Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana tersembunyi
"Monica, ayo kita pulang."
Monica langsung cemberut dan menatap Dirga dengan malas.
"Sayang, aku belum belanja parfum sama skincare, loh. Kok mau pulang sih?"
Dirga menghela napas berat. Sejak tadi mereka berkeliling dari satu toko ke toko lain. Belanjaan Monica sudah cukup banyak sampai kedua tangannya terasa pegal.
"Tapi, Sayang, kita sudah terlalu lama di luar. Bagaimana kalau Vara curiga?"
Monica mendengus pelan. "Vara lagi, Vara lagi."
"Sayang, nanti kita belanja lagi, ya." Dirga berusaha membujuknya dengan suara lembut. "Sekarang kita harus kembali ke kantor."
"Baiklah. Ayo kita kembali."
Monica akhirnya mengalah.
Mereka berdua keluar dari mal. Wajah Monica kembali berseri-seri saat melihat berbagai kantong belanjaan yang dibawanya.
"Senang?" tanya Dirga ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tentu saja." Monica tersenyum puas, lalu melihat belanjaannya satu per satu. "Tapi perlengkapan lainnya belum aku beli." Wajahnya kembali cemberut.
Dirga mengelus kepala Monica. "Sabar, Sayang. Setelah rencanaku berhasil, kamu bisa belanja sepuasnya. Mau apa pun, tinggal pilih."
"Janji?"
"Iya, Sayang."
"Aku tunggu janji kamu."
Dirga tersenyum tipis lalu mulai mengemudikan mobil. Sepanjang perjalanan, Monica terlihat begitu senang membayangkan semua barang yang nantinya bisa ia miliki.
"Sayang, kamu simpan belanjaanmu di kontrakan dulu, ya?"
"Iya."
Tak lama kemudian, mereka tiba di kontrakan Monica. Setelah semua barang belanjaan disimpan, keduanya kembali masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanan menuju perusahaan. Sebelum turun dari mobil, Dirga menatap Monica.
"Kamu harus tenang. Jangan sampai Vara curiga."
"Iya, Sayang. Aku tahu."
"Jangan terlalu dekat denganku juga. Kita harus bersikap seperti atasan dan sekretaris."
"Iya, iya."
Tak lama kemudian, mereka tiba di Anderson Persada Group.
Begitu memasuki gedung, beberapa karyawan langsung melirik ke arah Monica. Tatapan mereka terlihat sinis. Bukan rahasia lagi kalau banyak karyawan tidak menyukai Monica. Sikapnya yang sering merasa paling penting hanya karena menjadi sekretaris Dirga membuatnya semakin tidak disukai.
Monica berjalan dengan angkuh di samping Dirga, seolah tidak peduli dengan tatapan para karyawan.
Namun, baru beberapa langkah mereka berjalan, pintu lift di depan mereka terbuka. Vara keluar dari dalam lift sambil membawa beberapa dokumen. Tatapannya langsung tertuju kepada Dirga dan Monica.
"Kalian baru kembali?"
Langkah Monica langsung terhenti.
Dirga juga sempat terdiam.
"Vara..." gumamnya pelan.
Vara menatap keduanya bergantian. Tidak ada kemarahan di wajahnya. Bahkan, senyum tipis masih terlihat di bibirnya.
"Kenapa?" tanyanya santai. "Kalian kelihatan seperti baru dari tempat yang jauh."
Dirga segera tersenyum. "Tadi aku sama Monica mengurus beberapa keperluan kantor."
"Oh?" Vara mengangkat alis. "Keperluan kantor sampai selama itu?"
Monica mulai gelisah, tetapi berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. "Iya, Bu Vara. Ada beberapa dokumen yang harus kami urus."
Vara menatap Monica beberapa detik. "Begitu?" Ia kemudian tersenyum kecil. "Kalau begitu, lanjutkan saja pekerjaan kalian."
Vara berjalan melewati mereka. Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti. "Oh, iya, Sayang."
Dirga menoleh. "Kenapa?"
Vara menatapnya dengan senyum lembut. "Jangan lupa makan. Kamu pasti belum makan siang, kan?"
Dirga sempat bingung, tetapi akhirnya mengangguk. "Iya, Sayang."
"Bagus."
Vara pun pergi, membiarkan mereka tetap di tempatnya.
Begitu Vara menjauh, Monica mengembuskan napas lega.
Namun, tanpa mereka sadari, Vara yang sudah berada beberapa meter di depan justru menyunggingkan senyum tipis.
"Kalian pikir aku nggak tahu apa yang kalian lakukan?"
Melihat wajah Monica yang begitu bahagia, ia sudah bisa menebak bahwa wanita itu sedang menikmati sesuatu yang menurutnya merupakan bagian dari kehidupan barunya bersama Dirga.
"Nikmati saja dulu," gumam Vara pelan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Nanti kamu akan tahu, semuanya nggak akan semudah yang kamu bayangkan."
••
"Sayang, aku ke ruangan dulu. Nanti kita ketemu lagi," ucap Dirga kepada Monica.
Monica mengangguk. "Iya, Sayang."
Mereka kemudian berpisah. Dirga berjalan menuju ruangannya, sementara Monica menuju meja kerjanya.
Begitu memasuki ruangannya, Dirga langsung melihat Reno yang sudah menunggunya.
"Reno."
Reno mengangguk sopan. "Iya, Pak."
"Apa Vara tadi mencariku?"
Reno menggeleng. "Tidak, Pak. Ibu Vara hanya fokus pada pekerjaannya."
Dirga menghela napas lega. "Bagus." Ia kemudian meletakkan beberapa dokumen di atas meja. "Kalau Vara bertanya dengan siapa saya meeting tadi, kamu harus jawab apa?"
Reno mengangguk tenang. "Tentu, Pak. Saya akan katakan sesuai rencana."
Dirga tersenyum puas. "Bagus. Kamu memang selalu bisa diandalkan."
Reno hanya membalas dengan senyum sopan. "Pak Dirga tenang saja. Saya akan membantu menjaga semuanya tetap aman."
Reno menahan senyum. Dirga bahkan tidak sadar sedang mempercayai orang yang salah.
Dirga duduk di kursinya, lalu mulai memeriksa beberapa dokumen. "Kemarin ada beberapa laporan dari cabang Westara. Periksa lagi bagian keuangannya. Saya mau memastikan tidak ada angka yang salah."
"Baik, Pak."
"Setelah itu, siapkan laporan untuk rapat besok. Saya ingin jadwal pertemuan dengan beberapa klien diatur ulang."
"Siap, Pak."
Reno mencatat semua perintah Dirga dengan tenang.
Selama beberapa saat mereka membahas pekerjaan. Reno tetap bersikap profesional dan sesekali memberi pendapat ketika Dirga meminta pertimbangannya.
Setelah urusan pekerjaan selesai, Dirga tiba-tiba bersandar di kursinya.
"Reno."
"Iya, Pak?"
"Carikan saya apartemen."
Reno mengangkat wajahnya. "Apartemen?"
"Iya. Untuk Monica."
Tangan Reno yang memegang pena berhenti sejenak.
Jadi sekarang dia mau membelikan apartemen untuk wanita ular itu?
Reno menahan kesal. Ia tidak menyangka Dirga sejauh ini. Ia harus menahan keinginannya untuk melempar pena ke wajah Dirga. Namun, ia harus tetap tenang.
"Baik, Pak. Saya akan mencarikan apartemen untuk Monica."
"Cari yang bagus. Saya nggak mau dia tinggal di tempat sembarangan."
"Baik, Pak."
"Cari lokasinya yang tidak terlalu jauh dari perusahaan."
Reno mengangguk. "Siap, Pak. Saya akan carikan sesuai keinginan Pak Dirga."
Dirga tersenyum puas. "Bagus. Saya serahkan semuanya kepadamu."
Reno membalas senyum itu. "Tentu, Pak." Ia kemudian berbalik dan berjalan meninggalkan ruangan Dirga.
Begitu pintu tertutup, wajah Reno yang sejak tadi tenang langsung berubah.
"Kamu benar-benar nggak tahu diri, Dirga."