Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sejak mendapat kabar tentang Bagas dari suruhannya, suasana di ruangan ini mendadak berubah total. Dikta benar-benar memperketat pengawasan. Setiap kali aku mengintip dari balik tirai jendela kamar, jumlah pria berjas hitam yang berpatroli selalu bertambah. Penthose ini tidak lagi terasa seperti tempat tinggal, melainkan markas militer yang siap perang. Dan anehnya lagi, Dikta melakukan ini untuk apa? Apa ia pikir aku ini penjahat yang lari dari kejaran musuh? Atau ia sengaja membuat ini semua agar Bagas tidak menemukanku.
"Neng Arin, ini sup ayam kampungnya dihabiskan, ya? Pak Dikta berpesan agar tidak ada makanan yang tersisa di piring Neng," ujar Bi Ina sore itu, meletakkan nampan perak di atas meja kecil dekat boks bayi Arkan.
Aku menghela napas panjang, menatap mangkuk sup yang masih mengepul. "Bi, apa Pak Dikta selalu se-paranoid ini? Penjaga di luar seperti mau menangkap teroris."
Bi Ina tersenyum canggung, lalu melirik arah jendela,"Bukan paranoid, Neng. Pak Dikta itu... kalau sudah menyangkut keselamatan Den Arkan, beliau tidak akan main-main. Den Arkan itu darah dagingnya sendiri, satu-satunya penerus beliau. Jadi, kalau ada sesuatu yang dianggap mengancam posisi Den Arkan, Pak Dikta pasti bertindak tegas."
"Dan aku ada di sini hanya sebagai mesin penyedia ASI untuk anak kandungnya," aku mencemooh pelan, melirik Arkan yang sedang tertidur pulas setelah menyusu. "Arkan anak yang suci, aku menyayanginya. Tapi statusku di sini... seperti sandera yang kebetulan memegang pasokan makanan untuk putra mahkotanya."
"Jangan bicara begitu, Neng. Pak Dikta itu orangnya dingin di luar, tapi..." kalimat Bi Ina menggantung saat langkah kaki berat terdengar dari arah lorong. Bi Ina langsung membungkuk hormat dan pamit undur diri begitu sosok tinggi tegap itu muncul di ambang pintu. Dia melirik mangkuk sup yang belum ku sentuh, lalu beralih menatapku.
"Kenapa belum dimakan?" tanya Dikta dengan tegas.
"Perutku masih mual karena vitamin besar yang Anda suruh telan tadi pagi, Pak," jawabku ketus.
Dikta melangkah masuk, memangkas jarak di antara kami. "Aku tidak menerima alasan. Nutrisimu harus terjaga agar kualitas ASI untuk Arkan tidak turun. Ingat, Arini, kau di sini dibayar. Jadi aku mintak makan sekarang!"
"Anda ini manusia atau robot?" nafasku mulai tersulut emosi. "Anda memperlakukan aku seperti mesin produksi! Apa Anda pernah berpikir bagaimana tekanan batin yang aku rasakan setiap kali melihat orang-orang bersenjata di luar? Aku hanya ibu susu di sini, bukan penjahat!"
"Tekanan batin?" Dikta mendengus, melipat kedua tangannya di dada. "Orang-orang di luar sana hanya untuk memastikan kau dan anakku tidak disentuh oleh pria sialan bernama Bagas itu. Jika kau sebut itu tekanan, maka kau tidak tahu apa artinya bahaya yang sesungguhnya. Tugasmu itu, cukup jaga kesehatan, susui Arkan dengan benar, dan jangan buat masalah."
"Bagas adalah suamiku! Dia melakukan semua ini karena kami miskin, karena kami terdesak!"
"Bagas adalah bajingan yang memanfaatkan ketidakberdayaanmu, Arini! Pria yang kau bela itu sedang merencanakan sesuatu di luar sana untuk mengambilmu kembali demi memeras hartaku. Dan asal kau tahu, jika bukan karena aku yang menahan berkas kasusnya, dia sudah membusuk di sel tikus sekarang. Jadi, patuhi aturanku, makan supmu, dan jangan memancing kemarahanku."
Aku terdiam, tenggorokanku tercekat. Ancaman darinya selalu membuatku tak berdaya. Dengan tangan gemetar, aku meraih sendok dan mulai menyuapkan sup itu ke dalam mulutku dengan paksa.
Dikta melangkah kembali ke ruang kerjanya dengan rahang yang masih mengeras. "Sialan. Dia sudah berani menjawab perintahku."
Selama bertahun-tahun memimpin bisnis keluarga dan menghadapi berbagai musuh di dunia bisnis, Dikta tidak pernah kesulitan menjaga ketenangannya. Namun, menghadapi Arini yang keras kepala selalu menguras energinya dengan cara yang berbeda. Ia menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja, lalu menyalakan layar monitor pengawas. Di salah satu layar, Dikta bisa melihat Arini yang sedang menyuap makanan dengan air mata yang berlinang di pipinya. Ada rasa sesak yang aneh di dada Dikta saat melihat pemandangan itu, namun dengan cepat ia menepisnya.
"Jangan lemah, Dikta. Arkan membutuhkan ASI-nya. Kau hanya perlu memastikan wanita itu menjalankan tugasnya dengan baik," batinnya mengingatkan diri sendiri.
Dikta tersentak ketika ponselnya di atas meja bergetar. Nama 'Hendra', kepala keamanannya, tertera di layar. Ia langsung mengangkatnya.
"Ada laporan baru?"
"Benar, Pak. Mata-mata kita di luar melaporkan bahwa Bagas mulai mendekati beberapa relasi lama Anda. Tampaknya dia sedang mencari dukungan finansial untuk menarik Bu Arini keluar dari kediaman Anda," lapor Hendra dari seberang telepon.
Dikta tersenyum sinis, jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu jati di hadapannya. "Biarkan dia mencoba. Perketat lagi pengawasan di ring satu. Jangan biarkan ada lalat pun yang masuk tanpa izin tertulis dariku. Arini adalah satu-satunya sumber nutrisi terbaik untuk Arkan saat ini. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu merusak rencana ini."
"Baik, Pak. Bagaimana dengan kondisi Bu Arini sendiri?"
"Dia terus membantah, tapi dia tahu posisinya. Awasi terus pergerakannya melalui CCTV." Dikta menutup telepon.
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, memejamkan mata sejenak. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tubuhnya begitu lelah, namun otaknya menolak untuk istirahat. Ketika ia membuka mata, pandangannya terjatuh pada sudut meja. Di sana, terdapat selembar kemeja bersih yang baru disetrika dan sebotol vitamin baru yang tadi sore disiapkan oleh Arini sebelum mereka berdebat. Ada kertas kecil terselip di sana.
Dikta mengambil kertas itu, “Vitamin ini diminum setelah makan malam. Anda sering melewatkan jam istirahat. Tubuh Anda bukan mesin.”
Dikta tertegun. Ia menatap tulisan itu cukup lama. Di rumah ini, semua orang melayaninya karena menganggap ia majikan yang keras. Ini adalah pertama kalinya seseorang memberikan perhatian kecil—bahkan dari seorang wanita yang berstatus sebagai ibu susu tawanan di rumahnya sendiri. Apakah ini taktik Arini agar Dikta berubah pikiran? Ataukah itu murni naluri kemanusiaannya?
Dikta membuka botol itu, mengambil satu butir vitamin, dan menelannya bersama seteguk air. "Wanita aneh," gumamnya pelan.
***
Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak bisa terpejam. Setiap kali aku mencoba menutup mata, bayangan Bagas yang menderita di penjara serta ingatanku tentang bayiku kini muncul kembali. Dada ini rasanya begitu sesak. Hormon pasca melahirkan membuat perasaanku menjadi seribu kali lebih sensitif. Aku merasa sangat kesepian di kamar yang luas ini. Aku merindukan suasana dulu, dimana Bagas selalu memberi kata penyemangat saat aku terpuruk. Aku juga merindukan bayiku... bayiku yang telah tiada.
Aku menatap Arkan yang tidur tenang di dalam boks bayinya. Aku menyayangi bayi ini seolah ia adalah anakku. Namun, setiap kali melihatnya menyusu padaku, hatiku justru semakin teriris. Kenapa aku harus menyusui anak kandung pria lain? Sementara bayiku sendiri meninggal sebelum sempat merasakan setetes pun ASI dari ibunya?
Rasa rindu pada bayiku tiba-tiba saja muncul. Gelombang postpartum blues menghantam jiwaku yang rapuh. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu bagi anakku sendiri, sementara di sini aku dipaksa menjadi ibu pengganti demi ambisi dari pria kejam seperti Dikta.
Aku turun dari ranjang, terduduk di lantai marmer yang dingin tepat di samping boks Arkan. Aku memeluk lututku dengan erat, menyembunyikan wajahku di sana, dan mulai menangis sesenggukan. Tangisanku yang semula tertahan perlahan berubah menjadi rintihan pilu yang tidak bisa ku kendalikan.
"Kenapa harus aku? Kenapa anakku yang harus pergi? Kenapa aku harus terkurung di sini?" ratapku dalam kegelapan kamar.
Cklek
"Arini? Ada apa denganmu? Apa yang terjadi?" Dikta menatapku tak percaya.
Aku mendongak dengan pandangan yang kabur Ia masih mengenakan kemeja yang sama, namun penampilannya terlihat sedikit berantakan. Wajahnya yang biasa datar kini memancarkan ekspresi yang tak biasanya.
"Pergi... kubilang pergi dari sini!" jeritku parau, mencoba mendorong tubuhnya saat dia berjongkok di hadapanku.
"Katakan di mana yang sakit! Apa kau pendarahan?" Dikta memegang kedua pundakku dengan panik. Suaranya yang biasa dingin kini terdengar cemas. Namun, matanya sempat melirik kilat ke arah boks bayi, memastikan Arkan tidak terganggu.
"Bukan badanku yang sakit, Pak! Hatiku! Pikiranku!" Aku berteriak di depan wajahnya, meluapkan seluruh kemarahan dan rasa yang kupendam selama ini. "Aku merindukan bayiku! Suamiku, Pak! Bayiku telah meninggal! Suamiku di penjara. Ditambah lagi, kau memperlakukan aku seperti mesin. Menguras air susuku untuk anak kandungmu! Aku harus menelan semua vitamin itu demi putramu, sementara anakku sendiri membusuk di dalam tanah. Aku tidak kuat lagi... lebih baik aku mati saja menyusul anakku!"
Aku mulai memukul-mukul dadaku sendiri, meluahkan kegelisahan yang kerab aku alami selama ini.
Dikta terpaku mendengar jeritan pilu Arini. Kata-kata wanita itu seperti godam besar yang menghantamnya. Selama ini, ia hanya melihat Arini sebagai sarana medis—seorang ibu susu yang sehat untuk memastikan Arkan mendapatkan nutrisi terbaik.
Menyaksikan Arini hancur berkeping-keping di depannya, memukul dadanya sendiri hingga meracau ingin mati, membuat ia panik. Sesuatu di dalam dirinya mendadak runtuh.
"Arini, hentikan! Jangan lakukan itu!" bentak Dikta, namun suaranya seperti ketakutan yang mengusik hatinya.
Ia dengan cekatan menangkap kedua pergelangan tangan Arini, menahannya agar wanita itu tidak menyakiti dirinya sendiri. Tubuh Arini bergetar hebat, keringat dingin membasahi dahinya, dan matanya menatap Dikta dengan pandangan kosong yang penuh penderitaan. Dikta langsung berbalik ke arah pintu lorong.
"Bi Ina! Bi Ina! Cepat ke sini!" teriak Dikta dengan suara menggelegar, memecah keheningan malam penthose itu. Napasnya memburu.
Tak butuh waktu lama, terdengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar. Bi Ina muncul di ambang pintu dengan wajah pucat. "A-ada apa, Pak Dikta? Neng Arin!" Bi Ina menutup mulutnya. Ia begitu terkejut melihat kondisi Arini di lantai.
"Bi, pegangi Arini sebentar. Jangan biarkan dia menyakiti dirinya sendiri!" perintah Dikta cepat.
Begitu Bi Ina berlutut dan merangkul tubuh Arini yang masih terisak, Dikta langsung merogoh saku celananya. Tangannya sedikit gemetar saat mencari kontak di gawainya. Tanpa memedulikan waktu yang sudah menunjukkan pukul dua pagi, ia langsung menekan tombol panggilan ke nomor pribadi Dokter Gunawan.
Panggilan tersambung pada nada ketiga. Suara serak khas orang terbangun menjawab di seberang, "Halo, Pak Dikta? Ada apa dengan Den Arkan?"
"Bukan Arkan, Dok. Ini Arini," potong Dikta cepat, suaranya rendah namun penuh desakan yang tidak bisa dibantah. "Dia histeris. Meracau ingin mati, memukul dadanya sendiri, dan tubuhnya bergetar hebat karena keringat dingin. Datang ke rumah saya sekarang juga. Saya tidak mau tahu, lakukan apa saja agar dia tenang!"
"Baik, Pak Dikta. Tenang dulu, tolong dekap dia agar merasa aman, saya akan segera meluncur dengan membawa obat penenang yang aman untuk ibu menyusui," jawab Dokter Gunawan, langsung menutup telepon untuk bersiap.
Dikta memasukkan kembali ponselnya. Ia menatap Arini yang kini mulai melemah dalam dekapan Bi Ina, namun matanya masih menyiratkan luka yang dalam. Perlahan, Dikta kembali berjongkok di hadapan Arini. Ia mengambil alih tubuh rapuh itu dari lengan Bi Ina.
Ini adalah pelukan pertamanya setelah kejadian yang memisahkan dirinya dengan Ibu kandung putranya. Ia mengisolasi diri dari sentuhan intim seperti ini. Tubuh Dikta terasa kaku, tangannya sangat canggung saat melingkari punggung Arini. Namun, ia mendekap dengan erat, mengunci tubuh Arini di dadanya agar Arini bisa tenang.
"Bi, ambilkan air hangat dan handuk kecil," perintah Dikta pada Bi Ina dengan suara yang mulai tenang. Bi Ina mengangguk cepat dan segera bergegas keluar.
"Lepaskan aku... lepas..." rintihku lagi.
"Diam dan bernapaslah, Arini. Ikuti perintahku, "bisik Dikta di dekat telingaku, "Tarik napas... buang... Dokter Gunawan sedang ke sini. Kau aman di sini. Aku tidak akan membiarkanmu hancur."
"Aku merindukan bayiku... rasanya sangat sakit, Pak..." isakku, mencengkeram erat kain kemeja abu-abu milik Dikta, seolah pria itu adalah satu-satunya tiang sandaran yang ku punya.