dari tempat duduknya.
"Kalian ngapain dempetan kayak gitu? mau berbuat mesum, iya," gantian Vino yang membentak. Sana dan Riyan geserkan pantat saling menjaga jarak kembali.
"Cepat katakan mau ngapain kalian kemari?" Rindi bersendekap menatap kedua tamunya secara bergantian
"Dek, jangan galak-galak nanti mereka malah pada kabur lho." ucap Sana sambil cengengesan.
"Apa kau tidak tahu dia ngapain saja saat menginap di apartemenku kemarin, sebab itulah aku kemari untuk meminta pertanggung jawaban darinya," Vino menyandarkan punggungnya di sofa.
"Mbak, Mbak Sana nginep di apartemen milik dia? terus baju yang Mbak pakai punyanya dia dong. Mbak jangan bilang mbak sudah di apa apain sama dia," menuding Vino. Kini dia berjalan cepat ke arah Vino. Sana yang tahu betul temperamen Rindi langsung ikut berdiri was was.
"Apa yang kau lakukan terhadap Mbak Sana?" Benar saja Rindi hampir saja meraih pakaian Vino jika Sana tidak secepat kilat menghalangi.
"Mbak, kenapa malah menghalangiku? minggir Mbak aku harus membuat perhitungan dengannya. Bagaimana bisa seorang pria yang meminta pertanggungjawaban dari seorang gadis. Pria macam apa dia itu," teriak Rindi.
"Sebab yang rugi Tuan Bos, mangkanya dia yang meminta pertanggungjawaban dari Mbak Sana Sinimu itu," Riyan ikut bersuara. Sedikit mengolok nama Sana.
"Rugi bagaimana? Mbak Sana juga merugi, sebab kejadian ini dia sangat terpukul," ingat dia kemarin Sana mengusirnya, dia mengira Sana dalam keadaan kurang baik. Lalu pagi ini, kejadian tak terduga, Sana putus sama pacarnya.
Aku akan meminta keadilan kepada pria tidak tahu diri ini. Bagaimana bisa dia yang berbuat malah perempuan yang di mintai pertanggungjawaban pantas saja kemarin Mbak sana terlihat lesu saat pulang dan pakaiannya juga ganti pakaian pria. Ternyata ada kejadian tak tak terduga, pakai acara menyalahkan Mbak Sana, Lelaki macam apa dia itu.
"Siapa yang terpukul?" tanya Sana yang bingung dengan pertanyaan eh ralat pernyataan Rindi. Dia memang sedih dengan putusnya hubungan dengan mantan kekasih, tapi tidak sampai terpukul juga kali.
"Lah, bukannya Mbak kemarin pulang ke rumah dengan pakaian pria. Dan Mbak juga mengurung diri di kamar. Pasti karna ulah pria kurang ajar ini." tunjuk Rindi tanpa rasa takut. Vino mengernyit heran dengan ucapan Rindi. Dia mulai sedikit menemukan titik terang tapi belum berani menyimpulkan.
"Apa yang kau maksud aku sudah menyentuh tubuh dia begitu," Vino menunjuk Sana tepat di kening Sana, membuat empunya sedikit mendongak.
"Memang kapan kau menyentuhku?" Sana ini ya, berpendidikan tapi kenapa begitu bodoh dalam urusan bercinta. Vino sampai heran di buatnya.
"Adikmu itu secara tidak langsung menuduhku menyentuh tubuhmu," ucap Vino terus terang.
"Mbak, mbak ini sudah pernah punya pacar tapi kenapa malah bego begini sih," Rindi tepuk jidat.
"Ya, aku punya pacar kan juga di suruh sama ayah, bukan kemauanku sendiri. Aku mana pernah ingin punya pacar. Aku cuma cinta sama Ayah dan Om Riki," senyum manis di wajah Sana membuat Vino mengepalkan tangannya erat. Riyan dan Rindi saling tatap tak percaya.
Gadis macam apa dia ini. Bahkan dia tidak mencintai pacarnya.
"Mbak, apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan? bukankah tadi kau bilang kau patah hati." Rindi sampai duduk dengan kasar di samping Sana, sehingga mau tidak mau Sana merangsek ke bagian Vino. Sofa panjang itu kini di duduki tiga orang dengan sedikit berdesakan.
"Sempit woi, pindah." tegas Vino.
"Just a minute, aku ada perlu sama Mbak Sana. Bagaimana bisa seorang berpacaran bukan atas kehendaknya sendiri." ucap Rindi yang sebenarnya sepemikiran dengan Vino dan juga Riyan.
Sana menatap bergantian ketiga pasang mata yang juga menatapnya dengan kandungan kepo luar biasa.
"Harus banget cerita, ya!" enggan bagi Sana menceritakan hal pribadi. Terlebih ada dua orang yang di rasa masih asing di sana.
"Nggak ah! aku malu," Sana menangkupkan kedua tangannya di wajah.
"Ini, ponsel ambil buat kamu,"
"Sogokan, nih biar aku cerita?" Sana jadi curiga soalnya tadi Vino menarik paper bag itu.
"Bukan, aku juga akan memberikanmu pekerjaan kalau mau." Mata Sana seketika berbinar.
"Benarkah," reflek Sana memegang tangan Vino keduanya terdiam sejenak saling memandang satu sama lain.
"Ah, iya, iyakan Riyan?" Vino tergagap saat tersadar dari hipnotis mata Sana. "Riyan yang akan mengatur sebuah pekerjaan untuk kamu," ucap Vino bersungguh-sungguh.
"A...Terima kasih bangeeeeeet! Rindi ambilkan mereka camilan. Aku tidak jadi patah hati, karna sudah mendapatkan pekerjaan." Rindi kini yang masih setia di tempat. Bukan karna tidak mendengar perintah Sana, tapi karna tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Jadi, patah hati, Mbak. Bukan karna Mbak di khianati sama Anwar?" cengo Rindi yang masih belum bisa mengerti Mbak angkatnya ini.
"Bukan, aku malah seneng bisa di putuskan sama dia. Tapi Mbak nggak mau putus sama pekerjaan Mbak, nyari pekerjaan itu susah. Bagaimana caranya kita memenuhi kebutuhan sehari-hari kalau tidak ada penghasilan.
Biasanya, ada ayah yang selalu memberi uang kepada kita. Tapi kali ini aku harus berjuang untuk memenuhi kebutuhannya kita. Untuk sekolahmu dan uang jajan kamu juga semuanya bayar listrik, bayar saluran air dan semuanya. Dari mana kita bisa memenuhinya kalau Mbak tidak bekerja." ucap Sana meluapkan segala uneg-unegnya
"Mbaaak!" Rindi memeluk Sana dengan begitu erat. "Ternyata Mbak begitu peduli kepadaku. Aku kira Mbak menangis karena patah hati." Terima kasih, ya, Mbak."
Diangguki oleh Rindi. Ternyata salah terka.
Bersambung.....
Tuch si Martha kena batunya,suka ngatain orang sich
sama Faza best friend forever aja
Vino bercocok tanam melulu ya..
Yaudah dech,semoga segera panen ya dgn hadirnya si Vino junior
nyebelin amat sich,mbok ada empati dikit kek sama anak kecil gak mw kalah
Semoga aja lekas jadi ya adonannya jadi bayi yg lucu
Hadddehh..kayak gakda cewek laen aja Za Za