Pernikahan yang berawal dari perjodohan juga tanpa diiringi cinta.
"Bukankah kamu pernah bertanya, hal apa yang bisa membuatku bahagia. Jika sekarang aku menjawab apa kamu akan mengabulkannya?" kata Febriana Citrani, yang kerap dipanggil Anna.
Prasetyo mengangguk, "Jika aku bisa, aku akan melakukannya untukmu."
"Aku sangat yakin kamu pasti bisa," ujar Anna sejenak menatap suaminya. "Ceraikan aku, itu kebahagiaanku!"
Tatapan mata Prasetyo menajam.
"Selama ini aku tersiksa," ucapnya dengan nada rendah tapi terdengar menekan tiap kata yang diucapkannya, seraya tangannya menunjuk tepat di dada.
Sudut bibir Anna tertarik menciptakan senyum masam, tak mendapat respon ia pun bangkit memunguti pakaiannya hendak berlalu pergi.
"Baiklah tapi dengan satu syarat, aku ingin kamu memberiku anak lagi, laki-laki. Setelah syarat itu terpenuhi kamu bisa pergi."
Prasetyo pun bangkit berjalan melewati tubuh Anna yang mematung seakan tak mempercayai ucapan suaminya, Prasetyo pun berlalu masuk ke kamar mandi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARyanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Aku duduk dipinggiran ranjang sedikit gelisah, alasan apa yang hendak aku berikan pada Mas Pras, pikirku berulang kali. Sementara Mas Pras kini masih berada di dalam kamar mandi membersihkan diri.
"Tapi dipikir kembali, kenapa aku musti takut, itu bukan kesalahankan?" gumamku pelan.
Aku mencoba membesarkan hatiku, untuk berfikir ini bukan kesalahan sebab yang terjadi juga bukan kehendakku. Aku pingsan dan yang jelas tak sadarkan diri, justru aku atau Mas Pras yang harus berterimakasih pada Kak Adrian yang menolongku dan mengantarkan aku sampai rumah.
Aku mengangguk, membenarkan asumsiku. Akupun memilih berbaring ke ranjang, saat aku menarik selimut hingga menutupi setengah tubuhku, pintu kamar mandi kini terbuka. Nampak Mas Pras sedang menggosokan handuk mengeringkan rambutnya. Akupun mencoba kembali memejamkan mata.
"Kenapa kamu tidak menelpon," ucap Mas Pras, suaranya kini terdengar sangat dekat.
Akupun membuka mata, kulihat dia berdiri di samping ranjang, kemudian ranjang disisiku melesak sebab dia kini duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Aku mendesah. "Bagaimana aku menelpon Mas, sementara aku sendiri saja pingsan," jelasku padanya.
Akupun beranjak duduk, kemudian kembali berujar, "Aku baru sadar pukul setengah sepuluh malam, dan aku meminta untuk segera pulang. Dan untuk baju yang aku kenakan—itu karena bajuku basah, aku siang tadi kehujanan."
"Jadi itu alasanmu kamu bisa pingsan?" tanya Mas Pras yang intens memandangku.
Aku sedikit terperangah, Mas Pras gak marah dan gak meminta penjelasan lebih. Justru dia menanyakan perihal sebabnya aku pingsan, lalu aku berucap setengah tak yakin, "Mungkin —."
Mas Pras terlihat menipiskan bibirnya. "Lalu mobilmu?"
Sejenak aku mengingat, kemudian menggeleng. " Terakhir kali aku berada di kampus, mungkin masih berada disana," ucapku berasumsi.
Keheningan membentang, kami kini saling menatap dalam diam. Akupun berinisiatif memecah kebisuan. "Mas—," panggilku.
Mas Pras justru menghela nafas, pandangannya kini berpindah beralih pada bantal dibelakangku dan gerakan tanganya kini menata beberapa bantal, kemudian dia berujar, "Tidurlah, kamu masih perlu istirahat. Ini juga sudah larut."
Usai berujar dia kini membaringkanku juga menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Dia juga mengecup keningku sejenak kemudian beralih mengambil posisi tidur disampingku. Lampu kamar pun kini beralih pada lampu kecil bercahaya temaram.
Kepalaku sedikit menoleh ke arahnya, kulihat Mas Pras kini memejamkan mata. Padahal tadi aku ingin mengatakan bahwa aku sedang mengandung, mengandung anaknya. Ku elus perutku dari balik selimut sambil menatapnya.
Gurat diwajahnya memancarkan kelelahan, namun tak kurasai perasaan iba sedikitpun, apalagi cinta tentu tak ada.
Dengkuran halus kini mulai terdengar, Mas Pras kini sudah terlelap. Akupun memilih memiringkan tubuhku, tidur memunggunginya. Ada kepedihan yang kini muncul dalam hatiku, apakah akan selamanya aku hidup seperti ini?
***
Pagi ini Mas Pras mengantarku ke kampus jelas sebabnya karena mobilku tertinggal disana.
"An, besok kita kerumah Papa, Mama," kata Mas Pras yang fokus menatap arah jalanan.
Serta merta aku menolehkan wajahku padanya, dengan pandangan serius aku menatapnya.
Mas Pras pun menatapku sekilas, tangannya kini mulai usil menarik hidungku. Usai berdecak dia berujar, "Tak perlu serius begini, Kakakmu pulang, apa kamu tidak rindu?"
"Darimana Mas tahu?" tanyaku menyelidik, heran sejak aku menikah, Mas Pras malah lebih dekat dengan keluargaku. Orangtuaku tentu saja dan kali ini Kakakku Andri Perdana, dia adalah seorang polisi yang ditugaskan di Palembang. Bahkan usia Kakakku saja baru 27tahun, sungguh beda jauh dengan suamiku, yang kupikir sudah tua. Mengingat usianya membuatku sangat murka, akupun kembali memasang wajah cemberutku.
"Kenapa cemberut lagi, nyonya?" ucapnya sambil membelai daguku.
Aku yang risih sontak saja menepis dan memberi pukulan pada lengannya, dia sampai mengaduh kesakitan.
"Ini juga gara-gara Mas!" ucapku jengkel, kini aku bersidekap dada.
"Kug, gara-gara Mas?" tanyanya santai.
"Ya iyalah— Mas tahu gak sih, semenjak aku nikah sama Mas, aku seolah jauh dari keluargaku. Orangtuaku kini lebih dekat sama Mas—dan sekarang Kak Andri juga begitu. Mas jahat banget ya, gak punya perasaan!" ucapku kesal seraya memalingkan muka menatap ke arah jendela mobil.
Terdengar Mas Pras terkekeh. "Jadi kamu cemburu?" ucapnya seolah menggoda.
Sebelah tanganku meremasi ujung lengan bajuku. Sial, dia justru memancingku, batinku.
Mas Pras menghela nafas, mobil kini terhenti sebab kami berada dilampu merah. "Papa Mama berulang kali menelponmu, dan kamu selalu beralasan kalau kamu sibuk. Dan Kak Andri memberitahukan kepadaku bahwa dia akan pulang, dan memberiku amanat agar menyampaikan berita itu padamu. Dia juga mengatakan nomor kamu tak bisa dihubungi, apa benar nomornya kamu blokir?"
Mataku berkedip beberapa kali, bibirku menipis. Akupun perlahan menegakkan posisi dudukku, dan baru ku sadari sejak resepsi pernikahanku nomor Kakakku memang kublokir sebab aku kesal, tiada orang yang mau membelaku saat itu.
Mas Pras tampak mengangguk-anggukan kepala, diapun kini memacu kembali mobilnya sebab lampu lalulintas telah berwarna hijau.
To be Continue
jangan lupa jempol juga komentarnya , yang masih kesel mana suaranyaaaaaa