NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Buruk dan Jebakan Halus

Beberapa hari berlalu dengan keheningan yang terasa mencekam, seperti udara berat sebelum badai besar turun. Di seluruh wilayah Kekaisaran Langit Permata, musim panen seharusnya sudah tiba, namun awan hitam terus menutupi langit, hujan turun tak menentu, dan sungai-sungai mulai meluap perlahan. Di kota-kota jauh, berita buruk datang bertubi-tubi: sawah terendam, gudang beras rusak, jalan raya putus tergerus air. Di ibu kota sendiri, orang-orang mulai berbisik-bisik lagi, kali ini dengan nada lebih khawatir dan gelisah, mengaitkan setiap kejadian malang itu dengan satu nama yang selalu disebut-sebut sebagai sumber segala gangguan — nama Liān Huā.

Di kediaman kecilnya, gadis itu duduk diam di dekat jendela, menatap ke luar ke arah taman yang kini terlihat agak kusam karena sering diguyur hujan. Di sampingnya, Xiǎo Yàn berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat, tangannya meremas ujung kain gaun dengan cemas. Setiap kali ada pelayan lewat atau suara langkah kaki terdengar di lorong, ia selalu menoleh cepat, seolah takut kabar buruk baru akan datang lagi.

“Nona... di luar sana semakin buruk saja,” gumamnya pelan, suaranya bergetar tertahan. “Kemarin saya mendengar sendiri dua pejabat tinggi berbicara di gerbang istana. Mereka bilang, sejak Anda tinggal di sini, alam tidak lagi seimbang. Air meluap, tanaman mati, cuaca berubah-ubah tak menentu. Mereka berteriak bahwa hanya dengan memindahkan Anda ke tempat jauh, keberkahan akan kembali. Bahkan ada yang berani bilang... kalau hal ini terus berlanjut, kerusuhan besar bisa meletus di antara rakyat.”

Liān Huā menghela napas panjang, lalu menoleh perlahan menatap pelayan setianya dengan tatapan tenang namun sedih. “Aku tahu, Xiǎo Yàn. Aku mendengar bisikan itu di mana-mana. Setiap kali ada hal buruk terjadi, nama aku selalu jadi yang pertama disebut. Padahal banjir, kekeringan, atau gagal panen itu sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum aku pernah melangkah masuk ke gerbang istana ini. Tapi sekarang semua itu seolah jadi kesalahanku semata. Mereka mengubah segala kejadian biasa menjadi bukti kejahatan yang tidak pernah aku lakukan.”

“Tapi bagaimana cara membantahnya?” Xiǎo Yàn menahan isak tangisnya. “Mereka tidak butuh bukti, Nona. Mereka hanya butuh alasan. Dan sekarang alasan itu sudah ada di tangan mereka — alam sendiri seolah membuktikan apa yang mereka tuduhkan. Bahkan jika Yang Mulia Kaisar membela Anda sekuat tenaga, bagaimana dia bisa menentang kehendak alam dan suara jutaan orang sekaligus?”

Liān Huā berdiri perlahan, berjalan mendekat dan memegang kedua tangan pelayan itu erat-erat. “Jangan takut, Xiǎo Yàn. Ingatlah apa yang sering aku katakan kebenaran mungkin tertutup sementara, tapi tidak akan pernah hilang. Aku tahu betul siapa yang berusaha membuat semua ini terlihat seolah-olah kesalahanku. Mereka yang berkuasa, mereka yang punya banyak orang, mereka yang bisa mengatur berita dan mengendalikan apa yang didengar rakyat — merekalah yang menanamkan ketakutan itu satu per satu. Dan aku tahu juga, Zhēn tidak akan diam saja membiarkan mereka bermain-main dengan nasib seluruh negeri hanya demi kebencian pribadi.”

Sementara itu, di ruang kerja kaisar yang luas dan dingin, Yuán Zhēn duduk tegak di balik meja besarnya, wajahnya dingin dan kaku, namun matanya memancarkan kemarahan yang dalam dan terkendali. Di hadapannya terbentang tumpukan laporan-laporan darurat yang datang dari berbagai daerah kerusakan akibat banjir, kekurangan bahan makanan, laporan tentang penyebaran cerita-cerita aneh yang menghubungkan bencana dengan kehadiran wanita di dekat kaisar. Di sampingnya berdiri penasihat setianya, wajahnya penuh kecemasan berat.

“Yang Mulia, situasi semakin gawat,” lapor penasihat itu dengan suara rendah dan hati-hati. “Berita itu menyebar sangat cepat, jauh lebih cepat dari biasanya. Di setiap daerah, orang-orang tertentu datang berbicara di pasar, di pinggir jalan, di depan kuil — menyebarkan cerita yang sama persis, seolah mereka sudah diatur dan diajarkan apa yang harus dikatakan. Rakyat mulai gelisah, takut, dan marah. Banyak pejabat daerah mulai mengirim surat memohon agar Yang Mulia segera mengambil tindakan, mengusir wanita itu demi keselamatan negeri. Tekanan ini sudah bukan lagi dari kalangan istana saja, tapi sudah merembes sampai ke seluruh pelosok kekaisaran.”

Yuán Zhēn mengetukkan ujung jarinya perlahan ke permukaan meja kayu keras, suara ketukan itu berirama tenang namun penuh ketegangan yang menggetarkan. “Aku tahu. Aku sudah memeriksa setiap laporan itu. Aku juga sudah tahu bahwa semua kerusakan dan bencana ini terjadi tepat di daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh langsung atau kerabat dekat Paman Agung Zhāng dan sekutunya. Di tempat lain, di wilayah yang dikelola pejabat yang jujur dan tidak memihak, cuaca tetap biasa, panen berjalan baik, dan rakyat hidup tenang. Semua ini bukan kebetulan. Semua ini disusun rapi, diatur dengan teliti, dan disebarkan secara sengaja. Mereka sengaja membiarkan kerusakan terjadi, bahkan mungkin memperparahnya, lalu melemparkan seluruh beban kesalahan ke pundak Liān Huā.”

“Tapi Yang Mulia,” penasihat itu menundukkan kepala lebih dalam, suaranya bergetar karena khawatir, “Meskipun kita tahu kebenarannya, membuktikannya kepada seluruh negeri sangatlah sulit. Rakyat tidak melihat rencana jahat di balik layar. Mereka hanya melihat apa yang terlihat di depan mata bencana datang, lalu orang-orang berbicara tentang kutukan. Bagi mereka, itu sudah cukup menjadi kebenaran. Jika Yang Mulia terus membela Nona Liān Huā, maka nama baik Yang Mulia sendiri akan terancam. Mereka akan bilang Kaisar lebih mementingkan perasaan pribadi daripada keselamatan jutaan jiwa.”

Yuán Zhēn bangkit berdiri perlahan, berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke arah taman tempat ia biasa bertemu Liān Huā. Di luar, hujan masih turun pelan, membasahi daun-daun yang bergoyang tertiup angin. Wajahnya tetap tenang, namun matanya berkilat penuh tekad yang tak tergoyahkan.

“Biarkan mereka berbicara apa saja,” ucapnya perlahan namun tegas, suaranya jelas dan mantap. “Jika aku melepaskan dia hanya karena takut pada tuduhan palsu, maka aku memang pantas dicela sebagai kaisar yang lemah dan tidak adil. Jika aku mengorbankan orang yang tidak bersalah hanya supaya diriku aman dan tenang, maka aku sama saja dengan mereka yang berbuat jahat. Aku memegang takhta ini bukan untuk menjaga diriku sendiri, melainkan untuk menjaga kebenaran dan keadilan. Dan jika untuk menegakkan kebenaran itu aku harus berhadapan dengan seluruh dunia, maka aku akan melakukannya dengan kepala tegak.”

Ia berbalik menghadap penasihatnya, matanya tajam dan penuh arahan. “Perintahkan orang-orang kepercayaan kita segera bergerak. Kirim pejabat yang jujur dan terpercaya ke setiap daerah yang terkena dampak. Bantu rakyat, perbaiki kerusakan, berikan bantuan makanan, dan jelaskan bahwa bencana ini adalah hal biasa yang terjadi karena musim, bukan karena kutukan atau gangguan siapa pun. Perintahkan juga untuk menyelidiki siapa saja orang-orang yang berkeliling menyebarkan cerita serupa itu — tangkap mereka, tanya siapa yang menyuruh, dan bawa buktinya ke hadapanku. Aku ingin setiap benang jaring kebohongan ini ditarik satu per satu sampai ke tangan pemimpinnya.”

“Baik, Yang Mulia. Saya akan segera melaksanakannya,” jawab penasihat itu sambil membungkuk hormat, lalu berjalan mundur keluar ruangan.

Setelah ruangan itu kembali sunyi, Yuán Zhēn berdiri diam sejenak, membiarkan beban berat di dadanya terasa sepenuhnya. Ia tahu betul betapa berbahayanya situasi ini. Musuhnya tidak lagi menyerang dari dalam istana saja, mereka kini telah menggerakkan seluruh negeri menjadi senjata. Dan mereka tahu persis titik paling lemah sekaligus paling berharga di hati kaisar ini — Liān Huā.

Sore itu, hujan akhirnya berhenti, meninggalkan udara yang dingin dan lembap. Yuán Zhēn menyempatkan diri berjalan diam-diam ke kediaman Liān Huā. Saat ia masuk ke ruangan, gadis itu sedang duduk di dekat meja, memegang secarik kain dan menjahit dengan tenang, meski wajahnya tampak sedikit pucat. Begitu melihatnya datang, ia langsung bangkit berdiri, matanya menyambutnya dengan pandangan yang penuh pengertian, seolah ia sudah tahu apa yang sedang dipikul oleh orang yang dicintainya itu.

“Kau datang,” ucapnya lembut, lalu melangkah maju mendekat. “Aku tahu... keadaan semakin berat, bukan?”

Yuán Zhēn mengangguk pelan, lalu mengulurkan tangan dan menggenggam kedua tangan gadis itu yang dingin karena udara sejuk. Ia menatap wajah itu lama, dalam, seolah ingin menyimpan setiap garis halus di sana ke dalam ingatannya selamanya.

“Mereka sudah melancarkan serangan terbesar mereka, Liān Huā. Mereka menggunakan bencana, ketakutan rakyat, dan segala hal yang bisa mereka gunakan untuk menuduhmu sebagai penyebab segala kesulitan. Sekarang seluruh negeri sedang berbisik namamu dengan rasa takut dan kemarahan. Mereka berharap aku akan terpojok, terpaksa melepaskanmu demi menenangkan keadaan.”

Liān Huā mendengarkan dengan tenang, tidak ada rasa takut yang melintas di wajahnya, hanya kesedihan yang lembut namun teguh. Ia mengangkat tangan dan menyentuh pelan pipi kaisar itu, jari-jarinya bergerak lembut seolah ingin menghapus segala kelelahan dan beban berat yang tertumpu di sana.

“Aku sudah mendengar semuanya, Zhēn. Aku tahu betapa beratnya tekanan yang menimpamu sekarang. Aku tahu mereka sedang menempatkanmu di persimpangan yang paling sulit memilih antara keamanan dan ketenangan seluruh negeri, atau memilih menjaga aku dan kebenaran yang kita pegang. Dan aku tahu... mereka berharap aku sendiri yang akan pergi, supaya kau tidak perlu memilih dan tidak perlu berkorban apa-apa.”

Ia berhenti sejenak, menelan ludah perlahan, lalu menatap lurus ke mata Zhēn dengan pandangan yang jernih dan kuat.

“Tapi dengar aku baik-baik, Zhēn. Jangan pernah sekali pun berpikir bahwa aku akan pergi hanya karena ada bahaya atau tuduhan. Jangan pernah berpikir bahwa aku akan mundur supaya kau lebih mudah mengambil keputusan. Karena jika aku pergi sekarang, maka aku yang mengakui bahwa aku memang bersalah. Maka aku yang mengakui bahwa cinta kita bisa dikalahkan oleh kebohongan dan ketakutan. Dan aku tidak mau itu. Aku ingin tetap berdiri di sini, di sisi yang benar, sampai kita bisa membuktikan kepada semua orang — bahwa kita tidak bersalah, bahwa kebenaran ada di pihak kita, dan bahwa cinta yang tulus tidak akan pernah menjadi kutukan atau bencana bagi siapa pun.”

Yuán Zhēn menatapnya, hatinya terasa penuh sekaligus terasa terharu mendalam. Di saat semua orang di sekitarnya menuntut pengorbanan, di saat seluruh dunia seolah menekan dan menuntut, wanita kecil ini justru berdiri paling tegak dan paling berani. Ia menariknya perlahan ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar nyaman di dadanya, merasakan detak jantung yang tenang dan kuat itu.

“Kau benar, sayangku. Kau benar sekali. Tidak ada yang akan pergi. Tidak ada yang akan dikorbankan. Karena kita tidak sedang berjuang untuk membela diri sendiri saja. Kita sedang berjuang untuk kebenaran itu sendiri. Dan aku berjanji padamu aku akan membalas setiap kebohongan mereka dengan bukti yang nyata. Aku akan membongkar setiap rencana jahat mereka sampai ke akar-akarnya. Dan aku akan memastikan, bahwa pada akhirnya, nama baikmu akan bersinar lebih terang dari sebelumnya, dan semua orang akan tahu siapa yang sebenarnya membawa keberkahan dan siapa yang sebenarnya membawa bencana ke negeri ini.”

Di kejauhan, di balik jendela tinggi yang menghadap ke halaman itu, sepasang mata penuh kebencian terus mengawasi. Paman Agung Zhāng dan Putri Xiāo Lán berdiri diam dalam bayangan gelap, melihat betapa eratnya ikatan kedua jiwa itu, melihat betapa tak tergoyahkan pendirian mereka. Namun mereka belum menyerah. Sebaliknya, semakin mereka melihat kekuatan itu, semakin mereka merencanakan langkah yang lebih gelap dan lebih mematikan — langkah yang diyakini akan menjadi akhir dari segala keteguhan itu. Mereka belum tahu, bahwa setiap rencana jahat yang mereka susun, sebenarnya sedang menenun tali sendiri yang akan mengikat dan menjatuhkan mereka di masa depan. Dan di tengah badai yang sedang berkumpul di langit, cahaya kecil namun kuat itu tetap menyala — tidak akan padam, tidak akan goyah, siap menembus segala kegelapan sampai ke fajar yang akan datang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!