NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bara di Balik Penghormatan

Kabar tentang kesembuhan Wira menyebar secepat angin topan di antara dahan-dahan pohon raksasa perkampungan Alas Purba.

Hanya dalam waktu satu malam, demam tinggi yang membakar tubuh pemburu terbaik itu turun drastis. Luka menganga di dadanya yang telah ditautkan oleh benang bedah Hera tidak lagi mengeluarkan darah hitam berbau busuk. Pola jahitan yang rapi dan rapat itu menahan kulitnya dengan sempurna, mencegah infeksi kuku macan loreng yang biasanya berujung pada kematian yang menyiksa.

Pagi itu, suasana di bawah gubuk pohon terasa sangat berbeda bagi Hera Grahansa. Ketika ia turun dari tangga tali bersama Sulung, beberapa wanita klan yang biasanya menatapnya dengan pandangan penuh permusuhan dan ketakutan, kini melangkah mendekat dengan kepala tertunduk patuh.

"Profesor Penyembuh," panggil salah satu wanita paruh baya dengan suara bergetar. Wanita itu menyodorkan sebuah bakul anyaman yang berisi buah-bahuan hutan segar berwarna merah ranum dan sepotong daging rusa panggang yang masih hangat. "Ini untukmu. Terima kasih telah mengembalikan napas Wira."

Hera tertegun. Istilah "Profesor Penyembuh" terdengar sangat ganjil di telinganya, sebuah perpaduan antara status akademis modernnya dan kepercayaan mistis klan rimba. Ia menoleh ke arah Sulung yang berdiri tegap di sampingnya dengan tangan bersendekap di dada.

"Terima kasih," kata Hera pelan, menerima bakul itu dengan canggung. "Aku hanya mengobati infeksi bakt—maksudku, racun di tubuhnya. Dia hanya butuh banyak istirahat."

Wanita-wanita klan itu mengangguk takzim sebelum akhirnya melangkah mundur.

Penerimaan tulus dari penduduk klan Alas Purba ini perlahan mulai menyentuh sudut hati Hera yang paling dalam, menumbuhkan rasa respek yang kian mengakar pada kehidupan rimba ini. Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.

"Singkirkan makanan itu!" sebuah suara bariton yang berat dan sarat akan kebencian menggelegar dari balik semak belukar.

Penduduk klan yang berkumpul mendadak mundur teratur, memberikan jalan bagi seorang pria tua berambut putih panjang yang berjalan menggunakan tongkat kayu berkepala tengkorak burung purba. Tetua Bara melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi kemarahan murni, menatap Hera seolah-olah wanita kota itu adalah wabah penyakit yang paling mematikan.

"Tetua Bara," sapa Sulung rendah, melangkah satu pijakan ke depan untuk memosisikan tubuh besarnya tepat di depan Hera, melindunginya secara naluriah.

"Sulung! Kau telah membiarkan kesucian klan kita dikotori oleh penyihir dari dunia luar!" bentak Tetua Bara, menudingkan ujung tongkatnya yang tajam ke arah wajah Hera. "Pola-pola benang aneh di dada Wira, cairan racun yang dimasukkan lewat jarum besi ke dalam darahnya, itu adalah penghinaan terhadap hukum alam Alas Purba! Wanita ini menggunakan sihir hitam kota untuk menipu kematian!"

Hera yang tidak terima metodenya dihina sebagai sihir hitam, langsung menggeser tubuhnya dari balik punggung Sulung. "Ini bukan sihir, Tetua! Ini sains! Ini antiseptik dan antibiotik yang membunuh mikroorganisme di cakar macan. Jika aku tidak menjahit dadanya dan menyuntikkan obat itu, Wira sudah menjadi mayat sekarang!"

"Diam, wanita lancang!" wajah Tetua Bara memerah padam, urat-urat di lehernya menonjol tegang. "Kematian Wira adalah kehendak rimba yang harus dihormati! Jika rimba menginginkan darahnya, maka darahnya harus tumpah! Kau telah merusak keseimbangan tumbal hutan ini. Tindakanmu akan mendatangkan kutukan bagi seluruh klan kita!"

"Hukum rimba tidak pernah melarang kesembuhan, Tetua Bara," potong Sulung dengan suara yang teramat tenang namun bergetar penuh ancaman. Panglima rimba itu menatap sang tetua lurus-urus tanpa berkedip.

"Wira adalah pemburuku. Nyawanya adalah aset klan. Hera menyelamatkannya atas perintahku. Jika ada kutukan yang datang, biar aku yang menanggungnya."

"Kau terlalu buta karena bersanggama dengan wanita kota ini, Sulung!" desis Tetua Bara kejam, matanya melirik sinis ke arah tanda kemerahan di leher Hera yang sempat terekspos karena kerah jaketnya yang agak melonggar. "Kau melindunginya karena nafsu primitifmu, bukan karena kepentingan klan!"

Suasana di bawah pohon raksasa itu mendadak menjadi sangat dingin. Udara seolah membeku. Tangan kanan Sulung perlahan bergerak turun, mencengkeram hulu Khanjar purba di pinggangnya. Kilatan matanya berubah menjadi sangat liar dan berbahaya, insting teritorialnya langsung tersulut seratus persen.

Melihat situasi yang semakin kritis dan berpotensi memicu pertumpahan darah antarsesama anggota klan, Hera segera menarik lengan kekar Sulung. "Sulung, jangan. Cukup."

Sentuhan tangan lembut Hera di lengannya yang tegang bertindak seperti air es yang menyiram bara api. Sulung menarik napas dalam-dalam, mengendurkan cengkeramannya pada gagang Khanjar, walau tatapannya masih mengunci Tetua Bara dengan tajam.

"Bawa Wira ke gubuk perawatan utama," perintah Sulung kepada para pemburunya, mengabaikan keberadaan Tetua Bara yang masih mendesis penuh dendam. "Dan pastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh atau merusak balutan kain di dadanya."

Tetua Bara mendengus kasar, memukulkan tongkat kayunya ke tanah dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang bergaung.

"Kau akan menyesali keputusanmu ini, Panglima. Hutan barat tidak akan tinggal diam melihat kesuciannya dinodai." Pria tua itu berbalik dengan jubah kulit kayunya yang mengembang, melangkah pergi meninggalkan ketegangan yang masih tersisa di udara.

Hera menarik napas lega setelah punggung Tetua Bara menghilang di balik pepohonan raksasa. Ia mendongak menatap Sulung.

"Terima kasih karena telah membelaku lagi."

"Dia hanya orang tua yang ketakutan pada hal yang tidak dia pahami," jawab Sulung pendek.

"Ayo kembali ke gubuk. Udara di bawah sini sudah tidak aman untukmu."

Mereka berdua kembali menaiki tangga tali menuju gubuk bambu hitam di atas pohon tertinggi. Sesampainya di dalam, suasana canggung yang sempat mencair karena insiden pengobatan tadi kembali merayap masuk. Hera mencoba menyibukkan diri dengan merapikan peralatan medisnya yang berantakan di atas meja kayu kasar, sementara Sulung berdiri di dekat jendela, memandangi hamparan hutan dengan saksama.

"Penelitianmu tentang Dream Flower, apa benar-benar sudah selesai?" tanya Sulung tiba-tiba tanpa membalikkan badan.

Hera menghentikan gerakannya yang sedang memasukkan botol antiseptik ke dalam kotak polimer. Ia menatap punggung tegap Sulung.

"Ya. Struktur regenerasi selnya sudah terekam sempurna di tab-ku. Data ini sudah lebih dari cukup untuk membuat sintesis obat bagi ibuku di kota."

Ada jeda panjang di antara mereka. Hera meremas tali tas lapangannya. Ambisinya untuk segera pulang ke kota demi ibunya kini terasa sangat nyata, tetapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Rasa respek dan keterikatan aneh yang ia rasakan pada Sulung dan klan ini membuat keputusan untuk pergi terasa tidak semudah beberapa hari lalu.

"Jadi, kau akan benar-benar pergi?" suara Sulung terdengar sangat rendah, hampir seperti bisikan angin malam.

"Ibuku menungguku, Sulung. Aku tidak punya pilihan lain," jawab Hera lirih.

Hera berbalik untuk mengambil kotak medis terakhir yang berada di sudut ranjang tanaman merambat. Namun, karena pikirannya yang berkecamuk dan tidak fokus, kakinya lagi-lagi tersandung tepi anyaman bambu lantai gubuk yang agak menyembul.

"Ah—!"

Tubuh Hera limbung ke depan. Kotak medis di tangan dan tas lapangannya terlepas, isinya berhamburan ke atas kasur tanaman merambat.

Sulung yang memiliki insting berburu luar biasa, langsung berbalik dan melompat maju untuk menangkap Hera. Namun, karena gerakan Hera yang terlalu mendadak dan berat dari tas lapangan yang menyangkut di bahunya, tubuh besar Sulung justru ikut kehilangan keseimbangan.

Bruk!

Mereka berdua jatuh bersamaan di atas kasur tanaman merambat, dengan posisi tubuh Sulung yang menindih tepat di atas tubuh Hera.

Hera terengah-engah, matanya terbelalak lebar.

Wajah Sulung berada hanya beberapa sentimeter dari wajahnya. Aroma kayu gaharu dan tanah basah yang maskulin dari tubuh pria itu langsung menyerbu indra penciuman Hera, memicu kembali ingatan tentang ciuman panas mereka dua malam lalu. Napas Sulung yang hangat dan memburu menerpa permukaan kulit wajah Hera, membuat tanda kemerahan di leher wanita itu mendadak terasa berdenyut panas.

Sulung membeku. Kedua tangan besarnya berada di sisi kiri dan kanan kepala Hera, menahan berat tubuhnya agar tidak sepenuhnya menghimpit wanita di bawahnya.

Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata mata Hera yang dipenuhi kabut kepanikan sekaligus_, gai-rah yang kembali tersulut secara tidak sengaja.

Keheningan di dalam gubuk itu mendadak menjadi sangat pekat dan intim. Detak jantung mereka berdua berdentum serempak, bersahut-sahutan seperti genderang perang yang siap meledak dalam keremangan gubuk bambu. Tangan kiri Hera yang berada di dada telanjang Sulung bisa merasakan otot-otot pria itu mengencang, menahan dorongan insting teritorialnya yang kembali menggilai wanita kota di bawah kungkungannya.

Sulung menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat, tatapannya beralih ke bibir tipis Hera yang sedikit terbuka, mengundang bahaya yang sama yang hampir membuat mereka khilaf tempo hari. Hera memejamkan matanya perlahan, mengira batas itu akan kembali dilompati malam ini, atau bahkan saat ini juga di bawah terangnya matahari pagi.

Brak!

Pintu gubuk anyaman bambu hitam itu mendadak didorong terbuka secara kasar dari luar hingga menghantam dinding.

Seorang pemuda bertubuh tegap dengan busur panah di punggungnya melangkah masuk sambil membawa seekor ayam hutan hasil buruan.

"Kak Sulung! Lihat apa yang kubawa untuk makan sian—"

Kalimat pemuda itu terputus di udara. Dia membeku di ambang pintu dengan mata melotot dan mulut setengah terbuka. Ayam hutan di tangan kirinya hampir saja terlepas ke lantai bambu. Napasnya yang terengah-engah setelah menaiki tangga tali mendadak tertahan saat disuguhi pemandangan intim di atas kasur tanaman merambat.

"Astaga! Kakak?!" teriak pemuda itu dengan suara melengking terkejut, wajahnya mendadak memerah padam.

Dia adalah Sungsang, adik kandung Sulung yang baru saja kembali dari petualangan berburu di batas hutan utara.

Hera yang tersentak dari kabut gairahnya langsung diliputi rasa terkejut dan malu yang luar biasa. Wajahnya terasa terbakar hingga ke ujung telinga. Tanpa berpikir panjang, kedua tangan Hera bergerak dengan kecepatan kilat, mendorong dada tegap dan bidang Sulung dengan sekuat tenaga hingga pria itu tergeser mundur dan terduduk di tepi ranjang.

Sungsang dengan panik langsung membalikkan badannya membelakangi mereka, menatap kosong ke dahan pohon di luar.

"Ma-maaf! Aku bersumpah tidak sengaja! Pintu gubuk ini tidak dikunci dari dalam!" serunya gugup setengah berteriak, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Sulung mengembuskan napas berat, mencoba menguasai kembali rahangnya yang menegang. Tatapan mata elangnya beralih menatap adiknya dengan pandangan super dingin yang sanggup membekukan air sungai.

"Sejak kapan kau lupa cara mengetuk pintu sebelum masuk gubuk orang lain, Sungsang?" desis Sulung, suaranya terdengar sangat rendah dan sarat akan kekesalan yang tertahan.

Hera buru-buru bangkit berdiri, dengan panik membetulkan jaket lapangannya dan menyisir rambutnya yang berantakan menggunakan jari dengan canggung. Dia sengaja menyibukkan diri memunguti botol-botol antiseptik yang berhamburan, sama sekali tidak berani menatap wajah Sungsang ataupun Sulung. Rasa malu sebagai seorang profesor terpandang benar-benar hancur lebur di depan adik penculiknya sendiri.

"Aku_,aku hanya bersemangat karena baru pulang, Kak," jawab Sungsang terbata-bata tanpa berani menoleh sedikit pun. "Lagipula, ada hal penting yang ingin kukatakan. Di bawah_ Tetua Bara sedang mengumpulkan para prajurit. Dia menghasut mereka tentang pengobatan wanita kota pada Wira!"

Jangan lupa komen ya

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!