Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 22 - Wajah di Balik Kebohongan
Cahaya perlahan menyinari wajah sosok itu — dan napas semua orang tertahan serentak.
Itu adalah Naga Langit Tertinggi.
Namun bukan wujud yang mereka kenal. Tubuhnya perlahan berubah — sisik keemasan memudar menjadi abu-abu kusam, matanya yang dulu hangat kini menyala merah pucat, dan suara yang keluar bukan lagi dentuman kekuatan kuno, melainkan dingin dan tajam.
"Kau…" Kai melangkah mundur, hatinya hancur lebih daripada saat dikhianati istrinya dulu. "Kau yang menjaga kami… kau yang menuntun kami…"
"Menjaga rencana, bukan kalian," potong makhluk itu tenang. "Aku telah melayani para Pengatur selama ribuan tahun. Tugasku memastikan takdir berjalan sesuai yang tertulis — memisahkan kalian, mengarahkan langkah kalian, dan menyerahkan Aurelia saat waktunya tiba."
Elara mencabut pedangnya, ujungnya mengarah lurus ke dada makhluk itu. "Jadi semua yang kau katakan? Semua bantuanmu?"
"Sandiwara," jawabnya datar. "Aku membiarkan kalian menang di tempat-tempat yang tidak penting, agar kalian percaya diri. Agar kalian datang ke sini dengan sukarela."
Ren mengepalkan tangannya erat. "Untuk apa Aurelia? Apa yang mereka inginkan darinya?"
Makhluk itu menatap gadis kecil itu, tatapannya bukan benci — melainkan keinginan yang haus. "Kekuatannya bukan sekadar menyembuhkan atau menyatukan. Ia adalah kunci — kunci yang bisa membuka gerbang ke tempat asal para Pengatur, dan juga kunci yang bisa mengunci mereka di sana selamanya. Mereka membutuhkannya untuk memerintah selamanya."
Kai melindungi Aurelia di belakang punggungnya. "Kau tidak akan menyentuhnya."
Makhluk itu tertawa pelan. "Kau pikir pertarungan ini baru dimulai? Aku sudah bisa mengambilnya kapan saja. Aku menunggu sampai kalian membaca catatan itu — agar kalian paham: perlawanan kalian sudah diperhitungkan sejak awal. Setiap langkah yang kalian ambil, setiap kemenangan yang kalian raih… semuanya sudah direncanakan."
Tiba-tiba suara lain terdengar — bukan dari makhluk itu, melainkan dari bayangan di sudut ruangan.
"Kau salah… tidak semuanya."
Semua mata beralih ke arah suara itu. Dari kegelapan muncul sosok yang mengejutkan mereka — sosok yang terlihat lemah, sebagian wujudnya memudar, namun matanya tetap teguh.
Itu Naga Langit Tertinggi yang asli.
Makhluk di depan mereka menggeram rendah. "Kau seharusnya sudah lenyap."
"Aku terikat, bukan hancur," suara aslinya lemah namun jelas. "Yang berdiri di hadapan kalian ini bernama Vorath Bayangan — ciptaan para Pengatur yang mengambil wujudku. Ia menempati tempatku sejak aku ditahan, menunggu saat yang tepat untuk menggantikanku sepenuhnya."
Kai menatap makhluk itu tajam. "Di mana yang asli? Di mana kau menyembunyikannya?"
"Di tempat yang kalian tak akan temukan," jawab Vorath Bayangan dingin. "Dan dia tak akan bertahan lama. Kekuatannya perlahan diserapku."
Aurelia mengintip dari balik punggung ayahnya, matanya menatap makhluk itu tanpa takut. "Mengapa kau melakukan ini? Kau juga pernah merasakan kesepian, kan?"
Vorath Bayangan terdiam sejenak, lalu tertawa sinis. "Aku tidak punya perasaan. Aku dibuat untuk satu tujuan. Dan sekarang — saatnya tiba."
Ia mengangkat tangan. Benda gelap di genggamannya bersinar terang, dan lantai di sekeliling mereka bergetar hebat. Retakan cahaya terbuka di udara — gerbang yang menarik mereka perlahan ke arahnya.
"Tidak ada yang bisa menghentikan ini," katanya. "Bahkan kalian sekalipun."
Kai menggenggam tangan Aurelia erat, lalu menatap teman-temannya. "Bersama-sama. Seperti biasa."
Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya — bukan menyerang, melainkan menyelimuti semua orang, menolak tarikan gerbang itu. Elara, Ren, Dagan, Lyra, Lirael — semuanya menyatukan kekuatan mereka menjadi satu perisai yang bercahaya terang.
Vorath Bayangan meraung, tarikan gerbang semakin kuat. "Sia-sia! Kalian hanya memperlambat yang tak terelakkan!"
Namun tiba-tiba cahaya lain menyatu dengan mereka — lembut namun kokoh, berasal dari arah bayangan tempat Naga Langit Tertinggi yang asli berdiri.
"Aku tak banyak bisa," suaranya bergetar. "Tapi aku bisa menunjukkan jalan… tempat para Pengatur bersembunyi."
Peta bercahaya muncul di udara — bukan peta dunia, melainkan peta tempat yang berada di antara dunia, tempat yang tak boleh diinjak siapa pun.
"Ia terhubung dengan Menara Langit Gelap," lanjutnya. "Dan di sana… Kaelan tidak sendirian. Ia sedang berjuang melawan ikatan yang menguasainya. Kalian bisa menyelamatkannya — sebelum para Pengatur menghapusnya sepenuhnya."
Vorath Bayangan tampak gelisah. "Diam! Tutup mulutmu!" Ia melontarkan gelombang kegelapan ke arah naga asli itu, namun perisai Kai menahannya.
"Kita pergi ke Menara Langit Gelap," ucap Kai tegas. "Sekarang."
"Tapi itu yang mereka inginkan!" bentak Vorath Bayangan.
"Justru itulah yang akan kita buktikan," jawab Kai. "Bahwa rencana mereka bisa gagal."
Dengan satu isyarat tangan, mereka melompat melewati retakan cahaya yang baru saja terbuka — bukan menuju gerbang para Pengatur, melainkan kembali ke jalan menuju Menara Langit Gelap. Vorath Bayangan meraung marah, namun terlambat — mereka telah lenyap.
Saat cahaya meredup, mereka berdiri di tempat yang mereka kenal — tebing menghadap Menara Langit Gelap yang menjulang tinggi di kejauhan. Namun kali ini, menara itu tampak berbeda — tidak lagi gelap sepenuhnya. Di puncaknya, ada cahaya yang berkedip-kedip pelan, seakan meminta tolong.
"Itu Kaelan," bisik Aurelia. "Dia masih di sana. Dia masih berjuang."
Kai mengangguk, dadanya penuh tekad. "Kita naik. Kali ini tidak ada yang mengusir kita. Tidak ada yang menahan kita."
Namun sebelum mereka melangkah, suara samar terdengar dari balik batu di dekat mereka — suara yang membuat semua orang berhenti mendadak.
"Jangan naik… jalan itu sudah dijebak."
Sosok merangkak keluar dari balik bayangan — pakaiannya compang-camping, wajahnya penuh luka, namun matanya tetap tajam.
Itu Guru mereka. Orang yang mereka yakini telah meninggal bertahun-tahun lalu.
"Guru…" Kai melangkah maju tak percaya.
Pria tua itu mengangkat wajahnya, dan tatapannya berat sekali.
"Kalian tidak tahu apa yang menanti di atas sana. Bukan hanya para Pengatur… ada rahasia tentang ibumu, Kai. Tentang siapa ibumu sebenarnya."
Kai tertegun. "Ibuku?"
Guru mengangguk pelan, lalu menunjuk ke arah menara.
"Dan dia… sudah menunggu kalian sejak dulu."