Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ting!
Husen langsung mengaktifkan Skill Pengetahuan Ensiklopedis miliknya di dalam pikirannya sendiri.
[Skill Aktif: Pengetahuan Ensiklopedis Level 1 Aktif]
[Menganalisis data di depan mata menggunakan seluruh literatur sains dunia]
[Hasil Analisis: Modul Fisika Terapan ini telah dimodifikasi secara sengaja oleh ahli tingkat universitas]
[Tujuan Modifikasi: Menciptakan kecelakaan fatal yang terlihat seperti kelalaian murni dari pihak pembuat alat]
Husen menyunggingkan senyum miring yang sangat dingin dan menakutkan melihat konfirmasi dari sistem tersebut.
"Ini bukan sekadar jebakan untuk membuatmu kalah dalam perlombaan, Nisa."
"Ini adalah jebakan fisik yang dirancang untuk melukaimu dan menghancurkan masa depanmu secara permanen."
Mata Nisa sedikit melebar mendengar analisis mengerikan dari wali kelasnya itu.
"Mereka mau membuat alatku meledak lalu menuduh sekolah kita membahayakan nyawa orang banyak?"
"Kalau itu sampai terjadi, polisi pasti akan turun tangan dan izin sekolah kita akan benar-benar dicabut paksa kali ini."
Husen mengangguk pelan membenarkan jalan pikiran Nisa yang sangat taktis dan logis tersebut.
"Pak Surya dari Yayasan Arunika tidak mau mengambil risiko kalah berdebat lagi seperti yang dialami Reno."
"Dia ingin memastikan aku masuk penjara karena kelalaian mengawasi murid, dan kelas XI-7 dibubarkan selamanya."
Nisa menggertakkan giginya sekuat tenaga menahan amarah yang mulai meletup-letup di dadanya.
"Orang-orang kaya di yayasan itu benar-benar menganggap nyawa kita semurah sampah jalanan ya, Pak."
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan buku panduan sampah ini sekarang?"
"Apakah aku harus membakarnya dan membuat desain rahasiaku sendiri seperti biasa?"
Husen menggelengkan kepalanya pelan dan mengambil pulpen dari tangan Nisa dengan gerakan santai.
"Tidak, jangan dibakar."
"Kita akan menggunakan modul manipulasi ini tepat seperti yang mereka inginkan."
Nisa mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan jalan pikiran Husen yang terdengar sangat tidak masuk akal itu.
"Bapak menyuruhku membangun bom waktu yang akan meledak di wajahku sendiri?"
"Tentu saja tidak, Nisa."
"Aku ingin kamu membangun cangkang luar alat itu persis seperti yang dideskripsikan di modul cacat ini."
Husen menggambar sebuah skema sederhana di atas kertas buram milik Nisa.
Srek srek.
"Tapi di bagian dalamnya, kamu akan memasang sistem keamanan ganda yang bisa menetralkan tekanan cairan itu secara instan."
"Buat alat itu terlihat seperti gagal berfungsi secara normal di atas panggung nanti."
Mata Nisa mulai berbinar menyadari arah rencana gila yang sedang disusun oleh wali kelasnya tersebut.
"Saat alat itu gagal, juri pasti akan menyalahkan desainnya dan menuduhku bodoh."
Husen tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya dengan sangat mantap.
"Tepat, dan pada saat itulah kamu akan menyerahkan buku modul berstempel dinas ini sebagai bukti di depan semua wartawan."
"Kita akan membuat mereka masuk ke dalam jebakan mereka sendiri dan membongkar bahwa Dinas Pendidikan menyuplai materi mematikan."
Nisa tertawa pelan dan menatap Husen dengan tatapan rasa hormat yang semakin membumbung tinggi.
"Bapak benar-benar iblis berwujud guru yang sangat mengerikan, Pak Husen."
"Aku akan membuat desain palsu ini terlihat sangat sempurna sampai Dimas menangis darah nanti."
Husen menghabiskan sisa kopinya lalu berdiri dari kursinya dengan perasaan yang sangat puas.
"Bekerjalah dengan tenang, aku harus kembali ke kos-kosan sekarang karena ada dokumen penting yang harus kuperiksa malam ini."
"Ingat, tetap pasang wajah bodoh dan berterima kasih setiap kali Dimas bertanya soal perkembangan belajarmu."
"Siap, Pak Husen, aku jamin aktingku besok akan pantas mendapat piala penghargaan."
Malam harinya, di sebuah kamar kos-kosan yang sempit dan hanya diterangi lampu neon redup.
Husen duduk bersila di atas kasur lipatnya sambil memangku sebuah laptop bekas yang layarnya sudah sedikit bergaris.
Suara ketikan keyboard terdengar cukup keras memecah kesunyian malam di luar jendela.
Tak tak tak.
Husen membuka kotak masuk email pribadinya dan melihat ada satu pesan baru tanpa nama pengirim masuk lima menit yang lalu.
"Antonius bekerja dengan sangat rapi dan tepat waktu seperti biasa."
Husen bergumam pelan lalu mengklik file lampiran berformat PDF yang dienkripsi dengan kata sandi khusus.
Dia mengetikkan deretan angka acak yang hanya diketahui oleh dirinya dan teman lamanya itu.
Klik.
Dokumen tebal berisi ratusan halaman laporan keuangan langsung terbuka memenuhi layar laptopnya.
Husen mulai membaca halaman demi halaman laporan tersebut dengan kecepatan membaca yang tidak normal berkat level sistemnya.
Matanya menyapu setiap angka mutasi rekening dengan ketelitian mutlak.
Ting!
Sistem kembali aktif secara otomatis untuk membantu Host menganalisis aliran dana haram berskala besar tersebut.
[Skill Aktif: Pengetahuan Ensiklopedis Level 1 Aktif]
[Menyaring anomali transaksi keuangan dalam laporan mutasi bank]
[Ditemukan 5 transaksi mencurigakan dari rekening pribadi Surya Aditama ke rekening fiktif]
[Tujuan aliran dana: Disalurkan ke rekening Ketua Dewan Juri Olimpiade Provinsi dan tiga pejabat tingkat kementerian daerah]
[Total nilai suap: Dua miliar rupiah]
Husen menghela napas panjang melihat angka fantastis yang tertulis di layar sistemnya itu.
"Dua miliar rupiah hanya untuk menyuap juri perlombaan anak SMA tingkat provinsi."
"Pak Surya benar-benar rela membakar uang sebanyak itu demi menjaga nama baik bisnis pendidikannya yang kotor."
Husen menyimpan seluruh bukti tangkapan layar itu ke dalam sebuah flashdisk hitam miliknya.
Dia tahu dokumen ini belum cukup kuat untuk memenjarakan orang sekuat Pak Surya jika diserahkan ke polisi biasa.
Uang dua miliar itu bisa dengan mudah digunakan untuk menyuap kepolisian lokal dan menghilangkan barang bukti.
"Aku tidak bisa membawa bukti ini ke meja hijau secara langsung."
"Aku harus membawa meja hijau itu ke atas panggung provinsi dan membuat masyarakat kota ini yang menjadi hakimnya langsung."
Ting!
Fitur Radar Sabotase Pasif tiba-tiba berkedip kuning di sudut pandangan mata Husen memberikan laporan harian.
[Laporan Harian Radar Sabotase]
[Target Dimas Anggara baru saja mengirimkan laporan perkembangan palsu ke nomor Pak Surya]
[Isi Laporan: Target Nisa sudah memakan umpan modul cacat. Dia percaya penuh pada saya.]
[Status Keyakinan Musuh: Sangat Tinggi 85%]
Husen tertawa terbahak-bahak di dalam kamar kosnya yang sempit itu sampai dia harus memegangi perutnya.
"Luar biasa, Dimas benar-benar mengira dia sudah menaklukkan siswi tercerdasku dengan sangat mudah."
"Teruslah bermimpi indah malam ini, Dimas, karena saat kamu bangun nanti, mimpimu akan berubah menjadi neraka."
Husen mematikan laptopnya dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur lipat yang tipis itu.
Dia memejamkan mata dan mulai menyusun simulasi debat untuk Bara di kepalanya.
Materi provinsi pastinya tidak akan membahas topik remeh seperti tata kota atau moralitas sekolah lagi.
Mereka pasti akan membahas isu sensitif tentang hukum negara dan kebijakan publik berskala besar.
"Bara harus dilatih untuk tidak meledak marah saat diserang menggunakan sentimen kemiskinan nanti."
"Musuh di provinsi tidak akan menggunakan hinaan kasar seperti Reno, mereka akan menggunakan bahasa halus yang membunuh karakter."
Husen tersenyum tipis dalam tidurnya, menantikan esok hari di mana dia akan memeras keringat murid-muridnya jauh lebih keras lagi.
Permainan catur berdarah ini semakin mendekati garis akhir, dan Husen sudah memegang ratu hitam di tangannya.