NovelToon NovelToon
SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Ponny Sagita

10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PAMITAN

...----------------...

Setelah makan malam.

Kami berkumpul dan berbincang di ruang keluarga, terkait dengan cara menaikkan levelku.

Sesuai saran yangkung, aku memilih skill ruang sebagai skill awal.

Memang diperlukan banyak perbekalan untuk bisa survive di sana.

3 ampul obat pencegah haid sudah di kotak P3K dalam inventory sejak di basis.

Yangti mengemas :

* Energy bars dan coklat.

* Ransum darurat tambahan yang dijual bebas.

* Beberapa kaleng kornet.

* Beberapa bungkus sosis siap makan.

* Kopi sachet, Teh sachet, Jamu sachet.

* Obat obatan dasar, untuk batuk, demam, gangguan pencernaan, lotion anti serangga.

* Bumbu masakan.

* Kapsul vitamin dan suplemen.

Dengan harapan, dalam 6 bulan di sana, aku dapat menemukan atau membuat hal serupa yang dapat memenuhi kebutuhan harianku.

Ada juga :

* sabun mandi batangan,

* shampo sachetan,

* detergen sachetan,

* pasta gigi, sikat gigi,

* deodorant,

* lotion anti uv,

* lip balm,

* dan tisu basah.

Katanya itu bekal untuk setahun.

Air laut, beserta cara penggunaannya. Sudah disiapkan yangkung.

Aku mempelajarinya, apa yang nanti kuperlukan untuk membangun filter air laut, seandainya nanti aku terdampar di pesisir pantai.

Yangkung juga memberi barang berharganya, sebuah crossbow dengan 10 anak panah. Terdapat grasir namanya di atas crossbow tersebut.

Dulu beliau pernah mengajariku panahan. Karena salah satu hobinya ya itu.

"Ini gak papa buat aku, kung? Barang kesayangan yangkung loh ini." Aku agak ragu menerimanya.

Yangkung mengelus kepalaku. "Yangkung simpen juga buat kamu, Nay. Dulu kan pas kamu smp ngerengek minta ini. Udah saatnya yangkung kasih ke kamu. Tenang aja, kualitasnya terjaga. Selalu yangkung rawat. Gunakan dengan bijak ya."

Aku mau mewek dong.

Mataku sudah berkaca kaca. Namun aku hanya mengangguk kencang.

Semua dikemas sedemikian rupa oleh pak Budi hingga memanjang dan diikat tali temali yang dapat kugunakan juga nantinya, berharap memberi space lebih untuk barang lainnya.

Termasuk 5 liter air mineral dalam galon khusus.

Status inventory 160/200.

Aku masih punya space 40% untuk barang lainnya.

Yangti memberikan cincin giok kepadaku yang merupakan warisan dari leluhurnya yang masih berdarah chinese. Cincin itu kupakai sebagai bandul kalung menggunakan rantai perak, bersamaan dengan bandul kalung ku yang berisi foto yangkung yangti mama dan papa saat aku kecil dulu.

Yangkung, yangti, Amelia, pak Budi dan bu Imah merekam video mereka di hpku.

Berisi pesan dan harapan suatu hari nanti aku pulang.

Kami bertangisan bersama namun juga menumbuhkan rasa ikhlas dan keyakinan suatu saat nanti kami pasti akan berkumpul kembali.

Celia dan keluarga pun sudah mengirimkan video untukku.

Aku, yangkung dan yangti juga mengirimkan video untuk mas Ben. Serta videoku untuk seluruh keluarga Celia.

"Kamu masih faham ilmu konstruksi sederhana kan, Nay." Tanya yangkung.

Aku mengangguk.

Sebagai anak seorang arsitek, aku sedikit sedikit mempelajari tentang tehnik sipil dan tehnik konstruksi juga.

Meski itu bukan jurusan kuliah yang kupilih. Bikin depresi soalnya.

Aku pun pernah mempelajari tentang mekanikal kendaraan dan mesin. Karena yangkung punya bengkel.

Bahkan saat motorku bermasalah, aku bisa utak atik sendiri sampai beres.

Kenapa akhirnya aku memilih jurusan manajemen bisnis, karena yangkung dan yangti butuh pewaris usahanya yang mengerti menjalankan bisnis. Dah gitu aja.

...----------------...

Jam 02.35 wib.

Aku baru berhenti menonton semua video yang dapat meningkatkan kemampuan dasar dan kemampuan lain lainku.

* Cara membuat ikatan tali temali, jaring dan merajut, yang kupelajari dan kupraktekan dalam waktu singkat.

Peralatan lengkap sudah kusiapkan dibantu bu Imah.

* Cara membuat gerabah/ tembikar.

* Cara membuat peralatan dari kayu.

* Cara pembuatan senjata, seperti tombak, busur dan panah, pedang kayu dan perisai.

* Cara penggunaan senjata tajam pendek dan panjang. Yang kupraktekan gerakannya selama 20 menit.

* Cara menggunakan serat alam untuk membuat barang.

* Cara memanfaatkan limbah alami dan non alami.

* Cara beternak. Karena aku hanya tahu cara bercocok tanam.

* Cara membuat api unggun dan obor tradisional.

* Cara membersihkan daging dan ikan,

* serta cara memasaknya dengan api unggun.

Bahkan aku menonton video trick yang agak aneh namun efektif untuk survive.

"System, apakah aku bisa memberimu nama panggilan dan berganti suara?"

"Tentu bisa, kamu ingin memanggilku apa?"

Aku terdiam sejenak.

Lalu, "Celia. Aku ingin memanggilmu Celia. Dan aku ingin suaramu seperti suara yangti saat muda. Kamu harus memanggilku Naya."

"Baik, Naya. Panggil system mulai saat ini dengan nama Celia. Fitur system disesuaikan dengan permintaan penyintas."

Suara system sudah berubah menjadi suara yangti yang lebih muda meski masih ada unsur robot robotnya gitu.

Aku mengemas dalam backpack beberapa barang pribadiku.

* Buku jurnal baru dan alat tulis.

* Headset dan kabel charger.

* Powerbank dengan panel surya.

* Kipas angin portable.

* Peralatan menjahit.

* Peralatan tali temali, jaring dan rajut yang tadi sudah kukemas.

* Sport bra dan celana dalam.

* 3 pack tampon yang isinya kumasukkan ke kantong kecil.

* Balaclava dan pashmina.

* Handuk besar dan kecil.

* Kaos serap keringat.

* Celana cargo.

* Celana stretch pendek dan panjang yang biasa kupakai berolah raga.

* Sepatu ringan yang biasa dipakai latihan kungfu.

* Ember lipat.

* Paper spray yang selama ini selalu kubawa ke mana mana.

* Fire torch gas, 2 kaleng gas butana,

* dan fire torch elektrik yang bisa di charger.

Setelah memuat semuanya. Dan ternyata cukup penuh. Aku memasukkannya ke inventory.

Status inventory 197/200.

Ok. Masih ada celah 3% yang bisa kuisi nanti.

Mungkin hp takkan bisa jadi alat komunikasi di sana.

Ya iya lah, ga ada servernya.

Tapi bisa kugunakan untuk menyimpan data, informasi, foto, video, lagu.

Lumayan banyak video tutorial cara survive di alam bebas yang ku download.

"Celia. Hp masuk."

Hp lenyap dari tanganku.

"Celia, cek apakah ada kenaikan pada status levelku."

Layar hologram biru terbuka.

Level 0 - pemula

Kecerdasan : 100/100

Fisik : 90/100

Mental : 91/100

Adaptasi : 90/100

Jika memenuhi semua syarat akan menaikkan level penyintas.

...----------------...

Jam 06.35 wib.

Kami sekeluarga kembali berkumpul dan sarapan bersama terakhir bersamaku.

Yangti mencekokiku dengan jamu, vitamin dan suplemen.

Berharap kondisiku sangat baik menghadapi tantangan awal nanti.

Aku bahkan tak berusaha menolaknya. Yang penting yangti senang.

Aku menitipkan dompetku dan buku tabunganku beserta isinya pada yangti.

Uang dalam dompetku kuberikan ke Amelia. Yang diterima dengan tangisannya.

Aku hanya mengambil foto yangti, yangkung dan kedua orang tuaku yang selama ini terselip di sana.

"Nay, inventory mu masih ada space?" Tanya yangkung.

"Masih ada 3% lagi, kung."

Yangkung masuk ke kamarnya, dan keluar dengan sebilah katana.

Aku terkesima.

Sejak kapan ini kakek punya pedang?

"Bawa ini juga."

"Perasaan yangkung ngebekelin Nay segala macem alat tempur deh."

Kami terkekeh.

"Wajar lah, Nay. Yangkung dan yangti mau kamu pulang lagi dengan selamat setelah 5 tahun. Jadi kamu harus pinter jaga diri."

"Iya, eyangku sayang. InsyaAllah aku pulang dengan selamat."

Kupandangi katana di tanganku.

Berwarna hitam dof.

Kubuka sarungnya, terlihat bilah baja mengkilat.

"Dari kapan yangkung punya beginian?"

"Udah 10 tahun. Ada 2, ini yangkung kasi kamu satu. Nanti pelajari cara pakainya. Kamu download dulu latihan basicnya. Sisanya biar instingmu yang bekerja."

"Celia. Hp, keluar."

Hpku muncul di tanganku, aku menyalakannya, lalu mendownload cara pakai pedang katana. Dari basic hingga expert. Aku menonton sebentar basic penggunaan katana.

Sesudahnya, kedua barang tersebut kumasukkan lagi ke inventory.

"Naya, status kecerdasan bertambah 1 poin." Suara system terdengar di kepalaku.

"Pedang, hp, masuk."

Status inventory 198/200.

Amelia mendatangi, membawa boneka pisang kesayangannya.

"Mba, bawa ini ya. Masih muat gak?" Diserahkannya boneka bantal itu.

"Emang kamu bisa tidur kalo ga ada ini?"

"InsyaAllah bisa, mba. Kan masih ada boneka bantal lainnya."

"Celia. Boneka pisang, masuk."

Status inventory 199.95/200.

"Makasih ya adekku..." Aku memeluknya.

...----------------...

Jam 08.05 wib.

Kami sampai di basis.

Tampak lebih ramai dari pada kemarin.

Bahkan ada yang membawa spanduk dengan ucapan penuh semangat.

Sudah lah macam lagi ikut ajang bakat saja.

Kolonel Hamdi memanggil kami, para calon penyintas untuk berkumpul.

Dia memberikan kami satu set pakaian taktikal outdoor seperti yang diperagakan kemarin.

Kami langsung berganti pakaian.

Untung saja tadi aku hanya menggunakan legging dan tangtop, jadi bisa langsung dilapis. Sandal jepitku kumasukkan ke inventory dan untungnya masih muat.

Kami juga diberikan kalung tag tentara, dengan logo negara Pusaka, nama kota asal, nama penyintas, tanggal lahir dan kode system.

...----------------...

Jam 08.50 wib.

Titik keberangkatan kami berhadapan langsung dengan semua anggota keluarga yang mengantar kami.

Menunggu suara system terdengar lagi.

Kami sudah berpamitan dengan seluruh anggota keluarga dan para kerabat.

Mereka kini berdiri di luar garis batas, dijaga oleh satuan keamanan.

Kami di area yang sudah dibatasi, hanya bisa melihat mereka dan melambaikan tangan.

Mas Ben berdiri di sebelahku.

"Naya." Panggilnya.

"Iya mas?" Aku menoleh, mendongak tepatnya, karena dia lebih tinggi dariku.

"Buka hpmu sebentar. Download video kiriman mas. Liatnya nanti aja."

Aku langsung memanggil hpku keluar, menyalakannya, mencari video kiriman mas Ben, dan mendownloadnya. Lalu kumasukkan kembali ke inventory.

Mas Ben menatapku. "Apa pun yang terjadi di sana nanti. Mas harap kamu ingat. Mas sayang sama kamu. Kalo kita lolos dari ujian ini. Mas bakal lamar kamu."

Aku terdiam menatapnya. "Serius mas?"

Mas Ben mengangguk.

"Maaf selama ini mas ragu untuk bilang. Mas menunggu waktu yang tepat. Tapi ternyata waktu gak pernah tepat. 4 tahun mas memperhatikan kamu, tapi mas hanya diam. Sebelum terlambat, mas mau bilang sekarang. I love you, Naya."

Lalu mas Ben memegang tanganku, menyelipkan sebuah cincin emas putih polos dijariku, dan mencium keningku.

Terdengar riuh dari para pengantar kami.

Bahkan beberapa calon penyintas bertepuk tangan.

Celia tertawa disela tangisannya. "Akhirnya kamu berani mas! Semangat ya kalian, biar bisa pulang bareng."

Mas Ben menambahkan, "Nama system ku adalah Kanaya." Tatapannya teduh aduhai sekali.

Aku hanya terdiam, terkesima. Kejutan apa lagi ini.

...----------------...

Jam 09.00 wib.

Dong! Dong!

Halo para calon penyintas.

Sudah waktunya kalian meninggalkan planet bumi, dan menuju ke planet tujuan. 

Waktu kalian berada di planet tujuan adalah selama 5 tahun.

Untuk informasi dan petunjuk selanjutnya dapat ditanyakan kepada system yang menemani kalian saat kalian tiba di planet tujuan.

Hitungan  mundur di mulai dari sekarang.

10..9..8..7..6..5..4..3..2..1

Tring!

Tubuh kami memudar sedikit demi sedikit dari kaki naik ke atas.

Mas Ben memegang erat tanganku.

"Ayo kita pulang dalam 5 tahun, Naya."

Aku mengangguk.

"Aku bakalan tagih janjimu, mas."

Mas Ben tertawa lirih, "I can't wait."

Pandangan kami lurus ke arah keluarga dan kerabat.

"I love you all. Take care."

Hanya itu yang sempat kuucapkan, sebelum menutup mata dan tubuhku hilang sepenuhnya.

...----------------...

Aku merasakan gelap disekitarku.

Mengambang tanpa batas.

Tubuh serasa ditekan dan ditarik.

Aku bertahan.

Karena berteriak pun tak bisa.

Hingga hilang kesadaran.

...----------------...

Sayup kudengar suara ombak.

Sebelah pipiku terasa perih, bergesekan dengan pasir.

Kukerjapkan mataku.

Melawan silau di atas kepalaku.

Posisiku terbaring di atas hamparan pasir putih.

Mataku mengarah ke kejauhan, laut biru hijau. Ombak mengalun pelan.

Aku celingukan ke sana sini.

Aku benar benar sendirian.

Pakaianku masih lengkap. Syukurlah aku tak telanjang.

Akhirnya aku bangkit berdiri. Mengibas pasir di pakaianku.

Memperhatikan sekitarku.

Kulepas jaket, karena hawanya panas chooii..

Aku menatap cincin di jariku yang baru beberapa waktu lalu diselipkan mas Ben.

"Kita harus bisa pulang bareng ya, mas. Harus!"

Kulepas cincin itu dan kusatukan dengan kalung perakku yang terdapat cincin giok yangti dan bandul foto keluarga ku.

...----------------...

1
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak😍
PonsParadiso: tiap hari update, makasih ya udah mau respon.. seneng akuh 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!