Semua orang menganggap Gunung Sumber Abadi hanyalah tempat wisata gagal yang dikutuk, tetapi bagi Rizky Santoso, warisan yang dibuang oleh seluruh keluarganya ini adalah awal dari segalanya. Tepat saat ia menerima beban hutang dan kawasan wisata yang hancur itu, sebuah sistem misterius bangkit dan memberinya kekuatan untuk mengubah gunung tandus menjadi destinasi kelas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Rizky berjalan santai mendaki jalanan berbatu menuju loket karcis wisatanya.
Napasnya sangat teratur dan tidak ada setetes keringat pun di dahinya.
Efek Sarung Tangan Beruang Hitam di tangannya perlahan memudar dan menghilang tanpa sisa.
Siska yang tadinya duduk gelisah langsung berdiri saat melihat bosnya kembali tanpa luka sedikit pun.
"Bos, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Siska sambil menatap Rizky dari atas sampai bawah.
"Tentu saja aku tidak apa-apa," jawab Rizky dengan senyum lebar.
"Aku kan sudah bilang kalau aku hanya turun untuk bernegosiasi dengan mereka."
Siska mengerutkan keningnya tidak percaya mendengar kata negosiasi tersebut.
Gadis itu sangat tahu bahwa preman desa tidak bisa diusir hanya dengan ucapan manis.
"Kamu yakin hanya bicara dengan mereka bos?" selidik Siska dengan mata menyipit.
"Kenapa aku tadi mendengar suara benda berdentum sangat keras dari bawah sana?"
Rizky tertawa pelan dan mengibas-ngibaskan tangannya santai.
"Itu cuma suara pohon jatuh yang tidak sengaja tersenggol oleh mobil," kilah Rizky.
"Preman-premannya langsung lari ketakutan setelah sadar jalanan macet."
Brummm. Brummm.
Belum sempat Siska bertanya lebih lanjut, deretan kendaraan mulai muncul dari balik tanjakan.
Mobil pikap yang mengangkut rombongan ibu-ibu PKK desa sebelah akhirnya tiba di depan gerbang.
Beberapa pengendara motor lain juga memarkirkan kendaraannya dengan rapi di area lahan kosong.
"Wah, tempatnya ternyata lumayan luas juga ya," ucap seorang ibu paruh baya berbaju seragam merah.
Ibu-ibu itu langsung turun dari mobil pikap dengan wajah ceria dan penuh semangat.
"Mas Rizky, kami benar-benar berutang nyawa pada Mas tadi!" seru seorang ibu lainnya sambil menghampiri loket.
"Iya Mas, kalau tidak ada Mas yang kuat menyingkirkan pohon raksasa tadi, kami pasti sudah celaka."
Siska menoleh ke arah Rizky dengan mulut sedikit terbuka.
"Menyingkirkan pohon raksasa?" gumam Siska dengan tatapan meminta penjelasan.
Rizky hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum canggung.
"Itu tidak penting Ibu-ibu, yang penting kalian semua sampai di sini dengan selamat," ucap Rizky mengalihkan pembicaraan.
"Jadi, berapa jumlah tiket yang ingin kalian pesan hari ini?"
Ketua rombongan PKK itu langsung mengeluarkan dompet tebalnya dan mulai menghitung.
"Kami dari rombongan PKK ada lima belas orang Mas," jawab ibu ketua rombongan.
"Lalu rombongan motor di belakang kami sepertinya ada sekitar dua belas orang."
"Jadi totalnya dua puluh tujuh tiket ya Mas."
Siska langsung menghitung cepat di kalkulator ponselnya.
Srek. Srek.
Rizky mengambil setumpuk karcis kertas dari laci dan menyetempelnya satu per satu.
"Totalnya satu juta tiga ratus lima puluh ribu rupiah Ibu-ibu," sebut Rizky sambil menyerahkan karcis tersebut.
Ibu ketua PKK itu menyerahkan segepok uang tunai tanpa menawar sama sekali.
"Ini uangnya Mas, simpan saja kembaliannya untuk beli kopi," ucap ibu itu dengan ramah.
"Terima kasih banyak atas kebaikan Ibu," balas Rizky sambil menerima uang itu dengan senang hati.
"Silakan masuk dan nikmati fasilitas Toilet Bintang Lima serta Air Terjun Pelangi kami di dalam."
Rombongan pengunjung itu langsung berbondong-bondong berjalan melewati gapura kayu dengan suara riuh.
Siska menatap tumpukan uang di atas meja loket dengan mata berbinar-binar.
"Bos, kita baru buka setengah hari dan sudah mendapat untung jutaan rupiah," bisik Siska kagum.
"Dan ini baru pengunjung lokal, bayangkan kalau video fotoku viral ke seluruh provinsi."
"Makanya kamu harus bekerja lebih keras Siska," goda Rizky sambil memasukkan uang itu ke dalam kotak kayu.
"Kalau bulan ini target pengunjung tembus ribuan, aku akan menaikkan gajimu."
"Siap laksanakan Bos!" hormat Siska dengan gaya bercanda yang sangat ceria.
Suara riuh decak kagum mulai terdengar bersahutan dari arah tebing air terjun.
"Ya ampun, air terjunnya beneran berwarna-warni!" teriak salah satu pengunjung remaja dari kejauhan.
"Ibu-ibu, coba minum airnya deh, pegal-pegal di kakiku langsung hilang semua ini!" sahut suara ibu ketua PKK.
Rizky menyandarkan punggungnya di kursi loket dan menikmati alunan suara kepuasan pengunjungnya.
Ding!
[Pemberitahuan Sistem!]
[Analisis Kepuasan Pelanggan: 100 Persen.]
[Target Mingguan: Menarik 30 pengunjung berbayar telah diselesaikan lebih awal.]
[Host berhasil menarik total 47 pengunjung berbayar pada hari pertama pembukaan.]
Mata Rizky langsung membesar saat membaca barisan kalimat biru transparan di udara.
Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan pencapaian mingguan secepat ini.
"Sistem, apakah ada hadiah tambahan untuk penyelesaian misi lebih awal?" tanya Rizky di dalam batinnya.
Ding!
[Tentu saja ada.]
[Menyerahkan Hadiah Target Mingguan kepada Host...]
[Host mendapatkan 500 Poin Wisata.]
[Host mendapatkan Cetak Biru Atraksi Tingkat Menengah: Jembatan Kaca di Atas Awan (Level 1).]
Rizky harus menutup mulutnya kuat-kuat agar tidak berteriak kegirangan di depan Siska.
Poin wisata sebanyak lima ratus itu bisa dia gunakan untuk membeli banyak item pertahanan yang kuat.
Namun yang paling membuatnya bersemangat adalah cetak biru atraksi tingkat menengah tersebut.
"Jembatan Kaca di Atas Awan?" batin Rizky sambil mencoba mengingat topografi gunungnya.
"Atraksi ini pasti akan menjadi magnet wisata paling mematikan bagi para pencinta foto estetik."
[Apakah Host ingin menempatkan jembatan tersebut sekarang juga?]
"Jangan sekarang Sistem, masih banyak pengunjung di dalam," tolak Rizky secara rahasia.
"Aku akan memasangnya nanti malam saat tempat ini sudah benar-benar kosong."