Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Napas Pertama dan Jejak Darah
Uap panas mengepul dari tubuh pria tua itu, mengubah tetesan hujan menjadi kabut putih yang pekat. Tekanan tak kasatmata menghimpit gang sempit, membuat dinding bata di sekitarnya retak dan mengelupas. Lin Tian merasa paru-parunya diremas oleh tangan raksasa. Ia tidak bisa bernapas. Lututnya yang tadi bersandar di dinding kini terpaku ke tanah, tidak mampu menopang beratnya tekanan spiritual yang mendadak turun.
"Tahan," perintah pria tua itu. Suaranya tidak lagi serak, melainkan bergema seperti dentang lonceng perunggu. "Jika kau pingsan sekarang, meridianmu akan hancur dan kau akan mati konyol di selokan ini."
Jari keriput itu kembali menusuk dada Lin Tian. Kali ini, bukan rasa sakit biasa yang menjalar. Serasa ribuan jarum panas disuntikkan langsung ke dalam sumsum tulangnya. Lin Tian melengkungkan punggungnya, mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada suara yang keluar. Otot-ototnya kejang, urat-urat di lehernya menonjol seolah siap meledak.
Di dalam tubuhnya, sesuatu yang telah tidur selama enam belas tahun mulai terbangun. Sebuah penghalang tak terlihat, tebal dan dingin, menghalangi aliran energi alam. Pria tua itu memaksa qi-nya menerobos penghalang tersebut tanpa sedikit pun rasa ragu.
Krek.
Suara itu tidak terdengar di dunia nyata, melainkan bergema nyaring di dalam pikiran Lin Tian. Retakan pertama pada segelnya telah muncul.
Bersamaan dengan itu, darah hitam kental merembes dari pori-pori kulit Lin Tian. Bau amis dan busuk menyeruak, bercampur dengan aroma arak dan hujan. Tubuhnya sedang membuang racun yang terakumulasi selama bertahun-tahun akibat segel yang perlahan membusukkan darahnya dari dalam.
"Keras kepala juga bocah ini," gumam pria tua itu, matanya menyipit di balik topi bambu. "Segel Dewa Penelan Langit. Seperti nya orang tuamu bukan orang biasa."
Lin Tian tidak mendengar kata-kata itu. Kesadarannya ditarik paksa ke dalam pusaran api. Ia merasa dagingnya dilelehkan, lalu ditempa kembali. Setiap inci meridiannya yang sebelumnya mati rasa kini dipaksa terbuka secara brutal. Rasa sakit itu melampaui batas toleransi manusia biasa, cukup untuk membuat kultivator dewasa pun gila.
Namun, bayangan kepala ibunya yang terpisah dari tubuh dan dada ayahnya yang berlubang terus berputar di benaknya. Amarah itu menjadi jangkar besi, menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan. Ia menggigit bibirnya hingga robek, menelan darah dirinya sendiri agar tetap sadar.
Krek. Krek. Krek.
Retakan itu menyebar dengan cepat. Penghalang dingin di dalam dadanya runtuh sepotong demi sepotong, hancur menjadi debu energi.
Lalu, sebuah ledakan senyap terjadi di pusat dantian-nya.
Hujan di atas mereka tiba-tiba berhenti. Bukan karena awan telah pergi, melainkan karena qi di sekitar gang itu tersedot masuk ke dalam tubuh Lin Tian seperti pusaran air raksasa. Genangan air di tanah menguap dalam sekejap.
Napas pertama.
Lin Tian menarik napas, dan untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, ia benar-benar merasakan dunia. Selama enam belas tahun, dunia baginya adalah tempat yang bisu dan mati rasa. Ia hanya bisa melihat orang lain terbang, merasakan angin qi, dan menghancurkan batu dengan satu jari. Kini, selubung yang menutupi matanya telah robek.
Ia bisa melihat partikel-partikel cahaya samar yang melayang di udara, berputar mengelilingi tubuh Mo Cang seperti kunang-kunang yang patuh. Ia bisa mendengar detak jantung tikus yang bersembunyi di balik tembok. Energi alam yang hangat dan tebal mengalir masuk melalui hidungnya, mengisi kekosongan di dadanya yang telah lama menganga.
Matanya terbuka. Pupilnya yang semula cokelat gelap kini berkilau dengan cahaya samar berwarna perak.
Pria tua itu mundur selangkah, menurunkan tangannya. Wajahnya yang tertutup bayangan topi bambu menampilkan ekspresi terkejut yang cepat disembunyikan. Ia meneguk arak dari labu kayunya, menutupi decak kagumnya dengan suara tegukan yang keras.
"Luar biasa," gumamnya pelan. "Meridian yang disegel bukan karena cacat, melainkan karena terlalu lebar dan murni. Jika tidak dikunci sejak dalam kandungan, tubuh bayi sekecil itu pasti sudah meledak karena tidak mampu menampung qi alam yang liar."
Lin Tian menatap kedua tangannya. Darah hitam masih menetes dari ujung jarinya, tetapi di balik kulitnya yang pucat, ia bisa merasakan kekuatan yang mengalir. Ringan, namun sangat padat. Ia mengepalkan tangan, dan udara di sekeliling tinjunya berdesis pelan, terbelah oleh tekanan fisik semata.
"Siapa namamu, kakek?" tanya Lin Tian. Suaranya masih parau, tetapi tidak lagi bergetar lemah.
"Mo Cang," jawab pria tua itu santai, sambil menggaruk perutnya yang rata. "Seorang pemabuk yang kebetulan lewat dan kasihan melihat bocah yang hampir mati. Kau sendiri siapa, bocah?"
"Lin Tian."
Mo Cang mengangguk-angguk. "Lin Tian. Nama yang bagus. Tapi namamu tidak akan berguna jika kau mati dalam lima menit ke depan."
Lin Tian mengerutkan kening, menatap pria tua itu dengan waspada. "Maksudmu?"
Mo Cang tidak menjawab. Ia melangkah maju, lalu tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan kiri Lin Tian. Qi yang tajam menusuk masuk, membuat Lin Tian menyentak kaget dan nyaris memukul wajah orang tua itu dengan refleks.
"Diam," perintah Mo Cang. Wajah santainya lenyap, digantikan oleh ketajaman yang membuat udara di sekitar mereka terasa membeku.
Dari bawah kulit pergelangan tangan Lin Tian, sebuah titik merah sebesar biji wijen mulai berkedip. Titik itu bersinar redup, berdenyut seiring dengan detak jantung Lin Tian. Cahayanya menembus kulit dan daging, tampak sangat jelas di dalam kegelapan gang.
"Jejak Darah Pemburu," desis Mo Cang, matanya menyipit tajam menatap titik merah itu. "Pantas saja mereka tidak repot-repot memastikan kematianmu di tengah api. Mereka sudah menandaimu sejak malam pembantaian."
Lin Tian menatap titik merah di pergelangan tangannya. Darahnya mendidih, amarah yang baru saja ia redam kembali bergejolak liar. "Mereka... masih melacakku? Sejak malam itu?"
"Jejak ini ditanam melalui kontak fisik saat mereka membunuh orang tuamu," jelas Mo Cang, suaranya dingin dan tanpa emosi. "Mereka sengaja menyisakanmu. Bukan karena belas kasihan, melainkan karena mereka tahu segel di tubuhmu adalah kunci untuk membuka sesuatu yang mereka ambil dari keluargamu. Mereka membiarkanmu hidup agar segel ini melemah seiring waktu, lalu mereka akan datang memanenmu."
Lin Tian mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka... masih melacakku?"
"Tentu saja. Dan melihat kecerahan cahayanya, orang yang sedang melacakmu saat ini bukanlah pembunuh rendahan yang membantai keluargamu," Mo Cang melepaskan tangan Lin Tian dan menatap ujung gang yang gelap gulita. "Mereka adalah anjing-anjing pelacak kelas atas. Dan mereka sudah sangat dekat."
Suara langkah kaki yang seragam dan berat tiba-tiba terdengar dari kejauhan. Bukan satu atau dua orang, melainkan puluhan. Getarannya membuat genangan air di tanah berombak pelan. Suara baju besi yang beradu terdengar samar, membawa aura kematian yang kental.
Suhu di dalam gang turun drastis. Embun beku mulai merayap di dinding bata, membekukan lumut yang tadinya basah oleh hujan. Anjing-anjing liar di kejauhan melolong panjang, suara mereka penuh ketakutan sebelum akhirnya terdiam mendadak, seolah leher mereka telah ditebas. Tekanan spiritual yang berat menekan dari segala arah, mengunci setiap jalan keluar. Mereka tidak datang untuk menangkap. Mereka datang untuk menyapu bersih.
Mo Cang menghela napas panjang, seolah sangat terganggu dari waktu minum araknya. Ia menyumbat labu araknya dan menyelipkannya di pinggang dengan gerakan malas.
"Bocah," kata Mo Cang tanpa menoleh, punggungnya menghadap Lin Tian. "Aku mengerti kau baru bisa merasakan energi qi. Tapi malam ini, kau akan belajar cara menggunakannya untuk membunuh."
Dari kegelapan ujung gang, sepasang mata merah menyala menatap mereka, diikuti oleh suara geraman rendah yang sama sekali bukan berasal dari manusia.