Sepuluh tahun Dominic Qiel Ashford mempertaruhkan kesetiaannya hanya untuk ditolak berulang kali oleh Florence Nightingale, wanita yang menolak ikatan pernikahan. Luka penolakan itu akhirnya mendorong Dominic pada keputusan gila di sebuah malam yang pekat.
Di tengah frustrasi, ia mendapati Ester Alba—mahasiswi berbeasiswa sekaligus guru privat keponakannya—terjebak dalam gaun seksi di bar elit demi mencari biaya operasi sang ayah.
Demi menyelamatkan harga dirinya sekaligus melampiaskan keputusasaan, Dominic mengajukan penawaran berbahaya. Sebuah kesepakatan terikat yang menuntut kepatuhan mutlak, jauh dari ranah cinta.
Namun, saat rahasia alasan sebenarnya di balik kebencian Florence pada pernikahan mulai terkuak, Ester menyadari bahwa ia bukan sekadar pelampiasan—melainkan kunci dari permainan emosi yang siap menghancurkan mereka bertiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#23
Sinar matahari sore menyusup perlahan melalui tirai transparan di dalam kamar pribadi Dominic Ashford.
Suasana di dalam ruangan berukuran luas itu terasa begitu kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di meja makan utama mansion.
Tidak ada lagi teriakan histeris Florence, tidak pula tatapan menghakimi dari sang kepala keluarga. Yang tersisa hanyalah keheningan yang sarat akan sisa-sisa emosi.
Ester Alba berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah taman belakang, memeluk kedua lengannya sendiri. Pikirannya masih melayang pada rentetan drama pagi tadi.
Langkah kaki tegap mendekat dari arah belakang.
Aroma parfum maskulin khas kayu cendana menyapa indra penciumannya sesaat sebelum dua tangan kokoh melingkar hangat di pinggang rampingnya, menarik tubuhnya bersandar pada dada bidang Dominic.
"Menikah? Apa kau sungguh-sungguh serius, Tuan?" suara Ester terdengar lirih, nyaris berbisik pada angin.
"Saya... saya hanya membantu menyelesaikan kekacauan ini..."
Dominic membenamkan dagunya di ceruk leher gadis itu, menghirup aroma vanila lembut dari rambut Ester. Pria 32 tahun itu mendengus pelan, lalu membalikkan tubuh Ester secara perlahan agar menghadapnya.
"Berhenti memanggilku 'Tuan', Ester," ucap Dominic dengan nada tegas namun penuh kelembutan.
Jemari besarnya terulur, menyelipkan beberapa helai rambut cokelat ke belakang telinga gadis itu. "Panggil namaku. Kau bukan pelayan atau guru privat di rumah ini. Kau adalah wanitaku."
Ester menunduk sejenak, mengerjap pelan untuk meredam gejolak di dadanya.
"Nic..." panggilnya ragu-ragu.
"Hm?" gumam Dominic rendah, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka nyaris bersentuhan, sementara tangannya terus membelai lembut helaian rambut Ester.
"Menikah... bukankah seharusnya dilandasi oleh rasa saling mencintai?" suara Ester perlahan meredup di udara, tenggelam oleh keraguan yang sengaja ia pamerkan untuk memancing sisi pelindung pria di hadapannya.
Dominic terdiam sejenak.
Manisnya tatapan mata abu-abu gelap itu menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Ester tanpa keraguan.
"Maka aku akan segera mencintaimu," jawab Dominic mantap, tanpa ragu sedikit pun.
"Belum mencintai sepenuhnya pada detik ini bukan berarti aku tidak akan pernah bisa mencintaimu, Ester. Tapi satu hal yang pasti: aku merasa begitu nyaman setiap kali berada di dekatmu. Kau membuatku bisa bernapas di saat dunia di sekitarku runtuh. Kau mau? Menikah denganku?"
Ester mendongak, menatap manik mata pria itu dengan sorot mata yang menyiratkan luka. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu berkata dengan suara bergetar, "Aku tidak ingin menjadi... sekadar pelarian."
Deg.
Kata-kata itu menghantam dada Dominic bagaikan hantaman palu tak kasat mata.
Pria itu terdiam seribu bahasa. Ia menatap lekat-lekat mata Ester yang mendadak berkaca-kaca—bukan akting, melainkan sebuah kejujuran pahit yang merasuk hingga ke sumsum tulang.
Ya.
Jantung Dominic seakan berhenti berdetak sesaat.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Dominic tahu persis bahwa pada malam pertama mereka, Ester memang lahir sebagai bentuk pelarian terbesarnya dari rasa frustrasi akibat penolakan Florence.
Pahitnya kenyataan itu menggantung di udara di antara mereka, membuat Dominic kehilangan kata-kata untuk membantah.
Melihat Dominic terdiam kaku tanpa mampu menyangkal, air mata Ester benar-benar tumpah di pipinya.
Rasa sakit dari kebenaran itu menusuk dadanya.
Namun, di balik air mata kepedihan tersebut, tekad Ester kian membaja. Ia tidak akan pernah mengalah. Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menghalangi jalannya bersama Dominic untuk meraih kebebasan mutlak dan kekuasaan di atas dinasti Ashford.
Merasakan kerapuhan dan air mata di pipi gadis yang ada di dalam dekapan nya, dada Dominic mendadak terasa dihantam rasa bersalah yang teramat sangat.
Pria itu langsung mendekap tubuh Ester lebih erat, membenamkan kepala gadis itu di dadanya.
"Ester... dengarkan aku," bisik Dominic parau, suaranya sarat akan penyesalan dan ketulusan yang tumpah ruah. "Kau sama sekali tidak kuanggap sebagai pelarian. Sungguh! Sejak aku mendapati kenyataan bahwa akulah pria pertama yang menyentuhmu... rasa beruntung itu merubah segalanya."
Dominic mengangkat dagu Ester dengan lembut, menghapus sisa air mata di pipi gadis itu menggunakan ibu jarinya.
"Aku merasa terikat padamu tanpa adanya beban apa pun," lanjut Dominic dengan napas hangat yang menerpa wajah Ester. "Aku tahu aku memulainya dengan cara yang salah, tapi..."
Sebelum Dominic sempat merampungkan kalimatnya, Ester berjinjit sedikit dan menempelkan bibirnya di bibir pria itu, membungkam segala penjelasan panjang lebar dengan sebuah ciuman yang sarat akan penyerahan diri.
"Aku percaya kepadamu... Terima kasih, Nic," bisik Ester lembut saat bibir mereka terlepas.
Dominic tersenyum tipis, sorot matanya melembut luar biasa. Pria yang selama sepuluh tahun dikenal dingin, kaku, dan patah hati akibat drama toksik Florence itu mendadak merasa menemukan sisi hidup yang baru.
"Tidak sulit untuk jatuh cinta, bahkan sepuluh kali dalam sehari, jika itu adalah diriku yang bersamamu," bisik Dominic penuh penghayatan, suaranya terdengar begitu manis sekaligus getir saat ia mengingat betapa pahitnya ia mengalami patah hati sebelum akhirnya takdir mempertemukannya dengan Ester.
"Kau bukan pelarian, Ester. Kau adalah takdir yang menyelamatkanku."
Di dalam kamar yang hangat itu, mereka berdua terbuai dalam dekapan yang panjang. Pelukan yang menyatukan dua jiwa dengan motif yang berbeda namun saling mengunci erat dalam satu ikatan tak terelakkan.
Di tengah keheningan yang nyaman itu, sebuah ingatan melintas di kepala Ester. Gadis itu mendongak perlahan, menatap wajah Dominic dari dekat.
"Nic... lalu, bagaimana dengan ayahku?" tanya Ester lirih. "Apa kau... akan memindahkan perawatannya ke New York?"
Mendengar pertanyaan itu, Dominic mengangguk tanpa ragu. "Tentu saja. Sore ini juga, aku akan menyuruh asisten pribadi Dad untuk mengurus seluruh administrasi perpindahan rumah sakit ayahmu dari Boston ke rumah sakit terbaik di New York. Beliau akan mendapatkan perawatan medis paling layak di sini."
Ester mengerjap pelan, merasakan gelombang kelegaan yang luar biasa menyapu dadanya.
Ayahnya akan aman.
Jarak antara Boston dan New York yang selama ini menjadi celah bagi teror Tristan akan dipangkas habis oleh kekuasaan penuh seorang Ashford.
Namun, sedetik kemudian, sebuah seringai kecil terbit di sudut bibir Ester. Ia sengaja ingin menguji batasan kesabaran dan rasa kepemilikan pria di hadapannya.
"Lalu... bagaimana dengan kekasihku—maksudku, mantanku..." panggil Ester sengaja menggantungkan kalimatnya, menatap Dominic dengan sorot mata penuh godaan terselubung. "... Tristan?"
Deg.
Nama itu langsung membuat rahang Dominic mengeras seketika.
Sisi posesif seorang Ashford mendadak tersulut bagaikan percikan api yang menyiram bensin. Pria 32 tahun itu menyipitkan matanya, menatap Ester dengan tatapan tajam yang sarat akan kecemburuan murni.
"Jangan pernah menyebut nama pria lain di hadapanku, Ester," geram Dominic rendah, sebelah tangannya meremas pinggang Ester sedikit lebih erat, seolah takut gadis itu akan direbut darinya detik itu juga.
"Dia masa lalumu. Dan mulai hari ini, tidak ada pria lain di dunia ini yang berhak memanggil namamu selain aku."
Melihat reaksi cemburu buta dari pria berdarah dingin itu, Ester justru merasa sangat menikmati pemandangan tersebut.
Jantungnya berdesir senang.
Dominic, sang pengusaha sukses yang disegani banyak orang, kini tampak begitu rapuh sekaligus mendominasi hanya karena rasa cemburu terhadap bayang-bayang masa lalunya.
Ester sengaja semakin mendekatkan tubuhnya, melingkarkan kedua lengannya di leher Dominic, lalu berbisik dengan nada manja yang menggelitik telinga pria itu.
"Kenapa? Kau cemburu, Tuan Ashford?" goda Ester dengan senyuman maut di bibirnya.
Dominic mendengus pelan, namun sebuah senyuman kecil akhirnya terbit di bibirnya.
Tanpa membuang waktu, pria itu merengkuh pinggang Ester dan mendaratkan ciuman yang dalam dan menuntut, menenggelamkan segala keraguan dan bayang-bayang masa lalu di dalam dekapannya yang hangat.
love sekebon kebonnya 😍/Kiss/
sekejap saja bacanya,kayak kurang panjang 😄
di tunggu kelanjutannya Thor 💪
berasa sedikit bacanya 🤭
makasih Thor sudah up 🙏