Tiga tahun lalu, Sony kehilangan segalanya dalam satu malam akibat pengkhianatan sahabatnya dan mantan kekasihnya, Dimas dan Rina. Perusahaan keluarganya direbut, kedua orang tuanya dibunuh secara tragis, dan Sony dijebloskan ke dalam penjara paling kejam dengan tuduhan palsu. Namun, di tempat yang seharusnya menjadi akhir hidupnya itu, Sony justru bertemu dengan seorang guru misterius yang mewariskan ilmu bela diri tingkat dewa dan keterampilan medis kuno kepadanya. Setelah menghabiskan waktu di luar negeri, membantai para petarung terkuat hingga dijuluki Dewa Kematian, Sony kini menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya. Dengan kekuatan mutlak di tangannya, Sony bersiap untuk memberikan mimpi buruk dan membalas dendam kepada siapa saja yang telah menghancurkan hidupnya tanpa sisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Dimas mulai memencet sederet nomor rahasia yang panjang di ponsel satelit tersebut.
"Aku akan menghubungi Sindikat Bayangan sekarang juga."
Rina menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut mendengar nama organisasi mengerikan itu disebut.
"Aku akan membayar pembunuh bayaran tingkat S milik mereka dengan harga berapapun."
"Aku mau mereka memenggal kepala Sony malam ini juga tanpa jejak."
Kembali ke kamar Hotel Grand Surya yang tenang.
Ting.
Sebuah suara notifikasi elektronik tiba-tiba terdengar berbunyi di dalam kepala Sony.
[Sistem Pemberitahuan: Saham Grup Dimas Anjlok Sebesar 40 Persen]
[Kendali Finansial Utama Musuh Mengalami Pelemahan Secara Signifikan]
Sony hanya membaca tulisan di panel biru transparan yang melayang tepat di depan wajahnya itu dalam diam.
Sistem ini selalu memberikan informasi akurat tentang status target balas dendamnya.
Ting.
[Misi Sampingan Terbuka: Hadiri Lelang Amal Elit Kota Jakarta Malam Ini]
[Tujuan Misi: Rebut Aset Penting Terakhir Milik Grup Dimas di Acara Tersebut]
Sebuah seringai tipis yang mengerikan kembali menghiasi wajah tampan pria itu setelah membaca instruksi sistem.
"Leo, siapkan setelan jas formal terbaikku untuk malam ini," perintah Sony tiba-tiba memecah keheningan.
Leo segera menghentikan laporannya di tablet dan menatap lurus ke arah atasannya itu.
"Baik Tuan, tapi jika saya boleh tahu memangnya kita mau pergi ke mana malam-malam begini?" tanya Leo sedikit penasaran.
"Kita berdua akan pergi ke sebuah pesta malam ini," jawab Sony santai sambil perlahan berdiri dari kursinya.
Nadhira langsung mengerutkan keningnya karena merasa sangat kebingungan dengan ucapan Sony barusan.
"Pesta?"
"Kau mau pergi bersenang-senang ke pesta di saat situasi sedang kacau balau begini di luar sana?" tanya Nadhira dengan nada tidak percaya.
Sony berjalan dengan tenang mendekati jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan sibuk kota Jakarta dari atas.
"Tentu saja aku harus pergi, Nadhira."
"Malam ini adalah malam yang sangat penting untuk kelanjutan rencana besarku."
"Aku akan menghadiri acara lelang amal bergengsi yang diselenggarakan oleh para elit kota ini."
Nadhira mendesah kasar dan semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran pria di depannya ini.
"Untuk apa kau bersusah payah datang ke acara sosialita palsu semacam itu?"
"Bukankah kau seharusnya fokus menyusun rencana untuk menghancurkan Dimas sekarang saat dia sedang lengah?"
Sony menoleh ke belakang dan menatap Nadhira dengan tatapan mata yang seolah meremehkan kenaifan wanita itu.
"Kau pikir Dimas akan diam saja menangis di kantornya melihat perusahaannya hancur hari ini?"
"Dia pasti akan datang ke acara lelang amal itu juga malam ini."
"Dia akan membuang rasa malunya untuk mencari dukungan dana darurat dari sisa-sisa kroninya di sana."
"Dan aku akan datang ke acara itu secara langsung untuk melihat wajah putus asanya di depan publik."
"Aku akan merebut satu-satunya aset berharga yang bisa menyelamatkan nyawanya malam ini."
Mata Nadhira membelalak lebar seketika mendengar penjelasan rencana dari Sony.
Nafas wanita itu tertahan sejenak.
Dia akhirnya benar-benar sadar kalau pria ini tidak hanya sekadar ingin membunuh Dimas dengan cepat.
Tapi Sony memang sengaja ingin menguliti Dimas hidup-hidup secara perlahan di depan semua orang yang pernah memujanya.
"Baiklah Tuan, saya akan segera menyiapkan semua keperluan Anda dan menyewa kendaraan khusus untuk acara malam ini," ucap Leo memecah ketegangan di antara mereka berdua.
"Pastikan juga keamanan Nadhira di kamar hotel ini diperketat mulai sekarang, Leo."
"Dimas itu anjing yang licik, dia pasti akan mengirimkan anjing-anjing pesuruhnya ke sembarang tempat setelah ledakan berita pagi ini."
"Saya mengerti Tuan, serahkan semuanya pada saya dan pasukan bayangan kita," jawab Leo dengan nada sangat yakin sambil membungkuk hormat.
Sony kembali menatap ke arah luar jendela sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kainnya.
Sinar matahari pagi memantul dari kaca jendela menyinari separuh wajahnya.
"Bersiaplah Dimas."
"Karena malam ini kau akan tahu bahwa neraka itu benar-benar bisa ditarik ke dunia ini."