Ini adalah cerita tentang seorang Putra Suci dari aliran lurus yang dikhianati gurunya sendiri. Tubuhnya dihancurkan dan tulangnya dicabut satu per satu sebelum ia dibuang hidup-hidup ke dasar Kegelapan.
Namun, ia tidak memilih mati.
Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, ia mencabut tulang fananya yang rapuh dan menggantinya dengan tulang para musuh yang telah ia bunuh.
Setiap tulang menjadi sumber kekuatan baru. Setiap rasa sakit membawanya selangkah lebih dekat pada jalan kultivasi yang menentang kehendak langit.
Di sisinya berdiri seorang iblis wanita yang menguasai Seni Darah. Dengan sihir terlarang itu, ia menyatukan kembali tubuh sang Putra Suci yang telah hancur dari dalam.
Bersama, mereka menapaki jalan berdarah menuju Surga Sembilan Lapis.
Ia tidak kembali untuk menuntut keadilan.
Ia kembali untuk mencabut tulang punggung para dewa dan menjadikannya singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Serangan Balik Dua Jiwa Iblis
Langit malam Kota Awan Jatuh menjadi saksi runtuhnya keangkuhan seorang penguasa.
Di ketinggian seribu kaki, Tetua berjubah putih itu masih tergantung di tangan Mo Xie. Cakar obsidian mencengkeram lehernya erat. Cahaya emas yang menyelimuti tubuhnya semakin redup di bawah tekanan Racun Yin.
Wajah tua itu memucat.
Hawa kematian dari tubuh Mo Xie memenuhi udara. Aroma darah bercampur dengan aura dingin Sembilan Kegelapan membuat napas sang Tetua semakin berat.
Ia tahu tubuhnya tidak akan mampu bertahan.
Satu-satunya jalan adalah meninggalkan tubuh fana dan menyelamatkan Inti Jiwanya.
Di dalam Dantian, Jiwa emas seukuran kepalan tangan mulai bersinar terang.
Inti Jiwa itu membuka mata.
Selama ia berhasil keluar dari tubuh, ia masih bisa melarikan diri ribuan li dan mencari wadah baru.
"Kau tidak akan bisa membunuh jiwaku, iblis!"
Suara sang Tetua menggema langsung di Lautan Kesadaran Mo Xie.
"Istana Dao Surgawi akan memburumu sampai ke..."
"Aku sudah berkata." Mo Xie memotongnya dengan dingin. "Kau tidak berhak bereinkarnasi."
Tatapan Mo Xie jatuh pada cahaya emas yang berkumpul di perut sang Tetua.
Lengan kanan Kera Iblis bergerak.
Boom!
Tinju abu-abu gelap menghantam perut sang Tetua.
Kekuatan pukulan itu menembus tubuh dan langsung menghantam Dantian.
Inti Jiwa yang baru saja hendak keluar terkena hantaman kekuatan Kera Iblis.
Krak!
Retakan muncul pada tubuh bayi emas itu.
Dalam sekejap, retakan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Prak!
Inti Jiwa hancur menjadi serpihan cahaya.
Inti yang ditempa sang Tetua selama ratusan tahun lenyap hanya dengan satu pukulan.
Tubuhnya mengejang.
Tatapannya kehilangan cahaya.
Seluruh Qi spiritual di tubuhnya lenyap bersama kehancuran Inti Jiwa.
Ia telah mati.
Namun bagi Mo Xie, kematian itu bukan akhir.
Itu adalah panen.
"Seorang kultivator Jiwa Baru Lahir telah memurnikan tulang punggungnya selama ratusan tahun."
Mo Xie menatap tubuh tak bernyawa itu.
"Tulang seperti ini tidak boleh disia-siakan."
Ia melepaskan cengkeraman pada leher sang Tetua lalu membalik tubuhnya.
Cakar kiri Mo Xie menancap ke punggungnya.
Daging terkoyak, dan cakar obsidian menembus hingga mencapai tulang punggung.
Mo Xie menggenggamnya erat.
Kakinya yang terbuat dari Tulang Jenderal Iblis menjejak udara.
Kekuatan tubuhnya meledak.
Kraak!
Ia menarik tangannya.
Suara patahan tulang dan robekan daging menggema di langit.
Seluruh tulang punggung sang Tetua tercabut dari tubuhnya.
Dari leher hingga tulang ekor.
Darah menetes dari tulang emas tersebut. Sumsum keemasan mengalir di dalamnya dan memancarkan Qi Yang yang begitu murni hingga udara di sekitarnya berdesis ketika bersentuhan dengan Racun Yin.
Mo Xie mengangkat tulang itu tinggi-tinggi. Cahaya emas menerangi wajah pucatnya.
Ia tersenyum. "Panen yang bagus."
Tatapannya kemudian turun ke arah alun-alun utama Kota Awan Jatuh.
Ribuan penduduk dan kultivator berdiri di sana. Mereka menatap langit dengan wajah penuh ketakutan.
Di tengah alun-alun berdiri patung putih Ketua Istana Dao Surgawi.
Mo Xie menendang tubuh sang Tetua.
Mayat tanpa tulang punggung itu jatuh dari langit.
Tubuhnya menghantam kepala patung itu.
Darah dan potongan daging berhamburan, membasahi wajah patung yang selama ini dianggap sebagai lambang kesucian.
Jeritan pecah di seluruh alun-alun. Kota Awan Jatuh seketika dilanda kekacauan.
Penguasa mereka telah dibantai.
Mayatnya bahkan dilemparkan ke atas patung yang mereka sembah.
Pesan Mo Xie tidak membutuhkan kata-kata.
Ia telah datang ke dunia atas, dan ia tidak datang untuk tunduk.
Dari kejauhan, Xue Ling'er melesat ke langit.
Benang darah membalut tubuhnya dan membawanya menuju Mo Xie.
Setelah menyerap esensi darah ratusan prajurit, auranya kembali kuat. Namun saat melihat tulang emas di tangan Mo Xie, ekspresinya berubah serius.
"Panen yang indah." Ling'er berhenti di sampingnya. "Tapi kita harus pergi sekarang."
Mo Xie menoleh.
"Kematian seorang kultivator Jiwa Baru Lahir bukan perkara kecil," lanjut Ling'er. "Begitu Inti Jiwanya hancur, Jimat Kehidupannya di Balai Leluhur Istana Dao Surgawi pasti ikut pecah. Mereka akan segera mengetahui bahwa ia telah mati."
Ling'er mengulurkan tangan.
Puluhan benang darah melilit tulang emas tersebut dan menutupi cahayanya.
"Begitu auranya tersembunyi, mereka akan lebih sulit menemukan kita."
Mo Xie mengangguk.
Ia tahu situasinya.
Kerangka Besi Hitam Kegelapan miliknya mampu menghadapi seorang Jiwa Baru Lahir tahap awal. Namun jika Istana Dao Surgawi mengirim seorang Transformasi Ilahi atau beberapa kultivator Jiwa Baru Lahir puncak, ia belum sanggup menghadapinya.
Tubuhnya masih membutuhkan waktu.
"Kita kembali ke dalam bayang-bayang." Mo Xie mengikat tulang emas itu di punggung.
Kemudian ia meraih pinggang Ling'er.
Kekuatan mengalir ke kedua kaki Jenderal Iblisnya. Aksara-aksara kuno menyala.
Domain Penghancur Gunung berputar.
Boom!
Tubuh mereka melesat ke utara.
Kecepatannya begitu tinggi hingga suara ledakan terdengar di belakang mereka. Kabut hitam tertinggal di sepanjang langit malam.
Tujuan mereka adalah Hutan Kabut Ilusi.
Hutan terlarang yang berjarak ratusan li dari Kota Awan Jatuh.
Kabut di tempat itu mengandung racun alami dan mampu mengacaukan indera spiritual. Bagi Mo Xie dan Ling'er, tempat itu adalah persembunyian terbaik untuk menghindari pengejaran sekte aliran lurus.
Selama satu jam, mereka terus melaju.
Namun ketika bayangan hutan mulai terlihat di bawah, tubuh Mo Xie tiba-tiba bergetar.
Ia memuntahkan darah hitam, dan keseimbangan tubuhnya runtuh.
Mo Xie dan Ling'er jatuh dari langit.
Brak!
Mereka menabrak dahan-dahan pohon purba sebelum menghantam tanah berlumpur.
Mo Xie segera melepaskan pelukannya agar Ling'er tidak ikut tertimpa.
Ia berlutut dan napasnya berat.
Urat hitam keunguan mulai muncul di leher dan dahinya.
"Mo Xie!" Ling'er segera berlari mendekat.
Tatapannya berubah ketika melihat kedua lengan Mo Xie.
Aura abu-abu dari lengan Kera Iblis dan aura hitam dari lengan Harimau Kegelapan kini saling bertabrakan.
Keduanya telah kembali memperebutkan wilayah.
Kekuatan mereka merambat menuju dada Mo Xie.
Jantung dan paru-parunya menjadi tempat benturan dua jiwa iblis.
Tiga Tulang Rusuk di dadanya memancarkan cahaya emas. Qi Yang berusaha menahan kedua kekuatan Yin tersebut.
Namun tekanan semakin besar.
Kulit di dada Mo Xie mulai memerah dan melepuh.
Benang darah Ling'er yang menyatukan tubuhnya juga mulai menegang.
"Jiwa Kera itu kembali mengamuk." Ling'er menggertakkan gigi. "Keduanya menolak berbagi tubuh."
Mo Xie mencengkeram tanah.
Jari-jari obsidian dan logamnya menekan lumpur hingga tenggelam.
Tubuhnya bergetar.
"Sakit..." Ia mengangkat wajahnya. "Sakit seperti ini sungguh menjijikkan."
Ling'er segera menancapkan benang darah ke dadanya.
"Tiga tulang rusukmu tidak cukup untuk menahan kekuatan mereka!"
Puluhan benang merah menjalar ke seluruh dada Mo Xie.
"Kita membutuhkan Qi Yang yang lebih kuat untuk menekan keduanya."
Tatapan Mo Xie perlahan berpindah pada tulang emas yang terikat di punggungnya.
Tulang punggung seorang kultivator Jiwa Baru Lahir.
Qi Yang yang tersimpan di dalamnya jauh lebih murni daripada tiga Tulang Rusuk miliknya.
Ling'er langsung memahami maksudnya.
"Kau tidak boleh menggunakannya sekarang!"
Mo Xie menatapnya.
"Jika kau memasukkan tulang itu ke tubuh dalam keadaan seperti ini, tubuhmu akan hancur. Darah jantungku juga belum cukup untuk menyambungkan sumsum dan urat utamanya."
Mo Xie terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Kalau begitu cari gua."
Ling'er terkejut.
"Untuk apa?"
"Bangun kepompong darahmu." Mo Xie memaksa dirinya berdiri. "Gunakan itu untuk menyembunyikan auraku dari para pengejar."
Tubuhnya kembali bergetar.
Ia menggertakkan gigi.
"Aku akan membuat kedua binatang ini saling menelan di dalam tubuhku."
Tatapannya menjadi dingin.
"Kalau perlu, aku akan membelah dada ini sekali lagi."
Mo Xie akhirnya kehilangan kekuatannya.
Tubuhnya jatuh tertelungkup ke tanah berlumpur.
Kesadarannya perlahan tenggelam di tengah rasa sakit yang menggerogoti tubuh.
Xue Ling'er menatapnya.
Di tengah Hutan Kabut Ilusi yang gelap, sang Penenun Darah tidak punya waktu untuk ragu.
Ia harus menyelamatkan Mo Xie.