Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Enam Tahun Berlalu...
Leon akhirnya menghirup udara bebas setelah menjalani hukuman lebih kurang 6 tahun. Ia mendapatkan keringanan karena berkelakuan baik dan mau diajak bekerjasama membongkar bisnis ilegal senjata api dan obat-obatan.
Istana megah miliknya telah dijual begitu juga dengan kediaman orang tuanya. Semua untuk membayar denda hukuman. Orang tua Leon memilih hidup di kampung halamannya Frans. Jaraknya sangat jauh dari ibukota. Butuh waktu 20 jam sampai di sana via darat.
Sementara itu Leon juga mencoba memulai kehidupan barunya. Ia terbang ke sebuah negara untuk mencari pekerjaan. Dia melepaskan identitasnya sebagai mafia. Dia ingin hidup tenang dan damai meskipun ada rasa kesedihan yang masih belum hilang. Kepergian istrinya untuk selama-lamanya membuatnya menjadi sosok yang kuat. Meskipun hingga sekarang jasad Emily tak ditemukan.
Leon tiba di sebuah kota salah satu negara tetangga. Dulu dirinya hampir sering berkunjung ke kota ini. Jadi, dia tak terlalu kesulitan dan kebingungan.
Tujuan pertama kali Leon kunjungi setelah turun dari pesawat adalah penginapan murah. Dia akan menginap di sana sembari mencari pekerjaan.
Begitu sampai, Leon menjatuhkan tubuhnya di ranjang kecil tanpa pendingin ruangan. Ia merebahkan dan menatap langit-langit kamar. Kehidupan mewahnya kini telah berubah. Dia sekarang hanya seorang pria miskin dengan wajah kusam, janggut tipis dan rambut gondrong. Tak ada kesan wibawa dan mempesona yang membuat kaum hawa tergila-gila padanya.
Tak terasa matanya pun terpejam. Leon menikmati tidurnya di kamar sempit dan pengap. Ini lebih baik daripada dibalik jeruji.
Hampir 3 jam tertidur, Leon pun terbangun. Ia mulai merasakan lapar. Ia bangkit dan membersihkan diri. Setelah itu keluar membeli makanan.
Leon menyusuri jalanan pinggir kota. Ada sekitar 1 kilometer jalanan yang dilaluinya untuk menemukan restoran dengan harga murah.
Dia pun berhasil menemukan restoran kecil. Ia lalu membeli semangkok bakmi dan menyantapnya dengan lahap. Setidaknya semangkok bakmi dapat mengganjal perutnya sampai pagi hari.
Selesai makan, Leon kembali berkeliling mencari pekerjaan. Dia tak peduli dengan jenis pekerjaannya dan gajinya karena terpenting ia memiliki uang buat membeli makanan.
Hari perlahan beranjak sore, hampir 2 jam ia berkeliling jalanan kota. Ia berhenti dan duduk di bangku taman. Ia memperhatikan satu persatu orang-orang yang melintas. Namun, pandangannya berhenti ketika melihat seorang bocah laki-laki berlari mengejar bolanya ke arah tengah jalan raya. Saat bersamaan dari jarak 50 meter sebuah mobil sedang melaju.
Leon lantas berdiri dan berlari menolongnya. Ia menggendong bocah laki-laki itu dan membawanya ke pinggir jalanan.
Leon menghela napas panjang. Hampir saja matanya melihat pemandangannya yang mengerikan. Beruntung, ia sigap dan cepat.
Bocah laki-laki itu sambil memegang bolanya mendongakkan kepalanya. Ia tampak kebingungan dan heran ada seseorang yang tak dikenalnya menggendongnya.
"Di mana orang tuamu?" tanya Leon menatapnya.
Bocah laki-laki itu menunjuk ke arah toko kue.
"Apa kamu tau bermain-main di jalan raya itu sangat berbahaya?" tanya Leon lagi.
"Paman siapa? Kenapa melarang aku?" protesnya.
Leon mengernyitkan keningnya.
"Aku sudah biasa bermain-main di sini jika Ibu bekerja," kata bocah itu tanpa rasa bersalah.
"Siapa namamu?" tanya Leon.
"Buat apa bertanya namaku? Paman mau menculik aku, ya?" tudingnya.
"Astaga, siapa juga yang mau menculik kamu?" kesal Leon.
"Kata ibu, jangan mau memberitahu namamu jika ada orang asing yang bertanya!"
Leon memperhatikan bocah itu secara seksama, ia merasa ada beberapa bagian wajahnya hampir mirip dirinya.
"Kenapa melihatku seperti itu? Apa Paman mencoba menghipnotis aku?" tudingnya lagi.
"Aku bukan penculik dan aku tidak suka dengan anak-anak sepertimu!" kata Leon.
"Aku juga tidak suka dengan Paman. Sepertinya Paman bukan tinggal di sini!" Bocah itu kemudian berlari masuk ke toko yang ditunjuknya.
Leon tertawa getir mendengarnya. Baru kali ini ada seorang bocah yang menunjukkan ketidaksukaannya kepadanya.