NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bayang Masa Lalu & Janji di Bawah Bulan

Udara pagi terasa lebih lembut dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap di sela dedaunan, menyentuh permukaan kolam kecil di halaman samping kediaman, membiaskan cahaya keemasan yang bergerak pelan di atas air. Meiying berdiri di tepinya, memegang kain tenunan pemberian Wei Chen di tangan, mengusap motif bunga krisan yang halus dengan ujung jari. Kain itu terasa hangat, seakan masih menyimpan kehangatan tangan wanita yang menenunnya bertahun-tahun lalu.

Suara langkah kaki mendekat dari belakang. Ia tidak menoleh, sudah mengenali iramanya — mantap, tenang, namun kini tidak lagi sekeras dulu.

"Ibu menenunnya saat aku masih kecil," suara Wei Chen terdengar pelan di sampingnya. "Ia sangat menyukai bunga krisan. Katanya, bunga itu mekar saat tanaman lain mulai gugur — tetap tegak meski angin musim gugur bertiup kencang."

Meiying menoleh, menatapnya. "Ia wanita yang bijaksana."

Wei Chen mengangguk, tatapannya jatuh ke permukaan air kolam, seakan melihat masa lalu yang terbenam di sana. "Ia meninggal saat aku berumur sepuluh tahun. Demam yang tak bisa diobati. Ayah... ia tidak pernah pulih setelah kepergiannya. Ia mengirimku ke perbatasan setahun kemudian, masih sangat muda, dengan pesan singkat: jadilah prajurit yang kuat, jangan pernah lemah."

Ia terdiam, napasnya terasa berat. "Aku pikir kekuatan berarti tidak merasakan apa-apa. Tidak peduli, tidak berharap, tidak mencintai — karena semua yang kau cintai bisa diambil darimu."

Meiying menatap profil wajahnya yang tegas namun kini rapuh. Selama ini ia berpikir ketegasannya adalah sifat aslinya, padahal itu hanyalah tembok yang ia bangun untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang tak pernah diobatinya sejak kecil.

"Kau tidak harus menjadi batu untuk tetap kuat," ucapnya lembut. "Menyimpan rasa sakit bukan berarti kau lemah. Dan berani mencintai... justru kekuatan yang lebih besar."

Wei Chen menoleh perlahan, matanya bertemu dengan mata Meiying. Ada sesuatu yang bergetar di kedalaman tatapannya — keraguan, keinginan, ketakutan yang mendalam.

"Bagaimana jika aku tidak bisa melindungimu?" tanyanya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara air yang mengalir. "Bagaimana jika semua yang pernah kucintai akan hancur?"

"Kau tidak harus melindungiku sendirian," jawab Meiying mantap. "Kita bisa berdiri bersama. Seperti bunga krisan — tetap tegak, meski angin bertiup."

Wei Chen menatapnya lama, seakan kata-kata itu menyentuh sesuatu yang sudah lama tertidur di hatinya. Perlahan ia mengangkat tangan, menyentuh pipi Meiying dengan ujung jari, lembut dan penuh rasa hormat.

"Kau sungguh luar biasa, Meiying," bisiknya.

Namun momen itu terputus tiba-tiba. Suara derap kuda terdengar mendekat, kencang dan mendesak, diikuti bunyi peluit pendek — tanda tamu dari istana yang datang dengan urgensi.

Keduanya menoleh. Seorang utusan berkuda berhenti di gerbang, napasnya memburu, wajahnya pucat. Ia melompat turun, berlari menghampiri Wei Chen.

"Jenderal... perintah Kaisar. Pamanmu, Tuan Li, dituduh berkhianat. Seluruh keluarganya ditahan. Dan nama Anda ikut terseret ke dalam tuduhan ini."

Darah seakan pergi dari wajah Wei Chen. Ia mundur selangkah, tangannya turun perlahan dari pipi Meiying.

"Tuan Li... paman yang membesarkanmu setelah ayahmu pergi?" tanya Meiying pelan.

Wei Chen mengangguk kaku. "Ia satu-satunya keluarga yang tersisa."

Utusan itu menunduk rendah. "Kaisar memanggil Anda ke istana segera. Ada yang mengatakan Anda bersekongkol bersamanya."

Keheningan yang berat menyelimuti mereka. Ini bukan sekadar tuduhan biasa — ini bahaya nyata, yang bisa merenggut nyawa, jabatan, dan kedamaian yang baru saja mereka temukan.

"Saya ikut," ucap Meiying mantap.

Wei Chen menoleh, matanya membelalak. "Tidak. Kau tidak boleh. Jika ini jebakan..."

"Kita sudah sepakat, bukan?" potongnya lembut namun tegas. "Kita berdiri bersama. Saya tidak akan membiarkanmu menghadapinya sendirian."

Wei Chen menatapnya, ingin menolak, namun melihat keteguhan di wajahnya, ia akhirnya mengangguk pelan. "Baik. Tapi tetap di sisiku. Jangan bicara kecuali aku memberi isyarat. Dan apa pun yang terjadi... jangan tinggalkan aku."

"Saya tidak akan pergi," janji Meiying.

 

Aula istana terasa dingin dan suram. Langit di luar kelabu, seakan ikut berduka. Di depan takhta, sekelompok pejabat tinggi berdiri berbisik-bisik, melirik ke arah Wei Chen dan Meiying saat mereka melangkah masuk. Kaisar duduk di atas takhta, wajahnya tak terbaca, namun tatapannya tajam seperti pedang yang belum ditarik.

"Wei Chen," suaranya bergema di aula luas itu. "Kau tahu mengapa kau dipanggil ke sini."

"Aku tahu, Baginda," jawab Wei Chen, berlutut di lantai batu yang dingin. Meiying berlutut di sampingnya, jantungnya berpacu kencang namun ia menahan diri agar tidak gemetar.

"Pamanmu, Tuan Li, ditangkap kemarin malam. Bukti tertulis menunjukkan ia berhubungan dengan musuh di perbatasan. Dan di antara surat-suratnya, ada nama kau disebut berkali-kali." Kaisar menatapnya tajam. "Apa kau bersekongkol dengannya?"

Wei Chen mengangkat wajahnya, tenang dan tegas. "Aku tidak menyangkal kedekatan kami, Baginda. Tuan Li membesarkanku. Namun ia tidak pernah memintaku melakukan hal yang membahayakan kekaisaran. Jika ada nama aku disebut, mungkin itu karena ia berusaha melindungiku, bukan melibatkanku."

"Melindungimu?" seorang pejabat tinggi melangkah maju — Tuan Zhang, pria yang dulu menyapa Meiying di pesta itu. "Atau menggunakan namamu untuk menyusun rencana?"

Suara berdebat terdengar di antara para pejabat. Tuduhan itu menyebar seperti api kering. Beberapa mendukung Wei Chen, yang lain menuduhnya dengan tajam. Meiying menyadari — ini bukan sekadar urusan pengkhianatan. Ini pertarungan kekuasaan. Musuh-musuh Wei Chen memanfaatkan situasi ini untuk menjatuhkannya sepenuhnya.

"Baginda," suara Meiying terdengar tiba-tiba, jernih dan tenang di tengah keributan. "Izinkan saya berbicara."

Semua mata tertuju padanya. Kaisar mengangkat alis. "Bicaralah, Nyonya Wei."

Meiying tidak gemetar. Ia menatap lurus ke arah takhta. "Saya baru tinggal di kediaman Jenderal beberapa waktu. Namun selama itu, saya melihatnya bangun sebelum fajar, berlatih pedang, memeriksa laporan pasukan, dan tidur larut malam. Ia tidak pernah menerima tamu rahasia, tidak pernah menerima hadiah mencurigakan, tidak pernah berbicara hal yang tidak pantas. Jika ia berkhianat, apakah ia akan membiarkan saya melihatnya dengan begitu jujur setiap hari?"

Tuan Zhang menyela cepat. "Siapa yang tahu apa yang tersembunyi di balik pintu tertutup? Kau mungkin bagian dari rencananya!"

"Jika saya bagian dari rencana," jawab Meiying tenang, menatapnya lurus, "mengapa saya berdiri di sini membela kebenaran? Mengapa tidak diam saja?"

Ia berbalik menghadap Kaisar. "Baginda, kesetiaan seseorang tidak bisa dinilai hanya dari surat yang ditulis orang lain. Lihatlah tindakannya selama bertahun-tahun. Lihatlah perbatasan yang damai karena ia bertempur di sana. Lihatlah pasukan yang mempercayainya. Dan beri kesempatan untuk membuktikan kebenaran, sebelum menjatuhkan hukuman."

Kaisar terdiam, menatap Meiying lekat-lekat, lalu beralih ke Wei Chen. Perlahan ekspresi keras di wajahnya melunak sedikit.

"Kata-katamu teguh, Nyonya Wei," ucapnya pelan. Ia berdiri. "Aku tidak akan menghukumnya hari ini. Tapi ia akan tetap di bawah pengawasan. Ia dilarang meninggalkan ibu kota sampai kebenaran terungkap sepenuhnya."

Suasana hening. Wei Chen menunduk, napasnya terasa lega namun berat. "Terima kasih, Baginda."

 

Saat mereka melangkah keluar dari gerbang istana, langit mulai menurunkan hujan — rintik halus yang perlahan menjadi deras. Mereka berlindung di bawah atap sebuah paviliun batu di taman istana, menunggu hujan reda.

Wei Chen bersandar di dinding batu, menutup matanya, bahunya merosot pelan. "Kau tadi berani," ucapnya tanpa membuka mata. "Sangat berani."

"Saya hanya berkata apa yang saya lihat," jawab Meiying, berdiri di sampingnya.

Ia membuka mata, menatapnya. "Kau hampir saja mencurigakan di mata mereka. Kau tahu itu?"

"Saya tahu. Tapi saya tidak bisa diam saja melihatmu dituduh tanpa bukti."

Wei Chen tersenyum tipis, senyum yang penuh rasa syukur sekaligus kesedihan. Ia mendekat, memegang kedua tangan Meiying di tangannya, menghangatkannya.

"Selama ini saya berpikir hidupku hanya tentang tugas dan kewajiban," ucapnya lembut, hujan di luar makin deras, menutupi suara dunia luar. "Bahwa tidak akan ada yang peduli jika aku jatuh. Tapi kau... kau berdiri di sana, membela aku, seakan nyawamu sendiri terancam."

"Karena memang terancam," jawab Meiying pelan, menatap matanya. "Jika kau hancur, bagian dari diriku juga akan hancur."

Wei Chen menatapnya, lalu perlahan mendekatkan wajahnya, seakan takut mengejutkannya. "Meiying... sejak pertama kali melihatmu di pelataran, berdiri tegak meski ketakutan, aku tahu kau berbeda. Namun aku takut mengakui perasaanku. Takut kau akan pergi, takut semua yang kucintai akan diambil seperti dulu."

"Kau tidak akan kehilanganku," janji Meiying, menyentuh pipinya. "Saya di sini. Bukan karena perintah, bukan karena kewajiban. Karena saya mau."

Wei Chen memejamkan mata, mencium lembut telapak tangan yang menyentuh wajahnya. "Terima kasih," bisiknya. "Kau mengajarkan saya untuk berharap lagi."

Di bawah suara hujan yang mendera atap batu, ia menarik Meiying ke pelukannya — pelukan hangat, penuh rasa syukur dan keteguhan, seakan menyatukan dua hati yang selama ini berjalan sendirian dalam kegelapan.

 

Namun bahaya belum berlalu.

Di kejauhan, di balik tirai jendela aula istana, seseorang memperhatikan mereka berdua — Tuan Zhang. Wajahnya gelap, tangannya mengepal erat. Ia tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja.

"Kebersamaan kalian tidak akan bertahan lama," bisiknya pelan pada diri sendiri. "Aku akan menghancurkan apa pun yang membuat Wei Chen bahagia."

Dan di kediaman yang dulu sepi, malam itu terasa berbeda. Saat mereka pulang, lampu-lampu menyala hangat. Aroma teh hangat tercium dari ruang tengah. Di ambang pintu, Wei Chen berhenti, memegang tangan Meiying sebelum ia masuk ke kamarnya.

"Besok akan sulit," ucapnya pelan. "Mereka akan mencari celah. Kita harus tetap waspada."

"Kita akan melewatinya," jawab Meiying, meremas pelan tangannya. "Bersama-sama."

Wei Chen mengangguk, lalu mencium keningnya dengan lembut, perlahan dan penuh hormat. "Tidurlah, sayangku. Aku akan menjagamu."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Meiying tidur tenang. Bukan karena tak ada bahaya, melainkan karena ia tahu — ia tidak sendirian.

Dan di kamar sayap barat, Wei Chen duduk di tepi tempat tidurnya, memegang selembar kain tenunan ibunya yang ia ambil kembali sebentar. Ia membukanya, melihat motif bunga krisan yang indah.

"Ibu," bisiknya pelan ke kegelapan. "Terima kasih. Aku akhirnya menemukan seseorang yang layak menerima ini."

Ia melipatnya rapi, menyimpannya di tempat yang aman, lalu menatap jendela ke arah kamar Meiying. Tidurlah, pikirnya. Aku akan menjagamu. Apa pun yang terjadi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!