Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (17)
Penulis: Linda Lubi
Nurdin tidak tau bagaimana cara mencari Mbak Kunti. Tapi sepertinya jangan dulu. Yang ada nanti Salima bisa jambak-jambak Mbak Kunti.
Nurdin menyeruput kopi terakhirnya. Pisang goreng masih tersisa. Ia melihat Salima masih bercakap-cakap dengan dirinya. Ia tidak menyimak apa yang dibicarakan Salima dari tadi.
"Nah...masakannya sedikit lagi sudah matang, Bang." Ujar Salima yang tak tahu kalau Nurdin sudah menyandarkan kepalanya di kursi dan kakinya selonjoran.
Nurdin meski minum kopi tapi malah bisa tidur juga. Mungkin ia lelah dengan kehidupannya sekarang. Ia tertidur dan masih tetap tampan.
Begitu Salima melirik Nurdin, ternyata sudah pulas. Salima cuma bisa mencak-mencak. Ternyata dari tadi ia tak didengari.
Tapi Salima lebih suka Nurdin tidur daripada kelayapan. Jauh bikin ia nyaman. Setidaknya tak ada wanita yang pelototin Nurdin. Salima nggak rela. Nurdin cuma miliknya. Tak ada yang boleh mengambil Nurdin dari dirinya.
Salima jadi tenang dalam bekerja. Masakan sudah kelar. Segala perintilan masak sudah ia cuci. Kompor juga sudah dilap. Tinggal sapu-sapu saja. Tadi pagi sebelum mandi sudah ia sapu dan pel. Tapi rasanya tetap harus disapu lagi biar bersih.
"Loh...Mbak Kunti lagi di sini? Ke mana aja, Mbak?" Nurdin sepertinya mimpi Mbak Kunti. Mereka cipika cipiki seperti biasa
Ia melihat Mbak Kunti lagi makan tiwul. Aneh betul makanan Mbak Kunti. Di Aceh mana ada tiwul. Nurdin cuma bisa makan waktu masih tinggal di Jakarta. Untuk sarapan, bolehlah.
"Eh Nur. Sini makan tiwul bareng aku. Pasti kamu suka." Mak Kunti memberikan sebungkus tiwul. Ternyata Mbak Kunti beli tiwul 4 bungkus.
"Kebetulan Mbak. Aku sudah lama tidak makan tiwul."Nurdin langsung ikutan makan.
Mereka saling bercerita sambil ngakak. Perasaan Nurdin hidupnya sudah kembali seperti yang dulu. Bebas lepas.
"Apa kabar istrimu, Nur?"
Nurdin menggentikan makannya. Sepertinya sudah waktunya ia curhat sama Mbak Kunti. Mumpung ketemu.
Mbak Kunti menyimak semua curhat Nurdin. Ia mendengarkan seperti biasa tanpa memotong pembicaraan Nurdin. Jika Nurdin curhat, ia berasa menonton drakor.
Mbak Kunti dan Nurdin tiduran di rumput sembari tetap mendengar curhat Nurdin. Suasana malam semakin syahdu jika mendengar suara Nurdin. Tetap saja, Mbak Kunti sampai pakai Koyo. Nurdin tidak sadar jika Mbak Kunti pakai koyo.
"Begitulah Mbak. Aku sampai lelah dengan perkawinanku. Kebebasanku benar-benar hilang." Nurdin kaget begitu melihat Mbak Kunti sudah koyo-kan di jidatnya.
"Mbak Kunti sakit?" Tanya Nurdin polos.
"Ihihihi...nggak. Cuma pusing aja." Mbak Kunti kasih kode Nurdin untuk sama-sama merem.
Mereka akhirnya tertidur di bawah langit. Di rumput lapangan bola, yang jelas bukan kampung Nurdin seperti biasanya.
Nurdin seperti melihat wanita cantik di sampingnya. Bukan Mbak Kunti. Atau ini Mbak Kunti yang sedang nyamar? Nurdin memperhatikan sekujur tubuh perempuan itu. Tiba-tiba perempuan itu berbalik menatapnya.
Bukannya Nurdin suka. Malah ia takut Salima akan marah padanya. Nurdin kabur. Mbak Kunti jadi kesal. Kenapa harus kabur.
"Tidakkk....." Nurdin ngigau.
"Bang...Bang...bangunnn!"
Nurdin terbangun juga. Ia melihat Salima seperti melihat hantu. Takut kena marah.
"Abang mimpi ya? Mimpi apa?" Salima mengelap keringat di jidat Nurdin.
"Dek...sudah jam berapa?" Nurdin malah balik bertanya.
"Jam 12 Bang. Kenapa? Abang sudah lapar?" Tanya Salima.
Nurdin buru-buru berdiri dan ke kamar mandi. Ia ingin mencuci mukanya. Ia merasa seperti bukan mimpi. Tapi kenyataan.
Seandainya ia merespon Mbak Kunti sebagai perempuan cantik tadi, bisa kejadian. Oh no. Ia cuma menganggap Mbak Kunti hanya sebagai bestie.