NovelToon NovelToon
My Shit Boss

My Shit Boss

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikesweetdevil

Menurut Tina, memiliki bos seperti Alfan itu menyebalkan. Sifat dan kepribadiannya yang aneh, sering kali membuat Tina ingin menyerah meski pada akhirnya ia tetap tidak bisa. Banyak hal yang mengharuskannya tetap bertahan, termasuk keinginannya untuk membahagiakan papanya.

Lalu apa jadinya bila Alfan menyuruh Tina untuk datang ke rumahnya di hari pertunangan adiknya, dan dengan entengnya mengatakan bila Tina adalah calon istrinya di depan seluruh undangan dan keluarganya.

Tentu saja, Tina merasa kesal dan marah, ia ingin bosnya menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Namun bosnya itu justru mengajukan perjanjian, menyatukan mereka ke dalam kesepakatan.

Mulai hari itu, mereka semakin dekat, hingga hari itu tiba, di mana Satria datang menghancurkan segalanya. Satria adalah cinta pertama Tina, namun juga luka untuk Alfan yang belum melupakan semuanya.

Ketiganya terjalin di sebuah takdir masa lalu, sanggupkah mereka bertahan dan bahagia atau justru berakhir sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 24

Part 24

"Sini kamu!" Harris menarik tangan Ratna, mengajaknya pergi dari kerumunan para undangan yang sedari tadi memerhatikan mereka.

"Apa sih, Pa?" tanya Ratna kesal lalu menarik lengannya setelah sampai di tempat sepi dari sisi gedung tersebut.

"Tadi itu anak Mama kan? Tina namanya?" 

"Kalau iya, kenapa?"

"Harusnya Mama bisa mencari kesempatan dengan masalah ini, bukan malah bersikap buruk dengan dia." 

"Kesempatan apa? Dia itu anak enggak berguna, untuk apa Mama bersikap baik?" tanya Ratna terdengar tak suka, ucapannya penuh keangkuhan seolah tak memiliki salah apapun.

"Dia akan menikah dengan Alfan, bagaimana mungkin dia enggak berguna? Dia bahkan jauh lebih berguna dari Diandra." Harris berujar serius, membuat Ratna terdiam mendengarnya.

"Papa tahu, Mama sangat membenci Alfan karena Diandra, tapi apa Mama enggak berpikir kalau perusahaan kita bisa saja bangkrut karena sikap Mama itu? Kalau bukan Tina yang bisa menyelamatkan kita, siapa lagi?"

"Maksud Papa apa? Tina bisa menyelamatkan kita? Itu konyol namanya." Ratna menjawab sinis, yang sempat membuat suaminya geram.

"Berhenti bersikap enggak peduli, kita bisa jatuh miskin hanya karena ini. Maksud Papa, Mama bisa baik ke Tina, supaya Alfan mau kembali bekerja sama lagi dengan kita. Mama tahu kan Tina itu calon istrinya Alfan, itu berarti Alfan akan menjadi calon menantu Mama, bisa Mama bayangkan kekayaan Alfan akan menjadi milik kita?" Harris berujar serius, kalau sudah mengenai uang, ia harus tetap bertahan apapun acaranya. Tak terkecuali harus baik pada Alfan yang memang terkenal menyebalkan, sebenarnya ia juga membencinya karena sudah berani menolak Diandra, namun mau bagaimana lagi, ia harus tetap ramah dengannya.

"Memangnya berapa kekayaan Alfan?"

"Puluhan kali lipat dari kita." Mendengar itu, Ratna tersenyum, merasa tak menyangka saja bila putrinya yang tidak berguna itu bisa mendapatkan orang kaya.

"Kalau begitu kita harus pindah ke Jakarta," jawabnya sembari tersenyum penuh arti, yang diangguki setuju oleh suaminya.

***

Tina terdiam di ranjangnya setelah menangis selama di perjalanan, bila dilihat dari ekspresinya, ia sudah sedikit lebih tenang sekarang. Sedangkan Alfan hanya menunggu di sampingnya, ia tidak tega bila harus meninggalkannya.

"Kamu sudah merasa lebih baik?" tanyanya kali ini yang hanya Tina angguki.

"Kalau boleh saya tahu kamu ada masalah apa dengan Tante Ratna? Kamu memanggilnya Mama, apa kamu putri kandungnya? Karena setahuku, Om Harris memang menikah dengan Tante Ratna setelah istrinya meninggal." Alfan kembali bertanya dengan hati-hati.

"Iya, Pak. Dia memang Mama saya, tapi saya sangat membencinya. Karena dia, hidup saya dan Papa saya hancur, kami menderita selama bertahun-tahun. Sekarang saya justru harus melihat dia bahagia dengan keluarganya, rasanya tidak adil. Sedangkan selama ini saya harus berjuang untuk tetap hidup, tidak bisa melanjutkan pendidikan, Papa saya juga lumpuh, saya merasa semua itu terjadi karena Mama saya."

"Diam-diam Mama saya mengambil alih seluruh harta Papa saya, lalu dia pergi dan menikah dengan lelaki itu. Saya dan Papa saya jatuh miskin, saya pindah sekolah, dan hidup serba kekurangan. Rasanya saya ingin marah melihat Mama saya bahagia," lanjut Tina sembari kembali menangis, sedangkan Alfan hanya bisa menghela nafas, ia tidak tahu Tina mengalami hal buruk itu.

Sekarang Alfan mengerti kenapa dulu Tina tiba-tiba pindah sekolah padahal sudah di pertengahan semester, itu semua tak lain karena Ratna, wanita yang memang sejak dulu kurang disukainya. Ya, Alfan memang kurang menyukai wanita itu, sikapnya yang sering membicarakan Diandra membuatnya muak, Alfan bahkan sempat menghindari Diandra. Saat wanita itu mengatakan akan menjodohkannya dengan Diandra, di saat itu lah Alfan merasa sudah tidak tahan. Dengan tegas, ia menolak Diandra tanpa mau memedulikan perasaannya.

"Saya mengerti perasaan kamu, saya juga membenci wanita itu." Alfan berujar ke arah telinga Tina, yang langsung ditatap heran oleh empunya.

"Kenapa Bapak membenci Mama saya?"

"Tante Ratna selalu membanggakan Diandra, dia bahkan ingin saya menikah dengannya, tapi saya langsung menolak. Tante Ratna langsung tidak menyukai saya, mulai hari itu kepribadiannya yang asli terlihat, sangat kekanak-kanakan." Alfan menjawab jujur.

"Kenapa Bapak tidak mau dengan Diandra? Dia kan cantik, Pak?" tanya Tina penasaran, diam-diam ia juga mau tahu kenapa bosnya itu bisa menolak wanita cantik seperti Diandra, karena menurutnya tidak ada yang kurang darinya.

"Dia itu seperti adik saya, mana mungkin saya menikahinya?" Alfan menjawab jujur, meski jauh dari alasan itu, Alfan mencintai Tina sudah sejak lama dan sangat berharap dipertemukan.

"Begitu ya, lalu kenapa Bapak mau datang ke sini bersama saya? Apa Bapak ingin membuktikan sesuatu? Bapak ingin Diandra bisa mengerti bila Bapak tidak bisa bersamanya karena juga akan menikah?"

"Tidak juga," jawab Alfan penuh arti, ia bahkan tidak mau bertemu dengan Diandra lagi, sebenarnya ia hanya ingin melewati perjalanan bersama dengan Tina, wanita yang dicintainya.

"Lalu apa alasannya Bapak mau jauh-jauh ke sini?"

"Ya mau bagaimana pun mereka itu rekan kerja saya dan orang tua saya, mana mungkin saya tidak datang, sedangkan saya diundang?" Alfan menjawab bohong yang hanya Tina angguki.

"Tapi Bapak enggak benar-benar serius kan saat bilang kalau Bapak mau memutus hubungan kerja sama dengan mereka?" tanya Tina terdengar waswas.

"Kenapa kamu bertanya itu?"

"Ya karena saya tidak mau kalau Bapak melakukan itu cuma karena saya." Tina menjawab penuh rasa bersalah, sedangkan Alfan hanya tersenyum, mana mungkin Alfan bisa melihat Tina hidup tidak tenang hanya karena manusia yang bisa ia buang kapan saja.

"Jangan terlalu percaya diri. Mana mungkin saya melakukannya cuma karena kamu?"

"Syukurlah kalau begitu," jawab Tina merasa lega, tanpa menyadari bagaimana Alfan tersenyum melihatnya.

"Oh ya, Pak. Kapan kita bisa pulang?"

"Besok pagi, saya sudah memesan tiketnya."

"Oke deh, Pak. Kalau begitu saya ganti baju dulu, terus saya istirahat ya? Saya mau sendiri ...." Tina menundukkan wajahnya di akhir kalimatnya, yang bisa Alfan mengerti perasaannya.

"Tidak usah. Kamu perbaiki saja riasan kamu, terus kita makan malam di warung makan khas Surabaya. Kamu pasti belum pernah ke sana, jadi sebelum kita pulang, kita akan mampir. Saya juga akan menunjukkan ke kamu tempat-tempat yang menarik di Surabaya, kamu pasti akan menyukainya." Alfan menyunggingkan senyumnya, ia ingin menghibur Tina dengan caranya.

"Iya, Pak. Saya mau." Tina menjawab antusias, ia juga berharap bisa melupakan kesedihannya.

 

1
Renjana
aku pun ikut kaget,🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!