NovelToon NovelToon
Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Takdir Yang Tak Pernah Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Cristaal

Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Pertemuan Kembali

Jarum jam dinding di kamar utama lantai dua penthouse sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari. Suasana ruangan bertingkat itu teramat sunyi, hanya menyisakan desau halus angin malam dari luar dinding kaca besar.

Aletha sudah terlelap di bawah selimut tebal tempat tidur berukuran king-size. Efek kelelahan akibat penerbangan belasan jam dari Jerman, ditambah tekanan mental dari telepon Valerie tadi malam, membuat tidurnya terasa begitu lelap. Rambut panjang bergelombangnya tersebar acak di atas bantal putih, membingkai wajah cantiknya yang tampak sangat damai dalam ketenangan tidurnya.

Cklek.

Suara klik pelan dari arah pintu masuk kamar tidak mampu menyentak kesadaran Aletha. Sebuah siluet tinggi besar melangkah masuk dengan sangat perlahan, seolah enggan mengusik keheningan malam. Langit baru saja menapakkan kakinya kembali di Jakarta setelah menempuh perjalanan darat luar kota pasca-pertemuan bisnisnya selesai lebih cepat dari jadwal.

Langit melepas jam tangan pintarnya, menaruhnya di atas nakas, lalu melepaskan jas abu-abu gelapnya dan menyampirkannya di lengan kursi. Pria itu tidak langsung membersihkan diri. Ia melangkah tegap mendekati tepi ranjang, berdiri kokoh di bawah temaram lampu tidur yang remang.

Sepasang mata hazel-nya menatap lekat wajah Aletha yang sedang tertidur. Untuk beberapa detik, topeng es di wajah sang pewaris tunggal Voss Group itu retak. Sorot matanya bergetar hebat, memancarkan rasa rindu yang teramat pekat, liar, sekaligus menyakitkan yang selama tiga setengah tahun ini ia kunci rapat di dalam dadanya. Wanita di depannya ini sudah tumbuh menjadi sosok yang begitu dewasa dan anggun, sangat asing dari ingatan masa lalunya.

Namun, begitu pandangan mata Langit turun ke arah meja nakas dan melihat ponsel pribadi Aletha yang layarnya sempat berkedip menampilkan notifikasi log panggilan tak terjawab dari nama ‘Nathan’ beberapa saat yang lalu, kemarahan yang membeku di dada Langit mendadak kembali menyala.

Langit menarik napas pendek yang terasa sangat berat. Ia melangkah kaku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Tiga puluh menit kemudian, suara gemericik air berhenti. Aletha perlahan membuka sepasang matanya saat merasakan ada pergerakan udara yang asing di dalam kamar. Indra penciumannya mendadak dikepung oleh aroma parfum wood-leather mahal yang berpadu dengan wangi sabun mint yang kelewat maskulin dan pekat. Aroma yang sangat ia kenal dari mobil Rolls-Royce kemarin.

Set.

Aletha menoleh kaku ke arah kamar mandi, dan detik itu juga, jantungnya langsung berdentum maraton dengan sangat keras di dalam rongga dadanya.

Langit baru saja keluar dari kamar mandi. Pria dewasa itu hanya mengenakan celana tidur panjang berwarna hitam tanpa atasan. Tubuh tingginya yang kini jauh lebih kokoh, tegap, dan berotot bidang terpampang nyata di bawah temaram lampu tidur.

Rambut hitamnya yang basah berantakan jatuh di dahinya, tetesan air sisa mandi mengalir lambat melewati garis rahang tegasnya menuju lekuk dadanya yang atletis.

Topeng ketenangan anggun Aletha langsung diuji habis-habisan. Ia membetulkan posisi duduknya di atas ranjang, menarik selimut hingga sebatas dada dengan gerakan yang diatur se-stabil mungkin.

"Kamu... kapan pulang?" tanya Aletha. Nada suaranya terdengar begitu tenang, datar, dan dingin, seolah kehadiran pria setengah telanjang di kamarnya saat tengah malam tidak memengaruhi fokusnya sedikit pun.

Langit menghentikan gerakannya yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ia membalikkan tubuh tegapnya perlahan, menatap Aletha langsung ke dalam manik matanya dengan pandangan hazel yang teramat kaku, tajam, dan mengintimidasi.

"Gue pulang ke rumah gue sendiri, Aletha. Nggak perlu ada izin atau pemberitahuan buat lo," sahut Langit dengan suara baritonnya yang kini terdengar begitu berat, dalam, dan sarat akan penekanan ego laki-lakinya yang terluka.

Langit melemparkan handuknya ke kursi, lalu melangkah tegap mendekati sisi ranjang tempat Aletha duduk. Jarak di antara mereka terkikis habis hingga Aletha bisa merasakan hawa panas yang menguar dari tubuh tegap suaminya. Langit menundukkan kepalanya sedikit, menatap langsung ke arah bibir mungil Aletha yang terkunci rapat.

"Tiga setengah tahun lo menghilang di Jerman, mengabaikan semua status hubungan kita, dan sekarang lo menyambut suami lo sendiri dengan ketenangan formal kayak gini?" desis Langit rendah, sisa amarah yang membeku di dadanya selama bertahun-tahun kini mulai bergolak naik ke permukaan.

"Di mana mulut berisik lo yang dulu selalu maki-maki gue di sekolah, Kurcaci? Apa udah habis lo pakai buat cowok bule lo di Berlin itu?"

Kata-kata tajam Langit tentang masa lalunya di Jerman meluncur telak, menghantam dada Aletha hingga terasa sesak. Namun, Aletha tetap mendongak pelan, menatap langsung ke dalam kilat mata hazel Langit tanpa ada getaran takut sedikit pun di wajah cantiknya.

“Aku di Jerman fokus urusan kuliah dan stabilitas bisnis Kakek yang sedang goyang, nggak ada hubungannya dengan cowok disana," balas Aletha dengan nada suara yang teramat lembut, tenang, namun mengalun dingin bagai es.

"Dan kalau kamu mau membahas soal mengabaikan hubungan... aku rasa kamu tidak punya hak untuk menghakimi aku. Mengingat selama di London sampai di luar kota kemarin, fokus dan raga kamu sepertinya sudah cukup bahagia karena selalu ditemani oleh Valerie Clarissa."

Hening sesaat menyergap kamar tidur mewah tersebut. Kata 'Valerie' yang meluncur dengan begitu tenang dari bibir Aletha membuat rahang tegas Langit seketika mengeras sempurna.

Tabrakan dua kesalahpahaman ganda yang dimulai dari seberang benua kini resmi meledak di antara jarak satu ranjang yang mencekik. Langit mengira Aletha berselingkuh di Jerman, sementara Aletha mengira Langit berpaling bersama Valerie di London.

Dua pasutri asing yang terikat takdir janji suci ini kini saling menatap penuh luka, ego, dan sisa amarah yang mengeras di tengah keheningan malam yang mendebarkan. Perang dingin mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai dari dalam kamar tidur utama.

1
Fiya
🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!