Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehancuran Sang Bunga Beracun
Keheningan yang mencekam menyelimuti seluruh Aula Agung Kastil Valesia. Puluhan bangsawan klan serigala dan para anggota Dewan Tetua berdiri mematung dengan napas tertahan.
Di depan mimbar utama, Bianca Reinhardt membeku bagaikan patung es. Senyuman kemenangan yang tadinya terkembang di wajah cantiknya seketika luntur total, berganti dengan sorot mata yang dipenuhi rasa syok dan ketakutan murni.
Di hadapannya, Ceisya melangkah anggun di samping Fenrir Volkov. Gaun merah darah yang membalut tubuh rampingnya memancarkan pesona Ratu yang begitu berkelas dan dominan. Rona wajahnya segar bugar, tanpa ada sedikit pun tanda-tanda kelemahan atau pengaruh racun Eclipsis Toxica.
"B-Bagaimana mungkin..." cicit Bianca dengan suara bergetar hebat, mundur satu langkah hingga tumit sepatu hak tingginya menabrak gaunnya sendiri. "K-Kau... kau seharusnya sudah membusuk dan mati!"
Ceisya menyunggingkan senyuman miring yang teramat savage. Tangan lentiknya mengibaskan ujung gaunnya dengan santai.
"Aduh, Nona Bianca... mengecewakan banget ya?" celetuk Ceisya dengan nada manis yang mendinginkan suasana. "Maaf banget nih sudah bikin rencana racun mahalmu gagal total. Tapi ya gimana ya... racun Eclipsis Toxica buatanmu itu baunya terlalu menyengat, mirip racun tikus murah di pasar Kota Bawah. Mana tega aku meminumnya?"
"Kau... kau memfitnahku!" jerit Bianca histeris, menoleh pada para tetua di sekitarnya untuk mencari perlindungan. "Ayah! Dewan Tetua! Gadis murahan ini memfitnahku! Aku tidak pernah menyusupkan racun apa pun!"
Tetua Reinhardt melangkah maju dengan wajah tegang, mencoba membela putrinya. "Yang Mulia Alpha King! Anda tidak bisa mempercayai ucapan gadis tanpa klan ini begitu saja tanpa bukti yang nyata! Ini adalah penghinaan terhadap kehormatan Klan Reinhardt!"
Fenrir Volkov menyipitkan mata merahnya. Aura pembunuhan tingkat Alpha King meledak pelan, membuat seluruh pilar batu Aula Agung bergetar.
"Bukti?" suara bariton Fenrir bergetar rendah bagaikan guntur dari kedalaman neraka. "Kau minta bukti, Reinhardt?"
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki pengawal berzirah hitam bergema dari arah pintu samping. Dua pengawal menyeret seorang pelayan wanita bergaun abu-abu yang tangannya terikat rantai sihir. Pelayan itu tersungkur di tengah aula, menangis histeris dengan tubuh gemetar hebat. Di sampingnya, seorang pengawal membawa nampan perak berisi cangkir teh porselen dan botol kaca kecil berisi sisa racun ungu pekat.
"Ampun, Yang Mulia! Ampun!" ratip pelayan itu bersujud ke arah Fenrir dan Ceisya. "Nona Bianca yang menyuruh saya! Beliau membayar saya dengan sekeranjang koin emas dan mengancam akan membunuh keluarga saya jika saya tidak memasukkan racun Eclipsis Toxica ini ke dalam teh Yang Mulia Ratu pagi tadi!"
Seluruh Aula Agung seketika gempar! Bisik-bisik ketakutan dan cemoohan dari para bangsawan bergema riuh.
"Gila... Nona Bianca beneran mencoba meracuni calon Ratu?!"
"Kejam sekali! Menggunakan racun terlarang di dalam kastil kerajaan!"
Wajah Bianca seketika pucat pasi bagaikan mayat hidup. Seluruh sendi tubuhnya lemas hingga ia jatuh berlutut di atas pualam dingin, tidak sanggup lagi mengelak dari kenyataan.
Ceisya melangkah mendekati Bianca, menunduk sedikit menatap wanita yang dulu selalu menindasnya tersebut.
"Nona Bianca yang anggun..." bisik Ceisya dengan senyuman dingin, menyodorkan cangkir teh beracun itu tepat di hadapan wajah Bianca. "Karena kamu yang sudah capek-capek meracik teh ini... gimana kalau kamu sendiri yang menghabiskannya sampai tetes terakhir? Biar kamu tahu rasanya 'membusuk' yang kamu impikan buat aku."
"T-Tidak! Jangan! Jauhkan racun itu dariku!" jerit Bianca ketakutan setengah mati, membuang wajahnya dan merangkak mundur.
Ceisya menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan penuh kemenangan. "Oh, gak mau ya? Padahal tadi katanya ini cuma fitnah."
Fenrir melangkah maju, meletakkan tangan besarnya di bahu Ceisya, melindunginya secara mutlak di hadapan seluruh bangsawan. Matanya yang merah menyala menatap dingin ke arah Bianca dan Tetua Reinhardt yang berlutut ketakutan.
"Percobaan pembunuhan terhadap Ratu Valesia adalah kejahatan pengkhianatan tingkat tertinggi," vonis Fenrir dengan suara lantang yang menggelegar di seluruh penjuru aula. "Atas nama Alpha King Valesia... Aku mencabut seluruh gelar kebangsawanan Klan Reinhardt! Seluruh harta dan wilayah mereka disita oleh kerajaan!"
"T-TIDAK! YANG MULIA, AMPUNI KAMI!" jerit Tetua Reinhardt bersujud memohon.
Fenrir tidak memedulikan ratapan itu. Pandangannya terkunci lurus pada Bianca yang menangis histeris. "Dan untukmu, Bianca Reinhardt... Kau akan dijebloskan ke Penjara Bawah Tanah Es Valesia selamanya, tanpa ada hak pengampunan dari Dewan Tetua mana pun!"
"Seret mereka!" perintah Fenrir dingin.
Puluhan pengawal berzirah hitam langsung menyambar lengan Bianca dan ayahnya. Bianca menjerit-jerit histeris seraya diseret keluar dari aula pesta: "Fenrir! Ampuni aku, Fenrir! Aku melakukan ini karena aku mencintaimu! Gadis murahan itu tidak pantas untukmu! FENRIRRR!"
Suara jeritan Bianca perlahan menghilang menembus koridor gelap bawah tanah, meninggalkan keheningan yang luar biasa di Aula Agung. Para anggota Dewan Tetua yang tersisa berlutut gemetar, tak ada satu pun dari mereka yang berani mengangkat kepala atau membantah keputusan Sang Alpha King.
Usai eksekusi publik yang meruntuhkan Klan Reinhardt tersebut, Fenrir menggandeng tangan Ceisya kembali menuju suite utama.
Begitu pintu jati kamar tertutup dan sihir pengunci diaktifkan, suasana tegang di aula seketika mencair. Ceisya melepas sepatu hak tingginya dengan santai, lalu mendudukkan dirinya di atas sofa empuk sambil menghembuskan napas panjang.
"Pfft... akhirnya kelar juga drama Nona Sok Anggun itu," gumam Ceisya menyandarkan kepalanya. "Lihat muka pucatnya tadi bener-bener bikin puas banget!"
Fenrir melangkah mendekat, melepaskan jubah kebesarannya lalu berlutut di depan sofa, sejajar dengan tempat duduk Ceisya. Tangan besarnya yang hangat meraih jemari Ceisya, mengusapnya dengan kelembutan yang teramat kontras dari sosok kejamnya di aula tadi.
"Kau bertindak sangat luar biasa hari ini, manis," bisik Fenrir rendah, iris merahnya menatap lekat-lekat ke dalam mata cokelat Ceisya dengan pendaran kecanduan dan takjub yang mendalam.
Ceisya menyunggingkan senyum miringnya. "Iya dong! Ceisya gitu loh, gak bakal biarkan ada nenek sihir yang ngacak-ngacak hidupku!"
Fenrir terkekeh rendah—sebuah tawa tampan yang memikat. Pria itu memajukan tubuhnya, menangkup rahang Ceisya dan menunduk melumat bibir gadis itu dalam sebuah ciuman yang dalam, intim, dan dipenuhi gairah kepemilikan yang kembali membara.
"Kau bukan hanya kecantikanku, Ceisya..." bisik Fenrir di depan bibir Ceisya yang basah, napas panas mereka saling bersentuhan. "Kau adalah Ratu sejatiku... Dan malam ini, aku ingin merayakan kemenanganmu di ranjang ini."
Tangan kekar Fenrir mulai menyusup ke balik gaun merah darah milik Ceisya, melonggarkan ikatannya dengan keahlian yang memabukkan.
Ceisya memegang bahu kokoh Fenrir dengan napas yang mulai memburu, menyadari bahwa setelah kekacauan politik siang ini, "hukuman manis" dan perayaan gairah dari Sang Alpha King akan kembali menunggunya sepanjang malam.
Namun, jauh di luar benteng Kastil Valesia, di dalam kegelapan hutan bersalju...
Sebuah cermin sihir hitam milik Belva Vespera merekam seluruh kejadian jatuhnya Bianca dan Klan Reinhardt. Di samping Belva, Kaelen Blackwood berdiri dengan jubah serigala hitamnya, menyaksikan sosok Ceisya yang berdiri megah di samping Fenrir lewat bayangan cermin.
Kaelen menyunggingkan senyuman gila nan terobsesi, memperlihatkan taring tajamnya: "Luar biasa... Dia tidak hanya cantik, tapi iblis cerdas yang meruntuhkan klan besar dalam sekejap. Fenrir... menikmati wanitaku terlalu lama akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupmu. Persiapkan pasukan bayangan, Belva... Malam perayaan mereka akan menjadi malam penculikan Sang Ratu!"
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊