Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 35
TAKDIR YANG BURUK
Angin pesisir menerpa pelan ujung pakaian mereka, membawa aroma garam dan kesunyian yang khas.
Di teras sebuah resort yang berdiri di tepi tebing, Killian duduk berhadapan dengan seorang pria yang dikenal sebagai Calpano — sosok berpengaruh dari jaringan persekutuan yang lebih luas.
Di antara mereka, meja bundar berwarna putih menjadi pembatas yang dingin. Dan masing-masing, ada dua anak buah yang berjaga di belakang mereka berdua.
Calpano mengenakan kacamata hitam yang menutupi seluruh pandangannya, seakan tak ingin siapa pun membaca apa yang tersembunyi di balik matanya.
Sementara Killian duduk tegap tanpa pelindung apa pun; setiap kali sinar matahari pagi menyinari wajahnya, ia hanya sedikit menyipitkan mata, tenang dan tak tergoyahkan.
"Kabar menyebar begitu cepat," ucap Calpano pelan, jemarinya mengetuk tepi cangkir porselen. "Bahkan hingga ke telinga kami yang berada jauh dari pusat."
Killian menatapnya lekat. "Kabar apa yang kau maksud?"
"Tentang pernikahanmu," jawab pria itu santai namun tegas. "Tentang pengantin pengganti. Tentang gadis yang kini menyandang nama keluarga Marcano tanpa direncanakan sejak awal."
Killian menyeringai tipis, tak menyembunyikan rasa tak terduganya. Ia bersandar di kursi, melipat kedua tangan di depan dada.
"Kau pun mendengarnya? Aku kira hal itu hanya diketahui di dalam dinding kediaman kami."
"Berita buruk selalu menemukan jalan keluar paling cepat, Mr. Marcano," jawab Calpano terkekeh pelan. "Siapa yang menyebarkannya? Aku tidak tahu pasti. Namun kemungkinan besar, ada seseorang dari lingkaran terdekatmu yang merasa berbagi hal itu lebih menguntungkan daripada menyimpannya. Mungkin ada yang berkhianat di antara keluarga itu sendiri."
Killian diam, tatapannya datar namun tajam menembus kaca mata yang dipakai lawan bicaranya. Ia tak menjawab seketika, menyimpan kata-kata itu di benaknya. Muchus? Sandra? Atau seseorang yang belum ia sadari?
Calpano mengubah topik pembicaraan dengan tenang.
"Hal lain yang perlu kau ketahui — akan ada pertemuan besar di Sisilia dalam waktu dekat. Seluruh kepala sindycat akan berkumpul. Membahas keuntungan bersama, pembagian wilayah, dan perubahan yang mulai terasa di jalur pelabuhan."
"Perubahan?" tanya Killian pelan.
"Pihak berwenang memperketat penjagaan," jawab Calpano, suaranya merendah. "Jalur yang selama ini menjadi milik kita kini diawasi lebih ketat. Gudang-gudang, dermaga, bahkan jalan penghubungnya. Semuanya akan berubah. Jika kita tidak bersiap, keuntungan itu bisa lenyap begitu saja."
Killian terdiam, menatap ke arah laut yang berombak di bawah tebing. Angin mengacak rambutnya sedikit. “Hm.”
"Vincenzo tahu?" tanyanya tiba-tiba.
"Belum tentu semua," jawab Calpano. "Namun dia harus mengetahuinya secepatnya. Atau mungkin... Dia sudah tahu dan memilih untuk tidak membaginya."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
“Ngomong-ngomong bagaimana kabar Vincenzo? Aku tidak pernah lagi melihatnya sejak kau mulai bergerak.”
“Dia menikmati masa tua.”
Pria itu tersenyum kecil.
.
.
.
Sementara itu, jauh dari tepi tebing itu, di sebuah rumah pondok yang tenang di tengah hamparan hijau, Laura duduk berhadapan dengan Lily.
Cahaya siang yang lembut masuk melalui jendela, menerangi wajah keduanya. Sesekali pandangan Lily melayang ke arah teras, di mana Nico berdiri tegak menjaga lingkungan sekitar, seakan patung yang tak pernah beranjak.
Laura mengikuti arah pandang adiknya, lalu tersenyum tipis.
"Kau sering memperhatikannya, ya?" tanyanya pelan.
Lily tersenyum samar. "Dia siapa?”
"Nico..." Kata Laura singkat dan pelan sembari menatap punggung pria itu dari balik kaca jendela.
"Dia terlihat sangat tegas. Seakan tak ada satu hal pun yang bisa membuatnya tersenyum."
Laura tertawa kecil, lalu menggeleng.
"Itu belum seberapa. Kau belum melihat bosnya. Dia jauh lebih tegas, lebih dingin, dan jauh lebih menyebalkan daripada Nico."
Lily menatapnya heran, namun senyum tak lepas dari bibirnya.
"Jauhi mereka, Lily," lanjut Laura, suaranya berubah menjadi peringatan yang lembut namun sungguh-sungguh. "Dunia tempat mereka berdiri bukan tempat yang baik untuk berada. Tetaplah di sini, aman, jauh dari segala itu."
Lily mengangguk pelan, lalu menarik napas panjang. Tatapannya jatuh ke tangan yang terlipat di pangkuannya.
"Kakak..." panggilnya pelan.
"Ya?"
"Jika saja... jika saja pernikahanmu tidak terjadi seperti ini," ucap Lily ragu, "jika saja kau menikah dengan pria itu..., mungkin Ibu dan Ayah tidak akan ada di samping kita."
Laura terdiam. Kata-kata itu menyentuh bagian yang selama ini ia coba sembunyikan — bayang sosok yang pernah ia cintai, masa lalu yang tak bisa diubah, dan pilihan yang dipaksakan kepadanya.
Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali, tersenyum tipis namun tulus kepada adiknya.
"Kita tidak tahu, Lily," jawabnya lembut. "Takdir berjalan dengan jalannya sendiri. Apa pun yang terjadi, Ibu dan Ayah tahu bahwa kita berusaha bertahan. Dan aku... aku akan melindungimu, apa pun yang terjadi."
Lily mengangguk, menunduk pelan, namun genggaman tangannya pada selimut sedikit mengendur.
***
Beberapa jam berlalu, cahaya hari perlahan memudar digantikan kegelapan yang pekat. Di kediaman utama yang sunyi, Laura tidur miring dalam lelap, napasnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal.
Hening menyelimuti ruangan itu, seakan tak ada satu makhluk pun yang bergerak di dalamnya.
Namun ketika fajar masih jauh, saat langit masih gelap gulita, Laura perlahan membuka matanya. Entah suara apa yang membangunkannya — mungkin bunyi pintu yang tertutup sangat pelan, atau sekadar insting yang menajam.
Ia menoleh perlahan.
Dan di sana, di sisi lain tempat tidur, berbaring seseorang.
Killian berbaring lurus di atas selimut, masih mengenakan kemeja hitamnya yang rapi, seakan tak sempat melepaskannya sebelum terlelap.
Wajahnya tampak lelah — rahangnya yang biasanya tegas kini rileks dalam tidurnya. Kelopak matanya tertutup, menyembunyikan sepasang mata biru yang biasanya tajam menatapnya.
Napasnya teratur, perlahan, tenang — begitu berbeda dari dirinya yang selalu bergerak, selalu waspada, selalu menanggung beban sendirian.
Laura berbalik sepenuhnya, menyandarkan kepalanya di sisi wajah, mengamati pria itu dari dekat.
-‘Apa yang kau pikirkan?' batin Laura dengan penasaran.
Cahaya samar dari lampu lorong yang menyelinap di bawah pintu menyentuh garis wajahnya yang tegas, memperlihatkan betapa lelahnya ia sebenarnya. Ia kembali tanpa membangunkannya, tanpa kata, tanpa suara — hanya berbaring di sana, seakan hanya kehadirannya sudah cukup untuk menjaga ruangan ini tetap aman.
Jari Laura bergerak perlahan, hampir menyentuh pipi pria itu, namun ia menariknya kembali sebelum menyentuh kulitnya.
Ia tak ingin membangunkannya. Ia hanya ingin melihatnya seperti ini — bukan Tuan Mafia yang menakutkan, bukan pelindung yang penuh ancaman, melainkan seseorang yang akhirnya berhenti berlari dan beristirahat.
"Kau ini robot atau apa..." bisiknya begitu pelan, bahkan angin pun tak akan membawanya ke mana pun.
Killian tidak bergerak, namun napasnya sedikit berubah ritme — seakan ia mendengar suara itu di tengah tidurnya, namun tak sanggup membuka mata.
Laura menarik selimut sedikit lebih tinggi, menutupi bahunya yang terlihat sedikit dingin, lalu berbaring kembali, memeluk bantalnya, menatap punggung lebar itu di kegelapan.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula, ia merasa aman — bukan karena pintu terkunci rapat, bukan karena penjaga di luar, melainkan karena dia ada di sana, di sampingnya, tertidur lelah namun tetap ada.
Dan di antara keheningan yang memeluk mereka, Laura berdoa dalam hati — semoga tidurnya tenang malam ini.
...°°°...
Hai guysss!!!! Mau beritahukan kalau hari ini dan besok aku up 1 ya. Hari Senin aku up 2 😁 semoga lancarkan dan semoga kalian masih suka dan betah ya uyyyyy
Jangan lupa tinggalkan jejak semangatnya!!!
Thanks and See Ya ^•^