Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan di Ruang Tamu
Aroma masakan rumah yang lezat menusuk hidung Clara begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya sedikit tertatih-tatih menahan rasa perih di lututnya yang kini terbalut perban rapi. Ia berusaha berjalan senormal mungkin, berharap sang ayah tidak menyadari luka di tubuhnya.
Namun, suasana rumah malam ini tampak tak biasa. Lampu gantung kristal di ruang tamu menyala terang benderang. Di atas meja kaca, tersaji beraneka cangkir teh porselen dan hidangan kue-kue manis. Suara gelak tawa hangat dari dua pria paruh baya terdengar bersahutan dari arah dalam.
"Aduh, ada tamu rupanya," batin Clara. Ia berniat mengendap-endap naik ke kamarnya di lantai dua sebelum ada yang menyadari kehadirannya.
"Clara? Sudah pulang, Nak?" suara tegas namun penuh kasih dari Hendra Dewangga sang ayah menghentikan langkah Clara tepat di pangkal tangga.
Clara membeku. Dengan senyum kaku yang dipaksakan, ia berbalik pelan. "Eh... Papah. Iya, Pah, baru pulang..."
"Kemari sebentar. Papah mau mengenalkan kamu sama sahabat lama Papah dan keluarganya," panggil Hendra seraya melambaikan tangan.
Clara menghela nafas pasrah. Sambil menyembunyikan bagian kakinya yang sakit di balik lipatan rok abu-abunya, ia melangkah mendekati area ruang tamu. Di sana duduk seorang pria paruh baya berwajah ramah dan seorang wanita anggun yang tersenyum hangat padanya.
Namun, pandangan Clara seketika terkunci pada sosok pria muda yang duduk membelakanginya. Pria itu mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap dengan lengan tergulung rapi hingga siku. Postur tubuhnya yang tegap dan rambut hitamnya yang tersisir rapi terasa sangat familiar.
Pria itu berbalik pelan begitu mendengar langkah kaki Clara.
Mata Clara belalak seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama satu detik.
Dokter dingin itu?!
Pria di hadapannya tak lain dan tak bukan adalah dr. Arka Samudra. Tatapan mata Arka yang tenang di balik kacamatanya beradu dengan tatapan Clara yang penuh syok. Tak ada riak terkejut di wajah tampan pria itu hanya satu alisnya yang terangkat tipis, seolah-olah ia sudah menduga hal ini.
"Clara, kenalkan. Ini Om Nathan dan Tante Seinara. Dan yang ini anak pertama mereka, Arka. Dia seorang dokter muda yang hebat," ujar Hendra bangga tanpa menyadari ketegangan luar biasa yang mendadak melingkupi dua anak manusia itu.
"Selamat malam, Clara," sapa Tante Seinara ramah. "Aduh, cantik sekali ya anakmu, Hendra."
Clara menyalami Om Nathan dan Tante Seinara dengan kaku. Ketika gilirannya berhadapan dengan Arka, Clara enggan mengulurkan tangan. Namun, Arka justru mengulurkan tangannya terlebih dahulu dengan nada suara yang teratur dan tenang.
"Arka Samudra. Salam kenal... Clara," bisik Arka, menekankan namamu dengan nada dingin yang membuat Clara makin jengkel.
Clara menyambut uluran tangan itu sekilas. Sensasi dingin dan tegas dari jemari sang dokter membuat bulu kuduknya berdiri. "Clara," sahutnya pendek.
"Lho, Clara, kok jalanmu agak aneh begitu?" tanya Tante Seinara cemas ketika melihat cara berdiri Clara yang tampak tak nyaman.
Seketika mata Hendra menajam menyapu tubuh putri semata pembangkangnya itu. "Clara? Kamu kenapa? Jangan bilang kamu jatuh dari motor lagi?"
"E-enggak kok, Pah! Cuma..." Clara terbata-bata, panik mencari alasan.
"Luka lecet di lutut kanan dan siku kiri. Sudah dibersihkan dan dibalut kasa steril jam empat sore tadi di UGD," potong Arka santai sambil menyesap teh hangatnya.
"Arka? Kamu kok tahu?" tanya Om Nathan terkejut.
"Dia pasien saya tadi sore di hospital, Papa. Korban kecelakaan motor balap," jawab Arka tenang tanpa dosa.
Dua mata Hendra melebar menahan amarah. "Clara! Kamu balapan lagi?!"
Clara mendelik tajam ke arah Arka yang justru membalas tatapannya dengan wajah polos tanpa penyesalan. " Dasar dokter tukang adu! Pria pengadet!" maki Clara dalam hati.
"Iya, Pah... tapi cuma jatuh dikit kok! Lagian gara-gara ada mobil ngerem mendadak!" bela Clara panik.
"Sudah berapa kali Papah bilang, jual motor itu! Kamu ini perempuan, bukannya belajar yang benar malah keluyuran di jalanan," omel Hendra menggeleng-gelengkan kepala. kalimat itu persis seperti ucapan Arka di ruang UGD tadi sore, membuat dada Clara makin sesak oleh kejengkelan.
"Nah, Hendra, sepertinya momennya pas sekali," sela Om Wijaya sambil tersenyum penuh arti. "Maksud kedatangan kami malam ini kan memang untuk membicarakan hal besar itu."
Hendra mengangguk setuju, emosinya mereda digantikan senyum penuh harapan. Ia menatap Clara serius. "Clara, duduklah. Ada hal penting yang harus Papah sampaikan."
Clara duduk di tepi sofa tunggal dengan perasaan tak enak. "Ada apa sih, Pah? Kok serius banget?"
"Papah dan Om Nathan sudah sepakat sejak dulu. Kami ingin menjodohkan kamu dengan Arka."
DUARRR!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Clara melompat dari duduknya, lupa akan rasa sakit di lututnya. "APA?! Dijodohkan?! Sama dia?!" seru Clara menunjuk tepat ke wajah Arka.
"Clara! Jaga kesopananmu!" tegur Hendra tegas.
"Pah, aku masih SMA! Masih kelas 12! Kenapa tiba-tiba dijodohkan sama dokter kaku dan ketus kaya dia?!" protes Clara heboh dengan napas memburu.
Arka yang sejak tadi diam, kini meletakkan cangkir tehnya ke atas meja. Suara denting porselen yang beradu memecah kegaduhan ruang tamu. Ia menatap Clara lurus-lurus dengan tatapan dinginnya yang khas.
"Saya juga tidak pernah berencana menikahi anak SMA yang belum dewasa dan hobi balapan," sahut Arka tenang, tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya bagaikan sembilu. "Tapi ini adalah permintaan orang tua kita."
"Kalau tahu gitu, tolak dong! Kenapa omongannya datar banget kayak tegel UGD?!" semprot Clara tak terima.
"Clara Dewangga!" suara Hendra meninggi. "Keputusan Papah sudah bulat. Kalian akan bertunangan dulu setelah kamu lulus SMA beberapa bulan lagi. Selama masa itu, Arka yang akan mengawasi dan mengantarmu ke sekolah. Motor kamu, Papah sita mulai malam ini!"
"Pah!! Nggak mau!" jerit Clara frustrasi.
"Penolakan ditolak," tegas Hendra tak bisa dibantah.
Clara menatap Arka dengan tatapan membunuh, namun dokter muda itu justru merapikan kemejanya dan berdiri santai. Ia membungkuk sopan pada Hendra dan kedua orang tuanya.
"Papi, Mami, Om Hendra, saya pamit ke luar sebentar untuk mengambil obat susulan dan salep anti racun di mobil untuk calon tunangan saya," ujar Arka tenang. Sebelum berbalik melangkah, Arka melirik Clara dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat senyum kemenangan yang sangat menyebalkan.
"Dan pastikan calm down, Pasien Clara. Marah-marah bisa membuat tekanan darah naik dan memperlambat penyembuhan luka," tambah Arka dingin sebelum melangkah keluar dari rumah.
Clara mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Hidup indahnya yang bebas kini resmi berubah menjadi neraka, dan pemicunya adalah seorang dokter dingin bertangan dingin bernama Arka Samudra!