"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Menjemput Masa Depan
Matahari sore mulai meredup, memancarkan bias jingga keemasan yang menembus jendela pavilion keluarga Lazuardi.
Zahira melangkah masuk ke dalam bangunan kecil yang tenang itu, melepaskan tasnya setelah seharian membagi waktu antara pekerjaan kafe dan persiapan akhir materi.
Tubuhnya terasa begitu lelah, namun ada sedikit rasa lega karena ia bisa sejenak melarikan diri dari ketegangan rumah utama keluarga Sumargo.
Baru saja Zahira hendak mengambil handuk dan beranjak ke kamar mandi, ketukan nyaring di pintu depan memotong langkahnya.
"Assalamu'alaikum... Zahira! Pake ditanya lagi, ini aku, Gisel!" suara familiar itu terdengar ceria dari luar, menyertai ketukan pintu yang tak sabaran.
Zahira terkekeh pelan seraya memutar kunci. Begitu pintu terbuka, Gisel langsung menerobos masuk dengan wajah bersungut-sungut, melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu ya! Kenapa semalam enggak pulang ke sini?" cecar Gisel tanpa aba-aba, menatap sahabatnya dengan penuh selidik. "Aku nungguin tahu! Takutnya kamu kenapa-kenapa setelah drama motor mogok kemarin."
Zahira tersenyum tipis, mengisyaratkan Gisel untuk duduk. "Maaf ya, Sel. Semalam Papi chat, minta aku pulang ke rumah. Katanya ada yang mau dibicarakan, sekalian Papi mau dengar persiapan sidangku besok."
Raut wajah Gisel seketika berubah paham, meski ada guratan khawatir yang tersisa. "Oalah... pantesan. Ya udah deh kalau Papi kamu yang minta." Gisel lalu memperbaiki posisi duduknya, menatap Zahira tajam dengan binar antusias.
"Terus gimana buat besok? Udah siap tempur buat sidang skripsi?"
"Insya Allah siap, Sel. Doain ya," jawab Zahira tulus.
"Pasti dong! Oia, besok aku, Hanum, sama Dimas bakal datang pagi-pagi banget ke kampus!" seru Gisel mantap.
"Kita bertiga udah siapin bunga paling bagus buat kamu. Pokoknya kita bertiga yang bakal berdiri paling depan pas kamu keluar dari ruang sidang!"
Gisel jeda sejenak, menatap Zahira dengan sudut mata yang menyembunyikan keibaan.
Ia hafal betul bagaimana dinamika keluarga sahabatnya itu. "Lagian... aku udah hafal banget, keluarga kamu pasti enggak bakal ada yang hadir, kan apalagi adik kamu si ulet jengkal yang sombong itu?"
Zahira tertunduk, membisu. Kata-kata Gisel tepat mengena di bagian terlembut hatinya. Tidak ada sanggahan, karena memang itulah kenyataan yang harus ia telan setiap kali merayakan momen penting dalam hidupnya.
Karlina dan Bianka mustahil bersuara mendukung, sementara Damian... papinya selalu terlalu sibuk dengan kerjaannya di kantor atau tertahan oleh dominasi Mami Karlina.
"Mungkin... cuma Vidi yang datang, Sel," bisik Zahira lirih, memecah keheningan. Ia mendongak, mencoba mengukir senyum kecil.
"Besok sebelum ke kampus, aku mau mampir ke sekolah Vidi dulu buat jemput dia. Dia antusias banget dari kemarin, bilang mau lihat kakaknya sidang."
Gisel hanya bisa menghela napas panjang, menatap Zahira dengan rasa kasihan yang mendalam.
"Vidi emang adik yang manis, Ra. Tapi tetap aja... Papi kamu itu lho. Bener-bener enggak pernah keliatan ada di samping kamu di saat-saat penting begini... Harusnya beliau lihat gimana berjuangnya kamu dari awal kuliah, kerja keras sendiri tanpa ngerpotin siapapun."
Zahira hanya tersenyum samar, enggan memperpanjang bahasan tentang papinya.
Gisel menyandarkan punggungnya ke sofa pavilion. Dalam hati, ia menyadari betapa beruntungnya dirinya. Ia tumbuh di atap rumah utama keluarga Lazuardi yang penuh dengan kehangatan dan kasih sayang berlimpah.
Walau kadang ia kerap berselisih paham dan bertengkar kecil dengan kakak laki-lakinya, rumahnya selalu menjadi tempat berlindung yang aman, sangat berbanding terbalik dengan nasib Zahira.
Pikiran Gisel melayang, mendadak diliputi rasa rindu pada sosok kakak laki-lakinya yang sudah beberapa tahun ini berada di luar negri.
Ia melamun sejenak, membayangkan keributan kecil yang biasa mereka buat di meja makan.
"Sel? Gisel?" teguran lembut Zahira menyentakkan Gisel dari lamunannya. Zahira yang sudah memegang handuk menatapnya heran.
"Kok malah melamun? Aku mandi dulu ya, biar segeran dikit."
"Eh? Ah, iya, Ra! Mandi sana, mandi!" sahut Gisel cepat, mengibaskan tangannya seraya tertawa canggung.
Tepat saat pintu kamar mandi tertutup dan gemericik air mulai terdengar, ponsel di dalam saku celananya Gisel berdering nyaring. Nama Om Elvan tertera di layar.
[Gisel langsung menggeser ikon hijau. "Halo, Om Elvan?"]
["Gisel, kamu di mana sekarang? Di pavilion tempat Zahira atau di rumah utama?" suara berat nan berwibawa Elvan terdengar dari seberang telepon.]
["Lagi di pavilion Zahira, Om. Kenapa?"]
["Bisa ke rumah utama sebentar? Om mau berpamitan. Malam ini Om harus berangkat ke bandara, ada panggilan kerja mendadak ke Dubai untuk beberapa bulan kedepan."]
["Hah? Ke Dubai lagi. Malam ini, om?!" seru Gisel kaget. "Ya udah, Om, Gisel ke sana sekarang!"]
Gisel mematikan sambungan teleponnya, lalu setengah berlari menghampiri pintu kamar mandi. Ia mengetuk pintunya agak kencang seraya berteriak melampaui suara gemericik air.
"Ra! Zahira! Aku balik ke rumah utama dulu ya! Om Elvan telepon, dia mau pamitan karena ada panggilan kerja mendadak ke Dubai malam ini! Aku duluan ya, Ra!"
Dari balik pintu kamar mandi, suara Zahira menyahut setengah berteriak, "Iya, Sel! Hati-hati."
Gisel segera melangkah keluar dari pavilion, meninggalkan Zahira yang terdiam sejenak di bawah kucuran air mandi mendoakan kelancaran perjalanan pria berwibawa yang kemarin telah menolongnya, sekaligus menyiapkan mental untuk pertarungan besok: sidang skripsi yang akan menentukan masa depannya.
.
.
Pagi hari yang mendebarkan akhirnya tiba. Gedung Fakultas Ekonomi kampus tempat Zahira berkuliah tampak riuh oleh lalu lalang mahasiswa, namun suasana di lorong lantai dua terasa begitu mencekam bagi Zahira.
Berkas skripsi di pelukannya ia dekap erat, mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu kencang.
Di sebelah Zahira, Vidi yang mengenakan kaos polos dan celana sekolah berdiri sigap. Wajah remaja itu dipenuhi binar kebanggaan.
"Kak Zahira tenang saja," bisik Vidi seraya memegang lengan kakaknya. "Kakak itu cerdas. Vidi yakin Kak Zahira pasti lulus dengan nilai terbaik. Vidi bakal tungguin Kakak tepat di depan pintu ini."
Zahira tersenyum haru, mengelus lembut kepala adiknya. "Terima kasih ya, Dek. Kehadiran kamu di sini saja sudah bikin Kakak merasa tenang."
Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggelegar dari ujung lorong. Gisel, Hanum, dan Dimas berlari menghampiri dengan wajah ngos-ngosan.
"Ra! Ampun deh, jalanan macet banget!" cerca Hanum seraya memegangi lututnya, namun tangannya tak lepas memeluk seikat bunga segar yang indah.
"Tapi tenang, kita bertiga enggak akan melewatkan momen bersejarah sahabat terbaik kita ini," tambah Dimas seraya mengacungkan jempolnya.
Gisel merangkul bahu Zahira erat, memberi dorongan moral. "Inget ya, Ra! Kamu udah berjuang sejauh ini, kerja keras sambil kuliah. Buktiin ke semua orang kalau kamu bisa! Doa kita selalu ada buat kamu."
Matanya yang berkaca-kaca menatap ketiga sahabatnya dan Vidi bergantian. Rasa hangat mengalir deras di dadanya, melenyapkan kepedihan atas ketidakhadiran Papi, Mami Karlina, maupun Bianka.
Ia menyadari satu hal: ia tidak pernah benar-benar sendirian.
"Terima kasih, teman-teman. Terima kasih banyak," tutur Zahira tulus dengan senyum mengembang penuh keyakinan.
Saat namanya dipanggil oleh dosen penguji dari dalam ruangan, Zahira membuang napas panjang. Ia menegakkan badannya, memutar gagang pintu, dan melangkah masuk dengan penuh keberanian untuk menjemput masa depannya.