NovelToon NovelToon
PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

PERJALANAN MENUJU DENDAM LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:58
Nilai: 5
Nama Author: CICAK rawa

DENDAM BERSELIMUT TAWA

Bagaimana jika pemuda paling santai di desa ternyata adalah pewaris takhta yang seharusnya sudah mati?

Namanya Raka. Hidupnya sederhana, hobinya bercanda, dan ia paling tidak suka berurusan dengan masalah orang lain. Baginya, hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan memikirkan hal-hal yang merepotkan.

Namun, kematian seseorang yang telah membesarkannya mengubah segalanya.

Perjalanan untuk mengungkap kebenaran justru menyeret Raka ke dalam rahasia kelam kerajaan Sangkara—sebuah kerajaan yang kini dipimpin oleh raja yang dicintai rakyatnya, tetapi menyimpan dosa berdarah di balik mahkotanya.

Raka tidak tahu bahwa masa lalu yang selama ini tersembunyi perlahan sedang mengejarnya.

Terlebih lagi, di balik senyumnya yang jahil, tersimpan kekuatan misterius dalam kedua matanya: merah seperti kegelapan yang menuntut balas, dan biru seperti cahaya yang melindungi.

Bersama Kirana, sahabat masa kecilnya yang memiliki sihir bayangan langka, Raka harus menghadapi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11- MEMUPUK DENDAM

"ada apa ka, kenapa tiba tiba bukannya waktu berburu masih lama. Bahkan kita belum mulai berburu." tanya Kirana.

Raka tak menjawab, ia malah menoleh ke Tito.

"bang, seharusnya kamu tau maksudku kan"

Tito hanya diam, beberapa pengawal malah saling menatap.

"sebenarnya ada apa bang" kini Kirana mengarah ke Tito.

"sudah tak ada waktu lagi, kita harus kembali sekarang"

Raka langsung menarik Kirana.

"Raka, ini permintaan Mbah. Dia tak ingin kalian terlibat.".

Raka berhenti.

"tak ingin kami terlibat..?"

Raka berbalik menatap Tito.

"bang, lalu bagaimana. Apa kita akan membiarkan mbah melawan mereka semua"

"tapi ka, jika kita di sana pun belum tentu bisa merubah situasi. Mereka tak lemah."

"lalu apa bang, bukankah kita semua keluarga...? Apa kita akan membiarkan keluarga kita mati sedangkan kita hanya bersenang senang. Aku tau Abang hanya mematuhi perintah, tapi kenapa Abang membiarkan mbah melawan mereka sendiri."

Tito terdiam sesaat.

"baiklah, kita bersiap siap. Kita akan kembali"

Kirana hanya menatap bingung.

Beberapa kereta kuda akhirnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan penuh.

Raka beberapa kali berpindah duduk, tapak jelas kegelisahannya.

"ka, sebenarnya ada apa. Kenapa kau tadi menyinggung kematian dan Mbah Sarwo sebenarnya apa yang terjadi, aku juga berhak tau"

pertanyaan ini, membuat Raka menoleh ke arah Kirana. akhirnya Raka bergeser ke dekat Kirana.

"sebenarnya kita ke sini bukan untuk misi berburu."

"bukan untuk misi berburu...? Apa maksudmu..?"

"apa kau ingat tentang di tempat peristirahatan, dan saat aku tiba tiba turun.?"

Kirana mengangguk.

"saat kamu kencing...? Memang ada apa...? Bukannya itu normal."

"sebenarnya saat malam hari aku tidak kencing, tapi aku masuk ke dalam hutan untuk mengejar sesuatu. Dan aku mendapatkan anjing pemburu dengan token ini." Raka mengeluarkan token.

Kirana memperhatikan token yang ada di tangan Raka.

"token kerajaan..! Bagaimana bisa, bukankah hutan itu sangat jauh dari kerajaan."

"lalu saat aku berlari ke hutan saat kita mulai berjalan lagi juga bukan karena kencing. Saat itu aku mendapatkan bisikan dari sosok misterius, saat itu sosok itu mengaku pengikut setia ibuku semasa dia hidup, bahkan dia bersedia memberikan esensi jiwa kepadaku. Selain dia memberikan hidup dan matinya kepadaku, esensi jiwa itu juga membuat kami bisa berkomunikasi dari jarak sejauh mungkin"

mendengar penjelasan ini membuat Kirana semakin bingung.

"ka, kenapa malah memutar mutar. Sebenarnya apa yang terjadi."

"tunggu, aku mengatakan ini bukan bermaksud lain. Lebih baik kau dengarkan dulu dengan baik agar saat aku menjelaskan inti masalahnya kau benar benar mengerti sama dengan apa yang ku mengerti. Jadi kau tak akan ada perdebatan tentang sebab akibat setelah aku menjelaskan semuanya."

"baiklah, kau lanjutkan saja."

"sosok yang memberi esensi jiwanya kepadaku akhirnya ku perintahkan mencari tahu tentang anjing pemburu, dan dia menemukan pasukan kerajaan dengan persenjataan lengkap mendekat ke desa"

"tunggu persenjataan lengkap...?"

Raka mengangguk.

"ya persenjataan perang."

"buat apa, bukankah tak ada wilayah kerajaan lain di sekitar hutan itu. Bahkan tempat tinggal yang memiliki penghuni hanya desa kita. Apa mungkin....."

"ah tidak mungkin, sedari dulu Mbah kan punya hubungan baik dengan kerajaan."

"pikiranmu tak salah, mereka datang memang mau menyerang desa"

Kirana langsung menggenggam bahu Raka.

"jangan becanda ka, apa informasi yang kau dapat sudah di pastikan. Apa pengikut barumu itu tak berbohong.?"

Raka menggeleng yakin.

"dia tak mungkin berani, lagi pula dari perkataan bang Tito tadi sudah mengkonfirmasi informasi ini secara tak langsung"

"kenapa.... Kenapa bisa begini..."

kali ini Kirana terlihat jauh lebih panik dari Raka sebelumnya.

"apa salah desa kita, padahal kita rajin mengirim pajak ke kerajaan. Desa kita juga selalu mendukung kerajaan tanpa menentang mereka, kenapa mereka Setega ini"

bahkan Kirana hendak turun dari kereta kuda, beruntung Raka langsung menghentikannya.

"apa yang kau lakukan...?"

"jika begini, kita tak akan sampai tepat waktu." jawab Kirana.

"Rana, jangan bodoh. jika kau turun, lalu apa yang akan kau lakukan. Apa kau ingin berlari, apa dengan larimu akan bisa lebih cepat dari kereta..?"

"tapi ka, jika begini terus kita akan telat. Aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi"

melihat air mata sudah mengalir, Raka langsung menarik Kirana ke pelukan.

"sudah tenangkan dirimu, kita tak memiliki pilihan lain. Hanya ini yang mampu kita lakukan, sekarang kita hanya bisa berdoa agar kita tak telat"

walau ia juga panik, tapi Raka berusaha meredam kepanikan itu.

Ia tau, jika mereka sama sama panik. Itu malah akan membuat perjalanan melambat.

Kini Kirana tak berkata apapun lagi, ia hanya bisa terisak dalam pelukan Raka.

hal ini berlangsung cukup lama, sampai perlahan suara isakan berhenti.

Raka menunduk, melihat Kirana yang tertidur dalam dekapan.

Dengan hati hati, Raka membaringkan gadis itu ke tempat duduk di dalam kereta kuda.

Kini, Raka berbalik ke ke transmisi suara dengan sosok sebelumnya.

"bagaimana..."

"maaf pangeran, aku sama sekali tak bisa masuk. Tempat ini seperti di selimuti tirai tak terlihat agar tak ada yang bisa ngintip."

"lalu bagaimana, apa tak ada cara lain."

"untuk saat ini aku memang tak bisa berbuat banyak, kekuatanku masih belum bisa mengimbangi jumlah mereka."

"jika memaksa menghancurkan tirai aku mungkin bisa melakukannya dengan mudah, tapi posisiku akan mudah terdeteksi. Dan aku hanya bisa bertukar nyawa dengan beberapa orang dari mereka."

"apa tak ada opsi lain...?"

"sebenarnya ada pangeran, aku sudah mengabari beberapa temanku. kami mungkin bisa menerobos tempat ini tanpa ketahuan, tapi walau begitu kami mungkin hanya bisa menyelamatkan beberapa orang.

"untuk menghadapi jumlah ribuan, kami belum mampu"

"tak masalah, lebih baik begitu dari pada tidak sama sekali. Aku juga akan datang, kini aku tengah di perjalanan"

setelah berkomunikasi dengan sosok itu, Raka beralih menoleh ke arah Kirana yang kini tidur pulas karena sudah menangis beberapa jam.

"Rana, kamu tenang. Mungkin kita tak bisa menyelamatkan Mbah, tapi aku janji akan membalaskan semuanya ratusan kali lipat dengan tanganku sendiri. aku tak akan peduli lagi di mana tempatku lahir dan seberapa sayang orang tuaku kepada kerajaan itu, ku pastikan suatu saat tak akan ada lagi kerajaan busuk itu"

setelah mengatakan itu, tiba tiba muncul pedang di tangan Raka.

Pedang panjang yang berukir seorang malaikat berdiri di atas sebuah naga.

"maaf pa, aku tak akan peduli dengan pria tua yang kau sebut ayah itu. Walau kau sangat menghormatinya, tapi tidak denganku. Sebelumnya aku ingin melupakan kejadian kematian kalian di tangan adikmu yang di dukung oleh ayah mu itu karena mengingat rasa hormatmu kepada mereka, tapi sayangnya mereka sudah berani melangkah lagi, kali ini aku benar benar tak akan bisa melupakan semuanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!