NovelToon NovelToon
TERJERAT TAKDIR

TERJERAT TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Rara

Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Makanan Jepang

Selesai dari toko baju, Devan mendadak menarik tangan Aira menuju ke arah toko perhiasan berlian. Mengingat dulu saat menikah Devan sama sekali tidak memberikan seserahan untuk Aira, kini Devan berniat menebus semuanya.

"Sayang, kita ke toko berlian, yuk." ajak Devan santai.

Mata Aira langsung membola. Belanja baju barusan saja sudah menghabiskan hampir lima juta rupiah, dan sekarang suaminya malah dengan entengnya mau mengajak ke toko berlian?

"Hah? Nggak usahlah, Mas! Baju-baju tadi aja udah mahal banget, ngapain lagi harus ke toko berlian segala? Harga berlian itu mahal banget, lho." tolak Aira cepat.

"Sayang, dulu waktu kita nikah, aku nggak bawa seserahan apa-apa. Jadi sekarang aku mau belikan kamu berlian sebagai gantinya." jawab Devan tenang.

Aira makin kebingungan melihat suaminya yang tiba-tiba seperti punya banyak uang. Dalam hatinya membatin, dari mana Devan bisa mendapat uang sebanyak itu untuk membelikan barang-barang mewah?

"Tapi... Mas dapet uang sebanyak itu dari mana?" tanya Aira curiga.

"Ya dari kerjalah, Sayang. Masa dari mana lagi?" jawab Devan sambil tersenyum.

"Tapi emang sebanyak itu gaji kuli bangunan?" tercaos pertanyaan itu dari mulut Aira.

"Gaji kuli bangunan?" Devan malah balik bertanya, sementara Aira hanya bisa mengangguk polos.

"Mana aku tahu gaji kuli bangunan berapa, Sayang." sahut Devan.

Aira melotot kaget. Bagaimana bisa suaminya tidak tahu berapa gaji kuli bangunan, padahal setahunya Devan bekerja sebagai kuli bangunan?

"Hah? Kamu aneh banget sih, Mas. Kuli bangunan kok nggak tahu gajinya sendiri?"

"Memangnya kapan aku pernah bilang kalau aku kerja jadi kuli bangunan?" Devan menatap Aira sambil terkekeh. "Ah, udah lah. Ayo kita jalan lagi."

Devan sengaja menahan diri. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan pekerjaan aslinya pada Aira. Dia khawatir kalau terus terang sekarang, Aira justru tidak percaya. Jadi, Devan membiarkan istrinya itu terus menebak-nebak sendiri.

"Lebih baik kita pulang aja yuk, Mas. Aku takut Ibu bakal ngomel-ngomel kalau kita pulang kemalaman." bisik Aira khawatir.

"Loh, kok malah minta pulang sih, Sayang? Kan baru selesai beli baju."

"Nggak apa-apa, Mas. Kita pulang aja, aku takut Ibu marah dan ngomong yang enggak-enggak lagi." kekeh Aira.

"Oke, kita pulang. Tapi seenggaknya kita makan dulu, ya. Dari pagi aku belum makan nih, laper." ajak Devan yang memang belum sempat menyentuh makanan.

"Boleh deh, Mas. Kita mau makan di mana?"

"Kamu ikut aku aja." Devan langsung menggenggam jemari Aira dan membawanya menuju sebuah restoran Jepang mewah di dalam mall.

Aira tertegun saat melangkah masuk. Seumur hidup, baru kali ini dia menginjakkan kaki di restoran sekelas ini. Tadinya dia mengira Devan hanya akan membawanya makan bakso atau mangkal di warung pinggir jalan.

"Mas, kamu serius mau makan di sini?" bisik Aira ragu.

"Iya, dong. Kamu harus cobain makanan Jepang di sini, rasanya enak banget." jawab Devan yakin.

Masalahnya buat Aira bukan sekadar enak atau tidak, tapi harganya! Wajar saja Aira serba perhitungan, sebab sejak kecil dia selalu dituntut berhemat demi memenuhi keinginan Ibunya.

"Udah, nggak usah protes. Kamu duduk aja, biar aku yang pesan menunya." potong Devan sebelum istrinya sempat mengomel. Aira pun hanya bisa pasrah dan menurut.

Batin Aira terus bergejolak. Nggak mungkin Devan berani mengajaknya ke tempat semewah ini kalau tidak punya uang untuk bayar. Aira makin dibuat berputar otaknya memikirkan pekerjaan Devan yang sebenarnya karena tadi Devan sudah mengisyaratkan bahwa dia bukan kuli bangunan.

Tak lama kemudian, berbagai hidangan lezat disajikan di atas meja. Sukiyaki, ramen, hingga sushi. Mata Aira seketika berbinar. Biasanya makanan-makanan itu cuma bisa dia lihat di layar televisi, tapi sekarang semuanya tersaji nyata di depan matanya.

"Ayo dimakan, Sayang." Devan menyodorkan sumpit.

Aira mulai menyuap. Rasanya benar-benar memanjakan lidah! Ternyata lidahnya cocok dengan makanan kekinian seperti ini. Sudah lama Aira memendam rasa penasaran ingin mencoba, tapi dompetnya yang selalu tipis tak pernah mengizinkan.

Rasa penasarannya kini terbayarkan, walau masih ada satu makanan lagi yang sering berseliweran di TV dan sangat ingin dia cicipi, pizza.

"Ini enak banget, Mas! Mi-nya beda banget sama mi instan di rumah." celetuk Aira polos.

Devan terkekeh. Ya jelas bedalah, ramen berkualitas disamakan dengan mi instan rumahan.

...****************...

Sementara itu di tempat lain...

Karin pulang ke rumah dengan wajah ditekuk dan napas memburu. Dadanya sesak diliputi rasa iri yang membakar. Bagaimana tidak? Dia menyaksikan sendiri kakak perempuannya bisa belanja barang-barang mahal, sedangkan dirinya justru menanggung malu karena tidak sanggup membayar barang belanjaannya sendiri.

"Ih, menyebalkan banget! Memalukan! Kok bisa-bisanya aku nggak sadar kalau saldo kartu cuma sisa 500 ribu? Pantas aja tadi ketolak pas bayar!" gerutu Karin ngomel-ngomel sendiri.

Selama ini Karin terbiasa hidup enak, seenaknya pergi ke salon, beli skincare, dan belanja ini-itu sampai tak sadar kalau limit kartunya sudah habis.

Bu Ismi yang melihat anak bungsunya pulang dengan raut wajah melipat jadi heran. Harusnya Karin pulang dengan hati senang setelah perawatan di salon.

"Kamu ini kenapa sih, Karin? Habis perawatan bukannya senang malah mukanya dilipat begitu?" tegur Bu Ismi. "Mana ini Kakakmu, disuruh nganterin kue aja lamanya minta ampun, kayak nganterin ke luar kota aja!" cerocosnya.

Karin mendengus sinis. "Ngapain Ibu nungguin Mbak Aira? Orang dia tadi asyik jalan-jalan di mall sama suaminya!"

Mata Bu Ismi langsung membola mendengarnya.

"Apa?! Jadi mereka berdua malah keluyuran ke mall? Enak banget hidupnya! Bukannya langsung pulang bantuin Ibu beres-beres malah keluyuran! Mau ngapain coba ke mall, uang aja pas-pasan kok gaya-gayaan ke sana segala!" omel Bu Ismi bersungut-sungut.

Bekas pembuatan kue tadi memang membuat dapur dan perabotan berantakan, membuat Bu Ismi terpaksa membersihkannya sendiri.

"Iya, Bu. Lagian ke mall pakai baju kayak gembel begitu, Nggak punya malu apa?" timpal Siska yang baru saja tiba di rumah.

Kehamilan trimester pertamanya membuat Siska gampang lelah, jadi dia memutuskan minta izin pulang lebih awal.

"Tahu tuh, Bu! Mereka malah hambur-hamburin uang cuma buat beli baju-baju mahal di sana." adu Karin makin panas. "Tadi Karin nggak sengaja ketemu mereka di toko baju. Mbak Siska sama Ibu tahu enggak? Mbak Aira itu dibelikan baju-baju mahal sama suaminya! Aku kira Devan nggak bakal sanggup bayar, eh ternyata malah bisa! Justru Karin yang nggak bisa bayar baju sendiri gara-gara kartu Karin limit! Sumpah, Karin malu banget tadi, Bu!" adu Karin dengan nada jengkel.

"Ya ampun, malu-maluin banget sih kamu! Masa wanita karier seperti kamu sampai nggak bisa bayar belanjaan sendiri?" cibir Siska pedas.

"Dasar sontoloyo! Giliran Ibu tagih buat nyumbang di pernikahan kamu, bilangnya nggak punya uang! Bener-bener ya Kakak kamu itu. Awas saja kalau dia sampai rumah nanti!" sergah Bu Ismi emosi. "Seharusnya tadi kamu minta bantuan Kakakmu buat bayarin belanjaanmu dulu, Karin, biar kamu nggak menanggung malu di sana!"

Karin makin cemberut. "Boro-boro, Bu! Orang dia langsung ngacir gitu aja setelah selesai bayar! Baru pegang uang sedikit aja udah dipakai foya-foya. Seharusnya sebagai Kakak, Mbak Aira itu mikirin adiknya yang mau nikah, bukan malah uangnya dipakai beli barang-barang nggak penting!" gerutu Karin masih membara ingat rasa malunya.

"Kalau Mbak Siska sih, Ibu harap maklum ya, Karin. Soalnya Mbak Siska kan butuh uang banyak buat biaya lahiran nanti, jadi nggak bisa bantu banyak." celoteh Siska membela diri.

"Ibu sudah paham kalau soal itu, Siska. Jadi nggak masalah." potong Bu Ismi cepat. "Tapi awas aja nanti kalau Aira sampai nggak bisa nyumbang 5 juta di acara nikahan Karin!"

"Harusnya bisa banget sih, Bu. Tadi aja dia belanja baju habis hampir lima juta rupiah!" celetuk Karin memanas-manasi.

Mata Bu Ismi makin melotot mendengarnya. "Ya Tuhan, Ibu nggak habis pikir sama pikiran Kakakmu itu! Punya uang harusnya ditabung, bukan malah dipakai foya-foya begitu! Tempat tinggal aja masih numpang di sini, baru pegang duit sedikit udah sok-sokan beli barang nggak penting!"

Pola Bu Ismi ini memang konyol. Kalau anak-anaknya yang lain belanja barang mewah dia tidak pernah mengomeli mereka, tapi begitu Aira yang belanja, habis-habisan Aira disemprot dan disudutkan.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka. Aira dan Devan akhirnya pulang sambil membawa kantong oleh-oleh makanan lezat untuk Bu Ismi berharap hati sang Ibu bisa sedikit melunak. Bagaimanapun, Aira masih tetap mengingat Ibunya di rumah.

"Assalamualaikum..." sapa Aira lembut.

Karin langsung memutar bola matanya malas. "Tuh, orangnya udah pulang."

"Bagus ya kamu! Disuruh nganterin kue malah keluyuran nggak jelas! Bukannya langsung pulang bantuin Ibu beres-beres dapur!" semprot Bu Ismi tanpa jeda.

Aira menghela napas panjang. "Ada orang ucap salam itu dijawab dulu, Bu. Bukan malah langsung ngomel-ngomel begini."

"Waalaikumsalam!" sahut Bu Ismi ketus.

"Aira minta maaf, Bu. Lagian tadi kan bikin kuenya juga udah hampir selesai. Kita cuma jalan-jalan sebentar, harusnya nggak masalah kan? Lagipula selama ini Aira juga nggak pernah jalan-jalan keluar, Bu." ujar Aira membela diri dengan tenang.

"Ini ada oleh-oleh makanan buat Ibu." Devan ikut menyodorkan bungkus makanan berkelas yang dibelinya tadi.

"Halah! Bilang aja itu makanan buat nyogok biar Ibu nggak marah!" seru Karin sengit.

"Pinter banget ya caramu biar nggak dimarahi." imbuh Siska tak kalah pedas.

Walau mulutnya mencibir, tangan Bu Ismi dengan cepat menyambar kantong makanan itu dari tangan Devan. Dari merek di paper bagnya saja, Bu Ismi langsung tahu kalau menantunya ini membawa makanan mahal.

"Oleh-olehnya Ibu terima, tapi Ibu tetap marah sama kalian!" tegas Bu Ismi sok jual mahal. "Harusnya kamu nggak usah keluyuran begitu! Ibu mintain uang sumbangan buat acara nikahan adikmu bilangnya keberatan, tapi kalau buat shopping gaya-gayaan punya uang!"

Aira menatap suaminya sejenak, lalu kembali menatap Ibunya. "Iya, ya udah. Nanti Aira nyumbang 5 juta di acara nikahannya Karin, puas?" Berhubung Devan tadi sudah mengizinkannya, Aira tanpa ragu langsung menyanggupi nominal tersebut.

Dalam hati, Aira merasa heran setengah mati pada sikap Ibunya. Entah kenapa, tiap kali Aira menyukai atau membeli sesuatu untuk dirinya sendiri, Ibunya selalu tidak suka. Di mata sang Ibu, Aira seolah tidak pernah benar.

"Seharusnya kamu itu bantuin adikmu buat bayar belanjaannya tadi! Dia sampai menanggung malu di depan umum gara-gara nggak bisa bayar!" tambah Bu Ismi lagi.

Mendengar omelan ajaib itu, Aira dan Devan hampir saja tersedak menahan tawa. Lagipula, Aira mana tahu kalau tadi adiknya kehabisan limit kartu dan terdesak?

"Apa? Seorang Karin yang pekerja kantoran sampai nggak sanggup bayar belanjaannya sendiri? Ya ampun, malu-maluin banget! Tadi aja sombong banget meremehkan Aira, eh nggak tahunya malah diri sendiri yang kelabakan nggak bisa bayar." ejek Aira sambil mengukir senyum puas.

Karin yang merasa skakmat langsung kepanasan. "Senang banget ya kamu melihat aku malu di depan umum?!" hardik Karin dengan napas memburu menahan emosi yang meluap-luap.

"Yaelah, kamu baru bisa belanja segitu aja udah sombongnya setengah mati, Ra." timpal Siska tajam. "Lagian percuma aja kamu pakai baju mahal kalau wajahmu tetap aja kusam. Tetap bakal kelihatan jelek!"

Karena selama ini Bu Ismi selalu membela Siska dan Karin, keduanya jadi makin berani menyudutkan Aira tanpa rasa bersalah.

Devan melangkah maju, memotong perdebatan itu dengan tatapan dingin.

"Sudah, cukup." potong Devan tenang tapi menusuk. "Tadi Kamu terlihat begitu jumawa di hadapan kami, sampai kami tidak menyangka kalau Kamu ternyata tidak bisa membayar belanjaanmu sendiri. Lagipula aku dan Aira sudah pergi duluan, jadi kami tidak melihat momen itu. Ayo Sayang, kita ke kamar."

Malas melayani keributan yang makin tidak bermutu, Devan langsung menggenggam erat jemari istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Aira tersenyum tipis mengikutinya. Suaminya itu benar-benar keren bisa membalas sindiran mereka dengan kata-kata yang begitu elegan, tapi telak membungkam.

**Bersambung**

1
Sri Supriatin
Wah senengnya Devan mau bikin pesta pernikahan... Rezeki Aira🙏🙏🙏
Sri Supriatin
Bener kt bp mu Karin, pasti bakal nyesel kan🤭🤭🤣🤣
Nenk Shila
knp nggk keluar aja sih, devan ajak istrimu tinggal d luar hadeuuh lemah
Sri Supriatin
Sorry Aira salah typo... Tks double upnya thor🙏🙏
Sri Supriatin
Biasa yg kaya setengah2 ngk ngehargai status, kel oma Devan mah luar biasa... Selamat Aria diterima tulus sm oma 🙏🙏💪💪
Sri Supriatin
Kereeen si Devan 👍👍💪💪
Sri Supriatin
Tambah seru thor, double up dong🙏🙏
🌺WASI'AH_MISKA🍁😘
semangat thor🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
Bagus Aria keluar aja kan Devan sudah ngajak biar tau rasa kalau Devan mapan 👍😍😍😍
Tuty Yatun
sering2 up dong kak bagus ceritanya asal jgn terlalu bertele2 seperti sinetron ikan terbang🤭🤣
Noona Rara: Hehehe iyaa kak
total 1 replies
Cha Libra
thour ..novel mu masih bnyak yg On going npa udh nongol yg baru terus setiap cerita hampir Sma smua
Noona Rara: Iya kak. Untul novel sebelumnya itu udah stuck. Nggak bisa aku kembangin lagi.
Dan untuk kenapa ceritanya hampir sama karena memang aku fokusnya ke drama keluarga yah.
Jadi saat ini fokus aku kedua novel aja. Terjerat Takdir dan suksesnya istri yang tersakitii.
Makasih kak udah mau baca🙏🏽
total 1 replies
Sri Supriatin
Saya hadiir thor baru aja bc marathon n seryuuu👍🙏🙏🙏
Noona Rara: Makasih ya udah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!