NovelToon NovelToon
Pengasuh Sang Capo

Pengasuh Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Pengasuh / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.

Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.

Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.

Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.

Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makan Malam

Gabriele

Ayahku bicara ngalor-ngidul tak keruan sementara aku melirik arlojiku setiap beberapa detik. Seharusnya aku menyuruh Sofia turun pukul setengah enam, dengan begitu aku tak perlu menahankan ayahku dan temannya, yang tak henti-hentinya berusaha menjodohkan.

"Kau harus mengakui, Nak, bahwa Liliana perempuan yang menarik."

Kupandang perempuan berusia dua puluh dua tahun itu, dengan gaun mungil yang sangat ketat membungkus tubuh selayak model. Perempuan berkulit sawo matang dengan rambut yang dicat pirang dan bibir yang disuntik kolagen, kurasa.

Aku hanya mengangkat alis. Kukira ayahku lebih tahu seleraku.

"Selamat sore," ucap Sofia, yang datang bersama Mia.

Keduanya tampak cantik, bahkan dengan gaun musim panas hijau sederhana yang senada. Sofia tak berdandan, berbeda dengan Liliana, yang dandanannya begitu tebal hingga aku yakin bisa saja berpapasan dengannya saat ia tak berias dan tak akan mengenalinya sama sekali.

"Selamat sore," ucapku lega.

Ayah mendekati Sofia dan mengulurkan tangan untuk menggendong Mia, yang menatapnya ketakutan sambil mengisap jempolnya.

Sofi menatapku sebelum menyerahkan si kecil padanya. Aku mengangguk tanpa daya. Aku pun tak nyaman dengan situasi ini, tapi aku tak bisa melarang ayahku mengenal cucunya.

"Halo, bambina, kau cantik sekali," ucapnya sambil mendekatkan Mia ke dadanya.

Mia memandang berkeliling ruangan, dengan mata hijaunya yang berkaca-kaca, dan begitu melihatku ia mengulurkan lengan ke arahku.

Sesuatu yang mirip rasa bangga memenuhi tubuhku, dan tanpa bisa kutahan aku mendekat dan meraih tangannya.

"Pria ini kakekmu, Mia."

Si kecil memandangnya lalu mengembuskan sebuah gelembung air liur besar yang meletus tepat di hidung ayahku.

Ayah geram sementara Sofia dan aku tersenyum. Mia jelas tahu cara membuat dirinya dihormati.

Ia menyerahkan putriku, jengkel. Kudekap Mia dalam lenganku dan kucium puncak kepala mungilnya.

"Bagus sekali, si kecil," bisikku di telinganya yang mungil.

Ayah mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap hidungnya. "Kukira di usia ini bayi sudah tak sejorok itu."

Liliana mendekatiku dan meraih tangan putriku tanpa bertanya. Si kecil langsung menangis.

"Jangan menangis, manis. Anakmu manis sekali, Capo."

"Memang," ucap Angelo. "Tapi Anda tetap butuh seorang pewaris, Capo."

"Betul," tambah Ayah. "Seseorang yang kelak bisa memimpin La Camorra."

"Aku suka sekali anak-anak, aku selalu bermimpi punya banyak anak," ucap Liliana sambil menatapku penuh harap. "Aku bisa jadi ibu untuk anak ini," tambahnya sambil membelai wajah putri kecilku.

"Jangan sentuh dia!" desis Sofia sambil mendekati Mia, yang tak berhenti menangis sejak Liliana menyentuhnya. "Dia tidak menyukaimu."

Mata Liliana, yang tampak tenang saat menatapku, kini berubah penuh amarah saat memandang Sofia.

"Dan kau ini siapa?" tanyanya dengan nada menghina.

"Dia pengasuh putriku, Liliana," jawabku. "Dan aku tak memberimu izin untuk menyentuh Mia," tambahku dengan suara setajam baja.

"Mama," pekik Mia sekuat paru-paru mungilnya, mengulurkan lengan ke arah Sofia, yang langsung menggendongnya.

"Kau tak seharusnya membiarkan anak itu memanggil pelayan dengan sebutan mama," lontar Ayah kesal.

Yah, setidaknya sekarang aku tahu Sofia tidak dipekerjakan olehnya. Jelas Sofia tak disukainya.

"Mia boleh memanggil siapa pun dengan sebutan mama," tegasku. "Lagi pula Sofia-lah yang merawatnya selama ini."

"Tapi dia pengasuh!" seru Ayah kesal.

Tepat saat aku hendak membalas, Anna masuk ke ruangan. "Makan malam sudah tersaji," ucapnya.

Ayah, Angelo, dan Liliana berjalan menuju ruang makan sambil menggerutu kesal.

"Kurasa bukan ide bagus aku ikut makan malam," Sofi mulai berkata, tapi kuhentikan dengan ciuman cepat saat tak ada seorang pun terlihat. Meski aku tak peduli seandainya ada yang melihat kami. "Jangan lakukan itu!"

Aku tersenyum dan menciumnya lagi, sebab karena tangannya menggendong putriku, tak banyak yang bisa ia lakukan.

"Kau akan makan bersama kami, dan kau akan duduk di sampingku."

Sofia menghela napas. "Yah, terserah kau kalau mau memulai perang dengan ayahmu sendiri. Jelas aku tak disukainya, dan kurasa Mia juga tidak," ucapnya sambil mencium pipi putriku. "Aku tak tahu apakah baik bagi Mia berada di sekitar orang-orang seperti itu," tambahnya penuh sikap melindungi.

"Hanya beberapa menit saja. Aku akan mengusir mereka lebih awal, aku bersumpah," tambahku untuk meyakinkannya.

Aku sadar Mia adalah putriku dan Sofi pengasuhku, dan keduanya harus menuruti perintahku. Tapi aku tahu otoritas atas putriku berada di tangan perempuan cantik yang berdiri di hadapanku ini, sebab dialah yang merawatnya selama ini.

"Kalian tampak cantik," ucapku, dan keduanya memandangku sambil tersenyum.

Sialan, mereka cantik. Kurasa meski secara fisik keduanya sangat berbeda, Mia punya senyum Sofia dan beberapa gerak-geriknya.

Putriku meraih tanganku dan melemparkan ciuman penuh air liur ke arahku. Sofi tertawa sementara aku membalas ciuman putriku di salah satu pipinya yang tembam.

"Ayo."

Kami berjalan menuju ruang makan, dan begitu masuk aku langsung kesal. Tempat duduk di sisiku ditempati oleh ayahku di sebelah kanan dan Liliana di sebelah kiri.

"Berdiri," perintahku kesal.

"Maaf?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ini tempat duduk Sofia."

"Kau mau menyingkirkan putriku dari tempat duduknya demi si pengasuh?" tanya Angelo dengan angkuh.

Aku hanya melemparkan tatapan peringatan padanya.

"Liliana, minggir," perintahku.

Begitu ia berdiri, kutuntun Sofia ke kursi. Ia tak memandang siapa pun. Jelas ia merasa tak nyaman.

"Anna, tolong bawa kursi Mia."

"Tentu, Tuan," jawabnya dengan senyum lebar.

Aku bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu bahagia.

Beberapa menit kemudian Anna membawa kursi itu dan Sofia mendudukkan Mia di sana. Lalu, kami semua makan dalam diam, kecuali putriku, yang mengoceh kata-kata tak keruan.

"Di zamanku dulu, anak-anak tidak makan bersama orang dewasa," ucap Ayah.

Aku teringat semua saat aku menangis waktu kecil ketika ia memaksaku berpisah dari ibuku selama waktu makan. Mama beberapa kali coba menolak, tapi Ayah memukulinya beberapa kali sampai ia berhenti bersikeras.

Mia melempar makanan ke lantai, mengalihkanku dari kenanganku.

"Kurasa dia tak suka daging babi," ucap Sofia. "Aku akan mengambilkan buah dan ayam untuknya."

Aku mengangguk.

"Jaga dia," desaknya, sambil menatap curiga ke arah orang-orang lain di meja itu.

"Akan kujaga," janjiku.

Mata Angelo mengikuti Sofia, tertuju pada bokongnya.

"Ada yang hilang, Angelo?" tanyaku kesal.

"Aku hanya sedang memandang barang baru Anda, Capo."

Meski aku selalu bersikeras bahwa Sofia adalah milikku, aku tak suka bila ada yang menyiratkan bahwa ia adalah sebuah benda dan bukan seorang perempuan, yang sebagaimana selalu ia tegaskan, adalah manusia bebas.

"Kurasa temanku memerlukan jasa si pengasuh, kalau kau paham maksudku," Ayah mulai berkata. "Kubayangkan tak ada masalah mengirimnya ke rumah Angelo beberapa hari, sampai ia bosan padanya," tambahnya sebelum tertawa.

Kukepalkan tanganku, siap merenggut lidah ayahku, tapi kutahan diri karena Sofia muncul di ambang pintu dengan sepiring makanan untuk Mia.

Ia melewati Angelo dan pria itu meraih bokongnya.

"Ya, bokongnya bagus. Aku ambil dia."

Sebelum sempat bereaksi, Sofia berbalik dan meninju mata Angelo.

Ayah bangkit dengan murka. "Lakukan sesuatu!" perintahnya kesal padaku.

Aku bangkit dengan amarah mendidih di tubuhku. Kuraih parang yang tadi dipakai untuk memotong daging babi dan kucengkeram tangan Angelo. Sebelum ada yang berkata apa pun, kuayunkan satu tebasan telak, nyaris memutus tangannya sekaligus.

Kutebas sekali lagi dan tangan itu terpisah dari tubuh Angelo, yang tak berhenti menjerit.

"Gabriele!" seru ayahku sementara Liliana pecah menangis.

Kuambil tangan itu dan kupukulkan pada Angelo.

"Jangan pernah menyentuhnya lagi," desisku. "Lain kali kupotong kemaluanmu dan kusuapkan padamu." Kupandang ayahku dan kulemparkan parang itu ke sampingnya. "Keluar dari rumahku," perintahku. "Sekarang."

Semua bangkit dan menjauh. Angelo meraih tangannya dan memasukkannya ke ember berisi es yang tadi dipakai mendinginkan sampanye, lalu ia pergi membawanya. Kurasa jika ia cepat mendapat pertolongan medis, ia masih bisa menyambungnya kembali.

Kucari Sofia, tapi Mia dan dia sudah tak ada.

Sialan, kuharap aku tak membuatnya ketakutan.

1
fatmiatun sahono
tidak suka cerita berbau sexual. yg wajar sajalah....seperti nya cm ak yg ksh komen ne . yg lain. kemana ya 🙏💪💪💪
fatmiatun sahono
lucu nya baby sister cantikkkkk rambut nya kriwil2....hehhehe😄
fatmiatun sahono
ihhh ganteng nya tapi dingin tatapan nya...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!