TAHAP REVISI.
Pria idaman seluruh wanita adalah, kaya dan tampan. Seluruh kehebatan itu ada dalam diri seorang Davin sang Trillioner tampan dengan sejuta karisma. Pengusaha muda terkaya di Dunia. Tidak ada apapun yang tak bisa ia dapatkan dalam genggamannya. Tak hanya di luar, di dalampun pria ini sangat-sangat menakutkan.
Namun apa yang terjadi jika seorang Davin, dibuat resah dan kebingungan oleh seorang gadis sekolah menengah yang pertama kali ia temui dan langsung menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan surai rambutnya yang panjang, terurai dengan indah di tengah kerumunan siswa yang sedang tawuran.
Peringatan : percayalah kalian tidak akan bisa berhenti memikirkan cerita ini setelah kalian membacanya. 😏
SEGALA BENTUK PLAGIAT DILARANG MENDEKAT💣💥
Ayok mampir 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 16 - Baby
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Vania Pov
Mataku perlahan terbuka menatap Dave yang masih memejamkan matanya dengan rapat. Kurasakan tangannya yang masih berada di atas perutku dan menghiraukan bajuku yang tersingkap ke atas menampakkan perutku.
Dengan perlahan aku menghadap ke arahnya, sehingga kini tangannya berpindah ke punggung telanjangku. Kulihat kausnya tersingkap sedikit menunjukkan perut kotak-kotak nya.
Dengan berani aku memasukkan tanganku ke dalam kausnya dan mengelus perut kotak-kotak nya. Sepertinya ini akan menjadi hobi baruku. Tanganku yang lain bergerilya menyusuri tiap lekuk wajah tampannya.
"Ehmm." Aku tersenyum mendengar erangan keluar dari mulutnya. Tanganku mengusap bibir bawahnya dengan gerakan lembut, lalu mencium bibirnya dengan pelan.
Kutatap matanya yang masih terpejam dengan damai. Sepertinya dia kelelehan berkerja sampai malam.
"Dave ini sudah pagi, kau tidak bekerja? Aku harus sekolah." Bisikku lembut tepat di telinganya. Bukannya bangun, Dave malah menarikku semakin mendekat dan memelukku erat.
"Ayolah Dave aku bisa terlambat jika seperti ini terus." Ujarku sambil mengusap rambutnya yang berantakan. Pikiranku melayang mencari cara agar Dave mau bangun.
"Let me have more minutes." Pintanya dengan suara serak seksinya.
"Okay, five minutes and no more." Ucapku dan dia mengangguk setuju. Aku ikut memeluknya dan membiarkannya mendapatkan beberapa menit lagi.
***
Author POV
Vania menuruni anak tangga dengan perlahan menuju meja makan. Dave yang sejak tadi sudah turun tampak memakan sarapannya dalam diam.
"Pagi." Vania melangkah mendekati Dave, lalu mencium pipi Dave dengan kilat. Vania menatap Dave yang masih terdiam tanpa menjawab sapaannya dan sibuk memakan makanannya.
"Hey ada apa?" Tanya Vania sambil menatap Dave bingung, sedangkan Dave tetap melanjutkan makannya dengan wajah melamun.
"Huh." Vania menghembuskan nafas kasar. Entah ide dari mana, Vania mengambil kedua tangan Dave, lalu membuka kedua tangan itu lebar agar ia bisa duduk di pangkuan Dave.
Setelah duduk, Vania meletakkan kedua tangan Dave di pinggangnya, lalu melingkarkan tangannya di leher Dave.
"Uhmm, kau benar-benar wangi." Ujar Vania sambil mengendus dada bidang Dave.
Tanpa terduga Dave mencium bibir Vania dengan lembut, namun hanya menempel, lalu terlepas. Vania tersenyum cerah, lalu menyentuh bibir bawah Dave yang menggoda. Dave menatap Vania lekat tanpa mengalihkan pandangannya sekalipun.
Sampai Vania perlahan memajukan wajahnya dan tangannya tetap mengelus bibir bawah Dave. Sampai akhirnya, bibirnya yang beralih meraih bibir penuh Dave dan memangutnya lembut. Tangannya merenggut gemas rambut belakang Dave dan tangan Dave memeluk pinggang Vania dan menariknya semakin mendekat.
Dave membiarkan Vania memimpin permainan dan ia hanya diam tak membalas pangutannya. Vania menutup matanya menikmati setiap pergerakannya. Sampai akhirnya Vania menggigit gemas bibir bawah Dave dan menariknya. Vania terkekeh sambil menatap Dave, lalu melepas gigitannya.
"Dari mana kau mempelajarinya huh?" Tanya Dave.
"Entahlah, terlintas begitu saja." Jawab Vania sambil menggidik bahu. Vania kembali meraih bibir Dave dengan cepat dan menghisap bibir bagian bawahnya seperti permen. Sampai Vania tak terkendali dan ciumannya luruh ke rahang dan leher Dave untuk memberi tanda di sana.
"Baby!" Dave tak ingin ia hilang kendali dan berujung menghabisi Vania di atas ranjang. Vania melepas ciumannya dengan nafas terengah-engah.
"Ouh, kau agresif sekali." Ujar Dave menatap Vania yang masih mengatur nafasnya.
"Diam!" Vania mendengus malu, lalu berdiri dan melangkah menuju kursinya. Dave terkekeh puas dan melanjutkan makannya.
"Nanti tutupin leher kamu pake syal." Ujar Vania datar.
"Tidak. Aku malah senang kau menandaiku dan menunjukkan bahwa aku milikmu." Tambah Dave dengan senyum miringnya, sedangkan Vania mencoba agar bersikap tenang dan menghiraukan kalau pipinya sudah merona saat ini.
"Apa aku harus menandaimu juga sayang?" Tanya Dave dengan seringai nakal.
"Stop Dave!" Kesal Vania dengan pandangan tajamnya.
"Okey, baiklah." Dave tertawa mendapat reaksi Vania yang menurutnya sungguh menggemaskan.
Mereka pun melanjutkan sarapan dengan canda tawa. Dengan hal ini, pikiran Dave mulai tenang dengan segala hal yang menumpuk di otaknya.
***
"Baby, aku akan menjemputmu saat pulang nanti."
"Baiklah."
Vania melanjutkan langkahnya memasuki sekolahnya. Setelah Vania menghilang dari pandangannya, Dave menyuruh supirnya untuk menjalankan mobilnya.
Di lain sisi, seorang pria dengan tudung kepala dan kaca mata hitamnya menatap ke arah perempuan yang keluar dari sebuah mobil mewah dengan teliti.
"Aku menemukan dimana gadis itu bersekolah." Tampak pria tersebut sedang berbicara lewat benda yang terselip di telinganya.
"Baik." Setelah menjawab dengan begitu singkat, pria tersebut melangkah menjauhi tempat persembunyiannya tadi.
Dave sampai ke kantornya dengan senyum cerah seperti akhir-akhir ini. Namun.......
"Pagi Davin." Perlahan raut wajah Dave mengerut tak suka menatap Reana yang datang dengan senyum sok manisnya.
"Aku ini atasanmu, bersikaplah seperti karyawan biasanya!" Dave melenggang pergi memasuki lift khususnya.
Sedangkan Reana menggeram marah menatap kepergian Dave. Ditambah ia dengan jelas melihat tanda-tanda di leher Dave yang membuat emosinya semakin memuncak.
"Lihat saja, aku akan memisahkanmu dengan Vania si pelacur itu." Ucapnya tajam sambil menatap punggung Davin yang menghilang ditelan lift.
Bersambung...
Hay.. hay.. hay semua para readers yang aku cintai dan aku sayangi, serta yang aku rindukan Azekkkk 😘
Kembali lagi bersama aku, author kalian yang membahenil ini😒
Hahaha... apakah setelah membaca ini kalian akan membuat grup pembasmi Pelakor??? Memang dasar pelakor nggak tau malunya😑
Jangan lupa share, like, comment, dan tekan tombol favoritnya❤️
Bye.. 😘💕