NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Tepuk tangan memenuhi ballroom hotel ketika nama Raka Adhitama disebut sebagai calon penerus salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.

Bagi para tamu, itu adalah momen membanggakan. Seorang pewaris muda akhirnya muncul di hadapan publik, berdiri di samping ayahnya dengan setelan hitam yang sempurna dan ekspresi tenang.

Namun, bagi satu orang di antara puluhan wartawan yang memenuhi ruangan, pengumuman itu terasa seperti tamparan.

Raka bukan sekadar atlet esports yang berjuang membangun timnya. Bukan hanya kapten ASTRAL yang keras kepala, pria yang suka membantah setiap kritik Nadira, atau seseorang yang diam-diam mulai membuatnya tersenyum saat membaca pesan di ponsel.

Raka adalah pewaris Adhitama Global.

Dan selama ini, dia membiarkan Nadira percaya bahwa hidupnya tidak jauh berbeda dari orang biasa.

“Silakan, Tuan Raka. Mungkin Anda ingin menyampaikan beberapa patah kata.”

Suara pembawa acara menarik Raka kembali ke panggung.

Ia mengambil mikrofon. “Terima kasih. Saya menghargai kepercayaan keluarga dan perusahaan kepada saya.”

Jawabannya terdengar formal, nyaris tanpa cela.

“Saya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari. Untuk saat ini, saya ingin menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepada saya tanpa mengabaikan komitmen lain yang sudah saya bangun.”

Ayahnya, Adrian Adhitama, meliriknya dari samping.

Kalimat itu terdengar sopan, tetapi Raka tahu ayahnya memahami maksud tersembunyi di baliknya. Ia belum menyerah pada ASTRAL.

“Dan tentu saja,” lanjut Raka, “saya berharap dapat memberikan kontribusi terbaik bagi perusahaan.”

Tepuk tangan kembali terdengar.

Raka mengembalikan mikrofon kepada pembawa acara. Saat mengangkat pandangan, ia kembali menemukan Nadira di antara para wartawan.

Perempuan itu tidak bertepuk tangan.

Ia sedang menatap Raka dengan ekspresi yang jauh lebih sulit dihadapi daripada kemarahan.

Kecewa.

Sesi tanya jawab dimulai lima belas menit kemudian.

Beberapa wartawan mengajukan pertanyaan mengenai rencana ekspansi Adhitama Global, investasi teknologi, dan kemungkinan keterlibatan Raka dalam pengambilan keputusan perusahaan.

Raka menjawab dengan hati-hati. Ia telah menghadapi rapat direksi yang jauh lebih menegangkan daripada konferensi pers. Namun, hari ini, setiap pertanyaan terasa seperti langkah menuju sesuatu yang tidak ingin ia hadapi.

Sampai sebuah tangan terangkat di barisan depan.

“Dari Media Arena. Nadira Prameswari.”

Raka langsung mengenali suara itu, bahkan sebelum melihat wajahnya.

Nadira berdiri dengan perekam suara di satu tangan dan catatan kecil di tangan lainnya.

“Saya ingin bertanya kepada Tuan Raka.”

Penggunaan sapaan formal itu membuat rahang Raka sedikit mengeras.

“Selama ini, publik mengenal Anda sebagai kapten ASTRAL dan pemain profesional. Hari ini, kita mengetahui bahwa Anda juga merupakan putra tunggal keluarga Adhitama dan calon penerus Adhitama Global.”

Nadira berhenti sebentar.

“Apakah selama ini Anda sengaja memisahkan kedua identitas tersebut karena ingin melindungi karier esports Anda, atau karena Anda tidak ingin orang-orang menilai Anda berdasarkan nama keluarga?”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Adrian memandang Nadira dengan ketertarikan yang sulit dibaca. Beberapa wartawan lain segera mengarahkan kamera ke panggung.

Raka menggenggam mikrofon sedikit lebih erat.

“Pertanyaan yang bagus.”

“Terima kasih. Saya berusaha begitu.”

Beberapa orang tertawa kecil. Raka hampir tersenyum, tetapi ia menahannya.

“Saya memisahkan keduanya karena saya ingin dinilai berdasarkan kemampuan saya sendiri. Di dunia esports, nama keluarga saya tidak akan membantu saya memenangkan pertandingan.”

“Namun, nama keluarga Anda bisa memberi Anda akses, kesempatan, dan sumber daya yang tidak dimiliki pemain lain.”

Kali ini, tidak ada yang tertawa.

Raka mengangguk pelan. “Benar. Saya tidak akan menyangkal keuntungan yang saya miliki.”

“Kalau begitu, bukankah publik berhak mengetahui bahwa seseorang yang selama ini mereka anggap membangun kariernya sendiri juga memiliki privilese sebesar itu?”

Pertanyaan itu tepat mengenai bagian yang selama ini berusaha dihindari Raka.

Ia bisa membantah. Bisa menjelaskan bahwa ia berlatih berjam-jam, mengalami kekalahan, dan membangun reputasinya melalui pertandingan. Semua itu benar.

Namun, tidak satu pun menghapus fakta bahwa ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

“Publik berhak mendapatkan informasi yang relevan,” jawabnya akhirnya. “Dan saya memahami jika pengungkapan ini mengubah cara mereka melihat saya.”

Nadira menatapnya selama beberapa detik.

“Baik. Itu saja pertanyaan saya.”

Ia duduk kembali.

Tidak ada sindiran tambahan. Tidak ada senyum miring seperti biasanya. Tidak ada tantangan untuk membuat Raka kehilangan kata-kata.

Anehnya, justru itulah yang paling membuat Raka gelisah.

Setelah konferensi berakhir, ballroom berubah menjadi lautan orang yang saling bertukar kartu nama dan mengejar narasumber.

Nadira memasukkan buku catatannya ke dalam tas, lalu berjalan menuju pintu keluar.

“Nadira.”

Ia mengenali suara itu, tetapi tidak berhenti.

“Nadira, tunggu sebentar.”

Raka menyusulnya sampai ke koridor di luar ballroom. Beberapa staf melewati mereka, tetapi ia tidak peduli.

Akhirnya, Nadira berhenti di dekat jendela besar yang menghadap jalanan Jakarta.

“Ada apa, Tuan Adhitama?”

Raka menarik napas.

“Jangan panggil aku begitu.”

“Kenapa? Bukankah itu nama yang benar?”

“Nama yang kamu kenal juga benar.”

“Masalahnya, aku baru tahu ada bagian besar dari hidupmu yang sengaja tidak kamu ceritakan.”

Raka terdiam.

Di balik kaca, kendaraan bergerak perlahan di tengah kemacetan. Suara klakson terdengar samar, kontras dengan ketegangan di antara mereka.

“Aku memang belum pernah bilang bahwa aku bukan pewaris Adhitama Global,” katanya akhirnya. “Tapi aku juga tidak pernah mengaku sebagai orang yang tidak punya keluarga kaya.”

Nadira mengangkat alis.

“Serius? Itu pembelaanmu?”

“Bukan pembelaan. Aku hanya ingin kamu memahami—”

“Aku memahami bahwa kamu berbohong dengan cara yang sangat teknis.”

Kalimat itu membuat Raka kehilangan jawabannya.

Nadira melipat kedua tangannya di depan dada.

“Waktu aku bertanya apakah kamu pernah menghadiri acara Adhitama Global, kamu bilang pernah datang sebagai tamu.”

“Aku tahu.”

“Padahal kamu bukan sekadar tamu. Kamu putra tunggal pemiliknya.”

“Aku tahu, Nadira.”

“Jadi, kamu juga tahu betapa bodohnya aku terdengar kalau suatu hari menulis artikel tentang investasi perusahaanmu tanpa menyadari bahwa sumber yang sering kuhubungi ternyata punya kepentingan langsung di dalamnya.”

Nada suaranya tetap terkendali, tetapi Raka bisa melihat jari-jari Nadira mencengkeram tali tasnya lebih erat.

“Aku tidak pernah berniat memengaruhi pekerjaanmu,” katanya.

“Aku percaya kamu mungkin tidak berniat begitu.” Nadira mengembuskan napas. “Tapi niat baik tidak otomatis membuat keputusanmu benar.”

Raka menunduk sebentar.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ia tidak memiliki bantahan yang cukup bagus.

“Aku seharusnya memberitahumu,” katanya.

“Ya. Seharusnya.”

Jawaban itu sederhana. Tidak ada teriakan atau tuduhan berlebihan. Justru karena itulah, Raka merasakan sesuatu menekan dadanya.

“Aku ingin menjelaskan semuanya.”

“Tidak hari ini.”

“Nadira—”

“Aku perlu waktu untuk memikirkan ulang beberapa hal. Termasuk batas antara pekerjaan dan hubungan kita.”

Hubungan kita.

Dua kata itu seharusnya membuatnya lega karena Nadira tidak langsung menganggap semua kedekatan mereka sebagai kebohongan. Namun, dari cara perempuan itu mengucapkannya, Raka tahu jarak di antara mereka baru saja bertambah.

“Apa kamu menganggap semua yang terjadi selama ini palsu?” tanyanya pelan.

Nadira terdiam.

Untuk sesaat, ekspresinya melunak. Raka melihat perempuan yang pernah tertawa bersamanya saat makan malam, yang mendengarkan tanpa memaksanya menceritakan persoalan keluarga, dan yang membuatnya merasa bisa menjadi dirinya sendiri.

“Tidak,” jawab Nadira. “Kalau aku menganggap semuanya palsu, aku tidak akan sekesal ini.”

Raka menatapnya.

“Tapi aku tidak bisa berpura-pura bahwa kepercayaan bukan bagian dari semuanya.”

Ia tidak punya jawaban untuk itu.

Nadira melangkah mundur.

“Untuk sementara, kita kembali menjadi wartawan dan narasumber. Kalau aku perlu menghubungimu untuk pekerjaan, aku akan menghubungimu lewat jalur resmi.”

“Dan kalau aku ingin menghubungimu di luar pekerjaan?”

“Pikirkan dulu apakah kamu ingin menghubungiku karena kamu benar-benar ingin bicara denganku, atau karena kamu tidak nyaman kehilangan seseorang yang biasanya mendengarkanmu.”

Kalimat itu menghantam Raka lebih keras daripada kekalahan di final turnamen mana pun.

Nadira berbalik dan berjalan menuju lift.

Kali ini, Raka tidak mengejarnya.

Malamnya, Raka duduk sendirian di ruang latihan ASTRAL. Monitor di depannya menyala, menampilkan permainan yang bahkan tidak ia perhatikan.

Bima muncul dari belakang sambil membawa dua gelas kopi.

“Gue dengar konferensi keluarga lo rame banget.”

“Berita menyebar cepat.”

“Namanya juga internet.” Bima meletakkan satu gelas di meja. “Tapi gue lebih penasaran sama muka lo. Kayak orang yang baru kalah pertandingan gara-gara salah pencet tombol.”

Raka tidak menanggapi.

Bima menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Lo udah cerita ke Nadira?”

“Dia sudah tahu.”

“Dari lo?”

Raka menatap layar.

Bima menghela napas panjang. “Oke. Berarti dari konferensi.”

“Jangan mulai.”

“Gue belum mulai. Gue cuma mau bilang, lo bisa jago membaca pergerakan lawan, tapi kalau urusan manusia, kadang lo benar-benar payah.”

“Terima kasih atas dukungan moralnya.”

“Sama-sama. Bayar kopi gue nanti.”

Ponsel Raka bergetar. Sebuah pesan dari Adrian muncul di layar.

Besok pukul sembilan. Kita perlu membicarakan tanggung jawabmu setelah pengumuman hari ini. Jangan membawa urusan pribadi ke dalam keputusan keluarga.

Raka membaca pesan itu dua kali sebelum meletakkan ponselnya.

Dulu, ia selalu menganggap dua kehidupannya sebagai sesuatu yang bisa dipisahkan dengan rapi. Di satu sisi, ada ASTRAL, pertandingan, dan kebebasan yang ia perjuangkan. Di sisi lain, ada nama Adhitama, tuntutan keluarga, dan masa depan yang sudah disiapkan orang lain.

Ia tidak pernah menyangka bahwa usaha menjaga kedua dunia itu justru akan melukai seseorang yang mulai berarti baginya.

Raka membuka percakapannya dengan Nadira.

Pesan terakhir mereka adalah candaan tentang siapa yang lebih keras kepala.

Jarinya bergerak, mengetik beberapa kalimat. Ia menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapusnya lagi.

Akhirnya, ia hanya mengirim satu pesan.

Raka: Aku minta maaf. Aku tidak akan memaksamu bicara sebelum kamu siap.

Pesan itu terkirim.

Tidak ada balasan.

Raka meletakkan ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke kursi.

Di arena, ia selalu percaya bahwa kesalahan bisa diperbaiki selama ia mau belajar dari kekalahan.

Namun, untuk pertama kalinya, ia menghadapi sesuatu yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan strategi yang tepat.

Karena kali ini, orang yang ingin ia menangkan kembali bukanlah lawan.

Dan ia tidak yakin apakah Nadira masih bersedia memberinya kesempatan untuk bermain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!